BoGaRiA
Wednesday, June 14, 2006 Jalan-jalan ke Pekalongan

NASI GUDEG

Cari gudeg di lapangan Mataram sangat mudah. Karena gudeg khas Yogya buatan Sapto Winarno ini dijajakan di dalam bagasi mobil sedan. "Sebenarnya saya guru setir mobil. Tapi karena makin tua, ya, coba
buka usaha lain," ujar Sapto.

Tentu saja nasi gudeg sudah dikemas. Isinya, gudeg, setengah telur, setengah tahu dan tempe, suwiran ayam, serta sambal goreng kerecek. Seporsi gudeg dijual Rp 4.500.

Mobil gudeg ini bisa ditemui sejak pukul 5.30 hingga pukul 10.00. Selama waktu itu 7 kilogram gudeg bisa terjual setiap hari. Saat hari libur, Sapto bisa menjual gudeg hingga 2 kali lipat hari biasa.

Berjualan di sana, menurut Sapto banyak untungnya. Selain materi, ada keuntungan lain yang didapatnya. "Badan jadi lebih bugar, karena sambil nunggu dagangan saya bisa olahraga," akunya dengan nada senang.

SUSU MURNI SAPI

Tidak cuma penjaja makanan yang ada di Lapangan Mataram, penjual susu pun ikut meramaikan. Gerobak susu sapi murni indah milik Usman sudah ada di sana sejak 5 tahun lalu. "Susunya dari daerah Yosorejo, Pekalongan," kata Usman.

Usman mengaku tertarik berjualan susu setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Tanpa pikir panjang ia langsung memilih berjualan susu. Alasannya hasil yang didapat bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Selain susu murni, Anda juga bisa memilih susu yang dicampur dengan kopi, kopi ginseng, madu, dan telur. Campuran kopi dengan susu adalah jenis yang paling sering diminati pembeli.

"Tapi kalau yang laki-laki lebih suka STMJ," terang Usman menjelaskan susu yang dicampur dengan telur, madu, dan jahe ini.

Segelas susu sudah dapat diperoleh dengan membayar Rp 1.700. Tetapi untuk segelas STMJ, Anda harus membayar Rp 2.700.

ES COKELAT

Di depan gedung Bawasda Pekalongan, mangkal seorang penjual es cokelat.

Minuman terbuat dari santan ini dibubuhi cokelat bubuk. Itu sebabnya dinamakan es cokelat. "Saya menyediakan 3 jenis es," kata Bpk Kadri, si penjual.

Selama 25 tahun menu jualannya tak pernah berubah, es cokelat, es merah, dan es putih. Isinya hanya santan yang dicampur dengan cokelat, sirup merah, atau sirup putih sesuai namanya. Untuk es yang merah dan yang putih, ditambahkan potongan cincau hitam.

Sementara untuk es cokelat ditambahkan sepotong roti tawar yang disajikan terpisah. Makannya bisa dicelup ke dalam es atau dinikmati sendiri. Kesegaran es cokelat buatan Kadri, tidak hanya disukai anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang datang untuk membeli minuman itu. "Makanya setiap hari pasti saya bikin 50 liter es cokelat dan 20 liter es putih," aku Kadri yang menjual esnya Rp 1.000 itu.

BAKSO BALUNGAN

Menjelang siang, makin banyak penjaja makanan yang bisa dicoba. Salah satunya, bakso balungan alias bakso tulang. Mendengar namanya, jangan mengira bakso dibuat dari tulang sapi, tetapi daging sapi. Kuahnya yang diberi beberapa potong tulang besar.

"Tulangnya bisa tulang igam, dapat juga tulang lainnya. Pokoknya yang ada dagingnya," aku Endang.

Sudah setahun ini Endang berdagang baso balungan di jalan Dr. Wahidin. "Yang buat Bu Yanti, bulik saya. Saya tugasnya jaga warung," tambahnya.

Seporsi bakso yang terdiri dari..dijual Rp 4 ribu. Kalau ditambah lontong, harus membayar Rp 500 untuk tiap lontong yang ditambahkan.

SOTO PPIP

Selain baso balungan, Anda patut mencoba soto PPIP. Letaknya masih di jalan DR. Wahidin, hanya seratus meter dari warung Bakso Balungan. Tepatnya, di depan gang 12, Pekalongan. Warung soto ini dikelola 2 orang kakak beradik, Soleha dan Bawon. Mereka berdua meneruskan usaha orang tua.

"Dulu Bapak yang jualan. Mula-mula keliling dengan pikulan sampai akhirnya mangkal di sini," terang Soleha.

Kebetulan lokasinya dekat gedung pertemuan PPIP, sehingga orang mengenal dengan sebutan soto PPIP. Soto yang ditawarkan adalah soto khas pekalongan yang kuahnya menggunakan taoco.

Untuk isi soto, digunakan daging kerbau dan soun. Itu masih ditambah dengan lontong, tempe, dan tahu sebagai tambahan.

"Kalau nggak suka daging, bisa diganti potongan tempe atau tahu," katanya.

Menurut pengakuan Soleha, ia memiliki banyak pelanggan fanatik. Seringkali mereka datang untuk sekadar bernostalgia bersama teman-teman. Biasanya saat makan siang tempat ini bisa dipastikan padat oleh pembeli. Sekitar pukul 15.00 seluruh dagangan sudah habis terbeli. Padahal warung baru dibuka pukul 09.00.

"Ya, sehari ngabisin 20 kilogram daging," aku Soleha yang menjual soto per mangkuk Rp 6 ribu itu.

LONTONG NGAPRAK

Lontong ngaprak adalah lontong disertai opor ayam. Dikatakan lontong ngaprak karena dulu pembeli harus duduk di atas tikar atau lesehan untuk menikmatinya. Tapi kini para penjual sudah mengganti dengan bangku panjang dari bambu supaya tidak becek saat hujan.

Para penjual lontong ngaprak bisa ditemui di alun-alun kota. Sejak pukul 15.00 mereka sudah sibuk menata dagangannya. Dari 7 pedagang, ibu Emah paling dikenal.

"Sudah 20 tahun saya jualan. Tempatnya juga di sini saja, nggak pernah pindah," kata Emah yang menjual seporsi lontong Rp 5 ribu.

Konon ayam yang empuk dan rasa gurih yang membuat para pelanggannya enggan meninggalkan lontong ngaprak Bu Emah. "Soalnya saya selalu memakai ayam kampung. Menggodognya pun lama. Paling nggak 3 jam," kata Emah yang setiap hari dibantu sang suami.

Pembeli juga bebas memilih potongan ayam. Pilihan mereka itu oleh Emah, akan dipotong-potong di atas lontong. Setelah itu disiram kuah opor yang diberi sambal goreng daun bawang.

"Sambal ini nggak pedas, cuma supaya tambah enak saja," ungkap wanita yang setiap hari mengolah opor dari 6 ekor ayam.

GARANG ASAM H. MASDUKI

Garang asam patut Anda coba karena masakan ini khas Pekalongan. Yang paling tersohor adalah garang asam H. Masduki. Warung ini buka sore hari, pukul 15.00 sampai pukul 03.00. "Dari dulu waktunya nggak berubah, tetap jualan sore sampai pagi," kata Masduki yang berjualan sejak tahun 1979.

Walau bukan penjual garang asam pertama di Pekalongan, toh, garang asamnya paling dikenal. "Kata pembeli garang asam saya rasanya segar," ujar Masduki tanpa kesan sombong.

Uniknya, garang asam dimasak bersama kluwek. Ke dalam kuah berwarna kecokelatan ini, ditambahkan beberapa potong otot kerbau. Hingga rasanya kenyal. Sebagai tambahan, Masduki menyediakan telur pindang. Rasa manis telur berpadu serasi dengan garang asam.

Untuk memenuhi selera pembeli yang datang, Masduki harus menyediakan 30 kilogram daging kerbau. Harga yang dipatok Rp 9 ribu sudah lengkap dengan nasi. "Pembeli nggak usah khawatir harga dinaikin. Soalnya saya sudah cantumin harganya di papan," ujarnya sambil menunjuk papan harga

PINDANG TETEL

Tidak cuma garang asam yang dibuat dari daging kerbau. Ada satu jenis masakan yang dibuat dari bahan yang sama. Namanya pindang tetel. Mau coba? Langsung saja ke jl. Sapugarut. Letaknya tidak jauh dari Puskesmas Sapugarut. Namanya Pindang Tetel 788. "Pakai angka biar beda sama penjual lainnya" ujar ibu Nuryati.

Ibu Nuryati, penjualnya menghargakan pindang tetelnya Rp 3 ribu. Bedanya dengan garang asem, pindang tetel tidak menggunakan belimbing wuluh. Isinya jeroan dan kulit kerbau.

Nuryati sudah berjualan selama 10 tahun. "Tapi saya sempat tutup 2 tahun lalu karena pindah ke Jakarta. Baru 1 tahun ini saya buka warung lagi," ujar wanita yang membuka warung kelontong di samping warungnya itu.

Penyajian pindang tetel selalu ditemani oleh sebungkus kerupuk usek. Kerupuk yang terbuat dari tepung tapioka ini agak keras. Karena itu dicelupkan ke kuah dulu sebelum dimakan. Atau bisa juga diremas dengan tangan.

SATE KEBO

Bosan masakan berkuah, tidak ada salahnya Anda mencoba sate kebo."Biar pake daging kerbau, nggak keras, kok," jamin Indah, penjual sate kebo di Jl. Raya Ambokembang.

Wanita berkulit putih ini meneruskan usaha sang ayah, H. Wasduri. "Setelah Bapak meninggal, saya diminta meneruskan usaha ini," terang wanita berwajah cantik ini.

Indah berjualan sate sejak pukul 14.00 sampai pukul 20.00. Lima kilogram sate ditaruhnya dalam sebuah panci besar. Para pembeli bisa melihat jelas sate yang dagingnya berwarna kehitaman dengan bercak putih. Bercak putih itu tak lain dari bumbu penyedap si sate. "Bumbu itu nempel karena sate sebelumnya direbus 3 jam," jelas ibu beranak 2 ini.

Nah, sate yang sarat bumbu ini lantas dibakar agar lebih enak. Ketika disajikan, di atasnya diberi saus dari bumbu kacang yang pedas. "Wah, itu belum seberapa pedas, banyak yang minta ditambah sambal, lo," cetus Indah yang setiap malam berjualan bersama seorang kerabatnya itu.

Sayangnya kita tidak bisa menyantap sate di tempat karena Indah tidak menyediakan tempat duduk. Jadi, Anda harus membawanya pulang.


AYAM GORENG INGKUNG ISI

Satu lagi masakan yang patut dicoba di Pekalongan. Namanya ayam goreng ingkung isi Bu Ranti. Disebut ayam goreng ingkung isi karena begitu dipotong, Anda akan mendapati bumbu di perut ayam. Hingga makin ke dalam, ayam terasa lebih gurih. Masakan ini bisa Anda dapatkan di rumah makan Bu Ranti di Jl. K.H. M. Mansyur, Pekalongan.

Rumah makan ini tampak tidak terlalu ramai. Karena menurut pemilik warung, Bu Siti Aisyah Suparni, pembeli yang lebih suka memesan ketimbang makan di sana. "Makan di rumah, kan, kalau nggak habis bisa disimpan," imbuh Siti.

Ayam ingkung yang sudah ada sejak tahun 1932 itu tidak dijual per potong, melainkan per ekor. Ayam ini sudah dimasak bersama bumbu selama 1 jam. Meskipun sudah matang, sebelum dinikmati ayam harus digoreng.

Siti mengaku mencampur bumbu ayam dengan ceremai sehingga rasanya lebih unik. Selain itu ia hanya bersedia menggunakan ayam betina yang sudah bertelur. "Daging ayam betina tetap putih ketika dimasak. Sementara ayam jantan jadi cokelatan setelah dimasak," katanya memberi alasan.

Makanya jumlah yang dimasak sangat tergantung dari pasokan. "Kalau dikirimi 15 ekor per hari, ya, bikin 15. Tapi kalau nggak ada, ya, nggak bikin," papar wanita yang menjual per ekor ayam ingkung Rp 42.500 ini.

Dicopy paste dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by Imelda :: 9:19 AM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Purworejo

Spesial Ayam Kampung 99

Ingin mencoba yang lain? Mampir saja ke warung tenda Spesial Ayam Kampung 99. Rica-rica entog-nya patut dicoba. Rasanya pedas, tidak jauh beda dengan masakan manado, hanya menggunakan entog sebagai dagingnya.

"Rica-rica ini hasil coba-coba istri saya, Kasturi," aku Wildan sambil menunjuk istrinya.

Penggemarnya cukup banyak karena Kasturi berhasil memasak daging entog dengan empuk. "Daging entognya saya rebus dulu 3 jam untuk 4 ekor entog," jelas Wildan.

Setelah empuk, daging entog ditumis dengan cabai. Terkadang masih ditambah kuah supaya tidak terlalu kering. Untuk seporsi rica-rica entog Anda harus membayar Rp 5 ribu tanpa nasi. Masih lebih murah ketimbang ayam, bebek, dan burung dara.

Kalau Anda tidak suka pedas, pesan saja ayam atau bebek goreng. Keduanya nikmat disantap bersama nasi hangat berikut lalapan dan sambal.




Lesehan Spesial Sop Kaki Kambing

Bagi Anda penggemar masakan dari daging kambing, pasti terpuaskan di sini. Pemiliknya, Sumaidi membuka warungnya di dekat pohon besar di pinggir alun-alun Purworejo. Ia belajar membuat sop kambing pada seorang pedagang di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Layaknya sop kaki made in Tanah Abang, sop Sumaidi dimasak dengan santan. Padahal kalau di Purworejo, sop selalu dibuat tanpa santan. "Makanya waktu pertama kali jualan, saya sering diprotes pembeli. Tapi saya tetap tidak merubahnya. Wong, ini masakan betawi, kok," papar pria yang telah berjualan selama 7 tahun ini.

Melengkapi sop kaki kambing yang dijualnya, Sumaidi menyediakan sop tulang sumsum dan tongseng. Sop tulang sumsumnya bukan saja lezat, tetapi mengasyikkan saat memakannya. Karena kita harus berusaha keras waktu menyedot sumsum didalam tulang.

"Buat sop ini saya juga pakai tulang kaki kambing. Kalau sapi, peminatnya kurang," aku pria yang setiap hari bisa mengantongi keuntungan Rp 500 ribu ini.

