BoGaRiA
Wednesday, June 14, 2006 Jalan-jalan ke Pekalongan

NASI GUDEG

Cari gudeg di lapangan Mataram sangat mudah. Karena gudeg khas Yogya buatan Sapto Winarno ini dijajakan di dalam bagasi mobil sedan. "Sebenarnya saya guru setir mobil. Tapi karena makin tua, ya, coba
buka usaha lain," ujar Sapto.

Tentu saja nasi gudeg sudah dikemas. Isinya, gudeg, setengah telur, setengah tahu dan tempe, suwiran ayam, serta sambal goreng kerecek. Seporsi gudeg dijual Rp 4.500.

Mobil gudeg ini bisa ditemui sejak pukul 5.30 hingga pukul 10.00. Selama waktu itu 7 kilogram gudeg bisa terjual setiap hari. Saat hari libur, Sapto bisa menjual gudeg hingga 2 kali lipat hari biasa.

Berjualan di sana, menurut Sapto banyak untungnya. Selain materi, ada keuntungan lain yang didapatnya. "Badan jadi lebih bugar, karena sambil nunggu dagangan saya bisa olahraga," akunya dengan nada senang.

SUSU MURNI SAPI

Tidak cuma penjaja makanan yang ada di Lapangan Mataram, penjual susu pun ikut meramaikan. Gerobak susu sapi murni indah milik Usman sudah ada di sana sejak 5 tahun lalu. "Susunya dari daerah Yosorejo, Pekalongan," kata Usman.

Usman mengaku tertarik berjualan susu setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Tanpa pikir panjang ia langsung memilih berjualan susu. Alasannya hasil yang didapat bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Selain susu murni, Anda juga bisa memilih susu yang dicampur dengan kopi, kopi ginseng, madu, dan telur. Campuran kopi dengan susu adalah jenis yang paling sering diminati pembeli.

"Tapi kalau yang laki-laki lebih suka STMJ," terang Usman menjelaskan susu yang dicampur dengan telur, madu, dan jahe ini.

Segelas susu sudah dapat diperoleh dengan membayar Rp 1.700. Tetapi untuk segelas STMJ, Anda harus membayar Rp 2.700.

ES COKELAT

Di depan gedung Bawasda Pekalongan, mangkal seorang penjual es cokelat.

Minuman terbuat dari santan ini dibubuhi cokelat bubuk. Itu sebabnya dinamakan es cokelat. "Saya menyediakan 3 jenis es," kata Bpk Kadri, si penjual.

Selama 25 tahun menu jualannya tak pernah berubah, es cokelat, es merah, dan es putih. Isinya hanya santan yang dicampur dengan cokelat, sirup merah, atau sirup putih sesuai namanya. Untuk es yang merah dan yang putih, ditambahkan potongan cincau hitam.

Sementara untuk es cokelat ditambahkan sepotong roti tawar yang disajikan terpisah. Makannya bisa dicelup ke dalam es atau dinikmati sendiri. Kesegaran es cokelat buatan Kadri, tidak hanya disukai anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang datang untuk membeli minuman itu. "Makanya setiap hari pasti saya bikin 50 liter es cokelat dan 20 liter es putih," aku Kadri yang menjual esnya Rp 1.000 itu.

BAKSO BALUNGAN

Menjelang siang, makin banyak penjaja makanan yang bisa dicoba. Salah satunya, bakso balungan alias bakso tulang. Mendengar namanya, jangan mengira bakso dibuat dari tulang sapi, tetapi daging sapi. Kuahnya yang diberi beberapa potong tulang besar.

"Tulangnya bisa tulang igam, dapat juga tulang lainnya. Pokoknya yang ada dagingnya," aku Endang.

Sudah setahun ini Endang berdagang baso balungan di jalan Dr. Wahidin. "Yang buat Bu Yanti, bulik saya. Saya tugasnya jaga warung," tambahnya.

Seporsi bakso yang terdiri dari..dijual Rp 4 ribu. Kalau ditambah lontong, harus membayar Rp 500 untuk tiap lontong yang ditambahkan.

SOTO PPIP

Selain baso balungan, Anda patut mencoba soto PPIP. Letaknya masih di jalan DR. Wahidin, hanya seratus meter dari warung Bakso Balungan. Tepatnya, di depan gang 12, Pekalongan. Warung soto ini dikelola 2 orang kakak beradik, Soleha dan Bawon. Mereka berdua meneruskan usaha orang tua.

"Dulu Bapak yang jualan. Mula-mula keliling dengan pikulan sampai akhirnya mangkal di sini," terang Soleha.

Kebetulan lokasinya dekat gedung pertemuan PPIP, sehingga orang mengenal dengan sebutan soto PPIP. Soto yang ditawarkan adalah soto khas pekalongan yang kuahnya menggunakan taoco.

Untuk isi soto, digunakan daging kerbau dan soun. Itu masih ditambah dengan lontong, tempe, dan tahu sebagai tambahan.

"Kalau nggak suka daging, bisa diganti potongan tempe atau tahu," katanya.

Menurut pengakuan Soleha, ia memiliki banyak pelanggan fanatik. Seringkali mereka datang untuk sekadar bernostalgia bersama teman-teman. Biasanya saat makan siang tempat ini bisa dipastikan padat oleh pembeli. Sekitar pukul 15.00 seluruh dagangan sudah habis terbeli. Padahal warung baru dibuka pukul 09.00.

"Ya, sehari ngabisin 20 kilogram daging," aku Soleha yang menjual soto per mangkuk Rp 6 ribu itu.

LONTONG NGAPRAK

Lontong ngaprak adalah lontong disertai opor ayam. Dikatakan lontong ngaprak karena dulu pembeli harus duduk di atas tikar atau lesehan untuk menikmatinya. Tapi kini para penjual sudah mengganti dengan bangku panjang dari bambu supaya tidak becek saat hujan.

Para penjual lontong ngaprak bisa ditemui di alun-alun kota. Sejak pukul 15.00 mereka sudah sibuk menata dagangannya. Dari 7 pedagang, ibu Emah paling dikenal.

"Sudah 20 tahun saya jualan. Tempatnya juga di sini saja, nggak pernah pindah," kata Emah yang menjual seporsi lontong Rp 5 ribu.

Konon ayam yang empuk dan rasa gurih yang membuat para pelanggannya enggan meninggalkan lontong ngaprak Bu Emah. "Soalnya saya selalu memakai ayam kampung. Menggodognya pun lama. Paling nggak 3 jam," kata Emah yang setiap hari dibantu sang suami.

Pembeli juga bebas memilih potongan ayam. Pilihan mereka itu oleh Emah, akan dipotong-potong di atas lontong. Setelah itu disiram kuah opor yang diberi sambal goreng daun bawang.

"Sambal ini nggak pedas, cuma supaya tambah enak saja," ungkap wanita yang setiap hari mengolah opor dari 6 ekor ayam.

GARANG ASAM H. MASDUKI

Garang asam patut Anda coba karena masakan ini khas Pekalongan. Yang paling tersohor adalah garang asam H. Masduki. Warung ini buka sore hari, pukul 15.00 sampai pukul 03.00. "Dari dulu waktunya nggak berubah, tetap jualan sore sampai pagi," kata Masduki yang berjualan sejak tahun 1979.

Walau bukan penjual garang asam pertama di Pekalongan, toh, garang asamnya paling dikenal. "Kata pembeli garang asam saya rasanya segar," ujar Masduki tanpa kesan sombong.

Uniknya, garang asam dimasak bersama kluwek. Ke dalam kuah berwarna kecokelatan ini, ditambahkan beberapa potong otot kerbau. Hingga rasanya kenyal. Sebagai tambahan, Masduki menyediakan telur pindang. Rasa manis telur berpadu serasi dengan garang asam.

Untuk memenuhi selera pembeli yang datang, Masduki harus menyediakan 30 kilogram daging kerbau. Harga yang dipatok Rp 9 ribu sudah lengkap dengan nasi. "Pembeli nggak usah khawatir harga dinaikin. Soalnya saya sudah cantumin harganya di papan," ujarnya sambil menunjuk papan harga

PINDANG TETEL

Tidak cuma garang asam yang dibuat dari daging kerbau. Ada satu jenis masakan yang dibuat dari bahan yang sama. Namanya pindang tetel. Mau coba? Langsung saja ke jl. Sapugarut. Letaknya tidak jauh dari Puskesmas Sapugarut. Namanya Pindang Tetel 788. "Pakai angka biar beda sama penjual lainnya" ujar ibu Nuryati.

Ibu Nuryati, penjualnya menghargakan pindang tetelnya Rp 3 ribu. Bedanya dengan garang asem, pindang tetel tidak menggunakan belimbing wuluh. Isinya jeroan dan kulit kerbau.

Nuryati sudah berjualan selama 10 tahun. "Tapi saya sempat tutup 2 tahun lalu karena pindah ke Jakarta. Baru 1 tahun ini saya buka warung lagi," ujar wanita yang membuka warung kelontong di samping warungnya itu.

Penyajian pindang tetel selalu ditemani oleh sebungkus kerupuk usek. Kerupuk yang terbuat dari tepung tapioka ini agak keras. Karena itu dicelupkan ke kuah dulu sebelum dimakan. Atau bisa juga diremas dengan tangan.

SATE KEBO

Bosan masakan berkuah, tidak ada salahnya Anda mencoba sate kebo."Biar pake daging kerbau, nggak keras, kok," jamin Indah, penjual sate kebo di Jl. Raya Ambokembang.

Wanita berkulit putih ini meneruskan usaha sang ayah, H. Wasduri. "Setelah Bapak meninggal, saya diminta meneruskan usaha ini," terang wanita berwajah cantik ini.

Indah berjualan sate sejak pukul 14.00 sampai pukul 20.00. Lima kilogram sate ditaruhnya dalam sebuah panci besar. Para pembeli bisa melihat jelas sate yang dagingnya berwarna kehitaman dengan bercak putih. Bercak putih itu tak lain dari bumbu penyedap si sate. "Bumbu itu nempel karena sate sebelumnya direbus 3 jam," jelas ibu beranak 2 ini.

Nah, sate yang sarat bumbu ini lantas dibakar agar lebih enak. Ketika disajikan, di atasnya diberi saus dari bumbu kacang yang pedas. "Wah, itu belum seberapa pedas, banyak yang minta ditambah sambal, lo," cetus Indah yang setiap malam berjualan bersama seorang kerabatnya itu.

Sayangnya kita tidak bisa menyantap sate di tempat karena Indah tidak menyediakan tempat duduk. Jadi, Anda harus membawanya pulang.


AYAM GORENG INGKUNG ISI

Satu lagi masakan yang patut dicoba di Pekalongan. Namanya ayam goreng ingkung isi Bu Ranti. Disebut ayam goreng ingkung isi karena begitu dipotong, Anda akan mendapati bumbu di perut ayam. Hingga makin ke dalam, ayam terasa lebih gurih. Masakan ini bisa Anda dapatkan di rumah makan Bu Ranti di Jl. K.H. M. Mansyur, Pekalongan.

Rumah makan ini tampak tidak terlalu ramai. Karena menurut pemilik warung, Bu Siti Aisyah Suparni, pembeli yang lebih suka memesan ketimbang makan di sana. "Makan di rumah, kan, kalau nggak habis bisa disimpan," imbuh Siti.

Ayam ingkung yang sudah ada sejak tahun 1932 itu tidak dijual per potong, melainkan per ekor. Ayam ini sudah dimasak bersama bumbu selama 1 jam. Meskipun sudah matang, sebelum dinikmati ayam harus digoreng.

Siti mengaku mencampur bumbu ayam dengan ceremai sehingga rasanya lebih unik. Selain itu ia hanya bersedia menggunakan ayam betina yang sudah bertelur. "Daging ayam betina tetap putih ketika dimasak. Sementara ayam jantan jadi cokelatan setelah dimasak," katanya memberi alasan.

Makanya jumlah yang dimasak sangat tergantung dari pasokan. "Kalau dikirimi 15 ekor per hari, ya, bikin 15. Tapi kalau nggak ada, ya, nggak bikin," papar wanita yang menjual per ekor ayam ingkung Rp 42.500 ini.

Dicopy paste dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by imelda :: 9:19 AM :: 1 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Purworejo

Spesial Ayam Kampung 99

Ingin mencoba yang lain? Mampir saja ke warung tenda Spesial Ayam Kampung 99. Rica-rica entog-nya patut dicoba. Rasanya pedas, tidak jauh beda dengan masakan manado, hanya menggunakan entog sebagai dagingnya.

"Rica-rica ini hasil coba-coba istri saya, Kasturi," aku Wildan sambil menunjuk istrinya.

Penggemarnya cukup banyak karena Kasturi berhasil memasak daging entog dengan empuk. "Daging entognya saya rebus dulu 3 jam untuk 4 ekor entog," jelas Wildan.

Setelah empuk, daging entog ditumis dengan cabai. Terkadang masih ditambah kuah supaya tidak terlalu kering. Untuk seporsi rica-rica entog Anda harus membayar Rp 5 ribu tanpa nasi. Masih lebih murah ketimbang ayam, bebek, dan burung dara.

Kalau Anda tidak suka pedas, pesan saja ayam atau bebek goreng. Keduanya nikmat disantap bersama nasi hangat berikut lalapan dan sambal.




Lesehan Spesial Sop Kaki Kambing

Bagi Anda penggemar masakan dari daging kambing, pasti terpuaskan di sini. Pemiliknya, Sumaidi membuka warungnya di dekat pohon besar di pinggir alun-alun Purworejo. Ia belajar membuat sop kambing pada seorang pedagang di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Layaknya sop kaki made in Tanah Abang, sop Sumaidi dimasak dengan santan. Padahal kalau di Purworejo, sop selalu dibuat tanpa santan. "Makanya waktu pertama kali jualan, saya sering diprotes pembeli. Tapi saya tetap tidak merubahnya. Wong, ini masakan betawi, kok," papar pria yang telah berjualan selama 7 tahun ini.

Melengkapi sop kaki kambing yang dijualnya, Sumaidi menyediakan sop tulang sumsum dan tongseng. Sop tulang sumsumnya bukan saja lezat, tetapi mengasyikkan saat memakannya. Karena kita harus berusaha keras waktu menyedot sumsum didalam tulang.

"Buat sop ini saya juga pakai tulang kaki kambing. Kalau sapi, peminatnya kurang," aku pria yang setiap hari bisa mengantongi keuntungan Rp 500 ribu ini.

Seporsi sop kambing dijual Rp 5 ribu. Tetapi untuk sop dagingnya lebih murah. Hanya Rp 2 ribu. Isinya 3 potong daging ukuran sedang. Mau yang lebih, Anda bisa memesan campuran keduanya, daging dan kaki dengan harga Rp 9 ribu.