Seporsi sop kambing dijual Rp 5 ribu. Tetapi untuk sop dagingnya lebih murah. Hanya Rp 2 ribu. Isinya 3 potong daging ukuran sedang. Mau yang lebih, Anda bisa memesan campuran keduanya, daging dan kaki dengan harga Rp 9 ribu.



Ayam Panggang Mbak Purwanti

Warung tenda milik Mbak Purwanti letaknya di dekat bank BRI, di jl. Dewi Sartika Khusus menyediakan ayam panggang tanpa menu tambahan. Walaupun begitu pembelinya tidak pernah sepi.

Ayam panggang buatan mbak Purwanti terkenal renyah, besar ukurannya, dan bumbunya benar-benar meresap. "Membuatnya, ayam direbus dulu lalu dibakar di atas kayu bakar. Kipasnya juga hanya boleh kipas bambu. Jadi abunya tidak beterbangan ke atas ayam," katanya.

Selain itu, kata mantan penyanyi dangdut ini, ayamnya pun harus yang muda. "Sampai sekarang saya memilih ayam sendiri dari pedagang yang mengantar ke rumah,"akunya.

Kini Purwanti memiliki 3 buah warung tenda, 2 di daerah Purworejo dan 1 di Kutoarjo. Untuk memenuhi kebutuhan ayam panggang, setiap hari Purwanti harus memotong 70 ekor ayam.

Ayam tersebut lantas dipotong menjadi 4 bagian dan dijual dengan harga berbeda-beda. Paling mahal bagian dada, Rp 8.500 sampai Rp 9 ribu. Yang termurah adalah paha bawah dan kepala, Rp 3 ribu sampai Rp 3.500. "Harganya berbeda sesuai dengan besarnya potongan ayam.


Soto Pak Rus

Bosan dengan masakan yang dijajakan di alun-alun, Anda bisa pergi ke Stasiun Purworejo. Di sana ada warung soto daging yang ramai didatangi pembeli. Rasanya sangat khas Purworejo. Tetapi porsinya tidak besar.

Kunci kelezatan soto ini, terletak pada kuahnya yang bening, namun sarat bumbu. Makanya tak heran, begitu warung buka, pelanggannya langsung menyerbu. Sapto, si penjual hampir tak pernah berhenti meracik soto.

Seporsi soto Rp 4 ribu, lengkap dengan nasi. Tapi kalau maunya sotonya saja cukup membayar Rp 3 ribu . Untuk memenuhi semua pesanan setiap hari, ia bisa menghabiskan 5 kilogram daging sapi dan 10 kilogram beras.


Geblek

Selain masakan, Anda bisa menikmati makanan kecil khas kota Purworejo. Geblek, salah satunya. Makanan kecil ini dibuat dari sagu yang dicampur dengan santan. Warnanya putih, bentuknya bermacam-macam. Umumnya berbentuk lingkaran.

Penjual geblek mudah ditemui di pinggir jalan di sore hari. Biasanya mereka menawarkan geblek yang baru saja digoreng. Salah satu penjual geblek yang banyak diminati warga adalah Pak Rasa. Setiap hari ia berjualan geblek di dekat toko elektronik di depan pasar Baledono. Pukul 16.00 ia sudah menyiapkan dagangan bersama istrinya, Suryati.

"Geblek ini saya buat sendiri, tidak beli di pasar. Jadi bisa lebih besar," ujar Rasa yang berjualan sejak 4 tahun lalu.
Untuk membuat geblek yang enak, Rasa mengaku sangat menjaga kualitas bahan yang dipakai. Sagu yang dipakainya hanya dari kualitas terbaik tanpa campuran bahan lain. "Selain itu, cara mengolahnya juga harus benar, kalau tidak gebleknya nggak enak," terang pria berkulit putih ini.

Baik buruknya mutu geblek, juga bisa ketahuan ketika digoreng. Geblek yang bagus ketika digoreng, tidak akan meletus, atau minyak bercipratan. Bentuknya pun tetap mulus. hanya lebih halus.

Sebenarnya geblek bisa disantap begitu saja, tanpa saus atau bumbu. Tapi paling enak geblek dimakan dengan sambal kacang atau sambal pecel. "Paling enak lagi geblek dimakan dengan pecel. Wah, sedap sekali," ungkap Rasa yang membutuhkan 6 kilogram sagu setiap harinya

Biasanya geblek dijual per buah, harganya Rp 200 untuk geblek matang atau mentah. Nah, geblek mentah ini pun cocok dijadikan oleh-oleh karena tahan sampai 3 hari. "Kalau untuk oleh-oleh, geblek saya kemas khusus dengan besek beralas daun. Harus tertutup rapat agar tidak rusak," pesan Rasa.


Kue Lompong

Kalau dibuka dari bungkusnya, sekilas seperti bugis. Kue ini memang dibuat tepung ketan dan lompong atau talas. Rasanya manis dan warnanya hitam. Di tengahnya ada unti yang dibuat dari kelapa sangrai.

Berbeda dengan geblek yang bisa dibuat oleh siapa saja, kue lompong hanya dibuat oleh beberapa orang. Salah satunya adalah Ibu Ruth Ekayanti. Ia adalah generasi ketiga pembuat kue lompong di Purworejo.

"Pembuat pertamanya nenek saya, kemudian diturunkan ke ibu dan saya," aku Ruth yang setiap hari membutuhkan 10 kilogram tepung ketan itu.

Untuk membuat kue lompong, tidak mudah. Tepung ketan harus benar-benar bagus. Lompongnya sendiri harus dari talas pilihan. "Yang dipakai pun hanya bagian tengahnya saja. Lalu diiris tipis dan dijemur hingga kering betul," aku ibu 3 anak ini.

Setelah kering, barulah lompong ditumbuk menjadi tepung dan dicampur dengan tepung beras dan gula. Adonan lantas dibentuk lingkaran dan diberi isi. Baru dibungkus daun pisang kering. Kue kemudian dikukus sampai matang.

Kue lompong bisa bertahan sampai 10 hari. Makin hari akan makin keras, tetapi dapat dilunakkan kembali dengan cara dikukus. Harga satu kue lampong Rp 750.

Dawet Jembatan Butuh

Es khas Purworejo ini sebetulnya tak beda dengan es cendol biasa. Dinamakan es dawet butuh karena awalnya dijual di Desa Butuh. Bedanya dengan es cendol biasa, warnanya hitam karena dibuat dari campuran tepung kanji dan air abu merang. Seperti cendol biasa, dawet ini juga disantap bersama sirup gula merah, larutan santan, dan es serut.

Anda dapat menemukan es ini di Jl. Raya Purworejo, dekat jembatan Butuh. Setiap hari Nawon, si penjual, menjual 4 gentong dawet. Setiap gentong bisa menjadi 250 buah mangkuk kecil. Harga semangkuk dawet hanya Rp 750.


di copy paste dari www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 9:14 AM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Saturday, May 27, 2006 Jalan-jalan ke Ciamis

Ikan Bakar Hj. Imi

Cukup banyak warung ikan bakar di seputar kota Ciamis. Soalnya balong (kolam ikan) cukup membudaya di wilayah ini. Jika Anda bertanya soal ikan bakar, rata-rata warga Ciamis akan menyebutkan nama Cigembor. Wilayah ini terletak sekitar 3 km arah timur Ciamis.

Pelopornya adalah Hj. Imi (alm). "Ibu saya memulai usaha ini sejak tahun 80-an," jelas putri Hj. Imi, Nooryanie (40 th). Wanita yang akrab disapa Ibu Nur itu, menyebutkan bahwa sang ibu memulai usahanya dengan berjualan kupat tahu, getuk, kroket, dan aneka jajanan ringan lainnya. Lalu sejak 1980 itulah Hj. Imi meluaskan usaha ke ikan bakar. Antara lain, ikan mas, mujaer, nila, dan gurame.

Seiring waktu, akhirnya Ibu Nur hanya menjual dua jenis ikan saja, ikan gurame dan ikan mas. "Biar lebih mudah menyediakan bahan segarnya," imbuhnya.

Ikan yang dibakar memang fresh from
balong yang ada di samping rumah makan. Anda bisa pilih yang ukuran sedang atau yang besar. Untuk 1 kilogram gurame dihargai Rp 35 ribu. Sedangkan ikan mas lebih murah, cukup Rp 12.500 per kilogram. Umumnya dihidangkan dengan nasi hangat, lalap daun singkong, dan tiga jenis sambal, yaitu sambal uleg, sambal kecap, dan sambal kacang.

Lalap daun singkong konon juga jadi favorit. Selain masih segar, rasanya juga manis. "Memang dibubuhkan sedikit gula," jelasnya.

Sambal kacangnya juga istimewa, karena dicampur jahe, kencur, dan honje. Rasanya segar dan unik. Cocok juga untuk cocolan ikan bakar.

Selain ikan bakar, ia juga menyediakan ayam goreng/bakar, mendoan, karedok dan tumis kangkung. Namun yang sering dipesan adalah ikan gurame dan ikan mas bakar. Di salah satu bagian dinding, terpajang belasan foto orang terkenal di tanah Parahyangan seperti Aom Kusman, trio Acil, Jaka dan Sam Bimbo hingga mantan gubernur Jawa Barat, Bapak Nuriana. Anda bisa berkunjung ke sini setiap hari sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam.

Galendo

Galendo adalah kudapan khas Ciamis hasil dari sisa olahan minyak kelapa. Adalah Bpk. Endut Rohadi (52 th), pria yang mengangkat kudapan tradisional ini menjadi populer. Awalnya Endut berjual beli kelapa. Namun sejak gunung Galunggung meletus sekitar tahun 1984, kelapa menjadi kecil ukurannya. Setelah jatuh-bangun dalam jual beli kelapa, ia memutuskan untuk memanfaatkan sendiri kelapa jualannya.

Minyak keletik pun menjadi pilihannya. "Kebetulan tahun 1994 saya memperolah bantuan dana dan pembinaan dari sebuah BUMN," jelasnya.

Endut pun mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan Pemerintah Ciamis hingga ia menemukan cara agar minyak keletiknya bisa awet hingga satu tahun. Nah, setiap memproduksi minyak, pasti terdapat sisa ampas rebusan santan untuk minyak keletik. Inilah yang disebut masyarakat Ciamis sebagai Galendo. Bentuknya mirip kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar. Rasanya manis-gurih. Ampas inilah yang kemudian dijadikan kudapan.

Agar lebih menarik, galendo yang masih panas langsung dipadatkan agar berkurang minyaknya, lalu langsung dikemas. Kemasannya dalam wadah anyaman bambu yang disebut sauk. Tapi Endut menggunakan 6 kemasan yang terlihat lebih rapi dan elit. Kemasan 1 kilogram, dijual seharga Rp 20 ribu. Sementara yang 450 gram Rp 12.500. Ada lagi yang 225 gram bentuk kotak dan lonjong dengan harga Rp 5 ribu. Sedang kemasan 125 gram dijual dengan harga Rp 3 ribu, dan 50 gram Rp 2 ribu.

Kemasan yang digunakan Endut sekilas mirip kemasan biskuit dan cokelat yang cukup populer. "Saya ingin agar anak-anak juga mengenal makanan tradisional ini. Makanya kemasannya disesuaikan," terang pria yang sering dilibatkan dalam pameran tingkat nasional ini. Rasanya pun bermacam-macam, ada wijen, cokelat, kacang, dan susu.

Dalam satu hari, ia membutuhkan sekitar 600 butir kelapa untuk membuat minyak keletik. Dari situ bisa dihasilkan sekitar 32 kilogram galendo per hari. Minyak keletik sendiri dijualnya seharga Rp 6.500 dalam kemasan 650 ml dan Rp 2.000 alam kemasan 200 ml.

Selain itu, ia juga membuat "Virgin Coconut Oil" atau minyak kelapa asli yang diberi merk Sovico. Minyak ini dihasilkan dengan pemanasan rendah dan lebih ditujukan untuk pengobatan. Bisa
dikonsumsi untuk menurunkan tekanan darah, diabetes, penawar racun, hingga menurunkan berat badan. Karena pembuatannya cukup rumit dan lama, harganya relatif mahal. Untuk kemasan ukuran 300 ml, dijual dengan harga Rp 50 ribu, dan ukuran 100 ml dijual Rp 20 ribu. Anda berminat? Tinggal kunjungi tokonya di jl. Kapten Harsono Sudiro, di daerah Cilame.

Bakso Simanalagi

Bakso Simanalagi sudah ternama di Ciamis. Lokasinya terletak tak jauh dari alun-alun Ciamis. Tepatnya di jl. RE. Martadinata. Sudah sekitar 5 tahun lebih kedai bakso ini berdiri. Meskipun dari luar terlihat agak kecil, tapi ruang di dalamnya cukup luas. Interiornya pun menarik dengan warna-warni hijau dan kuning yang terang.

Di sini Anda bisa memilih kombinasi yang paling disukai. Ada mi bakso, plus kombinasi babat, pangsit, atau sayap ayam. Bisa juga pilih kombinasi lengkap ketiga-tiganya. Harga per porsi sekitar Rp. 3 - Rp. 6 ribu. Ada juga hidangan lain seperti mi goreng, nasi goreng, capcay, dan puyunghay. Jika masih kurang, masih tersedia hidangan udang. Pilihannya asem manis, saus tiram, goreng tepung dan goreng mentega. Per porsi harganya Rp. 12.500.

Warung bakso ini buka setiap hari, pukul 09.00 hingga pukul 21.00. "Kalau akhir minggu atau liburan biasanya sangat ramai," jelas Ny. Titin (33 ), yang mengelola usaha ibunya, Hj. Mintarsih (60 th). Titin menyebutkan, selain di sini, ada dua cabang lagi Bakso Simanalagi, yaitu di dekat RS Permata Bunda dan di daerah Kawali.


Abon dan Dendeng Rancapetir

Usaha abon dan dendeng Pusaka Ali ini sudah dimulai oleh Ny. Iloh sejak tahun 1980. "Namun saat ini saya yang melanjutkan usaha Ibu," jelas Ny. Nunung (52 th). Lokasinya di jl. Rancapetir.

Sebenarnya toko ini lebih mirip toko oleh-oleh khas Ciamis. Selain abon dan dendeng, juga tersedia serundeng, mustofa (kering kentang ala Ciamis), galendo, keripik pisang, sale pisang, dan rempeyek. Namun produk utamanya memang abon dan dendeng.

Untuk abon kualitas 1, dijual seharga Rp. 100 ribu, sedangkan no. 2 dijual Rp. 90. ribu. Bedanya? "Ya jumlah dagingnya berbeda. Yang kualitas 1, dagingnya lebih banyak," jelasnya. Sedangkan dendeng dijual Rp. 95. ribu per kilogram. Bila ingin membeli mustopa dan serundeng, siapkan Rp. 40. ribu. Anda sudah dapat 1 kilogram. Biasanya Nunung membuat abon dan dendeng seminggu sekali. Sekali produksi masing-masing 70 kilogram. "Kalau untuk abon, hasilnya menyusut jadi sekitar 30 ­ 35 kilogram," imbuh Ibu 4 anak ini.


Ayam Goreng Swadaya

Sebenarnya lokasi jajan ini terletak di jl. Perintis Kemerdekaan. Namun orang Ciamis lebih mengenalnya dengan nama swadaya. Di sini terdapat sekitar 8 ­ 9 gerobak penjual ayam goreng. Rasa dan jenisnya pun nyaris mirip semua. Konon sudah sejak awal tahun 80-an daerah ini menjajakan ayam goreng. "Saya sendiri sudah 11 tahun berjualan ayam di sini," jelas Pak Anto (26 th).

Ada tiga jenis ayam yang ditawarkan Anto. Ukuran besar, Rp 2 ribu, sedang Rp 1.500, dan kecil Rp 1.000. Dagingnya empuk dan gurih. Semuanya dalam keadaan potongan, tak dijual ayam utuh. Tersedia juga ati-ampela seharga Rp 1.000 per buah. Semuanya disajikan dengan taburan semacam serundeng yang rasanya manis gurih, terbuat dari kelapa.

Namun umumnya para pembeli tak menyantapnya di situ karena memang sudah terbiasa membeli untuk dibawa pulang. Terbukti hanya sedikit bangku tersedia. Wilayah ini mulai aktif sejak pukul 10.00 hingga pukul 21.00.

Sale Pisang Suka Senang

Industri sale pisang ini cukup besar di wilayah Ciamis. Lokasinya terletak di kilometer 6, jalan raya Ciamis ­ Banjar. Produk utamanya berbasis pisang. "Sebenarnya sejak dulu istri saya sudah usaha jajanan seperti kue lapis, keripik singkong, dan peyek," jelas Tarwa Hadi (62 th).

Istrinya, Ny.Odah Zubaedah (57 th), memang menyukai dunia makanan dan hobi memasak. Nah, kebetulan Tarwa pensiun dari Perum Perhutani tahun 1992. Maka pasangan ini pun lantas menjajal usaha di bidang makanan. "Kebetulan waktu jalan-jalan ke daerah Purwokerto, kami mencicipi sale pisang," tambah Tarwa.

Merasa tertarik, Odah mencoba-coba membuat sale pisang hingga menemukan formula resep yang pas. "Baru 6 bulan ketemu resep yang pas," ujarnya.

Semua percobaannya dikonsumsi sendiri, atau dibagikan ke tetangga sekitar sambil mensurvey pendapat mereka. Akhirnya tahun 1996 mereka memulai usaha sale pisangnya. "Awalnya hanya beberapa kilogram pisang. Sekarang, sih,sudah ukuran ton," jelas Tarwa.

Karena saingan sudah banyak, mereka langsung membidik target menengah ke atas. Konsekuensinya, rasa harus enak, higienis, pembatasan penggunaan minyak goreng, bahan berkualitas, dan harga di atas rata-rata. Kalau soal higienitas, usaha sale pisang Tarwa memang patut diacungkan jempol. Mereka telah memperoleh bintang 1 dari BP POM Ciamis dalam bidang produk unggulan yang higienis.

Saat ini ada 7 produk yang ditawarkan. Sale gulung, sale lidah, sale opak, sale pisang ambon, keripik pisang asin, manis, dan pedas manis. Semua dijual dengan harga Rp 25 ribu
per kilogram. "Mungkin sebentar lagi juga akan diproduksi keripik rasa madu dan vanila," ujar Tarwa.

Khusus untuk pisang sale, Tarwa menggunakan jenis pisang siam dan ambon. Sedangkan keripik menggunakan pisang kapas atau pisang nangka. Ia mengaku produknya mampu bertahan hingga 6 bulan.

Dalam satu hari, untuk pisang sale saja, dibutuhkan 4 kwintal pisang. "Semuanya saya peroleh dari petani di sekitar sini dan daerah Banjar," jelas Tarwa.
Ini bertujuan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat. "Jadi bisa saling menguntungkan," tandasnya.

Hingga kini ada 40 karyawan tetap yang bekerja di situ. Sedangkan mitra dari luar bisa mencapai 100 orang lebih.

Pabrik sale juga sudah sering menjadi target kunjungan orang yang hendak membuka usaha. Ada dari Yogyakarta, Cianjur, Bandung, Majalengka, dan daerah lain. Bahkan ketika Sedap sekejap berkunjung, pabriknya tengah dikunjungi oleh rombongan ibu-ibu dari Manado hingga dua bis. Saat ini produk sale Pak Tarwa sudah menembus ke berbagai daerah. Dari Batam, Bali, Jakarta, dan Sumatera. Bahkan saat ini sedang dalam penjajakan ekspor menuju Hongkong, Kanada, dan Singapore.

"Jadi jika Anda membeli sale di berbagai supermarket, kemungkinan dari sini juga lo," tambahnya.

Untuk ke depan, Tarwa berencana membuka agrowisata. Jadi selain berbelanja oleh-oleh, Anda juga dapat berwisata melihat berbagai proses produksi makanan di situ.



Tumis Genjer RM. Manjabal 1

Di sinilah Anda bisa mencoba tumis genjer yang unik itu. Genjer biasanya banyak tumbuh di pinggiran sawah. Bahkan sebagian orang menganggapnya tanaman pengganggu. Atas saran seorang pengunjung, maka dibuatlah genjer sebagai bahan tumisan, tentu dengan tauco yang cukup banyak. Rasanya? Tekstur luarnya lembut, tapi jika digigit, kres kres.. renyah rasanya. "Kalau di Jawa, biasanya dimasak sebagai pecel atau urap. Nah, kami mencoba menumisnya," jelas sang empunya, Ny. Tety (41 th)

Untuk memperoleh satu porsi tumis genjer, cukup merogoh kantong Rp. 2.500, saja. Tety juga menyediakan menu khas Priangan lainnya seperti nasi timbel, pencok leunca, ayam goreng/bakar, sayur asem, hingga gurame bakar. Khusus untuk gurame dijual seharga Rp. 37 ribu per kilogram. Selain itu juga tersedia minuman segar dari es teh manis, softdrink, jus, hingga kelapa muda segar.

Bukan cuma makanan lezat yang ditawarkan di sini, tetapi juga tempat makan yang nyaman. Anda bisa pilih duduk di meja, lesehan di atas kolam, lesehan di pinggir sawah, bahkan ada yang berlokasi agak jauh di tengah sawah. "Biar makannya lebih nikmat," jelasnya.


Rumah makan ini sanggup menampung 200 orang lebih. Sehingga tak jarang untuk acara kantor atau lainnya memilih tempat ini sebagai alternatif. Parkirnya pun cukup luas.

Jika berminat, lokasinya sekitar 10 km dari Ciamis ke arah Tasikmalaya. Tepatnya di jl. Raya Gunung Cupu, Sindang Kasih. Rumah makan yang berdiri tahun 1994 ini buka setiap hari, pukul 9 pagi sampai 9 malam. Di jalan ini sebenarnya juga ada satu lagi rumah makan, Manjabal 2, yang dibuka tahun 1999 dan dikelola oleh ibunya, Ny. Oom.


Jajanan Khas Koperasi Linggarsari

Koperasi ini menawarkan aneka jajanan yang sangat bervariasi. "Setidaknya ada 20 jenis kudapan yang kami produksi," jelas Hj. Nani (52 th) yang membuka koperasi ini sejak 1987.

Ada makaroni, wajit, borondong, molen tahu, sale pisang, dodol, dan koya (cemilan berbentuk bubuk terbuat dari beras ketan) dengan rasa kacang, ketan dan susu. Ada juga kue sagon, bolu dan oleh-oleh khas Ciamis lainnya. Yang unik, borondong untuk wajit tidak dibuat dari jagung seperti umumnya, tetapi dari gabah yang disangrai. Bentuknya memang mirip borondong pada umumnya. Tiap kemasan dijual antara harga seribu hingga dua ribu rupiah saja.

Koperasi ini lahir dari keinginan memberdayakan masyarakat sekitar agar
produknya lebih mudah dihimpun dan dipasarkan di bawah merk Linggarsari. Ada sekitar 60 karyawan yang memproduksi langsung di sini. Sedangkan mitranya bisa lebih dari 200 orang. "Seperti penyedia bahan dan yang membuat kemasan," jelas Pak Ujang Gananda (48), penanggung jawab koperasi ini.

Rencananya nanti seluruh pengusaha jajanan khas Ciamis akan menggelar dagangannya di P2B (Pusat Pemasaran Bersama) ini. Nantinya akan berlokasi di Cihaurbeuti, dekat perbatasan Ciamis ­ Tasikmalaya. Koperasi ini sudah buka pada pukul 07.00 pagi dan baru tutup pukul 9 malam. "Kalau produksinya sih hanya sampai pukul 5 sore," jelas pak Ujang.

Sedangkan jangkauan pemasarannya sudah mencapai Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. "Lumayanlah untuk mengangkat ekonomi masyarakat sekitar koperasi ini," jelas Ujang seraya menunjukkan laporan omzet yang cukup besar.


Caf・dan toko Oleh-oleh Annisa

Caf・yang mulai berdiri tahun 97 ini berlokasi di jl. A. Yani, tak jauh dari pusat kota. Menunya campuran lokal dan asing. Ada nasi goreng, mi goreng, menu dari ayam, hingga spageti, cream soup, omelet, dan steak. Harganya antara Rp. 5 ­ Rp. 15 ribu. Anda juga bisa memilih teman minumnya dari teh, kopi, softdrink, hingga aneka jus buah.

"Baru sekitar 2 ­ 3 tahun saya sambil berjualan oleh-oleh khas Ciamis," ujar Hj. Nani (58 th).

Di antaranya ada galendo, sale pisang, dodol salak, rangginang, opak, seroja (keripik berbentuk bunga dari beras ketan), dan aneka keripik. Ada juga mustofa dan serundeng buatan sendiri yang diberi merk Ellan. Mustofa dan serundeng memang sudah dibuat sejak tahun 70-an oleh neneknya.

Nani membuka cafenya setiap hari, pukul 9 pagi hingga 12 malam. "Soalnya kalau malam, banyak yang suka mampir untuk beli oleh-oleh dan makan," terangnya.


Caf・ini terletak di salah satu jalan yang menghubungkan daerah Ciamis ke arah Jawa Tengah, sehingga menjadi salah satu jalur hilir mudik mobil lintas provinsi.


Dodol Salak

Dodol ini memang agak unik. Rasanya manis dan sepat. Zaenal Muttaqin (44 th) adalah orang yang mempelopori pembuatan jenis dodol ini pada tahun 2001.

"Dulunya, sih, kami tertarik karena cukup banyak produksi salak di wilayah Ciamis," jelas Ibu Titin (37 th), sang istri yang ikut membidani pembuatan dodol ini.

Untuk satu pak dodol, kemasan 20 buah, dijual dengan harga Rp. 4ribu.

Dalam seminggu, Titin tiga kali mengadoni. "Memasaknya cukup lama, antara 8 ­ 10 jam," jelasnya. Sekali membuat, dibutuhkan sekitar 1 kuintal salak mentah. Karena tanpa pengawet, dodol ini masa konsumsinya hanya sampai 3 bulan. "Makanya saya sering berkeliling ke toko-toko yang menjual dodol saya. Supaya bisa ditukar dengan yang masa berlakunya hampir kadaluarsa," ujar wanita yang juga berprofesi sebagai guru SD ini.

Untuk membuatnya, salak yang telah dikupas, dibuang bijinya, lalu dicuci. Kemudian digiling, dan dimasak bersama gula dan tepung beras selama 8 ­ 10 jam. Setelah dingin, baru dikemas dalam lintingan plastik. "Ada sekitar 16 orang yang saat ini membantu usaha ini," ujarnya.

Selain dodol salak, ia juga merencanakan membuat dodol pisang dan dodol sirsak sebagai variasi produk.

Dicopy paste dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by Imelda :: 2:33 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Friday, May 12, 2006 Jalan-jalan ke Pamekasan

Meski sama-sama di Madura, jajanan di Pamekasan tidak sama benar dengan jajanan di Sumenep. Bisa jadi beberapa namanya mirip. Toh, ada saja perbedaannya sekalipun tidak banyak. Nah, kalau Anda mengunjungi kota ini, jangan sangsi mendatangi tempat-tempat yang kami ulas berikut ini.

WARUNG KALDU PINTU GERBANG

Kaldu salah satu makanan favorit penduduk Madura. Terdapat dua macam kaldu di Madura, kaldu sumenep dan kaldu pamekasan. Jika di Sumenep, kaldu berbentuk cream sup, di Pamekasan lain lagi. Sama-sama sup, tetapi kacang hijaunya tidak hancur. Bagi orang Sumenep kaldu sejenis ini malah disebut campur, sejenis soto.

Di dalam kaldu tadi, orang Pamekasan menam­bahkan irisan kikil atau kokot (kaki sapi yang paling bawah). Hidangan ini disajikan dalam piring bersama irisan lontong.

Khusus untuk kaldu kokot, Anda dapat memilih jenis yang bertulang tetapi masih ada kikilnya atau yang sama sekali tanpa kikil. Nyatanya orang yang senang menikmati kokot lebih banyak jumlahnya. Menurut mereka, menyantap sepatu sapi yang berwarna hitam tersebut terasa mengasyikkan.

Sementara mereka yang jatuh hati pada kikil, memilih hidangan ini karena dapat menyedot tulang yang bersumsum.

Warung kaldu Pintu Gerbang merupakan warung yang sangat dikenal di Pamekasan. Awalnya, warung ini didirikan Ny. Sitiyah (75), 37 tahun yang lalu. Saat ini, warung ini dikelola oleh Ny. Hanna anaknya dan dibantu oleh Fatimahtus Zarah (35), cucunya. Saat awal berdiri, warung ini bernama warung Anda dan terletak di kantor pengadilan. Setelah sempat berpindah-pindah, sejak tahun 1990, warung kaldu ini pindah ke Jl. Pintu Gerbang 46. Sejak itu pula, nama warung ini berubah menjadi Warung Kaldu Pintu Gerbang.