Ayam Panggang Mbak Purwanti

Warung tenda milik Mbak Purwanti letaknya di dekat bank BRI, di jl. Dewi Sartika Khusus menyediakan ayam panggang tanpa menu tambahan. Walaupun begitu pembelinya tidak pernah sepi.

Ayam panggang buatan mbak Purwanti terkenal renyah, besar ukurannya, dan bumbunya benar-benar meresap. "Membuatnya, ayam direbus dulu lalu dibakar di atas kayu bakar. Kipasnya juga hanya boleh kipas bambu. Jadi abunya tidak beterbangan ke atas ayam," katanya.

Selain itu, kata mantan penyanyi dangdut ini, ayamnya pun harus yang muda. "Sampai sekarang saya memilih ayam sendiri dari pedagang yang mengantar ke rumah,"akunya.

Kini Purwanti memiliki 3 buah warung tenda, 2 di daerah Purworejo dan 1 di Kutoarjo. Untuk memenuhi kebutuhan ayam panggang, setiap hari Purwanti harus memotong 70 ekor ayam.

Ayam tersebut lantas dipotong menjadi 4 bagian dan dijual dengan harga berbeda-beda. Paling mahal bagian dada, Rp 8.500 sampai Rp 9 ribu. Yang termurah adalah paha bawah dan kepala, Rp 3 ribu sampai Rp 3.500. "Harganya berbeda sesuai dengan besarnya potongan ayam.


Soto Pak Rus

Bosan dengan masakan yang dijajakan di alun-alun, Anda bisa pergi ke Stasiun Purworejo. Di sana ada warung soto daging yang ramai didatangi pembeli. Rasanya sangat khas Purworejo. Tetapi porsinya tidak besar.

Kunci kelezatan soto ini, terletak pada kuahnya yang bening, namun sarat bumbu. Makanya tak heran, begitu warung buka, pelanggannya langsung menyerbu. Sapto, si penjual hampir tak pernah berhenti meracik soto.

Seporsi soto Rp 4 ribu, lengkap dengan nasi. Tapi kalau maunya sotonya saja cukup membayar Rp 3 ribu . Untuk memenuhi semua pesanan setiap hari, ia bisa menghabiskan 5 kilogram daging sapi dan 10 kilogram beras.


Geblek

Selain masakan, Anda bisa menikmati makanan kecil khas kota Purworejo. Geblek, salah satunya. Makanan kecil ini dibuat dari sagu yang dicampur dengan santan. Warnanya putih, bentuknya bermacam-macam. Umumnya berbentuk lingkaran.

Penjual geblek mudah ditemui di pinggir jalan di sore hari. Biasanya mereka menawarkan geblek yang baru saja digoreng. Salah satu penjual geblek yang banyak diminati warga adalah Pak Rasa. Setiap hari ia berjualan geblek di dekat toko elektronik di depan pasar Baledono. Pukul 16.00 ia sudah menyiapkan dagangan bersama istrinya, Suryati.

"Geblek ini saya buat sendiri, tidak beli di pasar. Jadi bisa lebih besar," ujar Rasa yang berjualan sejak 4 tahun lalu.
Untuk membuat geblek yang enak, Rasa mengaku sangat menjaga kualitas bahan yang dipakai. Sagu yang dipakainya hanya dari kualitas terbaik tanpa campuran bahan lain. "Selain itu, cara mengolahnya juga harus benar, kalau tidak gebleknya nggak enak," terang pria berkulit putih ini.

Baik buruknya mutu geblek, juga bisa ketahuan ketika digoreng. Geblek yang bagus ketika digoreng, tidak akan meletus, atau minyak bercipratan. Bentuknya pun tetap mulus. hanya lebih halus.

Sebenarnya geblek bisa disantap begitu saja, tanpa saus atau bumbu. Tapi paling enak geblek dimakan dengan sambal kacang atau sambal pecel. "Paling enak lagi geblek dimakan dengan pecel. Wah, sedap sekali," ungkap Rasa yang membutuhkan 6 kilogram sagu setiap harinya

Biasanya geblek dijual per buah, harganya Rp 200 untuk geblek matang atau mentah. Nah, geblek mentah ini pun cocok dijadikan oleh-oleh karena tahan sampai 3 hari. "Kalau untuk oleh-oleh, geblek saya kemas khusus dengan besek beralas daun. Harus tertutup rapat agar tidak rusak," pesan Rasa.


Kue Lompong

Kalau dibuka dari bungkusnya, sekilas seperti bugis. Kue ini memang dibuat tepung ketan dan lompong atau talas. Rasanya manis dan warnanya hitam. Di tengahnya ada unti yang dibuat dari kelapa sangrai.

Berbeda dengan geblek yang bisa dibuat oleh siapa saja, kue lompong hanya dibuat oleh beberapa orang. Salah satunya adalah Ibu Ruth Ekayanti. Ia adalah generasi ketiga pembuat kue lompong di Purworejo.

"Pembuat pertamanya nenek saya, kemudian diturunkan ke ibu dan saya," aku Ruth yang setiap hari membutuhkan 10 kilogram tepung ketan itu.

Untuk membuat kue lompong, tidak mudah. Tepung ketan harus benar-benar bagus. Lompongnya sendiri harus dari talas pilihan. "Yang dipakai pun hanya bagian tengahnya saja. Lalu diiris tipis dan dijemur hingga kering betul," aku ibu 3 anak ini.

Setelah kering, barulah lompong ditumbuk menjadi tepung dan dicampur dengan tepung beras dan gula. Adonan lantas dibentuk lingkaran dan diberi isi. Baru dibungkus daun pisang kering. Kue kemudian dikukus sampai matang.

Kue lompong bisa bertahan sampai 10 hari. Makin hari akan makin keras, tetapi dapat dilunakkan kembali dengan cara dikukus. Harga satu kue lampong Rp 750.

Dawet Jembatan Butuh

Es khas Purworejo ini sebetulnya tak beda dengan es cendol biasa. Dinamakan es dawet butuh karena awalnya dijual di Desa Butuh. Bedanya dengan es cendol biasa, warnanya hitam karena dibuat dari campuran tepung kanji dan air abu merang. Seperti cendol biasa, dawet ini juga disantap bersama sirup gula merah, larutan santan, dan es serut.

Anda dapat menemukan es ini di Jl. Raya Purworejo, dekat jembatan Butuh. Setiap hari Nawon, si penjual, menjual 4 gentong dawet. Setiap gentong bisa menjadi 250 buah mangkuk kecil. Harga semangkuk dawet hanya Rp 750.


di copy paste dari www.sedap-sekejap.com

Posted by imelda :: 9:14 AM :: 2 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Saturday, May 27, 2006 Jalan-jalan ke Ciamis

Ikan Bakar Hj. Imi

Cukup banyak warung ikan bakar di seputar kota Ciamis. Soalnya balong (kolam ikan) cukup membudaya di wilayah ini. Jika Anda bertanya soal ikan bakar, rata-rata warga Ciamis akan menyebutkan nama Cigembor. Wilayah ini terletak sekitar 3 km arah timur Ciamis.

Pelopornya adalah Hj. Imi (alm). "Ibu saya memulai usaha ini sejak tahun 80-an," jelas putri Hj. Imi, Nooryanie (40 th). Wanita yang akrab disapa Ibu Nur itu, menyebutkan bahwa sang ibu memulai usahanya dengan berjualan kupat tahu, getuk, kroket, dan aneka jajanan ringan lainnya. Lalu sejak 1980 itulah Hj. Imi meluaskan usaha ke ikan bakar. Antara lain, ikan mas, mujaer, nila, dan gurame.

Seiring waktu, akhirnya Ibu Nur hanya menjual dua jenis ikan saja, ikan gurame dan ikan mas. "Biar lebih mudah menyediakan bahan segarnya," imbuhnya.

Ikan yang dibakar memang fresh from
balong yang ada di samping rumah makan. Anda bisa pilih yang ukuran sedang atau yang besar. Untuk 1 kilogram gurame dihargai Rp 35 ribu. Sedangkan ikan mas lebih murah, cukup Rp 12.500 per kilogram. Umumnya dihidangkan dengan nasi hangat, lalap daun singkong, dan tiga jenis sambal, yaitu sambal uleg, sambal kecap, dan sambal kacang.

Lalap daun singkong konon juga jadi favorit. Selain masih segar, rasanya juga manis. "Memang dibubuhkan sedikit gula," jelasnya.

Sambal kacangnya juga istimewa, karena dicampur jahe, kencur, dan honje. Rasanya segar dan unik. Cocok juga untuk cocolan ikan bakar.

Selain ikan bakar, ia juga menyediakan ayam goreng/bakar, mendoan, karedok dan tumis kangkung. Namun yang sering dipesan adalah ikan gurame dan ikan mas bakar. Di salah satu bagian dinding, terpajang belasan foto orang terkenal di tanah Parahyangan seperti Aom Kusman, trio Acil, Jaka dan Sam Bimbo hingga mantan gubernur Jawa Barat, Bapak Nuriana. Anda bisa berkunjung ke sini setiap hari sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam.

Galendo

Galendo adalah kudapan khas Ciamis hasil dari sisa olahan minyak kelapa. Adalah Bpk. Endut Rohadi (52 th), pria yang mengangkat kudapan tradisional ini menjadi populer. Awalnya Endut berjual beli kelapa. Namun sejak gunung Galunggung meletus sekitar tahun 1984, kelapa menjadi kecil ukurannya. Setelah jatuh-bangun dalam jual beli kelapa, ia memutuskan untuk memanfaatkan sendiri kelapa jualannya.

Minyak keletik pun menjadi pilihannya. "Kebetulan tahun 1994 saya memperolah bantuan dana dan pembinaan dari sebuah BUMN," jelasnya.

Endut pun mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan Pemerintah Ciamis hingga ia menemukan cara agar minyak keletiknya bisa awet hingga satu tahun. Nah, setiap memproduksi minyak, pasti terdapat sisa ampas rebusan santan untuk minyak keletik. Inilah yang disebut masyarakat Ciamis sebagai Galendo. Bentuknya mirip kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar. Rasanya manis-gurih. Ampas inilah yang kemudian dijadikan kudapan.

Agar lebih menarik, galendo yang masih panas langsung dipadatkan agar berkurang minyaknya, lalu langsung dikemas. Kemasannya dalam wadah anyaman bambu yang disebut sauk. Tapi Endut menggunakan 6 kemasan yang terlihat lebih rapi dan elit. Kemasan 1 kilogram, dijual seharga Rp 20 ribu. Sementara yang 450 gram Rp 12.500. Ada lagi yang 225 gram bentuk kotak dan lonjong dengan harga Rp 5 ribu. Sedang kemasan 125 gram dijual dengan harga Rp 3 ribu, dan 50 gram Rp 2 ribu.

Kemasan yang digunakan Endut sekilas mirip kemasan biskuit dan cokelat yang cukup populer. "Saya ingin agar anak-anak juga mengenal makanan tradisional ini. Makanya kemasannya disesuaikan," terang pria yang sering dilibatkan dalam pameran tingkat nasional ini. Rasanya pun bermacam-macam, ada wijen, cokelat, kacang, dan susu.

Dalam satu hari, ia membutuhkan sekitar 600 butir kelapa untuk membuat minyak keletik. Dari situ bisa dihasilkan sekitar 32 kilogram galendo per hari. Minyak keletik sendiri dijualnya seharga Rp 6.500 dalam kemasan 650 ml dan Rp 2.000 alam kemasan 200 ml.

Selain itu, ia juga membuat "Virgin Coconut Oil" atau minyak kelapa asli yang diberi merk Sovico. Minyak ini dihasilkan dengan pemanasan rendah dan lebih ditujukan untuk pengobatan. Bisa
dikonsumsi untuk menurunkan tekanan darah, diabetes, penawar racun, hingga menurunkan berat badan. Karena pembuatannya cukup rumit dan lama, harganya relatif mahal. Untuk kemasan ukuran 300 ml, dijual dengan harga Rp 50 ribu, dan ukuran 100 ml dijual Rp 20 ribu. Anda berminat? Tinggal kunjungi tokonya di jl. Kapten Harsono Sudiro, di daerah Cilame.

Bakso Simanalagi

Bakso Simanalagi sudah ternama di Ciamis. Lokasinya terletak tak jauh dari alun-alun Ciamis. Tepatnya di jl. RE. Martadinata. Sudah sekitar 5 tahun lebih kedai bakso ini berdiri. Meskipun dari luar terlihat agak kecil, tapi ruang di dalamnya cukup luas. Interiornya pun menarik dengan warna-warni hijau dan kuning yang terang.

Di sini Anda bisa memilih kombinasi yang paling disukai. Ada mi bakso, plus kombinasi babat, pangsit, atau sayap ayam. Bisa juga pilih kombinasi lengkap ketiga-tiganya. Harga per porsi sekitar Rp. 3 - Rp. 6 ribu. Ada juga hidangan lain seperti mi goreng, nasi goreng, capcay, dan puyunghay. Jika masih kurang, masih tersedia hidangan udang. Pilihannya asem manis, saus tiram, goreng tepung dan goreng mentega. Per porsi harganya Rp. 12.500.

Warung bakso ini buka setiap hari, pukul 09.00 hingga pukul 21.00. "Kalau akhir minggu atau liburan biasanya sangat ramai," jelas Ny. Titin (33 ), yang mengelola usaha ibunya, Hj. Mintarsih (60 th). Titin menyebutkan, selain di sini, ada dua cabang lagi Bakso Simanalagi, yaitu di dekat RS Permata Bunda dan di daerah Kawali.


Abon dan Dendeng Rancapetir

Usaha abon dan dendeng Pusaka Ali ini sudah dimulai oleh Ny. Iloh sejak tahun 1980. "Namun saat ini saya yang melanjutkan usaha Ibu," jelas Ny. Nunung (52 th). Lokasinya di jl. Rancapetir.

Sebenarnya toko ini lebih mirip toko oleh-oleh khas Ciamis. Selain abon dan dendeng, juga tersedia serundeng, mustofa (kering kentang ala Ciamis), galendo, keripik pisang, sale pisang, dan rempeyek. Namun produk utamanya memang abon dan dendeng.

Untuk abon kualitas 1, dijual seharga Rp. 100 ribu, sedangkan no. 2 dijual Rp. 90. ribu. Bedanya? "Ya jumlah dagingnya berbeda. Yang kualitas 1, dagingnya lebih banyak," jelasnya. Sedangkan dendeng dijual Rp. 95. ribu per kilogram. Bila ingin membeli mustopa dan serundeng, siapkan Rp. 40. ribu. Anda sudah dapat 1 kilogram. Biasanya Nunung membuat abon dan dendeng seminggu sekali. Sekali produksi masing-masing 70 kilogram. "Kalau untuk abon, hasilnya menyusut jadi sekitar 30 ­ 35 kilogram," imbuh Ibu 4 anak ini.