"Meskipun berpindah-pindah, pelanggan kami tetap setia. Karena sebelum pindah, kami pasti sudah memberi tahu para pelanggan, alamat tempat yang baru," jelas Fatimahtus.

Anda sudah dapat menikmati satu porsi kaldu dengan harga Rp 3.500 untuk kaldu biasa dan Rp 6 ribu untuk kaldu kokot. Warung kaldu ini bisa Anda kunjungi tiap hari sejak pukul 05.00 hingga pukul 21.00. Sayangnya, saat puasa dan Lebaran, warung ini tutup.

"Saat itu, kami menjalankan ibadah bersama keluarga. Selain itu 5 karyawan saya pun pulang kampung," jelas guru SD ini.

Selain berjualan kaldu, warung ini juga menyiapkan menu-menu lainnya seperti bakso, gule, soto ayam, nasi campur, nasi rames, dan nasi pecel. Tetapi, tetap saja warung ini lebih dikenal dengan kaldunya. Untuk memenuhi permintaan pembeli, tiap hari, mereka harus menyediakan 20 kilogram beras untuk nasi dan lontong, 2 kilogram kacang hijau, dan 30 kaki sapi. Angka ini akan meningkat, saat musim tembakau, yaitu bulan Agustus hingga Oktober.


KERUPUK TANGGUG

Kerupuk tanggug hanya bisa didapatkan di Pamekasan. Tanggug dalam bahasa Indonesia berarti caping (topi petani). Wajar juga dinamakan seperti itu. Kerupuk ini relatif sangat besar. Ukurannya 50 x 35 cm, tetapi ini sebelum digoreng, lo! Setelah digoreng kerupuk akan mekar jadi dua kali lipat. Karena besarnya, para penduduk menggunakan kerupuk ini untuk menupi kepala dari sengatan matahari.

Untuk menggoreng kerupuk ini, diperlukan wajan berukuran ekstra besar dan memerlukan 10 kilogram minyak goreng yang harus benar-benar panas.

Begitu besar hingga kerupuk tak bakal habis dimakan sekaligus. Sisanya bisa dijemur kembali supaya tetap renyah.
Salah satu penghasil kerupuk tanggug di Pamekasan adalah Ny. Djuhariah (40). Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 1930. Sampai saat ini pun resep yang digunakan masih sama. Tetapi, sayangnya pembuatan kerupuk masih sangat tergantung musim. Jika musim hujan, pembuatan kerupuk tanggug tidak bisa dilakukan tiap hari. Karena matahari jarang muncul sehingga kerupuk susah kering.

Rata-rata tiap hari mereka membuat kerupuk dari 25 kilogram tepung kanji. Hasilnya 50 buah kerupuk tanggug. Usaha yang beralamatkan di Jl. Gatot Kaca ini, memasarkan produksinya di Pasar 17 Agustus, Pamekasan.

Anda dapat memperoleh kerupuk tanggug dengan harga relatif murah. Kerupuk tanggug dengan ukuran biasa dijual Rp 3 ribu. Sedangkan ukuran yang lebih besar, dijual dengan harga Rp 4 ribu. Ukuran biasa setelah digoreng menjadi 1 m x 0,7 cm sedangkan yang besar ukurannya bisa 1,25 m x 1 m.

SATE LALAT PAK ENTO
Berminat sate? Di Pamekasan, ada sate terkenal yaitu sate lalat. Dinamakan demikian karena irisan dagingnya benar-benar kecil seukuran lalat. Daging yang digunakan daging ayam atau daging kambing.

Sate ini bisa Anda peroleh antara lain di warung sate lalat milik Pak Ento. Lokasinya di Jl. Niaga. Usaha ini dimulai 35 tahun lalu. Hanya saja, saat itu Ento berjualan secara berkeliling. Setelah 20 tahun, ia mendirikan warung tenda di Jl Niaga. Kini usaha sate lalatnya diteruskan oleh Hedi (31), anak Ento. "Saya sudah meneruskan usaha ini sejak tahun 1996," kata Hedi.

Sate lalat diciptakan sendiri oleh Ento. "Ukurannya sengaja kecil-kecil karena lebih mudah kering," kenang Hedi. Karena bentuknya yang kecil-kecil, sate lalat tiap porsi terdiri dari 25 tusuk sate.

Menurut para pelanggannya, yang menjadikan sate lalat Ento terkenal karena bumbunya enak. Saus kacangnya pun banyak sehingga benar-benar terasa.

Setiap hari Hedi membuat 3750 tusuk sate ayam dan kambing. Tetapi saat panen tembakau kebutuhan sate naik dua kali lipat.

Untuk menemani sate, disediakan lon­tong. Satu piring sate berikut lontong dijual dengan harga Rp 4 ribu. Dengan me­masang harga seperti itu, Hedi bisa mengontongi untung Rp 100 ribu setiap hari.

KERIPIK TETE
Keripik tete terbuat dari singkong kukus yang ditete (ditumbuk). Karena itulah namanya kripik tete. Keripik ini ada dua bentuk, bentuk bundar dan lonjong memanjang. Selain bentuknya, juga dibedakan antara singkong putih dan singkong kuning.

Keripik khas Pamekasan ini banyak diproduksi di Desa Blumbungan. Hampir di setiap rumah penduduk desa ini, tampak keripik-keripik tete yang sedang dijemur. Ny. Suriyah (65) tak ketinggalan. Bahkan ia telah membuat kripik tete sejak 45 tahun lalu. Belajar dari orang tuanya, wanita berbadan kecil ini, menjadikan usaha pembuatan keripik tete sebagai penghasilan tambahan di luar aktivitasnya sehari-hari sebagai petani. Setiap hari, Suriyah sendirian menumbuk singkong kukus. Singkong tersebut harus ditumbuk dengan batu kali yang sangat berat. "Supaya jadinya cepat," jelas wanita lima anak ini.

Untuk 4 hari ia memerlukan 1 karung singkong (50 kilogram). Dari satu karung singkong tersebut, biasanya dihasilkan 30 ikat keripik. Tiap ikatnya terdiri dari 100 keripik. Harga per ikat Rp 2 ribu.

Keripik ini dipasarkan di Pasar Blumbungan atau Pasar Kota. "Tetapi kadang ada juga pedagang yang membeli keripik langsung di sini," jelas Suriyah.

Keripik dijual dalam bentuk mentah. Para pembeli harus menggoreng sendiri di rumah. Rasanya yang gurih dan renyah, menyebabkan banyak sekali penggemar keripik tete. Selain digunakan sebagai campuran rujak cingur, keripik ini biasa dijadikan kudapan, dimakan begitu saja setelah digoreng atau dicocol dengan sambal kacang yang dibuat dari campuran kacang, petis, dan cabai.

TOKO CAMILAN MADURA
Oleh-oleh khas Madura bisa didapat di toko Camilan Madura, Jl. Stadion. Di toko yang didirikan oleh Ny. Titik (33), 3 tahun yang lalu ini, disediakan berbagai macam penganan khas Madura seperti, keripik tripang (sejenis ulat laut), lorju, keripik tete, oto, rengginang lorju, kacang goreng dengan lorju, dan marning jagung Madura.

Tripang adalah penganan yang paling diminati. Harganya, Rp 65 ribu per kilogram. Juga lorju (sejenis ikan laut). Padahal harganya per kilogramnya Rp 175 ribu.

Selain digoreng biasa, lorju juga bisa digunakan untuk campuran kudapan lain. Seperti rengginang dan kacang goreng. Jika rengginang biasa dapat diperoleh dengan harga Rp 6 ribu per bungkusnya (isi lima puluh buah), maka rengginang dengan lorju harganya menjadi Rp 11.500 per bungkusnya. Sedangkan kacang goreng dengan lorju' dapat Anda peroleh dengan harga Rp 40 ribu per kilogram.

Keripik tete yang dijual di sini sudah matang. Maka harganya pun menjadi Rp 2.500 per bungkus dengan isi 25 keping keripik.

Ada juga kudapan dengan nama oto. Kudapan ini, dibuat dari isi kacang panjang yang kemudian digoreng dengan bumbu, hingga rasanya pedas manis. Oto dapat Anda peroleh dengan harga Rp 8 ribu per kilogram.

Ada jenis kudapan lain yang tidak kalah mahal dan dipilih sebagai oleh-oleh. Keripik paru sapi, misalnya. Anda bisa memperoleh keripik ini dengan harga Rp 140 ribu per kilogram. Selain itu juga ada berbagai ikan asin dan ikan tawar kering. Untuk jenis ini, harganya cukup murah, mulai Rp 2.500 hingga Rp 3.300.

Toko ini buka pukul 07.30 hingga pukul 12.00. Baru sorenya buka lagi pada pukul 16.30 hingga pukul 21.00. Tetapi toko ini tutup hari Raya Idul Fitri.

SATE & GULE KAMBING MADURA
Bagi Anda penggemar sate, Pamekasan bisa jadi tempat favorit Anda. Di malam hari banyak penjual sate di sana. Misalnya, rombang sate Marfuah yang terletak di Jl. Niaga, Sate dan gule kambing dagangan Marfuah (32) ini cukup mudah ditemukan yakni rombong kedua sebelah kiri kalau kita datang dari arah J. Trunojoyo.

Marfuah bersama sang adik memulai usahanya sejak 10 tahun lalu. Tetapi sejak 6 tahun lalu, sang suami, Mu'min (31) ikut berjualan.

Sate Marfuah bisa dinikmati dari pukul setengah lima sore hingga menjelang subuh. "Tetapi, kalau tengah malam sudah habis, kami pulang," ibu seorang putri ini.

Marfuah sengaja memilih daging kualitas bagus. Sehingga sate kambingnya terasa empuk. Tidak lupa, dalam satu tusuk, diselipkan satu iris gajih kambing. Karena gajih kambing itulah yang akan memberi rasa dan aroma yang lebih tajam. Seperti kebanyakan sate Madura lainnya, sate ini juga menggunakan saus kacang dan kecap. Tentu dengan taburan bawang goreng untuk penyedap.

Gule kambing Marfuah juga tidak mengecewakan. Setidaknya begitulah kata sang pemilik. Begitu lezatnya olah gule suami istri ini sampai-sampai, "Pembeli saya dari segala golongan," kata Mu'min bangga.

Tiap hari, mereka menyiapkan 400 tusuk sate dan 3 kilogram daging kambing untuk gule. Harga yang ditawarkan Rp 3 ribu untuk 10 tusuk sate dan Rp 4 ribu untuk satu piring gule kambing. Sementara sepiring nasi, dijual Mu'min Rp 1.500.

SOTO AYAM MADURA
Jika Anda ke Pamekasan, kunjungi Depot soto SMA, yang berada di Jl. Raya Keppo yang didirikan Ny. Hj. Nurul Qomariah (45) tahun 1986. Soto ayam yang ditawarkan ada dua macam, soto ayam biasa dan soto ayam dengan tambahan hati ayam.

Pengelolanya kini Ny. Ida Sulastri (30), adik ipar Hj. Nurul. Depot ini buka mulai pukul 06.00 hingga tengah malam. Dalam satu harinya, mereka minimal menjual 100 mangkuk soto ayam. Angka ini akan meningkat pada hari Minggu. "Wah, Minggu, sih, kami bisa jual lebih dari 150 mangkok," kata Ida.

Ciri khas soto ayam ini, masih menggunakan ayam kampung karena itu rasanya enak. "Kami sengaja menggunakan ayam kampung. Walaupun harganya mahal, tetapi dagingnya lebih enak dan gurih," papar Ida.

Jumlah karyawan warung ini 6 orang. Lima orang bekerja dari pukul 06.00 hingga pukul 17.00. Setelah itu digantikan oleh seorang karyawan lainnya. Walaupun begitu Anda tak akan lama mengantre. "Karena karyawan di depot ini dijamin sudah terampil dan lincah."

NASI JAGUNG

Madura identik dengan makanan yang satu ini. Walaupun begitu, mendapatkan nasi jagung sama sekali tidak mudah. Karena penjual nasi jagung sudah mulai langka. Kalau Anda jalan-jalan ke pasar di pagi hari kadang ada juga satu atau dua nasi jagung, Misalnya, pasar Gurem yang terletak di Jl. Peja. Mereka mulai berjualan pada pukul 07.00 dan sudah habis pada pukul 08.00.

Ny. Hana (48), adalah salah satu penjual nasi jagung. Ia mulai berjualan sejak tahun 1985. Nasi jagung disajikan di atas daun pisang. "Rasanya jadi semakin enak. Lagi pula, repot jika saya harus membawa piring," jelas Ibu dua anak ini.

Penjual nasi jagung memang sering merasa kerepotan jika harus membawa piring karena mereka berjualan tanpa kios. Untuk membawa nasi jagung pun masih menggunakan bakul. Nasi jagung ini merupakan campuran dari beras jagung ditambahkan sedikit beras putih. Nasi jagung disajikan dengan pepes tongkol, urap-urap dengan sayur taoge dan kacang panjang, sayur lodeh, juga tidak ketinggalan tempe bumbu bali.

Satu bungkus nasi jagung, sudah bisa Anda peroleh dengan harga Rp 1.500. Tetapi, jangan lupa persediaannya terbatas sekali. Dalam satu hari Hana dan juga penjual nasi jagung di Pasar Gurem hanya membawa nasi sebakul, yaitu 5 kilogram beras jagung. Itu sebabnya pada pukul 08.00, biasanya mereka sudah kehabisan nasi jagung dan bersiap-siap pulang.

"Saya takut kalau bawa lebih, nanti nasi jagung saya tidak habis. Bawa sedikit saja tidak apa-apa, asal tiap hari laku. Kalau bawa banyak dan habisnya lama, takut keburu dingin. Kalau sudah dingin, kan, rasanya tidak seenak waktu hangat," jelas wanita berbadan kecil ini.

di copy paste dari www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 6:23 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Wednesday, May 10, 2006 SERBA KETAN

I love ketan. Very much. Dibikin atau dimasak apa saja , Always welcome. Kebetulan saya lihat ada kumpulan resep-resep ketan yang kelihatannya enak dan menarik sekali di majalah www.sedap-sekejap.com, jadi saya copy paste deh buat semua penggemar ketan yang suka baca milis di hp soli. Selamat mencobanya .

BAHAN :
125 gram beras ketan
150 ml santan
1/4 sendok teh garam
1 sendok teh kunyit bubuk
1 lembar daun salam

BAHAN BUBUK KEDELAI:
125 gram kedelai
2 buah cabai merah
2 lembar daun jeruk
5 pucuk daun kemangi
2 sendok makan gula pasir
1 sendok teh garam


KETAN KUNING
BUBUK KEDELAI

CARA MEMBUAT :
Rendam kedelai selama 2 jam lalu tiriskan. Sangrai kedelai, cabai merah, daun jeruk, dan daun kemangi sampai kering dan renyah. Gunakan api sedang. Setelah dingin, tambahkan garam dan gula lalu haluskan dengan blender.
Kukus ketan selama 15 menit. Sementara itu rebus santan, garam, kunyit, dan salam sambil diaduk hingga mendidih. Aduk beras ketan ke dalam santan sampai santan meresap lalu kukus sampai matang.
Sajikan ketan kuning dengan bubuk kedelai.

BAHAN :
350 gram beras ketan
350 ml santan
1/4 sendok teh garam

LAPISAN COKELAT:
3 butir telur ayam
150 gram gula merah, sisir halus
2 sendok makan gula pasir
1/4 sendok teh garam
30 gram tepung terigu
50 gram tepung beras
350 ml santan


KATRI SOLO

CARA MEMBUAT :
Kukus beras ketan selama 20 menit. Sementara menunggu, rebus santan dan garam sampai mendidih. Masukkan ketan lalu buat aronan. Kukus sampai matang.
Aduk bahan lapisan cokelat lalu tim sampai matang dan kental. Cara mengetim, rebus air dalam panci. Letakan panci ukuran lebih kecil yang bersisi lapisan cokelat di dalam air. Aduk sampai adonan matang dan mengental.
Masukkan sebagian adonan ketan di dasar cetakan persegi. Tekan-tekan lalu tutup dengan sebagian adonan cokelat. Tutup lagi dengan ketan, tutup dengan lapisan cokelat. Terakhir tutup dengan ketan
Potong-potong lalu sajikan.
BAHAN :
300 gram beras ketan
300 ml santan
1/2 sendok teh garam
2 lembar daun pandan
daun pisang untuk membungkus
2sendok makan minyak goreng

BUMBU HALUS: Lemper
1/2 sendok teh ketumbar
3 butir bawang merah
2 siung bawang putih
2 buah kemiri
1/2 sendok teh garam
1/4 sendok teh gula

BAHAN ISI:
150 gram ayam cincang
1 lembar daun salam
3 cm lengkuas, dimemarkan
1 tangkai serai, dimemarkan
100 ml santan

CARA MEMBUAT :
Tumis bumbu halus, salam, serai, lengkuas sampai harum. Masukkan ayam cincang lalu tuangkan santan. Masak sampai kering dan matang.
Kukus ketan selama 15 menit. Rebus santan, garam, dan daun pandan. Setelah mendidih, masukkan ketan. Buat aron lalu kukus sampai matang.
Selagi masih panas, Tipiskan ketan lalu isi dengan ayam. Buat bulatan sambil dikepal-kepal beberapa kali di atas sehelai daun pisang. Bila sudah membentuk gumpalan yang bagus, bungkus. >> 12 porsi


PUTRI MANDI
KETAN HITAM.
BAHAN :
250 gram tepung beras
ketan hitam
2 sendok makan tepung sagu
175 ml air hangat
garam secukupnya
1 sendok makan air kapur sirih
daun pisang bentuk takir kecil

BAHAN KUAH:
350 ml santan kental
2 sendok makan tepung beras
1 sendok makan tepung sagu
garam secukupnya

BAHAN ISI:
200 gram kelapa muda parut kasar
80 gram gula merah, sisir halus
1 sendok makan gula pasir
1/4 sendok teh garam
1 lembar daun pandan
CARA MEMBUAT :
Uleni tepung ketan hitam, tepung sagu, garam, air kapur, dan air hangat sampai tidak lengket. Sisihkan.
Masak bahan isi sampai kering dan matang. Tipiskan adonan ketan tambahkan isi lalu bentuk bulat sebesar kelereng. Kukus sampai matang.
Aduk bahan kuah dan masak di atas api sampai mendidih. Tata bulatan ketan dalam takir siramkan kuah lalu sajikan dengan teh hangat. >> untuk 12 porsi.

LEPET KETAN HITAM BAHAN:
250 gram beras ketan hitam
250 ml air
150 gram kelapa muda parut kasar
50 gram kacang hijau, rendam
1/2 sendok teh garam
daun janur untuk membungkus .


CARA MEMBUAT :
Rendam beras ketan hitam selama 1 jam lalu kukus hingga 20 menit. Sementara itu didihkan air dan garam lalu masukkan ketan. Aduk hingga menjadi aron, tambahkan kelapa dan kacang hijau. Aduk rata.
Letakkan adonan di atas sehelai daun kelapa yang agak lebar. Gulung di janur lalu lilit dan sematkan ujungnya. Kukus sampai matang. >> untuk 15 biji.
BAHAN :
200 gram beras ketan
1.100 ml air
1 sendok teh garam
2 lembar daun pandan

BAHAN KUAH:
200 gram gula merah, disisir halus
150 gram daging durian
200 ml air

BAHAN AREH:
150 ml santan kental
1 lembar daun pandan
garam secukupnya

BUBUR KETAN HITAM SAUS DURIAN




CARA MEMBUAT :
Rebus bahan bubur sampai matang sambil diaduk (kalau belum matang, boleh ditambahkan air).
Dalam wadah lain, rebus bahan kuah. Di wadah yang lain lagi, rebus juga bahan areh hingga mendidih. Sisihkan.
Cara penyajian, letakkan bubur ketan hitam dalam mangkuk, siram dengan bahan kuah kemudian siram lagi dengan bahan areh. >> untuk 4 porsi.


WAJIK KETAN WAJIK BAHAN :
200 gram beras ketan hitam
200 gram beras ketan
150 gram gula merah
50 gram gula pasir
350 ml santan kental
2 lembar daun pandan
1/2 sendok teh garam

CARA MEMBUAT :
Kukus beras ketan hitam dan beras ketan selama 20 menit. Sementara itu rebus santan, gula merah, gula pasir, daun pandan, dan garam sampai merambut.
Masukkan ketan. Aduk rata sampai matang. Angkat dan ratakan di loyang lalu potong-potong.
Untuk 10 buah .

BAHAN :
200 gram beras ketan tumbuk tidak terlalu halus
200 gram kelapa muda parut kasar
100 gram gula pasir
1/2 sendok teh garam
pewarna merah, hijau
daun pisang

CARA MEMBUAT :
Campur beras ketan, kelapa muda, gula pasir, dan garam.
Bagi dua adonan. Sebagian diberi warna merah, bagian yang lain ditetesi warna hijau. Aduk rata masing-masing adonan. Cetak di loyang yang telah dioles minyak dan dialasi daun pisang.
Kukus sampai matang, potong-potong lalu sajikan.


ULI SAMBAL ONCOM BAHAN:
200 gram ketan
100 gram beras
300 ml air
100 gram kelapa parut
garam secukupnya

SAMBAL ONCOM:
200 gram oncom
3 buah cabai rawit
4 buah cabai merah
2 siung bawang putih
3 cm kencur
3 pucuk daun kemangi
gula pasir dan garam .
3 sendok makan minyak goreng.



CARA MEMBUAT :
Kukus ketan dan beras selama 20 menit. Sementara itu rebus air lalu tuangkan ke ketan dan garam. Tambahkan kelapa. Aduk rata lalu kukus selama 20 menit. Selagi masih panas, haluskan adonan sampai lembut. Cetak di loyang yang telah dialasi daun dan diolesi minyak. Biarkan dingin lalu potong-potong dan bakar sampai berkulit.
Haluskan cabai merah, cabai rawit, bawang putih, dan kencur. Tumis sampai harum. Tambahkan oncom, daun kemangi, garam, dan gula. Aduk -aduk sebentar lalu tuangkan air.
Sajikan uli dengan tumisan oncom. Alternatif lain dengan serundeng kelapa.




BAHAN :
200 gram beras ketan tumbuk kasar
200 gram kelapa muda parut kasar
1/2 sendok teh garam
100 gram gula pasir
gula untuk taburan secukupnya

SAGON BASAH
CARA MEMBUAT :
Aduk ketan, kelapa, garam, dan gula sampai agak berminyak.
Panaskan teflon lalu tata adonan di dasar teflon. Setelah hangat, taburkan gula pasir, lipat jadi setengah lingkaran. Biarkan di atas api kecil sampai matang.

Untuk 15 buah



KUE PUTU KETAN BAHAN :
150 gram beras ketan, tumbuk kasar
200 gram kelapa muda, parut kasar
1/4 sendok teh garam
100 gram gula merah, sisir halus
pewarna hijau secukupnya.




SENGKULUN


CARA MEMBUAT :
Campur beras ketan, kelapa, dan garam lalu bagi menjadi 2 bagian. Beri warna hijau. Sebagian biarkan putih.
Taruh adonan putih setengah bagian cetakan. Taburi gula merah diatasnya. Tutup dengan adonan hijau hingga penuh. Kukus sampai matang.
Sujiwo.

Posted by Imelda :: 2:42 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Magelang & Klaten

Akhirnya saya bisa menemukan artikel makanan yang lezat dari lembah tidar buat mbak Christ. Met baca deh, semoga Christ puas dengan semua jajanan yang ada di kota favorit kita ini..

AYAM PANGGANG
Mampir ke Klaten jangan lupa mencicipi ayampanggangnya yang berbahakan baku ayam kampung ini. Kondang dengan rasanya yang legit, manis-manis gurih dengan saus khasnya yang terbuat dari santan kelapa. bau santan yang terkena bara arang makin menggelitik perut kita. ayam panggang Klaten ini pas sekali dinikmati sebagai teman makan nasi hangat. Nah, salah satu toko di Klaten yang ayam panggangnya sangat enak adalah di Toko Florida. Letaknya di jl. Pemuda Tengah No. 61. Kalau kita terlambat sedikit, bisa-bisa kehabisan.
"sejak buka pukul 8 pagi, sudah banyak yang pesan. Padahal ayam panggangnya belum matang,' ujar Ny. Susanna Dewiyanti, pemilik dan pembuat ayam panggang Toko Florida.Ayam panggang yang sudah terkenal sejak tahun 1960-an ini sebetulnya dulunya bukan dibuat oleh keluarga Susanna. "Ibu saya, Ny. Yustin hanya menerima titipan dari orang lain," kisahnya.
Tetapi karena si pengusaha ayam panggang ini berniat menghentikan usaha ayam panggang yang dititipi itu, ia menjual usaha tersebut kepada Yustin. "Sejak itulah kami membuat sendiri ayam panggang. kami tak hanya berbekal resep asli ayam panggang, tapi sekaligus para pegawainya. Bahkan, kami turun tangan membuat menangani sendiri pembuatannya," keanng Susan.
Sebagai pembuat ayam panggang khas Klaten yang terkenal, masalah peniruan tentu tak dapat dipungkiri. "Banyak yang berjualan putar kampung dan menyatakan bahwa ayam panggang jualannya mengambil dari Florida. Padahal kita tidakmenjual door to door.
Ayam panggang buatan Susanna tahan hingga dua hari satu malam. Asalkan jangan dikemas dalam keadaan panas. Dalam sehari Toko Florida mampu menjual ayam panggang sebanyak 8-10 ekor. Lain halnya saat liburan, bisa sampai 20 ekor per hari. Tipa potong ayam di jual Rp. 7.500 sedangkan seekornya berkisar Rp. 20 ribuan.


ROTI MUNCUL.

Untuk penduduk sekitar Kabupaten Klaten dan sekitarnya, Roti Muncul bukanlah makanan asing. Kala mengadakan acara arisan atau upacara berkabung, mereka pasti memesan roti semir dari Roti Muncul. Ada sejak tahun 1954, Roti Semir Muncul tetap bertahan hingga kini. Tiap hari memproduksi sekitar 2.000 buah roti. "Itu belum termasuk pesanan, lo. kalau ad apesanan, kita bisa peoduksi lebih dari 2.000 buah," terang Ny. Medy Sigit Purnomo.
Saat ini pelanggan Roti Muncul bukan hanya dari Klaten. Belakangan banyak pemesan dari Yogyakarta, Prambanan hingga Wonosobo. Padahal roti seharga Rp.250 per buah ini tanpa mempergunakan bahan pengawet. "Pokoknya tiap hari harus habis. Kami tak pernah menyimpan roti buatan kami. Jadi dijamin tanpa ada bahan pengawet walaupun bisa bertahan 3 hari.

SOTO BEBEK
Bagi penyuka aneka soto, harus mencicipi hidangan yang satu ini. Sepanjang jalan raya antara Yogya - Klaten, tepatnya di daerah pabrik gula Gondangwinangun, berjejer warung soto bebek ini. Menilik dari namanya tak salah kalau bahan bakunya memang dari daging bebek. Kebanyakan orang mengatakan bahwa daging bebek biasanya anyir dan alot. Jangan salah, soto bebek khas Klaten, sungguh empuk dan bebas dari bau anyir.
Daging bebeknya selembut daging ayam dan kuah sotonya segar. Kalau kita ingin memperoleh soto beserta daging bebek, harus bergegas karena warung soto ini sudah buka sejak pukul 6.00 pagi. Menjelang makan siang biasanya bebek gorengnya sudah habis.
Salah satu warung soto bebek yang terkenal di daerah Klaten adalah Soto Bebek Ny. Suwarni. Harganya cukup terjangkau, Rp. 2.000 per mangkuk dan bebek gorengnya Rp. 3.000 per potong hingga Rp. 22.500 per ekor. Soto ini hanya bisa ditemui di wilayah Klaten saja. Selain dinikmati sebagai soto, akhir-akhir ini di kedai soto bebek juga disediakan nasi putih beserta lalap dan sambal sebagai teman makan bebek goreng.
"Soalnya banyak permintaan. Jadi, ini menu baru. Tetapi kebanyakan memang orang mencari bebek gorengnya karena khas. Bumbunya hanya dibacem hingga empuk lalu digoreng sebentar. Rasanya manis gurih," terang Ibu Suwarni.