Ayam Goreng Swadaya

Sebenarnya lokasi jajan ini terletak di jl. Perintis Kemerdekaan. Namun orang Ciamis lebih mengenalnya dengan nama swadaya. Di sini terdapat sekitar 8 ­ 9 gerobak penjual ayam goreng. Rasa dan jenisnya pun nyaris mirip semua. Konon sudah sejak awal tahun 80-an daerah ini menjajakan ayam goreng. "Saya sendiri sudah 11 tahun berjualan ayam di sini," jelas Pak Anto (26 th).

Ada tiga jenis ayam yang ditawarkan Anto. Ukuran besar, Rp 2 ribu, sedang Rp 1.500, dan kecil Rp 1.000. Dagingnya empuk dan gurih. Semuanya dalam keadaan potongan, tak dijual ayam utuh. Tersedia juga ati-ampela seharga Rp 1.000 per buah. Semuanya disajikan dengan taburan semacam serundeng yang rasanya manis gurih, terbuat dari kelapa.

Namun umumnya para pembeli tak menyantapnya di situ karena memang sudah terbiasa membeli untuk dibawa pulang. Terbukti hanya sedikit bangku tersedia. Wilayah ini mulai aktif sejak pukul 10.00 hingga pukul 21.00.

Sale Pisang Suka Senang

Industri sale pisang ini cukup besar di wilayah Ciamis. Lokasinya terletak di kilometer 6, jalan raya Ciamis ­ Banjar. Produk utamanya berbasis pisang. "Sebenarnya sejak dulu istri saya sudah usaha jajanan seperti kue lapis, keripik singkong, dan peyek," jelas Tarwa Hadi (62 th).

Istrinya, Ny.Odah Zubaedah (57 th), memang menyukai dunia makanan dan hobi memasak. Nah, kebetulan Tarwa pensiun dari Perum Perhutani tahun 1992. Maka pasangan ini pun lantas menjajal usaha di bidang makanan. "Kebetulan waktu jalan-jalan ke daerah Purwokerto, kami mencicipi sale pisang," tambah Tarwa.

Merasa tertarik, Odah mencoba-coba membuat sale pisang hingga menemukan formula resep yang pas. "Baru 6 bulan ketemu resep yang pas," ujarnya.

Semua percobaannya dikonsumsi sendiri, atau dibagikan ke tetangga sekitar sambil mensurvey pendapat mereka. Akhirnya tahun 1996 mereka memulai usaha sale pisangnya. "Awalnya hanya beberapa kilogram pisang. Sekarang, sih,sudah ukuran ton," jelas Tarwa.

Karena saingan sudah banyak, mereka langsung membidik target menengah ke atas. Konsekuensinya, rasa harus enak, higienis, pembatasan penggunaan minyak goreng, bahan berkualitas, dan harga di atas rata-rata. Kalau soal higienitas, usaha sale pisang Tarwa memang patut diacungkan jempol. Mereka telah memperoleh bintang 1 dari BP POM Ciamis dalam bidang produk unggulan yang higienis.

Saat ini ada 7 produk yang ditawarkan. Sale gulung, sale lidah, sale opak, sale pisang ambon, keripik pisang asin, manis, dan pedas manis. Semua dijual dengan harga Rp 25 ribu
per kilogram. "Mungkin sebentar lagi juga akan diproduksi keripik rasa madu dan vanila," ujar Tarwa.

Khusus untuk pisang sale, Tarwa menggunakan jenis pisang siam dan ambon. Sedangkan keripik menggunakan pisang kapas atau pisang nangka. Ia mengaku produknya mampu bertahan hingga 6 bulan.

Dalam satu hari, untuk pisang sale saja, dibutuhkan 4 kwintal pisang. "Semuanya saya peroleh dari petani di sekitar sini dan daerah Banjar," jelas Tarwa.
Ini bertujuan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat. "Jadi bisa saling menguntungkan," tandasnya.

Hingga kini ada 40 karyawan tetap yang bekerja di situ. Sedangkan mitra dari luar bisa mencapai 100 orang lebih.

Pabrik sale juga sudah sering menjadi target kunjungan orang yang hendak membuka usaha. Ada dari Yogyakarta, Cianjur, Bandung, Majalengka, dan daerah lain. Bahkan ketika Sedap sekejap berkunjung, pabriknya tengah dikunjungi oleh rombongan ibu-ibu dari Manado hingga dua bis. Saat ini produk sale Pak Tarwa sudah menembus ke berbagai daerah. Dari Batam, Bali, Jakarta, dan Sumatera. Bahkan saat ini sedang dalam penjajakan ekspor menuju Hongkong, Kanada, dan Singapore.

"Jadi jika Anda membeli sale di berbagai supermarket, kemungkinan dari sini juga lo," tambahnya.

Untuk ke depan, Tarwa berencana membuka agrowisata. Jadi selain berbelanja oleh-oleh, Anda juga dapat berwisata melihat berbagai proses produksi makanan di situ.



Tumis Genjer RM. Manjabal 1

Di sinilah Anda bisa mencoba tumis genjer yang unik itu. Genjer biasanya banyak tumbuh di pinggiran sawah. Bahkan sebagian orang menganggapnya tanaman pengganggu. Atas saran seorang pengunjung, maka dibuatlah genjer sebagai bahan tumisan, tentu dengan tauco yang cukup banyak. Rasanya? Tekstur luarnya lembut, tapi jika digigit, kres kres.. renyah rasanya. "Kalau di Jawa, biasanya dimasak sebagai pecel atau urap. Nah, kami mencoba menumisnya," jelas sang empunya, Ny. Tety (41 th)

Untuk memperoleh satu porsi tumis genjer, cukup merogoh kantong Rp. 2.500, saja. Tety juga menyediakan menu khas Priangan lainnya seperti nasi timbel, pencok leunca, ayam goreng/bakar, sayur asem, hingga gurame bakar. Khusus untuk gurame dijual seharga Rp. 37 ribu per kilogram. Selain itu juga tersedia minuman segar dari es teh manis, softdrink, jus, hingga kelapa muda segar.

Bukan cuma makanan lezat yang ditawarkan di sini, tetapi juga tempat makan yang nyaman. Anda bisa pilih duduk di meja, lesehan di atas kolam, lesehan di pinggir sawah, bahkan ada yang berlokasi agak jauh di tengah sawah. "Biar makannya lebih nikmat," jelasnya.


Rumah makan ini sanggup menampung 200 orang lebih. Sehingga tak jarang untuk acara kantor atau lainnya memilih tempat ini sebagai alternatif. Parkirnya pun cukup luas.

Jika berminat, lokasinya sekitar 10 km dari Ciamis ke arah Tasikmalaya. Tepatnya di jl. Raya Gunung Cupu, Sindang Kasih. Rumah makan yang berdiri tahun 1994 ini buka setiap hari, pukul 9 pagi sampai 9 malam. Di jalan ini sebenarnya juga ada satu lagi rumah makan, Manjabal 2, yang dibuka tahun 1999 dan dikelola oleh ibunya, Ny. Oom.


Jajanan Khas Koperasi Linggarsari

Koperasi ini menawarkan aneka jajanan yang sangat bervariasi. "Setidaknya ada 20 jenis kudapan yang kami produksi," jelas Hj. Nani (52 th) yang membuka koperasi ini sejak 1987.

Ada makaroni, wajit, borondong, molen tahu, sale pisang, dodol, dan koya (cemilan berbentuk bubuk terbuat dari beras ketan) dengan rasa kacang, ketan dan susu. Ada juga kue sagon, bolu dan oleh-oleh khas Ciamis lainnya. Yang unik, borondong untuk wajit tidak dibuat dari jagung seperti umumnya, tetapi dari gabah yang disangrai. Bentuknya memang mirip borondong pada umumnya. Tiap kemasan dijual antara harga seribu hingga dua ribu rupiah saja.

Koperasi ini lahir dari keinginan memberdayakan masyarakat sekitar agar
produknya lebih mudah dihimpun dan dipasarkan di bawah merk Linggarsari. Ada sekitar 60 karyawan yang memproduksi langsung di sini. Sedangkan mitranya bisa lebih dari 200 orang. "Seperti penyedia bahan dan yang membuat kemasan," jelas Pak Ujang Gananda (48), penanggung jawab koperasi ini.

Rencananya nanti seluruh pengusaha jajanan khas Ciamis akan menggelar dagangannya di P2B (Pusat Pemasaran Bersama) ini. Nantinya akan berlokasi di Cihaurbeuti, dekat perbatasan Ciamis ­ Tasikmalaya. Koperasi ini sudah buka pada pukul 07.00 pagi dan baru tutup pukul 9 malam. "Kalau produksinya sih hanya sampai pukul 5 sore," jelas pak Ujang.

Sedangkan jangkauan pemasarannya sudah mencapai Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. "Lumayanlah untuk mengangkat ekonomi masyarakat sekitar koperasi ini," jelas Ujang seraya menunjukkan laporan omzet yang cukup besar.


Caf・dan toko Oleh-oleh Annisa

Caf・yang mulai berdiri tahun 97 ini berlokasi di jl. A. Yani, tak jauh dari pusat kota. Menunya campuran lokal dan asing. Ada nasi goreng, mi goreng, menu dari ayam, hingga spageti, cream soup, omelet, dan steak. Harganya antara Rp. 5 ­ Rp. 15 ribu. Anda juga bisa memilih teman minumnya dari teh, kopi, softdrink, hingga aneka jus buah.

"Baru sekitar 2 ­ 3 tahun saya sambil berjualan oleh-oleh khas Ciamis," ujar Hj. Nani (58 th).

Di antaranya ada galendo, sale pisang, dodol salak, rangginang, opak, seroja (keripik berbentuk bunga dari beras ketan), dan aneka keripik. Ada juga mustofa dan serundeng buatan sendiri yang diberi merk Ellan. Mustofa dan serundeng memang sudah dibuat sejak tahun 70-an oleh neneknya.

Nani membuka cafenya setiap hari, pukul 9 pagi hingga 12 malam. "Soalnya kalau malam, banyak yang suka mampir untuk beli oleh-oleh dan makan," terangnya.


Caf・ini terletak di salah satu jalan yang menghubungkan daerah Ciamis ke arah Jawa Tengah, sehingga menjadi salah satu jalur hilir mudik mobil lintas provinsi.


Dodol Salak

Dodol ini memang agak unik. Rasanya manis dan sepat. Zaenal Muttaqin (44 th) adalah orang yang mempelopori pembuatan jenis dodol ini pada tahun 2001.

"Dulunya, sih, kami tertarik karena cukup banyak produksi salak di wilayah Ciamis," jelas Ibu Titin (37 th), sang istri yang ikut membidani pembuatan dodol ini.

Untuk satu pak dodol, kemasan 20 buah, dijual dengan harga Rp. 4ribu.

Dalam seminggu, Titin tiga kali mengadoni. "Memasaknya cukup lama, antara 8 ­ 10 jam," jelasnya. Sekali membuat, dibutuhkan sekitar 1 kuintal salak mentah. Karena tanpa pengawet, dodol ini masa konsumsinya hanya sampai 3 bulan. "Makanya saya sering berkeliling ke toko-toko yang menjual dodol saya. Supaya bisa ditukar dengan yang masa berlakunya hampir kadaluarsa," ujar wanita yang juga berprofesi sebagai guru SD ini.

Untuk membuatnya, salak yang telah dikupas, dibuang bijinya, lalu dicuci. Kemudian digiling, dan dimasak bersama gula dan tepung beras selama 8 ­ 10 jam. Setelah dingin, baru dikemas dalam lintingan plastik. "Ada sekitar 16 orang yang saat ini membantu usaha ini," ujarnya.

Selain dodol salak, ia juga merencanakan membuat dodol pisang dan dodol sirsak sebagai variasi produk.

Dicopy paste dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by imelda :: 2:33 PM :: 1 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Friday, May 12, 2006 Jalan-jalan ke Pamekasan

Meski sama-sama di Madura, jajanan di Pamekasan tidak sama benar dengan jajanan di Sumenep. Bisa jadi beberapa namanya mirip. Toh, ada saja perbedaannya sekalipun tidak banyak. Nah, kalau Anda mengunjungi kota ini, jangan sangsi mendatangi tempat-tempat yang kami ulas berikut ini.

WARUNG KALDU PINTU GERBANG

Kaldu salah satu makanan favorit penduduk Madura. Terdapat dua macam kaldu di Madura, kaldu sumenep dan kaldu pamekasan. Jika di Sumenep, kaldu berbentuk cream sup, di Pamekasan lain lagi. Sama-sama sup, tetapi kacang hijaunya tidak hancur. Bagi orang Sumenep kaldu sejenis ini malah disebut campur, sejenis soto.

Di dalam kaldu tadi, orang Pamekasan menam­bahkan irisan kikil atau kokot (kaki sapi yang paling bawah). Hidangan ini disajikan dalam piring bersama irisan lontong.

Khusus untuk kaldu kokot, Anda dapat memilih jenis yang bertulang tetapi masih ada kikilnya atau yang sama sekali tanpa kikil. Nyatanya orang yang senang menikmati kokot lebih banyak jumlahnya. Menurut mereka, menyantap sepatu sapi yang berwarna hitam tersebut terasa mengasyikkan.

Sementara mereka yang jatuh hati pada kikil, memilih hidangan ini karena dapat menyedot tulang yang bersumsum.

Warung kaldu Pintu Gerbang merupakan warung yang sangat dikenal di Pamekasan. Awalnya, warung ini didirikan Ny. Sitiyah (75), 37 tahun yang lalu. Saat ini, warung ini dikelola oleh Ny. Hanna anaknya dan dibantu oleh Fatimahtus Zarah (35), cucunya. Saat awal berdiri, warung ini bernama warung Anda dan terletak di kantor pengadilan. Setelah sempat berpindah-pindah, sejak tahun 1990, warung kaldu ini pindah ke Jl. Pintu Gerbang 46. Sejak itu pula, nama warung ini berubah menjadi Warung Kaldu Pintu Gerbang.

"Meskipun berpindah-pindah, pelanggan kami tetap setia. Karena sebelum pindah, kami pasti sudah memberi tahu para pelanggan, alamat tempat yang baru," jelas Fatimahtus.

Anda sudah dapat menikmati satu porsi kaldu dengan harga Rp 3.500 untuk kaldu biasa dan Rp 6 ribu untuk kaldu kokot. Warung kaldu ini bisa Anda kunjungi tiap hari sejak pukul 05.00 hingga pukul 21.00. Sayangnya, saat puasa dan Lebaran, warung ini tutup.

"Saat itu, kami menjalankan ibadah bersama keluarga. Selain itu 5 karyawan saya pun pulang kampung," jelas guru SD ini.