KERIPIK CAKAR AYAM
Banyak orang mengira keripik cakar ayam berasal dari Bali. Ternyata berasal dari Klaten. Berawal dari usulan pelanggannya, Ny. Waluyo, pengusaha aneka keripik di Klaten menguji coba cakar ayam yang tadinya cuma limbah. "Cari bahan cakar ayam itu susah, lo. Satu kuintal cakar ayam basah hanya bisa mendapatkan sekitar 30 kg keripik cakar. Penyusutannya banyak," katanya.
Uji coba membuat keripik ini berjalan kurang lebih selama 1 bulan. "Wah, susah membuatnya. Dari yang menjadi bulukan sampai bukannya renyah, tapi alot. Tapi kami pantang menyerah," tuturnya. Dalam ujicoba itu Ny Waluyo pernah harus membuang sebanyak 2 kuintal cakar ayam mentah karena gagal. Soalnya belum punya pengalaman membuat makanan itu.
Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Cakar ayamnya bukan cuma enak tetapi diterima masyarakat dan laris di mana-mana. Sayang saja seorang pembantu kepercayaannya membocorkan resepnya. "Padahal dia cuma dibayar Rp 25 ribu," keluh Ny. Waluyo. Sejak itu banyaklah orang-orang yang membuat keripik cakar ayam. "Toh, walau banyak yang meniru, tapi rasanya berbeda dengan buatan saya," katanya.
Menghindari peniruan hasil karyanya, Ny. Waluyo akhirnya memindahkan pabrik keripik cakar ayamnya. Kini tidak semua orang bisa mengunjungi pabriknya. Kalau ada kunjungan tamu, para pegawainya langsung menghentikan produksi.
Pembuatan keripik cakar ayam tidak semudah yang kita kira. Awalnya, tulang cakar dilepas lebih dahulu kemudian digoreng. Minyak bekasnya harus dibuang karena banyak mengandung air dari cakar ayam. Setelah itu ada proses-proses lain yang kalau ditotal-total butuh waktu 1 minggu.
Tetapi ada rahasia khusus yakni, cakar harus betul-betul baru dipotong, tidak boleh diinapkan. "Cakar yang diinapkan akan bau dan tidak bisa diolah kembali. Cakar yang sudah dieskan juga tidak bisa dibuat menjadi keripik," terangnya.
Kendala lain kala musim hujan tiba. Pembuatan cakar terpaksa dihentikan karena cakar harus diangin-anginkan di bawah terik matahari. Karena proses kerja yang lama dan sukar serta bahan baku yang tidak sedikit, maka harga jual keripik cakar cukup mahal. Per bungkus dengan berat 250 gram dijual sekitar Rp. 7.500. Bahkan kalau sudah masuk supermarket harganya bisa berlipat menjadi 3 sampai 5 kali.


GETUK
Kalau kita sempat berkunjung ke kota Magelang atau sekadar mampir sepulang berwisata ke Candi Borobudur, jangan lupa membawa oleh-oleh khas Magelang, Getuk Trio. Getuk berbahan dasar singkong ini memang hanya ditemukan di Magelang dan kota di sekitarnya saja. Disebut sebagai getuk Trio bukan saja merek dagangnya, melainkan juga karena getuknya terdiri dari tiga warna, putih, cokelat, dan merah jambu. Rasanya? Jelas enak, manis, dan gurih.
Ketika pertama kali dikenalkan di pasaran, tahun 1958, getuk trio tidak tampil dalam kemasan dos karton dengan cap Getuk Trio. "Waktu itu kemasannya masih berupa besek (boks terbuat dari jalinan serat bambu, Red.)," ujar Herry Wiyanto.
Usaha getuk ini semula bertujuan memanfaatkan singkong yang berlimpah. Ternyata getuk buatan ibunya, Ny. Setiawatidigemari masyarakat, terutama menengah ke bawah. Lama-kelamaan yang menggemari getuk kami semua lapisan masyarakat. "Walaupun bahan bakunya murah tapi rasanya tidak mengalahkan roti," tutur Herry bangga.

Getuk nikmat asli Magelang ini belum memiliki merek dagang, namun ketenarannya di tahun 60-an mampu membuat getuk ini tampil sebagai sajian untuk Ratu Sirikit dari Thailand yang berkunjung ke Candi Borobudur. "Setelah itu getuk ini dikenal sebagai Getuk Sirikit. Belum puas dengan ketenaran Getuk Sirikit, Setiawati mencoba memberi nama dagang untuk getuknya agar lebih dikenal lagi," kisah Henry.

Karena keluarganya terdiri dari tiga bersaudara, lalu memiliki usaha bengkel vulkanisir ban yang bernama Trio dan getuknya juga terdiri dari tiga warna, nama Trio pun akhirnya diambil sebagai merek dagang resmi.
Sebagai pendukung kelangsungan usaha, mereka juga menciptakan sendiri alat penghalus singkong. "Sekarang banyak pengusaha getuk yang meyerupai Getuk Trio, tetapi kami menganggap bukan sebagai saingan. Kehadiran mereka justru membuat kami terpacu meningkatkan kualitas terus-menerus," tandas Herry.
Dalam sehari Getuk Trio yang dijual Rp. 3500 per dus ini bisa menghabiskan 2 kuintal singkong untuk bahan baku. "Itu bisa menghasilkan 300 dus. Kalau hari libur bisa lebih banyak lagi," tuturnya.

Dibuat tanpa mempergunakan bahan pengawet, Getuk Trio hanya tahan dua hari saja. "Produksi hari ini dijual hari ini. Kami tak pernah menunda. Kasihan konsumen nanti, mendapatkan produk yang tidak fresh," ujarnya.
Sebagai kota Getuk, tentu tak cuma getuktrio buatan Henry yang ada di Magelang. Ada lagi getuk lain yang dikenal sebagai Getuk Gondok.

Untuk mendapatkan penjual Getuk Gondok biasanya kita harus ke pasar tradisional. Getuk Gondok pertama dan paling enak adalah di Pasar Rejowinangun depan Toko Florida. Di sinilah Getuk Gondok asli berada. Biarpun berjualan di pasar tradisional dan hanya di emperan jalan, tapi penggemarnya banyak. "Dalam sehari kalau sedang ramai seperti masa liburan atau akhir minggu, kami bisa menghabiskan singkong hingga 2 kuintal," jelas Ny. Sri Rahayu yang sudah berjualan getuk selama 15 tahun menggantikan sang ibu, Ny. Ali Mohtar.

Mengaku sudah lupa sejak kapan getuk ini tercipta, tapi menurut cerita Sri, nama Getuk Gondok bukan nama asli dari produk getuk ini. "Dulu ada seorang pembeli yang tak sengaja menyebut getuk yang berbentukbulat-bulat (berdiameter 5 cm, Red.) itu dengan getuk gondok. Mungkin karena ibu saya menderita gondok. Dengan setengah menahan marah, ibu saya tetap melayani si pembeli. Semenjak itu, getuk ini dikenal sebagai Getuk Gondok hingga kini, dan penjualnya dikenal pula dengan nama Mbah Gondok," tuturnya.
Getuk ini mulai buka sejak pukul 5 pagi hingga sore hari sekitar pukul 4. Jenis getuk yang dijual berupa getuk pelangi, berwarna merah jambu, hijau, putih, dan coklat. Sri juga menjual getuk trio, jongkong, dan klepon.

ANEKA ES
Walaupun kota Magelang cukup dingin, tetapi di kota Magelang ada penjual es yang cukup kondang. Salah satunya adalah Es Murni. Toko khusus aneka minuman es yang dikelola oleh Bakoh Suryanto sejak tahun 1962 ini, dahulu dikenal dengan es stik atau es lilin.

"Sejalan dengan perkembangan zaman, kami mencoba membuat berbagai es campur. Mulai dari es serut atau dikenal dengan es gandul sampai es cendol," jelasnya. Selain dikenal dengan paduan es yang enak, Es Murni dikenal juga dengan sirup untuk mempermanis sajian es. "Soalnya sirup untuk Es Murni kami buat sendiri dan berbahan baku gula asli. Jadi kalau habis minum es Murni dijamin tak akan batuk-batuk," terang Bakoh setengah berpromosi.

Setiap hari Es Murni bisa menghabiskan bahan baku gula pasir sebanyak 5 kg. Di musim liburan sekolah, bisa sampai 4-5 lipat. "Biasanya yang datang saat itu adalah orang yang ingin bernostalgia atau mengajak anak-cucu ke tempat dulu biasa membeli es," ujar Bakoh yang sudah mematenkan nama Es Murni.
Selain bisa ditemui di Jl. Sriwijaya No. 6 Magelang, ada cabang lain di Ruko Prayudan A-3 Jl. Raya Mertoyudan. Di kedua tempat tersebut kita bisa menikmati sajian Es Kopyor, Es Campur, atau Es Pleret-nya yang terkenal.

Nah, kalau sudah mencicipi Es Murni, kita bisa juga mencoba es buatan Eny di Jl.Jenggolo 10. Kedai es ini sedemikian terkenalnya selain karena nikmat dan segar rasanya, juga menyediakan berbagai menu es yang namanya agak aneh di telinga. Kita bisa coba Es Bumi Hangus, Es Kemesraan, Es Tenda Biru, Es Anti Stres, Es Padang Pasir, Es Uenak Tenan, Es Dragon Ball, dan lain-lain.

Ini hanya sebagian saja, lo. Berbeda dengan namanya yang heboh, es yang disajikan kadang-kadang terlihat biasa-biasa saja. Tapi kita patut memuji kekreatifan si pembuat es. Bayangkan saja namanya Es Padang Pasir, ternyata isinya 'hanya' berupa es selasih. Penasaran, kan?

KUPAT TAHU
Jajanan ini pas dinikmati di siang hari yang panas. Racikan antara gerusan bawang putih, cabai rawit, kuah kecap dicampur dengan potongan tahu, taoge, kol, serta taburan
seledri dan bawang goreng, selintas memang biasa saja. Tetapi setelah suapan pertama rasanya memang lain. Luar biasa segar. Tak heran jika di warung Tahu Pojok di Jl. Tentara Pelajar selalu ludes habis terjual. Dalam sehari paling tidak bisa menjual 100 piring. Jangan bingung kalau penjual Kupat Tahu di Jl. Tentara Pelajar lebih dari satu. Nah, penjual Kupat Tahu Magelang yang paling kondang adalah milik Bapak Setu.


SOTO Jl. IKLAS
Soto yang terletak di kompleks pertokoan Jl. Iklas Magelang ini sebenarnya serupa dengan soto kudus. Tampilannya berupa soto bening dengan taoge dan suwiran ayam goreng. Yang membuat begitu istimewa, soto ini disajikan bersama aneka gorengan bacem jeroan sapi. Kalau hanya berupa jerohan sapi tampaknya biasa. Yang membuat tampil beda selain soto dan gorengannya nikmat, baceman jeroan tadi sangat empuk. Saat kita menggigitnya, tak perlu berjuang karena alot.


RONDE DAN SATE PISANG
Di Magelang kala senja mulai tiba, minuman hangat yang nikmat menyertai sambil bersantai adalah wedang ronde. Minuman hangat beraroma jahe ini tak beda jauh dengan jenis wedang ronde, sekoteng, atau wedang ndongo yang sudah kita kenal.
Sambil menikmati wedang ronde hangat, kita bisa menyantap cemilan berupa sate pisang. Sajian ini berupa pisang tanduk yang direbus lalu dipotong-potong bulat setebal 1,5 cm. Pisang ini kemudian ditusukkan ke dalam tusuk sate. Pisang yang sudah disusun ala sate ini disiram dengan saus santan. Kedai wedang ronde dan sate pisang sangat terkenal di kota Magelang. Biasanya para penggemar mengarahkan langkahnya ke warung wedang ronde di Jl. Medang.

BUBUR GUDEG

Sajian ini biasanya dinikmati sebagai sarapan. Maka kedai bubur gudeg paling lama hanya buka sampai pukul 10 pagi. Biasanya para penjual bubur gudeg siap melayani pembeli sejak pukul 6 pagi. "Bubur paling enak untuk sarapan. Tidak terlalu kenyang, tapi cukup sebagai ganjelan sampai makan siang," ujar salah seorang pelanggan bubur gudeg.
Kalau kita berkunjung ke Magelang, sempatkan mampir makan pagi di bubur gudeg Jl. Pajajaran depan sebuah sekolah dasar. Walaupun tempat berjualannya non-permanen, kita disediakan bangku kayu untuk menikmati bubur gudeg di tempat. Penjualnya, Ibu Musni.
Rangkaian bubur gudeg terdiri dari bubur yang dibubuhi sayur nangka dan guyuran kuah sambel goreng krecek. Untuk lauknya kita bisa pilih telur, ayam, atau tahu.
Selain menyediakan bubur gudeg, biasanya juga disediakan bubur pedas, yaitu bubur dan sambel goreng krcek. Atau bubur ketan kinca, campuran bubur nasi, ketan, dan kinca dengan taburan kelapa parut.

ANEKA OLEH-OLEH

Untuk oleh-oleh kita bisa mencari wajik khas Magelang, Wajik Ny. Week. Wajik yang terbuat dari beras ketan dan gula jawa ini juga salah satu makanan khas dari Magelang. Beras ketan yang dimasak bersama-sama dengan gula kelapa hingga lengket ini sangat disukai untuk oleh-oleh karena cukup awet. Paling tidak selama 1 minggu masih enak dinikmati.
Mendapatkan Wajik Ny. Week tidaklah sulit karena banyak sekali toko makanan yang menjual penganan khas tersebut. Kalau kurang suka dengan rasa manis wajik, kita bisa pilih jenis makanan lain yang tidak terlalu manis. Misalnya, krasikan. Makanan ini terbuat dari beras yang ditumbuk halus lalu disangrai dan dicampur dengan tepung ketan dan gula. Rasanya manis gurih dan agak kasar karena ada beras tumbuk.
Krasikan yang sedap bisa kita beli di toko dodol dan krasikan Ny. Pang, Muntilan. "Penggemarnya kebanyakan orang dari Jakarta dan Jawa Barat yang berlibur atau mengunjungi kerabat," terang Ny. Kartiningsih, penerus pembuat dodol dan krasikan Ny. Lauw Kie Pang.
"Kalau musim liburan, sehari kita menghabiskan 60 kilo tepung ketan," lanjutnya. Walau masih mempergunakan tangan untuk mengemas dodol dan krasikan, produk Ny. Pang ini bisa bertahan selama 2 minggu. sdp@Rika Eridani, foto-foto: Rika

di copy paste dari www.sedap-sekejap com oleh Sujiwo.

Posted by Imelda :: 2:40 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Monday, May 08, 2006 Jalan-jalan ke Sumenep

Beberapa di antaranya memang mirip dengan hidangan Jawa Timur-an. Tetapi uniknya sentuhan Madura-nya tetap ada hingga kita tidak lagi merasa seperti menyantap makanan Jawa Timur, melainkan penganan Madura. Nah, mari kita mulai dengan Sumenep.


PUSAT JAJANAN Jl. Sludang

Di malam hari, Jl. Sludang merupakan tempat makan yang paling ramai dikunjungi orang. Tak heran, di situ ada 15 penjual makanan. Yang ditawarkan macam-macam, mulai dari nasi goreng, mi goreng, hingga nasi burung dara.

Salah satu penjual yang tampak ramai dikunjungi pelanggan dan bertahan dari tahun 1985 adalah penjual nasi burung dara bernama AREMANIA. Pemiliknya, Sugeng (24). "Awalnya, sih, yang memegang Sumarsih, kakak saya," tutur Sugeng.

Masakan yang ditawarkan di warung ini adalah nasi burung dara goreng, nasi ayam goreng, nasi goreng, dan mi goreng. Satu porsi nasi goreng dan mi goreng Rp 3 ribu. Sedangkan nasi ayam goreng lengkap dengan lalapan dapat Anda peroleh dengan harga Rp 5.500. Untuk masakan andalan, nasi burung dara goreng, lengkap dengan lalapannya sudah bisa Anda peroleh dengan harga Rp 8 ribu.

"Saya sebenarnya asli Malang. Karena itu oleh kakak saya, warung ini dinamakan AREMANIA, sebutan bagi fans AREMA (Arek Malang, Red.)," jelas pria berkulit gelap ini.Karena pelanggannya cukup banyak, Sugeng mempekerjakan 6 orang karyawan. Mereka membantu Sugeng menyiapkan hidangan dari 150 ekor burung dara, 30 ekor ayam kampung, dan 25 kilogram beras.
Aremania sudah bisa dikunjungi sejak pukul 16.00 hingga tengah malam. "Tetapi kalau sedang ramai, pukul 8 malam pun sudah tutup karena habis," ungkap Sugeng.

Di bulan puasa, saat Lebaran, hari raya tupat, atau hari raya besar, jumlah bahan baku yang harus mereka siapkan pasti bertambah. Karena pada saat-saat tersebut dapat dipastikan jumlah pembeli meningkat


WARUNG KALDU BU SADIK

Kaldu masakan khas Sumenep yang banyak penggemarnya. Sebetulnya, tak lain dan tak bukan adalah sup kental kacang hijau. Sup ini bisa disantap bersama potongan kikil atau singkong kukus. Bentuknya kental seperti bubur sumsum, tetapi tentu saja warnanya gelap karena terbuat dari kacang hijau yang dimasak hingga betul-betul hancur.

"Saya sudah jualan kaldu sejak masih anak-anak, waktu Zaman Belanda" kata Ny. Sadik, salah satu penjual kaldu. Mungkin karena sudah begitu pengalaman, kaldu buatan Sadik selalu laris manis. "Makanya, setiap hari saya harus menyediakan 9 kilogram kacang hijau," tambah Sadik yang membuka warung dari pukul 10.00 hingga pukul 21.00 ini.

Dengan menyiapkan uang Rp 2 ribu saja, Anda sudah mendapatkan satu piring penuh kaldu. Tentu tanpa penambahan kikil. "Kalau pakai kikil, harganya Rp 8 ribu."

Selain bersama kikil, sup kental kacang hijau ini sering disantap dengan potongan singkong rebus. Konon, rasa gurih yang amat menonjol jadi agak netral bila dimakan dengan singkong rebus.



DEPOT NIKMAT SATE GULE

Pergi ke Sumenep, pasti Anda akan mencari sate. Desa Bluto. Desa ini dikenal sebagai daerah pembuat sate yang terkenal kelezatannya. Sate khas desa ini juga bisa diperoleh di Sumenep, antara lain di Depot Nikmat Sate Gule. Pemiliknya Ny. Dalliludin (50).

"Warung ini sudah tua. Saya saja dapat dari ibu saya, Ibu Asep," ujar Dalliludin. Anda bisa memilih berbagai macam sate di sini yaitu sate kambing, sate ayam, sate sapi, dan sate ati. Selain itu juga ada gule kambing. Gule kambing yang ditawarkan dalam potongan besar lengkap dengan tulangnya. Jadi, satu mangkuk berisi satu potongan besar kambing.

Semua jenis sate dijual dengan harga yang sama, Rp 7.500 untuk tiap 10 tusuk. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, Rp 8.500 untuk 10 tusuk sate plus sepiring nasi putih penuh menggunung. Sedang gule kambing dapat Anda peroleh dengan uang sebesar Rp 2 ribu.

Anda dapat mengunjungi depot ini mulai pukul 08.00 hingga pukul 22.00. Terdapat 7 orang karyawan yang akan siap melayani pesanan Anda. Kalau ingin mendapat pelayanan yang cepat, hindari berkunjung pada jam sibuk, antara pukul 10.00 hingga 12.00, Maklumlah kapasitas depot hanya 50 orang.

Karena banyaknya pembeli, dalam satu harinya Dalliludin, harus menyiapkan 3 ekor kambing, 6 kilogram daging sapi, 3 kilogram daging ayam, satu kilogram hati sapi, satu kilogram hati kambing, dan 8 kilogram beras.

"Sabtu, Minggu, dan Selasa harus lebih banyak lagi, Tiga hari itu selalu ramai di sini. Terutama Selasa. Selasa, kan, ada pasar selasaan," imbuhnya.


RUMAH MAKAN KARTINI

Di Sumenep, Rumah Makan Kartini cukup terkenal. Terutama karena hanya di rumah makan yang terletak di Jl. Diponegoro ini, Anda dapat menjumpai cake. Sebenarnya cake cuma tumisan ayam yang dicampur dengan lidah lalu dibubuhi sedikit sayuran. Warnanya merah. Sayuran yang digunakan, bunga kol, kol, dan wortel yang diiris sangat kecil, Tumisan ini kemudian disajikan dengan taburan keripik kentang.

Rumah makan yang didirikan Ny. Hj. Kartini (76) sejak tahun 1938 ini kini dikelola Ny. Hj. Erni (64). Selain menjual cake, juga tersedia nasi sop, nasi goreng, nasi rawon, nasi campur, dan sop buntut. Rata-rata tiap masakan dijual Rp 6.500 per porsi.

Rumah Makan ini mulai buka pukul 09.00 dan tutup pukul 21.00. Dengan jumlah karyawan sebanyak 6 orang, Anda tidak perlu khawatir akan menunggu lama untuk memperoleh pesanan. Tak banyak yang datang ke kedai ini kecuali setiap tanggal muda. Saat itu rumah makan ini, terlihat ramai. Untuk mengatasi sepinya pembeli, mereka juga memenuhi pesanan makanan dan kue untuk pesta.

Kue yang dijual antara lain, kue lumpur dan black forest. Tiap hari pasti ada saja pesanan kue yang datang hingga mencapai 500 kue. Untuk memenuhi pesanan kue tersebut, Erni dibantu oleh 6 orang karyawan. Jadi, kegiatan ini tidak mengganggu rumah makan karena memiliki tempat yang terpisah dan karyawan yang berbeda.

Selain masakan dan kue, mereka juga menyediakan berbagai oleh-oleh khas Madura. Seperti petis madura, rengginang, lorju goreng, emping dari umbi rumput teki, kacang mede goreng, keripik singkong, hingga marning.

SOTO




RUJAK CINGUR SUMENEP
Tak cuma Surabaya yang punya rujak cingur. Sumenep pun punya hidangan ini. Keduanya sedikit berbeda, terutama dari warnanya. Buatan Surabaya bumbunya berwarna hitam karena petis yang digunakan petis udang dan hitam warnanya. Rujak cingur Sumenep lebih cokelat karena petis madura dibuat dari ikan pindang. Warna petisnya pun kecokelatan. Rasanya pun lain. Jika rujak cingur Surabaya terasa manis, maka rujak cingur Sumenep terasa lebih asin.

Kacang dan pisang batu yang digunakan pun jauh lebih banyak. Bedanya lagi, rujak Sumenep tidak menggunakan asam jawa. Sebagai gantinya, mereka menggunakan cuka. Ternyata tak hanya bumbunya yang beda, isi rujak pun berbeda. Jika di Surabaya, isi rujak terdiri dari sayuran dan buah yang banyak jenisnya. Di Sumenep sayurannya hanya kacang panjang dan taoge. Sedangkan buahnya hanya ketimun dan kedondong.

Uniknya pula rujak Sumenep tidak menggunakan lontong, tetapi ketela pohon yang dikukus. Sebagai pengganti kerupuk ditambahkan keripik singkong.

Seperti juga soto, di Sumenep juga banyak warung yang menjual rujak cingur karena memang sebagian besar penjual soto juga menjual rujak cingur.

Warung rujak yang cukup terkenal adalah warung rujak Nya' Pin. Warung yang terletak di Jl. Letnan Ramli ini tidak tampak seperti warung. Anda harus rajin bertanya ke sana-sini untuk mengetahui letak warung ini. Karena tanpa papan merek dan terletak di samping rumah. Dari depan hanya tampak pintu kecil. Tetapi warga Sumenep cukup mengenal warung yang mulai berjualan sejak tahun 1955 itu.


Sebutan Nya' Pin pun diambil dari nama pemiliknya, Ny. Harpini (71). Nenek dengan 4 buyut ini, memilih menjadi penjual rujak karena sulit mencari kerja pada orang lain. Warung yang buka mulai pukul 08.00 ini tutup pada pukul 21.00.

"Tapi, kadang kalau sudah capek dan pengunjung sudah tidak ada, saya tutup lebih awal," papar wanita yang tampak masih gagah ini.

Seperti juga soto, harga satu piring rujak hanya Rp 3 ribu per porsinya. Dijamin, rasa rujak cingur ini tidak kalah enak dibandingkan dengan rujak cingur Surabaya yang sudah terkenal itu. Makanya pelanggan Nya' Pin pun juga ada yang berasal dari Lampung dan kota-kota besar di Pulau Jawa.


WARUNG IPNO

Warung ini terkenal dengan sebutan warung IPNO. IPNO sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Iwak Pindang Sekol Tono (ikan pindang, srundeng bakar, Red.). Warung yang terletak di Jl. Raya Manding, Desa Kebunan ini, merupakan warung favorit bagi kebanyakan warga Sumenep, termasuk para pejabat Pemda Sumenep. Warung yang sudah berdiri selama 36 tahun tersebut, didirikan oleh Ny. Safiah (63), dan sekarang dilanjutkan oleh Ny. Indriani (30), anaknya.


Warung mulai buka pada pukul 08.00 hingga pukul 19.00 ini, akan mencapai puncak ramainya, pada pukul 10.00 hingga pukul 14.00. Apalagi di bulan-bulan musim panen tembakau tiba, yaitu bulan 8 hingga 10. Saat itu, warung akan buka hingga pukul 21.00. Bahkan pengunjung pun tidak hanya ramai di jam-jam khusus, tetapi sepanjang hari.

Saat jam ramai, pengunjung bahkan rela antre dan menunggu sampai dapat duduk. Karena kapasitas warung hanya 30 orang saja. Menu yang disajikan cukup banyak, mulai nasi putih, sayur lodeh, srundeng bakar, ikan laut, udang, telur, dan tahu, lengkap dengan sambalnya. Semua masakan disajikan di meja pembeli dalam piring-piring kecil.

Tetapi Anda juga dapat memesan nasi yang sudah dilengkapi lauk. Nasi yang ini sudah dapat Anda peroleh dengan membayar Rp 3.500 saja. Isinya, sayur lodeh, serundeng, ikan, dan telur. Kalau masih ingin tambah lauk, Anda tinggal membayar Rp 1.500 untuk satu potong lauk.

Srundeng bakar merupakan menu istimewa warung ini. Uniknya, kelapa dibakar bersama batok kelapanya. Setelah kelapa terkelupas dari batok, baru diparut dan diberi bumbu. Setelah itu kelapa tidak perlu disangrai lagi karena sudah matang akibat dibakar tadi. Rasanya sangat khas akibat bau asap yang ditimbulkan dari proses pembakaran.

"Srundeng dan masakan di sini sangat enak. Walaupun mungkin di tempat lain ada, tidak ada yang seenak ini. Berbeda banget deh, rasanya," ujar Maman (27) salah satu pelanggan setia warung ini.

Konon yang membuat lauk-lauk di warung ini sangat lezat adalah teknik menggoreng lauk. Sayangnya Indriani tidak bersedia memaparkan tekniknya.

Dalam satu hari Indriani memasak 1 kwintal beras, 500 butir telur ayam, 4 kaleng besar (kaleng untuk minyak tanah) tahu, 25 tongkol ukuran besar, dan 100 ekor ikan pindang. Sedangkan kelapa mencapai angka seratus.


KERIPIK SINGKONG BARU MUNCUL

Keripik singkong, merupakan salah satu oleh-oleh khas dari Sumenep. Penghasil keripik singkong yang terkenal adalah daerah Manding. Salah satunya adalah keripik singkong Baru Muncul. Menurut Hj. Hosnani (38), usahanya dimulai sejak tahun 1990. "Tapi, saat itu saya mulai dari berjualan dalam bentuk rentengan," kenangnya.

Maksudnya kripik dibungkus dalam kantung plastik yang tiap bungkusnya disambung dengan bungkus lainnya, terus memanjang.
Maksudnya kripik dibungkus dalam kantung plastik yang tiap bungkusnya disambung dengan bungkus lainnya, terus memanjang.

Kesulitan memperoleh singkong sebagai bahan baku, membuat produksi Hasnani berkurang. Jika dahulu bisa membuat keripik dari 2 ton singkong, saat ini hanya 7 kwintal. "Singkongnya tidak ada, terpaksa produksi dikurangi. Pengiriman keripik jadi tidak bisa tiap hari, paling-paling seminggu tiga kali," keluh wanita dengan satu cucu ini.

Saat ini, usaha yang dilakukan tinggal menggoreng keripik. Bahan baku berupa singkong, berasal dari Desa Beringin, sudah datang dalam bentuk irisan. Penggorengan dilakukan di atas kayu bakar. "Inilah yang membuat keripik saya renyah," kata Hanani bangga.