Selain berjualan kaldu, warung ini juga menyiapkan menu-menu lainnya seperti bakso, gule, soto ayam, nasi campur, nasi rames, dan nasi pecel. Tetapi, tetap saja warung ini lebih dikenal dengan kaldunya. Untuk memenuhi permintaan pembeli, tiap hari, mereka harus menyediakan 20 kilogram beras untuk nasi dan lontong, 2 kilogram kacang hijau, dan 30 kaki sapi. Angka ini akan meningkat, saat musim tembakau, yaitu bulan Agustus hingga Oktober.


KERUPUK TANGGUG

Kerupuk tanggug hanya bisa didapatkan di Pamekasan. Tanggug dalam bahasa Indonesia berarti caping (topi petani). Wajar juga dinamakan seperti itu. Kerupuk ini relatif sangat besar. Ukurannya 50 x 35 cm, tetapi ini sebelum digoreng, lo! Setelah digoreng kerupuk akan mekar jadi dua kali lipat. Karena besarnya, para penduduk menggunakan kerupuk ini untuk menupi kepala dari sengatan matahari.

Untuk menggoreng kerupuk ini, diperlukan wajan berukuran ekstra besar dan memerlukan 10 kilogram minyak goreng yang harus benar-benar panas.

Begitu besar hingga kerupuk tak bakal habis dimakan sekaligus. Sisanya bisa dijemur kembali supaya tetap renyah.
Salah satu penghasil kerupuk tanggug di Pamekasan adalah Ny. Djuhariah (40). Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 1930. Sampai saat ini pun resep yang digunakan masih sama. Tetapi, sayangnya pembuatan kerupuk masih sangat tergantung musim. Jika musim hujan, pembuatan kerupuk tanggug tidak bisa dilakukan tiap hari. Karena matahari jarang muncul sehingga kerupuk susah kering.

Rata-rata tiap hari mereka membuat kerupuk dari 25 kilogram tepung kanji. Hasilnya 50 buah kerupuk tanggug. Usaha yang beralamatkan di Jl. Gatot Kaca ini, memasarkan produksinya di Pasar 17 Agustus, Pamekasan.

Anda dapat memperoleh kerupuk tanggug dengan harga relatif murah. Kerupuk tanggug dengan ukuran biasa dijual Rp 3 ribu. Sedangkan ukuran yang lebih besar, dijual dengan harga Rp 4 ribu. Ukuran biasa setelah digoreng menjadi 1 m x 0,7 cm sedangkan yang besar ukurannya bisa 1,25 m x 1 m.

SATE LALAT PAK ENTO
Berminat sate? Di Pamekasan, ada sate terkenal yaitu sate lalat. Dinamakan demikian karena irisan dagingnya benar-benar kecil seukuran lalat. Daging yang digunakan daging ayam atau daging kambing.

Sate ini bisa Anda peroleh antara lain di warung sate lalat milik Pak Ento. Lokasinya di Jl. Niaga. Usaha ini dimulai 35 tahun lalu. Hanya saja, saat itu Ento berjualan secara berkeliling. Setelah 20 tahun, ia mendirikan warung tenda di Jl Niaga. Kini usaha sate lalatnya diteruskan oleh Hedi (31), anak Ento. "Saya sudah meneruskan usaha ini sejak tahun 1996," kata Hedi.

Sate lalat diciptakan sendiri oleh Ento. "Ukurannya sengaja kecil-kecil karena lebih mudah kering," kenang Hedi. Karena bentuknya yang kecil-kecil, sate lalat tiap porsi terdiri dari 25 tusuk sate.

Menurut para pelanggannya, yang menjadikan sate lalat Ento terkenal karena bumbunya enak. Saus kacangnya pun banyak sehingga benar-benar terasa.

Setiap hari Hedi membuat 3750 tusuk sate ayam dan kambing. Tetapi saat panen tembakau kebutuhan sate naik dua kali lipat.

Untuk menemani sate, disediakan lon­tong. Satu piring sate berikut lontong dijual dengan harga Rp 4 ribu. Dengan me­masang harga seperti itu, Hedi bisa mengontongi untung Rp 100 ribu setiap hari.

KERIPIK TETE
Keripik tete terbuat dari singkong kukus yang ditete (ditumbuk). Karena itulah namanya kripik tete. Keripik ini ada dua bentuk, bentuk bundar dan lonjong memanjang. Selain bentuknya, juga dibedakan antara singkong putih dan singkong kuning.

Keripik khas Pamekasan ini banyak diproduksi di Desa Blumbungan. Hampir di setiap rumah penduduk desa ini, tampak keripik-keripik tete yang sedang dijemur. Ny. Suriyah (65) tak ketinggalan. Bahkan ia telah membuat kripik tete sejak 45 tahun lalu. Belajar dari orang tuanya, wanita berbadan kecil ini, menjadikan usaha pembuatan keripik tete sebagai penghasilan tambahan di luar aktivitasnya sehari-hari sebagai petani. Setiap hari, Suriyah sendirian menumbuk singkong kukus. Singkong tersebut harus ditumbuk dengan batu kali yang sangat berat. "Supaya jadinya cepat," jelas wanita lima anak ini.

Untuk 4 hari ia memerlukan 1 karung singkong (50 kilogram). Dari satu karung singkong tersebut, biasanya dihasilkan 30 ikat keripik. Tiap ikatnya terdiri dari 100 keripik. Harga per ikat Rp 2 ribu.

Keripik ini dipasarkan di Pasar Blumbungan atau Pasar Kota. "Tetapi kadang ada juga pedagang yang membeli keripik langsung di sini," jelas Suriyah.

Keripik dijual dalam bentuk mentah. Para pembeli harus menggoreng sendiri di rumah. Rasanya yang gurih dan renyah, menyebabkan banyak sekali penggemar keripik tete. Selain digunakan sebagai campuran rujak cingur, keripik ini biasa dijadikan kudapan, dimakan begitu saja setelah digoreng atau dicocol dengan sambal kacang yang dibuat dari campuran kacang, petis, dan cabai.

TOKO CAMILAN MADURA
Oleh-oleh khas Madura bisa didapat di toko Camilan Madura, Jl. Stadion. Di toko yang didirikan oleh Ny. Titik (33), 3 tahun yang lalu ini, disediakan berbagai macam penganan khas Madura seperti, keripik tripang (sejenis ulat laut), lorju, keripik tete, oto, rengginang lorju, kacang goreng dengan lorju, dan marning jagung Madura.

Tripang adalah penganan yang paling diminati. Harganya, Rp 65 ribu per kilogram. Juga lorju (sejenis ikan laut). Padahal harganya per kilogramnya Rp 175 ribu.

Selain digoreng biasa, lorju juga bisa digunakan untuk campuran kudapan lain. Seperti rengginang dan kacang goreng. Jika rengginang biasa dapat diperoleh dengan harga Rp 6 ribu per bungkusnya (isi lima puluh buah), maka rengginang dengan lorju harganya menjadi Rp 11.500 per bungkusnya. Sedangkan kacang goreng dengan lorju' dapat Anda peroleh dengan harga Rp 40 ribu per kilogram.

Keripik tete yang dijual di sini sudah matang. Maka harganya pun menjadi Rp 2.500 per bungkus dengan isi 25 keping keripik.

Ada juga kudapan dengan nama oto. Kudapan ini, dibuat dari isi kacang panjang yang kemudian digoreng dengan bumbu, hingga rasanya pedas manis. Oto dapat Anda peroleh dengan harga Rp 8 ribu per kilogram.

Ada jenis kudapan lain yang tidak kalah mahal dan dipilih sebagai oleh-oleh. Keripik paru sapi, misalnya. Anda bisa memperoleh keripik ini dengan harga Rp 140 ribu per kilogram. Selain itu juga ada berbagai ikan asin dan ikan tawar kering. Untuk jenis ini, harganya cukup murah, mulai Rp 2.500 hingga Rp 3.300.

Toko ini buka pukul 07.30 hingga pukul 12.00. Baru sorenya buka lagi pada pukul 16.30 hingga pukul 21.00. Tetapi toko ini tutup hari Raya Idul Fitri.

SATE & GULE KAMBING MADURA
Bagi Anda penggemar sate, Pamekasan bisa jadi tempat favorit Anda. Di malam hari banyak penjual sate di sana. Misalnya, rombang sate Marfuah yang terletak di Jl. Niaga, Sate dan gule kambing dagangan Marfuah (32) ini cukup mudah ditemukan yakni rombong kedua sebelah kiri kalau kita datang dari arah J. Trunojoyo.

Marfuah bersama sang adik memulai usahanya sejak 10 tahun lalu. Tetapi sejak 6 tahun lalu, sang suami, Mu'min (31) ikut berjualan.

Sate Marfuah bisa dinikmati dari pukul setengah lima sore hingga menjelang subuh. "Tetapi, kalau tengah malam sudah habis, kami pulang," ibu seorang putri ini.

Marfuah sengaja memilih daging kualitas bagus. Sehingga sate kambingnya terasa empuk. Tidak lupa, dalam satu tusuk, diselipkan satu iris gajih kambing. Karena gajih kambing itulah yang akan memberi rasa dan aroma yang lebih tajam. Seperti kebanyakan sate Madura lainnya, sate ini juga menggunakan saus kacang dan kecap. Tentu dengan taburan bawang goreng untuk penyedap.

Gule kambing Marfuah juga tidak mengecewakan. Setidaknya begitulah kata sang pemilik. Begitu lezatnya olah gule suami istri ini sampai-sampai, "Pembeli saya dari segala golongan," kata Mu'min bangga.

Tiap hari, mereka menyiapkan 400 tusuk sate dan 3 kilogram daging kambing untuk gule. Harga yang ditawarkan Rp 3 ribu untuk 10 tusuk sate dan Rp 4 ribu untuk satu piring gule kambing. Sementara sepiring nasi, dijual Mu'min Rp 1.500.

SOTO AYAM MADURA
Jika Anda ke Pamekasan, kunjungi Depot soto SMA, yang berada di Jl. Raya Keppo yang didirikan Ny. Hj. Nurul Qomariah (45) tahun 1986. Soto ayam yang ditawarkan ada dua macam, soto ayam biasa dan soto ayam dengan tambahan hati ayam.

Pengelolanya kini Ny. Ida Sulastri (30), adik ipar Hj. Nurul. Depot ini buka mulai pukul 06.00 hingga tengah malam. Dalam satu harinya, mereka minimal menjual 100 mangkuk soto ayam. Angka ini akan meningkat pada hari Minggu. "Wah, Minggu, sih, kami bisa jual lebih dari 150 mangkok," kata Ida.

Ciri khas soto ayam ini, masih menggunakan ayam kampung karena itu rasanya enak. "Kami sengaja menggunakan ayam kampung. Walaupun harganya mahal, tetapi dagingnya lebih enak dan gurih," papar Ida.

Jumlah karyawan warung ini 6 orang. Lima orang bekerja dari pukul 06.00 hingga pukul 17.00. Setelah itu digantikan oleh seorang karyawan lainnya. Walaupun begitu Anda tak akan lama mengantre. "Karena karyawan di depot ini dijamin sudah terampil dan lincah."

NASI JAGUNG

Madura identik dengan makanan yang satu ini. Walaupun begitu, mendapatkan nasi jagung sama sekali tidak mudah. Karena penjual nasi jagung sudah mulai langka. Kalau Anda jalan-jalan ke pasar di pagi hari kadang ada juga satu atau dua nasi jagung, Misalnya, pasar Gurem yang terletak di Jl. Peja. Mereka mulai berjualan pada pukul 07.00 dan sudah habis pada pukul 08.00.

Ny. Hana (48), adalah salah satu penjual nasi jagung. Ia mulai berjualan sejak tahun 1985. Nasi jagung disajikan di atas daun pisang. "Rasanya jadi semakin enak. Lagi pula, repot jika saya harus membawa piring," jelas Ibu dua anak ini.

Penjual nasi jagung memang sering merasa kerepotan jika harus membawa piring karena mereka berjualan tanpa kios. Untuk membawa nasi jagung pun masih menggunakan bakul. Nasi jagung ini merupakan campuran dari beras jagung ditambahkan sedikit beras putih. Nasi jagung disajikan dengan pepes tongkol, urap-urap dengan sayur taoge dan kacang panjang, sayur lodeh, juga tidak ketinggalan tempe bumbu bali.

Satu bungkus nasi jagung, sudah bisa Anda peroleh dengan harga Rp 1.500. Tetapi, jangan lupa persediaannya terbatas sekali. Dalam satu hari Hana dan juga penjual nasi jagung di Pasar Gurem hanya membawa nasi sebakul, yaitu 5 kilogram beras jagung. Itu sebabnya pada pukul 08.00, biasanya mereka sudah kehabisan nasi jagung dan bersiap-siap pulang.

"Saya takut kalau bawa lebih, nanti nasi jagung saya tidak habis. Bawa sedikit saja tidak apa-apa, asal tiap hari laku. Kalau bawa banyak dan habisnya lama, takut keburu dingin. Kalau sudah dingin, kan, rasanya tidak seenak waktu hangat," jelas wanita berbadan kecil ini.

di copy paste dari www.sedap-sekejap.com

Posted by imelda :: 6:23 PM :: 1 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Wednesday, May 10, 2006 SERBA KETAN

I love ketan. Very much. Dibikin atau dimasak apa saja , Always welcome. Kebetulan saya lihat ada kumpulan resep-resep ketan yang kelihatannya enak dan menarik sekali di majalah www.sedap-sekejap.com, jadi saya copy paste deh buat semua penggemar ketan yang suka baca milis di hp soli. Selamat mencobanya .

BAHAN :
125 gram beras ketan
150 ml santan
1/4 sendok teh garam
1 sendok teh kunyit bubuk
1 lembar daun salam

BAHAN BUBUK KEDELAI:
125 gram kedelai
2 buah cabai merah
2 lembar daun jeruk
5 pucuk daun kemangi
2 sendok makan gula pasir
1 sendok teh garam


KETAN KUNING
BUBUK KEDELAI

CARA MEMBUAT :
Rendam kedelai selama 2 jam lalu tiriskan. Sangrai kedelai, cabai merah, daun jeruk, dan daun kemangi sampai kering dan renyah. Gunakan api sedang. Setelah dingin, tambahkan garam dan gula lalu haluskan dengan blender.
Kukus ketan selama 15 menit. Sementara itu rebus santan, garam, kunyit, dan salam sambil diaduk hingga mendidih. Aduk beras ketan ke dalam santan sampai santan meresap lalu kukus sampai matang.
Sajikan ketan kuning dengan bubuk kedelai.

BAHAN :
350 gram beras ketan
350 ml santan
1/4 sendok teh garam

LAPISAN COKELAT:
3 butir telur ayam
150 gram gula merah, sisir halus
2 sendok makan gula pasir
1/4 sendok teh garam
30 gram tepung terigu
50 gram tepung beras
350 ml santan


KATRI SOLO

CARA MEMBUAT :
Kukus beras ketan selama 20 menit. Sementara menunggu, rebus santan dan garam sampai mendidih. Masukkan ketan lalu buat aronan. Kukus sampai matang.
Aduk bahan lapisan cokelat lalu tim sampai matang dan kental. Cara mengetim, rebus air dalam panci. Letakan panci ukuran lebih kecil yang bersisi lapisan cokelat di dalam air. Aduk sampai adonan matang dan mengental.
Masukkan sebagian adonan ketan di dasar cetakan persegi. Tekan-tekan lalu tutup dengan sebagian adonan cokelat. Tutup lagi dengan ketan, tutup dengan lapisan cokelat. Terakhir tutup dengan ketan
Potong-potong lalu sajikan.
BAHAN :
300 gram beras ketan
300 ml santan
1/2 sendok teh garam
2 lembar daun pandan
daun pisang untuk membungkus
2sendok makan minyak goreng

BUMBU HALUS: Lemper
1/2 sendok teh ketumbar
3 butir bawang merah
2 siung bawang putih
2 buah kemiri
1/2 sendok teh garam
1/4 sendok teh gula

BAHAN ISI:
150 gram ayam cincang
1 lembar daun salam
3 cm lengkuas, dimemarkan
1 tangkai serai, dimemarkan
100 ml santan

CARA MEMBUAT :
Tumis bumbu halus, salam, serai, lengkuas sampai harum. Masukkan ayam cincang lalu tuangkan santan. Masak sampai kering dan matang.
Kukus ketan selama 15 menit. Rebus santan, garam, dan daun pandan. Setelah mendidih, masukkan ketan. Buat aron lalu kukus sampai matang.
Selagi masih panas, Tipiskan ketan lalu isi dengan ayam. Buat bulatan sambil dikepal-kepal beberapa kali di atas sehelai daun pisang. Bila sudah membentuk gumpalan yang bagus, bungkus. >> 12 porsi


PUTRI MANDI
KETAN HITAM.
BAHAN :
250 gram tepung beras
ketan hitam
2 sendok makan tepung sagu
175 ml air hangat
garam secukupnya
1 sendok makan air kapur sirih
daun pisang bentuk takir kecil

BAHAN KUAH:
350 ml santan kental
2 sendok makan tepung beras
1 sendok makan tepung sagu
garam secukupnya

BAHAN ISI:
200 gram kelapa muda parut kasar
80 gram gula merah, sisir halus
1 sendok makan gula pasir
1/4 sendok teh garam
1 lembar daun pandan
CARA MEMBUAT :
Uleni tepung ketan hitam, tepung sagu, garam, air kapur, dan air hangat sampai tidak lengket. Sisihkan.
Masak bahan isi sampai kering dan matang. Tipiskan adonan ketan tambahkan isi lalu bentuk bulat sebesar kelereng. Kukus sampai matang.
Aduk bahan kuah dan masak di atas api sampai mendidih. Tata bulatan ketan dalam takir siramkan kuah lalu sajikan dengan teh hangat. >> untuk 12 porsi.

LEPET KETAN HITAM BAHAN:
250 gram beras ketan hitam
250 ml air
150 gram kelapa muda parut kasar
50 gram kacang hijau, rendam
1/2 sendok teh garam
daun janur untuk membungkus .


CARA MEMBUAT :
Rendam beras ketan hitam selama 1 jam lalu kukus hingga 20 menit. Sementara itu didihkan air dan garam lalu masukkan ketan. Aduk hingga menjadi aron, tambahkan kelapa dan kacang hijau. Aduk rata.
Letakkan adonan di atas sehelai daun kelapa yang agak lebar. Gulung di janur lalu lilit dan sematkan ujungnya. Kukus sampai matang. >> untuk 15 biji.
BAHAN :
200 gram beras ketan
1.100 ml air
1 sendok teh garam
2 lembar daun pandan

BAHAN KUAH:
200 gram gula merah, disisir halus
150 gram daging durian
200 ml air

BAHAN AREH:
150 ml santan kental
1 lembar daun pandan
garam secukupnya

BUBUR KETAN HITAM SAUS DURIAN




CARA MEMBUAT :
Rebus bahan bubur sampai matang sambil diaduk (kalau belum matang, boleh ditambahkan air).
Dalam wadah lain, rebus bahan kuah. Di wadah yang lain lagi, rebus juga bahan areh hingga mendidih. Sisihkan.
Cara penyajian, letakkan bubur ketan hitam dalam mangkuk, siram dengan bahan kuah kemudian siram lagi dengan bahan areh. >> untuk 4 porsi.


WAJIK KETAN WAJIK BAHAN :
200 gram beras ketan hitam
200 gram beras ketan
150 gram gula merah
50 gram gula pasir
350 ml santan kental
2 lembar daun pandan
1/2 sendok teh garam

CARA MEMBUAT :
Kukus beras ketan hitam dan beras ketan selama 20 menit. Sementara itu rebus santan, gula merah, gula pasir, daun pandan, dan garam sampai merambut.
Masukkan ketan. Aduk rata sampai matang. Angkat dan ratakan di loyang lalu potong-potong.
Untuk 10 buah .

BAHAN :
200 gram beras ketan tumbuk tidak terlalu halus
200 gram kelapa muda parut kasar
100 gram gula pasir
1/2 sendok teh garam
pewarna merah, hijau
daun pisang

CARA MEMBUAT :
Campur beras ketan, kelapa muda, gula pasir, dan garam.
Bagi dua adonan. Sebagian diberi warna merah, bagian yang lain ditetesi warna hijau. Aduk rata masing-masing adonan. Cetak di loyang yang telah dioles minyak dan dialasi daun pisang.
Kukus sampai matang, potong-potong lalu sajikan.


ULI SAMBAL ONCOM BAHAN:
200 gram ketan
100 gram beras
300 ml air
100 gram kelapa parut
garam secukupnya

SAMBAL ONCOM:
200 gram oncom
3 buah cabai rawit
4 buah cabai merah
2 siung bawang putih
3 cm kencur
3 pucuk daun kemangi
gula pasir dan garam .
3 sendok makan minyak goreng.



CARA MEMBUAT :
Kukus ketan dan beras selama 20 menit. Sementara itu rebus air lalu tuangkan ke ketan dan garam. Tambahkan kelapa. Aduk rata lalu kukus selama 20 menit. Selagi masih panas, haluskan adonan sampai lembut. Cetak di loyang yang telah dialasi daun dan diolesi minyak. Biarkan dingin lalu potong-potong dan bakar sampai berkulit.
Haluskan cabai merah, cabai rawit, bawang putih, dan kencur. Tumis sampai harum. Tambahkan oncom, daun kemangi, garam, dan gula. Aduk -aduk sebentar lalu tuangkan air.
Sajikan uli dengan tumisan oncom. Alternatif lain dengan serundeng kelapa.




BAHAN :
200 gram beras ketan tumbuk kasar
200 gram kelapa muda parut kasar
1/2 sendok teh garam
100 gram gula pasir
gula untuk taburan secukupnya

SAGON BASAH
CARA MEMBUAT :
Aduk ketan, kelapa, garam, dan gula sampai agak berminyak.
Panaskan teflon lalu tata adonan di dasar teflon. Setelah hangat, taburkan gula pasir, lipat jadi setengah lingkaran. Biarkan di atas api kecil sampai matang.

Untuk 15 buah



KUE PUTU KETAN BAHAN :
150 gram beras ketan, tumbuk kasar
200 gram kelapa muda, parut kasar
1/4 sendok teh garam
100 gram gula merah, sisir halus
pewarna hijau secukupnya.




SENGKULUN


CARA MEMBUAT :
Campur beras ketan, kelapa, dan garam lalu bagi menjadi 2 bagian. Beri warna hijau. Sebagian biarkan putih.
Taruh adonan putih setengah bagian cetakan. Taburi gula merah diatasnya. Tutup dengan adonan hijau hingga penuh. Kukus sampai matang.
Sujiwo.

Posted by imelda :: 2:42 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Magelang & Klaten

Akhirnya saya bisa menemukan artikel makanan yang lezat dari lembah tidar buat mbak Christ. Met baca deh, semoga Christ puas dengan semua jajanan yang ada di kota favorit kita ini..

AYAM PANGGANG
Mampir ke Klaten jangan lupa mencicipi ayampanggangnya yang berbahakan baku ayam kampung ini. Kondang dengan rasanya yang legit, manis-manis gurih dengan saus khasnya yang terbuat dari santan kelapa. bau santan yang terkena bara arang makin menggelitik perut kita. ayam panggang Klaten ini pas sekali dinikmati sebagai teman makan nasi hangat. Nah, salah satu toko di Klaten yang ayam panggangnya sangat enak adalah di Toko Florida. Letaknya di jl. Pemuda Tengah No. 61. Kalau kita terlambat sedikit, bisa-bisa kehabisan.
"sejak buka pukul 8 pagi, sudah banyak yang pesan. Padahal ayam panggangnya belum matang,' ujar Ny. Susanna Dewiyanti, pemilik dan pembuat ayam panggang Toko Florida.Ayam panggang yang sudah terkenal sejak tahun 1960-an ini sebetulnya dulunya bukan dibuat oleh keluarga Susanna. "Ibu saya, Ny. Yustin hanya menerima titipan dari orang lain," kisahnya.
Tetapi karena si pengusaha ayam panggang ini berniat menghentikan usaha ayam panggang yang dititipi itu, ia menjual usaha tersebut kepada Yustin. "Sejak itulah kami membuat sendiri ayam panggang. kami tak hanya berbekal resep asli ayam panggang, tapi sekaligus para pegawainya. Bahkan, kami turun tangan membuat menangani sendiri pembuatannya," keanng Susan.
Sebagai pembuat ayam panggang khas Klaten yang terkenal, masalah peniruan tentu tak dapat dipungkiri. "Banyak yang berjualan putar kampung dan menyatakan bahwa ayam panggang jualannya mengambil dari Florida. Padahal kita tidakmenjual door to door.
Ayam panggang buatan Susanna tahan hingga dua hari satu malam. Asalkan jangan dikemas dalam keadaan panas. Dalam sehari Toko Florida mampu menjual ayam panggang sebanyak 8-10 ekor. Lain halnya saat liburan, bisa sampai 20 ekor per hari. Tipa potong ayam di jual Rp. 7.500 sedangkan seekornya berkisar Rp. 20 ribuan.


ROTI MUNCUL.

Untuk penduduk sekitar Kabupaten Klaten dan sekitarnya, Roti Muncul bukanlah makanan asing. Kala mengadakan acara arisan atau upacara berkabung, mereka pasti memesan roti semir dari Roti Muncul. Ada sejak tahun 1954, Roti Semir Muncul tetap bertahan hingga kini. Tiap hari memproduksi sekitar 2.000 buah roti. "Itu belum termasuk pesanan, lo. kalau ad apesanan, kita bisa peoduksi lebih dari 2.000 buah," terang Ny. Medy Sigit Purnomo.
Saat ini pelanggan Roti Muncul bukan hanya dari Klaten. Belakangan banyak pemesan dari Yogyakarta, Prambanan hingga Wonosobo. Padahal roti seharga Rp.250 per buah ini tanpa mempergunakan bahan pengawet. "Pokoknya tiap hari harus habis. Kami tak pernah menyimpan roti buatan kami. Jadi dijamin tanpa ada bahan pengawet walaupun bisa bertahan 3 hari.

SOTO BEBEK
Bagi penyuka aneka soto, harus mencicipi hidangan yang satu ini. Sepanjang jalan raya antara Yogya - Klaten, tepatnya di daerah pabrik gula Gondangwinangun, berjejer warung soto bebek ini. Menilik dari namanya tak salah kalau bahan bakunya memang dari daging bebek. Kebanyakan orang mengatakan bahwa daging bebek biasanya anyir dan alot. Jangan salah, soto bebek khas Klaten, sungguh empuk dan bebas dari bau anyir.
Daging bebeknya selembut daging ayam dan kuah sotonya segar. Kalau kita ingin memperoleh soto beserta daging bebek, harus bergegas karena warung soto ini sudah buka sejak pukul 6.00 pagi. Menjelang makan siang biasanya bebek gorengnya sudah habis.
Salah satu warung soto bebek yang terkenal di daerah Klaten adalah Soto Bebek Ny. Suwarni. Harganya cukup terjangkau, Rp. 2.000 per mangkuk dan bebek gorengnya Rp. 3.000 per potong hingga Rp. 22.500 per ekor. Soto ini hanya bisa ditemui di wilayah Klaten saja. Selain dinikmati sebagai soto, akhir-akhir ini di kedai soto bebek juga disediakan nasi putih beserta lalap dan sambal sebagai teman makan bebek goreng.
"Soalnya banyak permintaan. Jadi, ini menu baru. Tetapi kebanyakan memang orang mencari bebek gorengnya karena khas. Bumbunya hanya dibacem hingga empuk lalu digoreng sebentar. Rasanya manis gurih," terang Ibu Suwarni.


KERIPIK CAKAR AYAM
Banyak orang mengira keripik cakar ayam berasal dari Bali. Ternyata berasal dari Klaten. Berawal dari usulan pelanggannya, Ny. Waluyo, pengusaha aneka keripik di Klaten menguji coba cakar ayam yang tadinya cuma limbah. "Cari bahan cakar ayam itu susah, lo. Satu kuintal cakar ayam basah hanya bisa mendapatkan sekitar 30 kg keripik cakar. Penyusutannya banyak," katanya.
Uji coba membuat keripik ini berjalan kurang lebih selama 1 bulan. "Wah, susah membuatnya. Dari yang menjadi bulukan sampai bukannya renyah, tapi alot. Tapi kami pantang menyerah," tuturnya. Dalam ujicoba itu Ny Waluyo pernah harus membuang sebanyak 2 kuintal cakar ayam mentah karena gagal. Soalnya belum punya pengalaman membuat makanan itu.
Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Cakar ayamnya bukan cuma enak tetapi diterima masyarakat dan laris di mana-mana. Sayang saja seorang pembantu kepercayaannya membocorkan resepnya. "Padahal dia cuma dibayar Rp 25 ribu," keluh Ny. Waluyo. Sejak itu banyaklah orang-orang yang membuat keripik cakar ayam. "Toh, walau banyak yang meniru, tapi rasanya berbeda dengan buatan saya," katanya.
Menghindari peniruan hasil karyanya, Ny. Waluyo akhirnya memindahkan pabrik keripik cakar ayamnya. Kini tidak semua orang bisa mengunjungi pabriknya. Kalau ada kunjungan tamu, para pegawainya langsung menghentikan produksi.
Pembuatan keripik cakar ayam tidak semudah yang kita kira. Awalnya, tulang cakar dilepas lebih dahulu kemudian digoreng. Minyak bekasnya harus dibuang karena banyak mengandung air dari cakar ayam. Setelah itu ada proses-proses lain yang kalau ditotal-total butuh waktu 1 minggu.
Tetapi ada rahasia khusus yakni, cakar harus betul-betul baru dipotong, tidak boleh diinapkan. "Cakar yang diinapkan akan bau dan tidak bisa diolah kembali. Cakar yang sudah dieskan juga tidak bisa dibuat menjadi keripik," terangnya.
Kendala lain kala musim hujan tiba. Pembuatan cakar terpaksa dihentikan karena cakar harus diangin-anginkan di bawah terik matahari. Karena proses kerja yang lama dan sukar serta bahan baku yang tidak sedikit, maka harga jual keripik cakar cukup mahal. Per bungkus dengan berat 250 gram dijual sekitar Rp. 7.500. Bahkan kalau sudah masuk supermarket harganya bisa berlipat menjadi 3 sampai 5 kali.


GETUK
Kalau kita sempat berkunjung ke kota Magelang atau sekadar mampir sepulang berwisata ke Candi Borobudur, jangan lupa membawa oleh-oleh khas Magelang, Getuk Trio. Getuk berbahan dasar singkong ini memang hanya ditemukan di Magelang dan kota di sekitarnya saja. Disebut sebagai getuk Trio bukan saja merek dagangnya, melainkan juga karena getuknya terdiri dari tiga warna, putih, cokelat, dan merah jambu. Rasanya? Jelas enak, manis, dan gurih.
Ketika pertama kali dikenalkan di pasaran, tahun 1958, getuk trio tidak tampil dalam kemasan dos karton dengan cap Getuk Trio. "Waktu itu kemasannya masih berupa besek (boks terbuat dari jalinan serat bambu, Red.)," ujar Herry Wiyanto.
Usaha getuk ini semula bertujuan memanfaatkan singkong yang berlimpah. Ternyata getuk buatan ibunya, Ny. Setiawatidigemari masyarakat, terutama menengah ke bawah. Lama-kelamaan yang menggemari getuk kami semua lapisan masyarakat. "Walaupun bahan bakunya murah tapi rasanya tidak mengalahkan roti," tutur Herry bangga.

Getuk nikmat asli Magelang ini belum memiliki merek dagang, namun ketenarannya di tahun 60-an mampu membuat getuk ini tampil sebagai sajian untuk Ratu Sirikit dari Thailand yang berkunjung ke Candi Borobudur. "Setelah itu getuk ini dikenal sebagai Getuk Sirikit. Belum puas dengan ketenaran Getuk Sirikit, Setiawati mencoba memberi nama dagang untuk getuknya agar lebih dikenal lagi," kisah Henry.

Karena keluarganya terdiri dari tiga bersaudara, lalu memiliki usaha bengkel vulkanisir ban yang bernama Trio dan getuknya juga terdiri dari tiga warna, nama Trio pun akhirnya diambil sebagai merek dagang resmi.
Sebagai pendukung kelangsungan usaha, mereka juga menciptakan sendiri alat penghalus singkong. "Sekarang banyak pengusaha getuk yang meyerupai Getuk Trio, tetapi kami menganggap bukan sebagai saingan. Kehadiran mereka justru membuat kami terpacu meningkatkan kualitas terus-menerus," tandas Herry.
Dalam sehari Getuk Trio yang dijual Rp. 3500 per dus ini bisa menghabiskan 2 kuintal singkong untuk bahan baku. "Itu bisa menghasilkan 300 dus. Kalau hari libur bisa lebih banyak lagi," tuturnya.

Dibuat tanpa mempergunakan bahan pengawet, Getuk Trio hanya tahan dua hari saja. "Produksi hari ini dijual hari ini. Kami tak pernah menunda. Kasihan konsumen nanti, mendapatkan produk yang tidak fresh," ujarnya.
Sebagai kota Getuk, tentu tak cuma getuktrio buatan Henry yang ada di Magelang. Ada lagi getuk lain yang dikenal sebagai Getuk Gondok.

Untuk mendapatkan penjual Getuk Gondok biasanya kita harus ke pasar tradisional. Getuk Gondok pertama dan paling enak adalah di Pasar Rejowinangun depan Toko Florida. Di sinilah Getuk Gondok asli berada. Biarpun berjualan di pasar tradisional dan hanya di emperan jalan, tapi penggemarnya banyak. "Dalam sehari kalau sedang ramai seperti masa liburan atau akhir minggu, kami bisa menghabiskan singkong hingga 2 kuintal," jelas Ny. Sri Rahayu yang sudah berjualan getuk selama 15 tahun menggantikan sang ibu, Ny. Ali Mohtar.

Mengaku sudah lupa sejak kapan getuk ini tercipta, tapi menurut cerita Sri, nama Getuk Gondok bukan nama asli dari produk getuk ini. "Dulu ada seorang pembeli yang tak sengaja menyebut getuk yang berbentukbulat-bulat (berdiameter 5 cm, Red.) itu dengan getuk gondok. Mungkin karena ibu saya menderita gondok. Dengan setengah menahan marah, ibu saya tetap melayani si pembeli. Semenjak itu, getuk ini dikenal sebagai Getuk Gondok hingga kini, dan penjualnya dikenal pula dengan nama Mbah Gondok," tuturnya.
Getuk ini mulai buka sejak pukul 5 pagi hingga sore hari sekitar pukul 4. Jenis getuk yang dijual berupa getuk pelangi, berwarna merah jambu, hijau, putih, dan coklat. Sri juga menjual getuk trio, jongkong, dan klepon.

ANEKA ES
Walaupun kota Magelang cukup dingin, tetapi di kota Magelang ada penjual es yang cukup kondang. Salah satunya adalah Es Murni. Toko khusus aneka minuman es yang dikelola oleh Bakoh Suryanto sejak tahun 1962 ini, dahulu dikenal dengan es stik atau es lilin.

"Sejalan dengan perkembangan zaman, kami mencoba membuat berbagai es campur. Mulai dari es serut atau dikenal dengan es gandul sampai es cendol," jelasnya. Selain dikenal dengan paduan es yang enak, Es Murni dikenal juga dengan sirup untuk mempermanis sajian es. "Soalnya sirup untuk Es Murni kami buat sendiri dan berbahan baku gula asli. Jadi kalau habis minum es Murni dijamin tak akan batuk-batuk," terang Bakoh setengah berpromosi.

Setiap hari Es Murni bisa menghabiskan bahan baku gula pasir sebanyak 5 kg. Di musim liburan sekolah, bisa sampai 4-5 lipat. "Biasanya yang datang saat itu adalah orang yang ingin bernostalgia atau mengajak anak-cucu ke tempat dulu biasa membeli es," ujar Bakoh yang sudah mematenkan nama Es Murni.
Selain bisa ditemui di Jl. Sriwijaya No. 6 Magelang, ada cabang lain di Ruko Prayudan A-3 Jl. Raya Mertoyudan. Di kedua tempat tersebut kita bisa menikmati sajian Es Kopyor, Es Campur, atau Es Pleret-nya yang terkenal.

Nah, kalau sudah mencicipi Es Murni, kita bisa juga mencoba es buatan Eny di Jl.Jenggolo 10. Kedai es ini sedemikian terkenalnya selain karena nikmat dan segar rasanya, juga menyediakan berbagai menu es yang namanya agak aneh di telinga. Kita bisa coba Es Bumi Hangus, Es Kemesraan, Es Tenda Biru, Es Anti Stres, Es Padang Pasir, Es Uenak Tenan, Es Dragon Ball, dan lain-lain.

Ini hanya sebagian saja, lo. Berbeda dengan namanya yang heboh, es yang disajikan kadang-kadang terlihat biasa-biasa saja. Tapi kita patut memuji kekreatifan si pembuat es. Bayangkan saja namanya Es Padang Pasir, ternyata isinya 'hanya' berupa es selasih. Penasaran, kan?

KUPAT TAHU
Jajanan ini pas dinikmati di siang hari yang panas. Racikan antara gerusan bawang putih, cabai rawit, kuah kecap dicampur dengan potongan tahu, taoge, kol, serta taburan
seledri dan bawang goreng, selintas memang biasa saja. Tetapi setelah suapan pertama rasanya memang lain. Luar biasa segar. Tak heran jika di warung Tahu Pojok di Jl. Tentara Pelajar selalu ludes habis terjual. Dalam sehari paling tidak bisa menjual 100 piring. Jangan bingung kalau penjual Kupat Tahu di Jl. Tentara Pelajar lebih dari satu. Nah, penjual Kupat Tahu Magelang yang paling kondang adalah milik Bapak Setu.


SOTO Jl. IKLAS
Soto yang terletak di kompleks pertokoan Jl. Iklas Magelang ini sebenarnya serupa dengan soto kudus. Tampilannya berupa soto bening dengan taoge dan suwiran ayam goreng. Yang membuat begitu istimewa, soto ini disajikan bersama aneka gorengan bacem jeroan sapi. Kalau hanya berupa jerohan sapi tampaknya biasa. Yang membuat tampil beda selain soto dan gorengannya nikmat, baceman jeroan tadi sangat empuk. Saat kita menggigitnya, tak perlu berjuang karena alot.


RONDE DAN SATE PISANG
Di Magelang kala senja mulai tiba, minuman hangat yang nikmat menyertai sambil bersantai adalah wedang ronde. Minuman hangat beraroma jahe ini tak beda jauh dengan jenis wedang ronde, sekoteng, atau wedang ndongo yang sudah kita kenal.
Sambil menikmati wedang ronde hangat, kita bisa menyantap cemilan berupa sate pisang. Sajian ini berupa pisang tanduk yang direbus lalu dipotong-potong bulat setebal 1,5 cm. Pisang ini kemudian ditusukkan ke dalam tusuk sate. Pisang yang sudah disusun ala sate ini disiram dengan saus santan. Kedai wedang ronde dan sate pisang sangat terkenal di kota Magelang. Biasanya para penggemar mengarahkan langkahnya ke warung wedang ronde di Jl. Medang.

BUBUR GUDEG

Sajian ini biasanya dinikmati sebagai sarapan. Maka kedai bubur gudeg paling lama hanya buka sampai pukul 10 pagi. Biasanya para penjual bubur gudeg siap melayani pembeli sejak pukul 6 pagi. "Bubur paling enak untuk sarapan. Tidak terlalu kenyang, tapi cukup sebagai ganjelan sampai makan siang," ujar salah seorang pelanggan bubur gudeg.
Kalau kita berkunjung ke Magelang, sempatkan mampir makan pagi di bubur gudeg Jl. Pajajaran depan sebuah sekolah dasar. Walaupun tempat berjualannya non-permanen, kita disediakan bangku kayu untuk menikmati bubur gudeg di tempat. Penjualnya, Ibu Musni.
Rangkaian bubur gudeg terdiri dari bubur yang dibubuhi sayur nangka dan guyuran kuah sambel goreng krecek. Untuk lauknya kita bisa pilih telur, ayam, atau tahu.
Selain menyediakan bubur gudeg, biasanya juga disediakan bubur pedas, yaitu bubur dan sambel goreng krcek. Atau bubur ketan kinca, campuran bubur nasi, ketan, dan kinca dengan taburan kelapa parut.

ANEKA OLEH-OLEH

Untuk oleh-oleh kita bisa mencari wajik khas Magelang, Wajik Ny. Week. Wajik yang terbuat dari beras ketan dan gula jawa ini juga salah satu makanan khas dari Magelang. Beras ketan yang dimasak bersama-sama dengan gula kelapa hingga lengket ini sangat disukai untuk oleh-oleh karena cukup awet. Paling tidak selama 1 minggu masih enak dinikmati.
Mendapatkan Wajik Ny. Week tidaklah sulit karena banyak sekali toko makanan yang menjual penganan khas tersebut. Kalau kurang suka dengan rasa manis wajik, kita bisa pilih jenis makanan lain yang tidak terlalu manis. Misalnya, krasikan. Makanan ini terbuat dari beras yang ditumbuk halus lalu disangrai dan dicampur dengan tepung ketan dan gula. Rasanya manis gurih dan agak kasar karena ada beras tumbuk.
Krasikan yang sedap bisa kita beli di toko dodol dan krasikan Ny. Pang, Muntilan. "Penggemarnya kebanyakan orang dari Jakarta dan Jawa Barat yang berlibur atau mengunjungi kerabat," terang Ny. Kartiningsih, penerus pembuat dodol dan krasikan Ny. Lauw Kie Pang.
"Kalau musim liburan, sehari kita menghabiskan 60 kilo tepung ketan," lanjutnya. Walau masih mempergunakan tangan untuk mengemas dodol dan krasikan, produk Ny. Pang ini bisa bertahan selama 2 minggu. sdp@Rika Eridani, foto-foto: Rika

di copy paste dari www.sedap-sekejap com oleh Sujiwo.

Posted by imelda :: 2:40 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Monday, May 08, 2006 Jalan-jalan ke Sumenep

Beberapa di antaranya memang mirip dengan hidangan Jawa Timur-an. Tetapi uniknya sentuhan Madura-nya tetap ada hingga kita tidak lagi merasa seperti menyantap makanan Jawa Timur, melainkan penganan Madura. Nah, mari kita mulai dengan Sumenep.


PUSAT JAJANAN Jl. Sludang

Di malam hari, Jl. Sludang merupakan tempat makan yang paling ramai dikunjungi orang. Tak heran, di situ ada 15 penjual makanan. Yang ditawarkan macam-macam, mulai dari nasi goreng, mi goreng, hingga nasi burung dara.

Salah satu penjual yang tampak ramai dikunjungi pelanggan dan bertahan dari tahun 1985 adalah penjual nasi burung dara bernama AREMANIA. Pemiliknya, Sugeng (24). "Awalnya, sih, yang memegang Sumarsih, kakak saya," tutur Sugeng.

Masakan yang ditawarkan di warung ini adalah nasi burung dara goreng, nasi ayam goreng, nasi goreng, dan mi goreng. Satu porsi nasi goreng dan mi goreng Rp 3 ribu. Sedangkan nasi ayam goreng lengkap dengan lalapan dapat Anda peroleh dengan harga Rp 5.500. Untuk masakan andalan, nasi burung dara goreng, lengkap dengan lalapannya sudah bisa Anda peroleh dengan harga Rp 8 ribu.

"Saya sebenarnya asli Malang. Karena itu oleh kakak saya, warung ini dinamakan AREMANIA, sebutan bagi fans AREMA (Arek Malang, Red.)," jelas pria berkulit gelap ini.Karena pelanggannya cukup banyak, Sugeng mempekerjakan 6 orang karyawan. Mereka membantu Sugeng menyiapkan hidangan dari 150 ekor burung dara, 30 ekor ayam kampung, dan 25 kilogram beras.
Aremania sudah bisa dikunjungi sejak pukul 16.00 hingga tengah malam. "Tetapi kalau sedang ramai, pukul 8 malam pun sudah tutup karena habis," ungkap Sugeng.

Di bulan puasa, saat Lebaran, hari raya tupat, atau hari raya besar, jumlah bahan baku yang harus mereka siapkan pasti bertambah. Karena pada saat-saat tersebut dapat dipastikan jumlah pembeli meningkat


WARUNG KALDU BU SADIK

Kaldu masakan khas Sumenep yang banyak penggemarnya. Sebetulnya, tak lain dan tak bukan adalah sup kental kacang hijau. Sup ini bisa disantap bersama potongan kikil atau singkong kukus. Bentuknya kental seperti bubur sumsum, tetapi tentu saja warnanya gelap karena terbuat dari kacang hijau yang dimasak hingga betul-betul hancur.

"Saya sudah jualan kaldu sejak masih anak-anak, waktu Zaman Belanda" kata Ny. Sadik, salah satu penjual kaldu. Mungkin karena sudah begitu pengalaman, kaldu buatan Sadik selalu laris manis. "Makanya, setiap hari saya harus menyediakan 9 kilogram kacang hijau," tambah Sadik yang membuka warung dari pukul 10.00 hingga pukul 21.00 ini.

Dengan menyiapkan uang Rp 2 ribu saja, Anda sudah mendapatkan satu piring penuh kaldu. Tentu tanpa penambahan kikil. "Kalau pakai kikil, harganya Rp 8 ribu."

Selain bersama kikil, sup kental kacang hijau ini sering disantap dengan potongan singkong rebus. Konon, rasa gurih yang amat menonjol jadi agak netral bila dimakan dengan singkong rebus.



DEPOT NIKMAT SATE GULE

Pergi ke Sumenep, pasti Anda akan mencari sate. Desa Bluto. Desa ini dikenal sebagai daerah pembuat sate yang terkenal kelezatannya. Sate khas desa ini juga bisa diperoleh di Sumenep, antara lain di Depot Nikmat Sate Gule. Pemiliknya Ny. Dalliludin (50).

"Warung ini sudah tua. Saya saja dapat dari ibu saya, Ibu Asep," ujar Dalliludin. Anda bisa memilih berbagai macam sate di sini yaitu sate kambing, sate ayam, sate sapi, dan sate ati. Selain itu juga ada gule kambing. Gule kambing yang ditawarkan dalam potongan besar lengkap dengan tulangnya. Jadi, satu mangkuk berisi satu potongan besar kambing.

Semua jenis sate dijual dengan harga yang sama, Rp 7.500 untuk tiap 10 tusuk. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, Rp 8.500 untuk 10 tusuk sate plus sepiring nasi putih penuh menggunung. Sedang gule kambing dapat Anda peroleh dengan uang sebesar Rp 2 ribu.

Anda dapat mengunjungi depot ini mulai pukul 08.00 hingga pukul 22.00. Terdapat 7 orang karyawan yang akan siap melayani pesanan Anda. Kalau ingin mendapat pelayanan yang cepat, hindari berkunjung pada jam sibuk, antara pukul 10.00 hingga 12.00, Maklumlah kapasitas depot hanya 50 orang.

Karena banyaknya pembeli, dalam satu harinya Dalliludin, harus menyiapkan 3 ekor kambing, 6 kilogram daging sapi, 3 kilogram daging ayam, satu kilogram hati sapi, satu kilogram hati kambing, dan 8 kilogram beras.

"Sabtu, Minggu, dan Selasa harus lebih banyak lagi, Tiga hari itu selalu ramai di sini. Terutama Selasa. Selasa, kan, ada pasar selasaan," imbuhnya.


RUMAH MAKAN KARTINI

Di Sumenep, Rumah Makan Kartini cukup terkenal. Terutama karena hanya di rumah makan yang terletak di Jl. Diponegoro ini, Anda dapat menjumpai cake. Sebenarnya cake cuma tumisan ayam yang dicampur dengan lidah lalu dibubuhi sedikit sayuran. Warnanya merah. Sayuran yang digunakan, bunga kol, kol, dan wortel yang diiris sangat kecil, Tumisan ini kemudian disajikan dengan taburan keripik kentang.

Rumah makan yang didirikan Ny. Hj. Kartini (76) sejak tahun 1938 ini kini dikelola Ny. Hj. Erni (64). Selain menjual cake, juga tersedia nasi sop, nasi goreng, nasi rawon, nasi campur, dan sop buntut. Rata-rata tiap masakan dijual Rp 6.500 per porsi.

Rumah Makan ini mulai buka pukul 09.00 dan tutup pukul 21.00. Dengan jumlah karyawan sebanyak 6 orang, Anda tidak perlu khawatir akan menunggu lama untuk memperoleh pesanan. Tak banyak yang datang ke kedai ini kecuali setiap tanggal muda. Saat itu rumah makan ini, terlihat ramai. Untuk mengatasi sepinya pembeli, mereka juga memenuhi pesanan makanan dan kue untuk pesta.

Kue yang dijual antara lain, kue lumpur dan black forest. Tiap hari pasti ada saja pesanan kue yang datang hingga mencapai 500 kue. Untuk memenuhi pesanan kue tersebut, Erni dibantu oleh 6 orang karyawan. Jadi, kegiatan ini tidak mengganggu rumah makan karena memiliki tempat yang terpisah dan karyawan yang berbeda.

Selain masakan dan kue, mereka juga menyediakan berbagai oleh-oleh khas Madura. Seperti petis madura, rengginang, lorju goreng, emping dari umbi rumput teki, kacang mede goreng, keripik singkong, hingga marning.

SOTO




RUJAK CINGUR SUMENEP
Tak cuma Surabaya yang punya rujak cingur. Sumenep pun punya hidangan ini. Keduanya sedikit berbeda, terutama dari warnanya. Buatan Surabaya bumbunya berwarna hitam karena petis yang digunakan petis udang dan hitam warnanya. Rujak cingur Sumenep lebih cokelat karena petis madura dibuat dari ikan pindang. Warna petisnya pun kecokelatan. Rasanya pun lain. Jika rujak cingur Surabaya terasa manis, maka rujak cingur Sumenep terasa lebih asin.

Kacang dan pisang batu yang digunakan pun jauh lebih banyak. Bedanya lagi, rujak Sumenep tidak menggunakan asam jawa. Sebagai gantinya, mereka menggunakan cuka. Ternyata tak hanya bumbunya yang beda, isi rujak pun berbeda. Jika di Surabaya, isi rujak terdiri dari sayuran dan buah yang banyak jenisnya. Di Sumenep sayurannya hanya kacang panjang dan taoge. Sedangkan buahnya hanya ketimun dan kedondong.

Uniknya pula rujak Sumenep tidak menggunakan lontong, tetapi ketela pohon yang dikukus. Sebagai pengganti kerupuk ditambahkan keripik singkong.

Seperti juga soto, di Sumenep juga banyak warung yang menjual rujak cingur karena memang sebagian besar penjual soto juga menjual rujak cingur.

Warung rujak yang cukup terkenal adalah warung rujak Nya' Pin. Warung yang terletak di Jl. Letnan Ramli ini tidak tampak seperti warung. Anda harus rajin bertanya ke sana-sini untuk mengetahui letak warung ini. Karena tanpa papan merek dan terletak di samping rumah. Dari depan hanya tampak pintu kecil. Tetapi warga Sumenep cukup mengenal warung yang mulai berjualan sejak tahun 1955 itu.


Sebutan Nya' Pin pun diambil dari nama pemiliknya, Ny. Harpini (71). Nenek dengan 4 buyut ini, memilih menjadi penjual rujak karena sulit mencari kerja pada orang lain. Warung yang buka mulai pukul 08.00 ini tutup pada pukul 21.00.

"Tapi, kadang kalau sudah capek dan pengunjung sudah tidak ada, saya tutup lebih awal," papar wanita yang tampak masih gagah ini.

Seperti juga soto, harga satu piring rujak hanya Rp 3 ribu per porsinya. Dijamin, rasa rujak cingur ini tidak kalah enak dibandingkan dengan rujak cingur Surabaya yang sudah terkenal itu. Makanya pelanggan Nya' Pin pun juga ada yang berasal dari Lampung dan kota-kota besar di Pulau Jawa.


WARUNG IPNO

Warung ini terkenal dengan sebutan warung IPNO. IPNO sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Iwak Pindang Sekol Tono (ikan pindang, srundeng bakar, Red.). Warung yang terletak di Jl. Raya Manding, Desa Kebunan ini, merupakan warung favorit bagi kebanyakan warga Sumenep, termasuk para pejabat Pemda Sumenep. Warung yang sudah berdiri selama 36 tahun tersebut, didirikan oleh Ny. Safiah (63), dan sekarang dilanjutkan oleh Ny. Indriani (30), anaknya.


Warung mulai buka pada pukul 08.00 hingga pukul 19.00 ini, akan mencapai puncak ramainya, pada pukul 10.00 hingga pukul 14.00. Apalagi di bulan-bulan musim panen tembakau tiba, yaitu bulan 8 hingga 10. Saat itu, warung akan buka hingga pukul 21.00. Bahkan pengunjung pun tidak hanya ramai di jam-jam khusus, tetapi sepanjang hari.

Saat jam ramai, pengunjung bahkan rela antre dan menunggu sampai dapat duduk. Karena kapasitas warung hanya 30 orang saja. Menu yang disajikan cukup banyak, mulai nasi putih, sayur lodeh, srundeng bakar, ikan laut, udang, telur, dan tahu, lengkap dengan sambalnya. Semua masakan disajikan di meja pembeli dalam piring-piring kecil.

Tetapi Anda juga dapat memesan nasi yang sudah dilengkapi lauk. Nasi yang ini sudah dapat Anda peroleh dengan membayar Rp 3.500 saja. Isinya, sayur lodeh, serundeng, ikan, dan telur. Kalau masih ingin tambah lauk, Anda tinggal membayar Rp 1.500 untuk satu potong lauk.

Srundeng bakar merupakan menu istimewa warung ini. Uniknya, kelapa dibakar bersama batok kelapanya. Setelah kelapa terkelupas dari batok, baru diparut dan diberi bumbu. Setelah itu kelapa tidak perlu disangrai lagi karena sudah matang akibat dibakar tadi. Rasanya sangat khas akibat bau asap yang ditimbulkan dari proses pembakaran.

"Srundeng dan masakan di sini sangat enak. Walaupun mungkin di tempat lain ada, tidak ada yang seenak ini. Berbeda banget deh, rasanya," ujar Maman (27) salah satu pelanggan setia warung ini.

Konon yang membuat lauk-lauk di warung ini sangat lezat adalah teknik menggoreng lauk. Sayangnya Indriani tidak bersedia memaparkan tekniknya.

Dalam satu hari Indriani memasak 1 kwintal beras, 500 butir telur ayam, 4 kaleng besar (kaleng untuk minyak tanah) tahu, 25 tongkol ukuran besar, dan 100 ekor ikan pindang. Sedangkan kelapa mencapai angka seratus.


KERIPIK SINGKONG BARU MUNCUL

Keripik singkong, merupakan salah satu oleh-oleh khas dari Sumenep. Penghasil keripik singkong yang terkenal adalah daerah Manding. Salah satunya adalah keripik singkong Baru Muncul. Menurut Hj. Hosnani (38), usahanya dimulai sejak tahun 1990. "Tapi, saat itu saya mulai dari berjualan dalam bentuk rentengan," kenangnya.

Maksudnya kripik dibungkus dalam kantung plastik yang tiap bungkusnya disambung dengan bungkus lainnya, terus memanjang.
Maksudnya kripik dibungkus dalam kantung plastik yang tiap bungkusnya disambung dengan bungkus lainnya, terus memanjang.

Kesulitan memperoleh singkong sebagai bahan baku, membuat produksi Hasnani berkurang. Jika dahulu bisa membuat keripik dari 2 ton singkong, saat ini hanya 7 kwintal. "Singkongnya tidak ada, terpaksa produksi dikurangi. Pengiriman keripik jadi tidak bisa tiap hari, paling-paling seminggu tiga kali," keluh wanita dengan satu cucu ini.

Saat ini, usaha yang dilakukan tinggal menggoreng keripik. Bahan baku berupa singkong, berasal dari Desa Beringin, sudah datang dalam bentuk irisan. Penggorengan dilakukan di atas kayu bakar. "Inilah yang membuat keripik saya renyah," kata Hanani bangga.

Untuk pembungkusan Hasnani meminta bantuan para tetangga. Ada 10 orang tetangganya yang membantu membungkus. Mereka dibayar Rp 125 tiap 30 bungkus. Dari 10 tenaga tersebut, satu hari bisa diperoleh 700 bungkus keripik singkong.

Keripik singkong tersebut, dibedakan menjadi dua, rasa, asin gurih dan rasa pedas manis. "Orang lebih suka rasa asin ketimbang yang pedas manis," kata wanita berambut panjang ini.

Ukurannya pun dibagi dua. Ukuran besar dengan harga Rp 1.000 dan ukuran kecil dengan harga Rp 200. Mengenai pemasaran, Hosnani dan H. M. Ibrahim, suaminya, lebih mempercayakan pada distributornya di daerah Sepanjang, Surabaya. "Kita selalu kontinyu mengirimkan keripik singkong ke sana. Mereka lah nantinya yang mengirimkannya ke toko-toko," papar Hosnani.

Sulitnya bahan baku singkong, tidak membuat Hasnani putus asa. Bersama Ibrahim, mereka mencoba membuat marning jagung yang pedas manis. Tampaknya tawarannya pun disambut "hangat" masyarakat .

WARUNG APEN DESA BANGKAL

Satu lagi makanan khas Sumenep yang dapat dijumpai di warung-warung. Apen merupakan makanan seperti apem atau serabi. Dibuat dari tepung beras dan disajikan dengan kuah gula siwalan yang sudah dicampur dengan sedikit santan.

Salah satu warung Apen yang terkenal adalah warung apen Desa Bangkal milik Moesarrap (67). Warung ini sudah berdiri sebelum tahun 1935. Pada awalnya, pemiliknya Mbah Nurdi, kemudian diteruskan oleh Sahriyah. Baru pada tahun 2001 dikelola oleh Moesarrap. Biasanya, Apen disajikan saat pagi hari, karena itu, jam buka warung ini sejak subuh hingga pukul 10.00. Tetapi, untuk hari Minggu, biasanya warung sudah tutup pada pukul 07.00.

"Soalnya, banyak anak-anak muda yang jalan-jalan pagi dan mampir beli apen," jelas Moesarrap. Tiap hari Moesarrap biasa menyediakan Apen yang dibuatnya dari 10 kilogram beras. Untuk membuat apen diperlukan waktu 12 jam, mulai dari mencuci beras hingga menggoreng apen.

"Mencuci beras harus sampai benar-benar bersih, sampai tidak ada sekamnya sama sekali. Baru kemudian direndam." papar pensiunan pegawai negeri ini.

Moesarrap memang membuat tepung beras sendiri, tidak membeli yang siap pakai. "Inilah yang membuat apen terasa enak. Selain itu bahan penggorengan juga harus dari besi," katanya membuka rahasia.

Karena tidak menemukan penggorengan yang pas, Moesarrap menggunakan penggorengan kuno dari besi. "Tetapi ukurannya besar sekali. Supaya kecil, saya potong-potong hingga pas untuk membuat satu buah apen."

Harga satu porsi apen Rp 1.500 untuk apen yang tidak menggunakan telur dan Rp 2 ribu untuk apen yang menggunakan telur. Satu porsi apen terdiri dari 4 buah, kemudian diguyur saus dari gula siwalan.

Jika belum puas dengan 4 apen tersebut, Anda cukup mengeluarkan uang tambahan sebesar Rp 250 untuk satu apen tanpa telur dan Rp 300 untuk satu apen yang dibuat dengan telur.



Meta Kusumawati
FOTO-FOTO: -

Posted by imelda :: 11:11 PM :: 1 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Bengkulu

PUSAT JAJAN

Bingung mau bersantap malam apa di Bengkulu? Pergilah ke Pasar Minggu, di Jl. K.Z. Abidin. Di sini Anda bisa me­nemukan segala jenis makanan. Meski cuma di gerobak atau tenda, toh, dari segi rasa cukup enak. Tak kurang dari bakso, sate ayam, sate pa­dang, nasi go­reng, martabak, tekwan, es cin­cau, dan masakan padang, bisa Anda temukan di situ.

Lokasi ini sudah dibuka sejak tahun 1990. Saat itu tentu saja hanya sedikit pedagang yang berjualan. Lama-kelamaan makin banyak pedagang beroperasi di sana hingga jenis makanannya pun makin variatif.

Pusat jajan ini mulai buka pukul 19.00 dan baru tutup pukul 22.00. Pada hari Minggu malah baru tutup pukul 24.00. Pusat jajan seperti ini tak cuma satu di Bengkulu. Di depan Tugu Thomas Park, di daerah Pasar Baru Koto pun ada pusat jajan serupa. Makanan yang dijual boleh dibilang mirip dengan yang dijual di Pasar Minggu. Tetapi jangan coba-coba berkunjung ke sini di atas pukul 9 malam, pusat jajan ini tutup lebih awal dari pusat jajan di Pasar Minggu.

TEKWAN & KUE DORAEMON

Tak usah heran kalau di Bengkulu pun banyak penjual tekwan. Maklumlah kota ini relatif tidak jauh dari Palembang. Salah satu penjual tekwan di Bengkulu ada di Jl. May. Jen. Suprapto. Pak Puna, sang penjual telah berjualan tekwan selama lebih 10 tahun.

Kedainya buka sejak pukul 17.00 dan sudah tutup sejak pukul 20.00. Anda yang ingin mencicipi tekwan buatannya sebaiknya mampir sebelum pukul 20.00. Karena Puna cuma menyediakan 65 mangkok sehari. Untuk mencicipi sup bening berisi bakso ikan, soun, bengkuang, dan jamur kuping ini, Anda hanya dengan mengeluarkan Rp 2500.

Berdekatan dengan penjual tekwan, Anda dapat mencicipi kue Doraemon. Bentuknya bulat, diameter 5 cm. Warnanya hijau, Rasanya mirip bolu, begitu juga bahannya persis seperti bolu. Harganya cuma
Rp. 300.

Saparudin, sang penjual, baru 4 tahun berjualan di sana. Tetapi kuenya sudah punya banyak penggemar. Buktinya, dalam sehari ia menghabiskan 12 kilogram.

LEMANG

Lemang juga termasuk makanan yang mudah dicari di Bengkulu. Rohana adalah salah satu penjual lemang yang cukup kondang di kota ini. Ia sudah 8 tahun berjualan lemang di sekitar Pasar Panorama, dekat Pasar Minggu. "Dulu harganya cuma Rp 100 tiap potongnya," kisahnya.

Lemang Rohana me­mang bisa dibeli secara potongan. Kini tentu saja harga tersebut sudah tidak mungkin diterapkan lagi. Rohana memasang harga Rp 500 sedang untuk lemang potongan. Sementara lemang yang utuh, kira-kira sepanjang 20 cm, yang dulu harganya hanya Rp 1.500, kini dijual dengan harga Rp 6.000.

Rohana tidak berjualan setiap hari. Ia hanya berjualan seminggu 2 kali. "Sulit berjualan lemang setiap hari karena orang Bengkulu biasanya cuma beli lemang saat puasa," keluhnya.

GELAMAI

Namanya cukup asing bagi ma­syarakat di luar Bengkulu. Tetapi sebetulnya gelamai tak beda dengan dodol. Ny. Ainun mengaku ibunya, Hj. Mariana, sebagai penjual gelamai yang pertama di Bengkulu. Ia menggelar dagangannya di depan Masjid Akbar sejak tahun 1970.

Gelamai buatan Mariana yang kini sudah almarhum itu lebih dikenal sebagai gelamai Andung Bon, sesuai nama panggilan Mariana. Kini usahanya diteruskan oleh kedua anaknya Ainun dan Hayatan. Gelamai Andung Bon terkenal karena rasanya berbeda dengan gelamai pada umumnya. "Karena kami betul-betul menjaga kualitas pembuatannya," kata Dinda, salah seorang cucu Andung bon. Gelamai Andung Bon, jelas Dinda dibuat selama 8 jam. "Itulah rahasianya. Kurang dari itu, gelamai yang dihasilkan akan lebih lengket dan cepat kadaluarsa," papar Dinda membuka rahasianya.

Karena itulah gelamai Andung Bon bisa bertahan hingga satu bulan. Karena bisa bertahan lama, Ainun dan Hayatan tidak membuat gelamai setiap hari kecuali menjelang Lebaran. Selebihnya mereka hanya melayani pesannya. Harga gelamainya dijual Rp 20.000 setiap kg.

IKAN PAIS

Berkunjung ke Bengkulu, jangan pulang dulu sebelum mencicipi ikan pais. Ini adalah ikan pepes khas Bengkulu yang dibuat dari ikan gebu dan ikan buli. Rasanya segar dan mengundang selera. Apalagi disantap bersama nasi panas.

Untuk mendapatkannya Anda bisa mencarinya di pasar tradisional. Ada juga pedagang ikan pais yang berjualan secara berkeliling. Salah satunya adalah Bpk. Idris. Ia telah menjajakan dagangannya lebih dari 25 tahun. Penjual yang lebih dikenal dengan panggilan wan Juray ini mengaku mulai menjual ikan paisnya Rp 125 per bungkus. "Sekarang harganya telah mencapai Rp 2.000 tiap bungkus."

Wan Juray sudah berjualan sejak pukul 05.30 sampai habis kira kira pukul 08.30. Karena sudah banyak pelanggannya, Wan Juray tidak perlu lagi repot-repot memikul sampai ke pasar. Dia cuma berjualan di sekitar Jl. M ASAN dan Jl. Al Jairin, rute itu merupakan rute sehari-hari Wan Juray. Malah terkadang sampai di Jl. M ASAN pun, pikulannya sudah kosong. Begitu terkenalnya ikan pais Wan Juray, hingga orang-orang yang takut kehabisan lebih suka datang langsung ke rumahnya di Jl. Kibuat Teratai Tiga untuk untuk membeli atau memesan.

Dengan dibantu istri dan 3 anaknya, Wan Juray bisa membuat 50-70 bungkus ikan pais dalam sehari dan menghabiskan bahan baku sekitar 5 kilogram ikan laut yang digiling halus. Ia sengaja memilih ikan buli dan ikan gebu karena kedua ikan tersebut, menurut wan juray tidak terlalu amis.

Kadang saat pesanannya melimpah, "Saya harus menyediakan 250 bungkus ikan. Nah, saat itu saya harus membeli 15 - 20 ekor ikan," katanya. Begitu larisnya dagangan Wan Juray, tak heran dalam sehari ia bisa memperoleh uang Rp 100 sampai Rp 150 ribu.

Keistimewaaan ikan pais buatannya terletak pada bumbu. "Selain itu waktu mengukusnya pun harus lama. Tidak boleh kurang dari 5 jam supaya racun yang ada pada daun keladinya hilang."

EMPING MLINJO

Emping mlinjo juga termasuk makanan yang banyak dijual orang di Bengkulu. Coba saja Anda pergi ke Jl. Soekarno, tepatnya di Jl. Pantai Nala 142, Anggut Bawah. Ny. Khamsia, salah satu penjual, sudah mulai menggeluti emping mlinjo sejak tahun 1984. Konon ia yang pertama membuat emping ini di daerah Anggut Bawah.

Usaha pertamanya sudah melibatkan 15 orang pembantu. Lama- kelamaan para pegawainya mulai membuka sendiri usaha pembuatan emping melinjo sampai akhirnya ada 5 kelompok pembuat emping mlinjo di Anggut Bawah. Sehari Khamsia bisa menghabiskan biji mlinjo sekitar 20 cupak (1 satu cupaknya = 1/2 liter, Red.) atau 10 liter dalam sehari. Pernah, dengan dibantu pembuat emping yang lain, Khamsia membuat 200 cupak mlinjo.

Emping yang dibuat ada dua macam bentuk, kotak-kotak untuk yang dijual per ikat dan bulat-bulat untuk yang dijual per kilogram. Harga per 10 ikatnya, Rp. 5.000. Harga ini untuk penjualan ke pedagang. Satu ikan emping berisi 10 keping. Sedang harga per kilogram mencapai Rp 25.000.

PERUT PUNAI

Ny. Jasmani dengan dibantu ke­dua anaknya telah membuat perut punai selama 15 tahun, tepatnya tahun 1985. Setiap hari ia mem­buat perut punai untuk pesanan para pedagang di sekitar jalan Soekarno atau para pemesan yang membeli hanya untuk sekadar oleh-oleh. Perut punai berbentuk bulat pipih terbuat dari tepung ketan yang dicampur gula merah lalu digoreng. Rasanya keras dan manis.

Dalam sehari, Jasmani biasa menghabiskan tepung ketan sebanyak 7 kilogram. Satu kilogram tepung ketan bisa menghasilkan 13 kotak perut punai. Harga tiap kotak adalah Rp. 3.000.

Bila libur sekolah tiba, pesanan Jasmani semakin banyak, terkadang sampai tidak tertangani. "Saat libur sekolah, saya bisa menghabiskan 15-20 kilogram tepung beras," jelasnya.

LOTEK

Lotek Bengkulu hampir sama dengan karedok orang Jakarta atau orang Bandung. Kendati bukan makanan khas Bengkulu, toh, lotek merupakan salah satu masakan kegemaran masyarakat Bengkulu. Ada satu warung penjual lotek yang selalu ramai. Apalagi sewaktu makan siang. Warung lotek itu dimiliki oleh Ny. Nuraini.

Nuraini telah berjualan lotek semenjak tahun 1975. Awlalnya dagangannya dijajakan dengan menggunakan gerobak secara berkeliling di sekitar Jl. S. Parman, baru akhirnya pada tahun 1984, Nuraini mulai mempunyai warung makan lotek yang selalu ramai pengunjung.

Kedai lotek Nuraini buka dari pukul 06.30 sampai pukul 13.00 malah terkadang sebelum pukul 12.00, loteknya sudah habis terjual. Dalam sehari warung ini melayani sekitar 200-250 porsi. Harga per porsinya Rp 2.000. Sering juga loteknya dipesan untuk acara pesta perkawinan.

KEDAI MASAKAN KHAS BENGKULU

Masakan khas bengkulu cukup banyak jenisnya namun jarang yang membuat khusus untuk dijual. Tetapi di sekitar jalan Enggano,kita dapat menemukan satu kedai makan yang memang khusus menjual aneka masakaan khas Bengkulu. Nama kedai tersebut Bufet Shopia, sesuai dengan nama pemiliknya.

Sebetul­nya sudah lama Shopia berjualan makanan khas Bengkulu. Cuma saja sekadar bila ada pesanan. Lama-kelamaan terpikir oleh Shopia untuk membuka kedai makan. Maka 5 tahun lalu ia pun mulai membuka kedai makannya.

Usaha kedai makanan khas Bengkulu ini tak cuma ia buka di Bengkulu. Pernah juga Shopia mencoba membuka kedai serupa di Brunai karena suaminya bekerja di sana. "Tetapi terpaksa ditutup karena orang sana tampaknya tidak menyukai masakan kita," keluhnya.

Para pelanggan Shopia terdiri dari berbagai kalangan karena harganya terhitung murah. Salah satu pelanggan setianya adalah ketua DPRD Bengkulu. "Hampir setiap hari beliau makan di sini," ujar Shopia bangga.

Di kedainya kita bisa menemukan antara lain nasi santan. Hidangan ini agak unik. Beras direndam dulu semalaman lalu dikukus sampai matang keesokan paginya. Setelah itu baru diaron dengan santan kental. Selain itu Anda juga bisa mencicipi rebung asam, yakni rebung yang direndam dalam air cucian beras dan dimasak seperti memasak asam pedas. Ada juga kelio lokan (kalio kerang), bagar hiu (gulai potongan ikan hiu). Khusus untuk bagar hiu, Shopia cuma menggunakan hiu punai, hiu tandung, dan hiu kio-kio. "Hiu jenis itu tidak amis," katanya.

Dalam sehari Shopia bisa menghabiskan ikan hiu sekitar 4 kilogram. Sedang untuk kelio lokan, ia menggunakan 3 kilogram kerang. Satu piring bagar hiu, Shopia menjualnya seharga Rp 4.500. Sehingga penghasilannya pun sehari bisa mencapai Rp 600 ribu. Untuk mendapatkan penghasilan setinggi itu, tentu saja mutu adalah hal yang utama. "Motto saya, kalau sudah selidah, kita harus pertahankan," tegasnya.

OLEH-OLEH KHAS BENGKULU

Mau cari oleh-oleh? Jl. Soekarno Hatta-lah tempatnya. Sederetan penjual jajanan khas untuk oleh-oleh Bengkulu dan sekitarnya siap melayani keinginan Anda. Mulai dari lempuk, emping, perut punai, kue siput, lumpuing, gelamai, sampai kopi.

Lempuk durian termasuk oleh-oleh yang paling laris. Harga 1 kilogram lempuk Rp 35 ribu. Ini untuk kualitas durian super. Sementara untuk kualitas durian biasa Rp 25 ribu. Bila Anda tak suka lempuk, Anda bisa memilih emping. Harganya rata-rata Rp 6.000 untuk setiap 10 ikatnya atau Rp 27-30 ribu per kilogram. Sedang perut punai dijual dengan harga Rp 4.000 per kotak. sdp@Rynol Sarmon

source: sedapsekejap.com

Posted by imelda :: 6:10 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------