Untuk pembungkusan Hasnani meminta bantuan para tetangga. Ada 10 orang tetangganya yang membantu membungkus. Mereka dibayar Rp 125 tiap 30 bungkus. Dari 10 tenaga tersebut, satu hari bisa diperoleh 700 bungkus keripik singkong.

Keripik singkong tersebut, dibedakan menjadi dua, rasa, asin gurih dan rasa pedas manis. "Orang lebih suka rasa asin ketimbang yang pedas manis," kata wanita berambut panjang ini.

Ukurannya pun dibagi dua. Ukuran besar dengan harga Rp 1.000 dan ukuran kecil dengan harga Rp 200. Mengenai pemasaran, Hosnani dan H. M. Ibrahim, suaminya, lebih mempercayakan pada distributornya di daerah Sepanjang, Surabaya. "Kita selalu kontinyu mengirimkan keripik singkong ke sana. Mereka lah nantinya yang mengirimkannya ke toko-toko," papar Hosnani.

Sulitnya bahan baku singkong, tidak membuat Hasnani putus asa. Bersama Ibrahim, mereka mencoba membuat marning jagung yang pedas manis. Tampaknya tawarannya pun disambut "hangat" masyarakat .

WARUNG APEN DESA BANGKAL

Satu lagi makanan khas Sumenep yang dapat dijumpai di warung-warung. Apen merupakan makanan seperti apem atau serabi. Dibuat dari tepung beras dan disajikan dengan kuah gula siwalan yang sudah dicampur dengan sedikit santan.

Salah satu warung Apen yang terkenal adalah warung apen Desa Bangkal milik Moesarrap (67). Warung ini sudah berdiri sebelum tahun 1935. Pada awalnya, pemiliknya Mbah Nurdi, kemudian diteruskan oleh Sahriyah. Baru pada tahun 2001 dikelola oleh Moesarrap. Biasanya, Apen disajikan saat pagi hari, karena itu, jam buka warung ini sejak subuh hingga pukul 10.00. Tetapi, untuk hari Minggu, biasanya warung sudah tutup pada pukul 07.00.

"Soalnya, banyak anak-anak muda yang jalan-jalan pagi dan mampir beli apen," jelas Moesarrap. Tiap hari Moesarrap biasa menyediakan Apen yang dibuatnya dari 10 kilogram beras. Untuk membuat apen diperlukan waktu 12 jam, mulai dari mencuci beras hingga menggoreng apen.

"Mencuci beras harus sampai benar-benar bersih, sampai tidak ada sekamnya sama sekali. Baru kemudian direndam." papar pensiunan pegawai negeri ini.

Moesarrap memang membuat tepung beras sendiri, tidak membeli yang siap pakai. "Inilah yang membuat apen terasa enak. Selain itu bahan penggorengan juga harus dari besi," katanya membuka rahasia.

Karena tidak menemukan penggorengan yang pas, Moesarrap menggunakan penggorengan kuno dari besi. "Tetapi ukurannya besar sekali. Supaya kecil, saya potong-potong hingga pas untuk membuat satu buah apen."

Harga satu porsi apen Rp 1.500 untuk apen yang tidak menggunakan telur dan Rp 2 ribu untuk apen yang menggunakan telur. Satu porsi apen terdiri dari 4 buah, kemudian diguyur saus dari gula siwalan.

Jika belum puas dengan 4 apen tersebut, Anda cukup mengeluarkan uang tambahan sebesar Rp 250 untuk satu apen tanpa telur dan Rp 300 untuk satu apen yang dibuat dengan telur.



Meta Kusumawati
FOTO-FOTO: -

Posted by Imelda :: 11:11 PM :: 1 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Bengkulu

PUSAT JAJAN

Bingung mau bersantap malam apa di Bengkulu? Pergilah ke Pasar Minggu, di Jl. K.Z. Abidin. Di sini Anda bisa me­nemukan segala jenis makanan. Meski cuma di gerobak atau tenda, toh, dari segi rasa cukup enak. Tak kurang dari bakso, sate ayam, sate pa­dang, nasi go­reng, martabak, tekwan, es cin­cau, dan masakan padang, bisa Anda temukan di situ.

Lokasi ini sudah dibuka sejak tahun 1990. Saat itu tentu saja hanya sedikit pedagang yang berjualan. Lama-kelamaan makin banyak pedagang beroperasi di sana hingga jenis makanannya pun makin variatif.

Pusat jajan ini mulai buka pukul 19.00 dan baru tutup pukul 22.00. Pada hari Minggu malah baru tutup pukul 24.00. Pusat jajan seperti ini tak cuma satu di Bengkulu. Di depan Tugu Thomas Park, di daerah Pasar Baru Koto pun ada pusat jajan serupa. Makanan yang dijual boleh dibilang mirip dengan yang dijual di Pasar Minggu. Tetapi jangan coba-coba berkunjung ke sini di atas pukul 9 malam, pusat jajan ini tutup lebih awal dari pusat jajan di Pasar Minggu.

TEKWAN & KUE DORAEMON

Tak usah heran kalau di Bengkulu pun banyak penjual tekwan. Maklumlah kota ini relatif tidak jauh dari Palembang. Salah satu penjual tekwan di Bengkulu ada di Jl. May. Jen. Suprapto. Pak Puna, sang penjual telah berjualan tekwan selama lebih 10 tahun.

Kedainya buka sejak pukul 17.00 dan sudah tutup sejak pukul 20.00. Anda yang ingin mencicipi tekwan buatannya sebaiknya mampir sebelum pukul 20.00. Karena Puna cuma menyediakan 65 mangkok sehari. Untuk mencicipi sup bening berisi bakso ikan, soun, bengkuang, dan jamur kuping ini, Anda hanya dengan mengeluarkan Rp 2500.

Berdekatan dengan penjual tekwan, Anda dapat mencicipi kue Doraemon. Bentuknya bulat, diameter 5 cm. Warnanya hijau, Rasanya mirip bolu, begitu juga bahannya persis seperti bolu. Harganya cuma
Rp. 300.

Saparudin, sang penjual, baru 4 tahun berjualan di sana. Tetapi kuenya sudah punya banyak penggemar. Buktinya, dalam sehari ia menghabiskan 12 kilogram.

LEMANG

Lemang juga termasuk makanan yang mudah dicari di Bengkulu. Rohana adalah salah satu penjual lemang yang cukup kondang di kota ini. Ia sudah 8 tahun berjualan lemang di sekitar Pasar Panorama, dekat Pasar Minggu. "Dulu harganya cuma Rp 100 tiap potongnya," kisahnya.

Lemang Rohana me­mang bisa dibeli secara potongan. Kini tentu saja harga tersebut sudah tidak mungkin diterapkan lagi. Rohana memasang harga Rp 500 sedang untuk lemang potongan. Sementara lemang yang utuh, kira-kira sepanjang 20 cm, yang dulu harganya hanya Rp 1.500, kini dijual dengan harga Rp 6.000.

Rohana tidak berjualan setiap hari. Ia hanya berjualan seminggu 2 kali. "Sulit berjualan lemang setiap hari karena orang Bengkulu biasanya cuma beli lemang saat puasa," keluhnya.

GELAMAI

Namanya cukup asing bagi ma­syarakat di luar Bengkulu. Tetapi sebetulnya gelamai tak beda dengan dodol. Ny. Ainun mengaku ibunya, Hj. Mariana, sebagai penjual gelamai yang pertama di Bengkulu. Ia menggelar dagangannya di depan Masjid Akbar sejak tahun 1970.

Gelamai buatan Mariana yang kini sudah almarhum itu lebih dikenal sebagai gelamai Andung Bon, sesuai nama panggilan Mariana. Kini usahanya diteruskan oleh kedua anaknya Ainun dan Hayatan. Gelamai Andung Bon terkenal karena rasanya berbeda dengan gelamai pada umumnya. "Karena kami betul-betul menjaga kualitas pembuatannya," kata Dinda, salah seorang cucu Andung bon. Gelamai Andung Bon, jelas Dinda dibuat selama 8 jam. "Itulah rahasianya. Kurang dari itu, gelamai yang dihasilkan akan lebih lengket dan cepat kadaluarsa," papar Dinda membuka rahasianya.

Karena itulah gelamai Andung Bon bisa bertahan hingga satu bulan. Karena bisa bertahan lama, Ainun dan Hayatan tidak membuat gelamai setiap hari kecuali menjelang Lebaran. Selebihnya mereka hanya melayani pesannya. Harga gelamainya dijual Rp 20.000 setiap kg.

IKAN PAIS

Berkunjung ke Bengkulu, jangan pulang dulu sebelum mencicipi ikan pais. Ini adalah ikan pepes khas Bengkulu yang dibuat dari ikan gebu dan ikan buli. Rasanya segar dan mengundang selera. Apalagi disantap bersama nasi panas.

Untuk mendapatkannya Anda bisa mencarinya di pasar tradisional. Ada juga pedagang ikan pais yang berjualan secara berkeliling. Salah satunya adalah Bpk. Idris. Ia telah menjajakan dagangannya lebih dari 25 tahun. Penjual yang lebih dikenal dengan panggilan wan Juray ini mengaku mulai menjual ikan paisnya Rp 125 per bungkus. "Sekarang harganya telah mencapai Rp 2.000 tiap bungkus."

Wan Juray sudah berjualan sejak pukul 05.30 sampai habis kira kira pukul 08.30. Karena sudah banyak pelanggannya, Wan Juray tidak perlu lagi repot-repot memikul sampai ke pasar. Dia cuma berjualan di sekitar Jl. M ASAN dan Jl. Al Jairin, rute itu merupakan rute sehari-hari Wan Juray. Malah terkadang sampai di Jl. M ASAN pun, pikulannya sudah kosong. Begitu terkenalnya ikan pais Wan Juray, hingga orang-orang yang takut kehabisan lebih suka datang langsung ke rumahnya di Jl. Kibuat Teratai Tiga untuk untuk membeli atau memesan.

Dengan dibantu istri dan 3 anaknya, Wan Juray bisa membuat 50-70 bungkus ikan pais dalam sehari dan menghabiskan bahan baku sekitar 5 kilogram ikan laut yang digiling halus. Ia sengaja memilih ikan buli dan ikan gebu karena kedua ikan tersebut, menurut wan juray tidak terlalu amis.

Kadang saat pesanannya melimpah, "Saya harus menyediakan 250 bungkus ikan. Nah, saat itu saya harus membeli 15 - 20 ekor ikan," katanya. Begitu larisnya dagangan Wan Juray, tak heran dalam sehari ia bisa memperoleh uang Rp 100 sampai Rp 150 ribu.

Keistimewaaan ikan pais buatannya terletak pada bumbu. "Selain itu waktu mengukusnya pun harus lama. Tidak boleh kurang dari 5 jam supaya racun yang ada pada daun keladinya hilang."

EMPING MLINJO

Emping mlinjo juga termasuk makanan yang banyak dijual orang di Bengkulu. Coba saja Anda pergi ke Jl. Soekarno, tepatnya di Jl. Pantai Nala 142, Anggut Bawah. Ny. Khamsia, salah satu penjual, sudah mulai menggeluti emping mlinjo sejak tahun 1984. Konon ia yang pertama membuat emping ini di daerah Anggut Bawah.

Usaha pertamanya sudah melibatkan 15 orang pembantu. Lama- kelamaan para pegawainya mulai membuka sendiri usaha pembuatan emping melinjo sampai akhirnya ada 5 kelompok pembuat emping mlinjo di Anggut Bawah. Sehari Khamsia bisa menghabiskan biji mlinjo sekitar 20 cupak (1 satu cupaknya = 1/2 liter, Red.) atau 10 liter dalam sehari. Pernah, dengan dibantu pembuat emping yang lain, Khamsia membuat 200 cupak mlinjo.

Emping yang dibuat ada dua macam bentuk, kotak-kotak untuk yang dijual per ikat dan bulat-bulat untuk yang dijual per kilogram. Harga per 10 ikatnya, Rp. 5.000. Harga ini untuk penjualan ke pedagang. Satu ikan emping berisi 10 keping. Sedang harga per kilogram mencapai Rp 25.000.

PERUT PUNAI

Ny. Jasmani dengan dibantu ke­dua anaknya telah membuat perut punai selama 15 tahun, tepatnya tahun 1985. Setiap hari ia mem­buat perut punai untuk pesanan para pedagang di sekitar jalan Soekarno atau para pemesan yang membeli hanya untuk sekadar oleh-oleh. Perut punai berbentuk bulat pipih terbuat dari tepung ketan yang dicampur gula merah lalu digoreng. Rasanya keras dan manis.

Dalam sehari, Jasmani biasa menghabiskan tepung ketan sebanyak 7 kilogram. Satu kilogram tepung ketan bisa menghasilkan 13 kotak perut punai. Harga tiap kotak adalah Rp. 3.000.

Bila libur sekolah tiba, pesanan Jasmani semakin banyak, terkadang sampai tidak tertangani. "Saat libur sekolah, saya bisa menghabiskan 15-20 kilogram tepung beras," jelasnya.

LOTEK

Lotek Bengkulu hampir sama dengan karedok orang Jakarta atau orang Bandung. Kendati bukan makanan khas Bengkulu, toh, lotek merupakan salah satu masakan kegemaran masyarakat Bengkulu. Ada satu warung penjual lotek yang selalu ramai. Apalagi sewaktu makan siang. Warung lotek itu dimiliki oleh Ny. Nuraini.

Nuraini telah berjualan lotek semenjak tahun 1975. Awlalnya dagangannya dijajakan dengan menggunakan gerobak secara berkeliling di sekitar Jl. S. Parman, baru akhirnya pada tahun 1984, Nuraini mulai mempunyai warung makan lotek yang selalu ramai pengunjung.

Kedai lotek Nuraini buka dari pukul 06.30 sampai pukul 13.00 malah terkadang sebelum pukul 12.00, loteknya sudah habis terjual. Dalam sehari warung ini melayani sekitar 200-250 porsi. Harga per porsinya Rp 2.000. Sering juga loteknya dipesan untuk acara pesta perkawinan.

KEDAI MASAKAN KHAS BENGKULU

Masakan khas bengkulu cukup banyak jenisnya namun jarang yang membuat khusus untuk dijual. Tetapi di sekitar jalan Enggano,kita dapat menemukan satu kedai makan yang memang khusus menjual aneka masakaan khas Bengkulu. Nama kedai tersebut Bufet Shopia, sesuai dengan nama pemiliknya.

Sebetul­nya sudah lama Shopia berjualan makanan khas Bengkulu. Cuma saja sekadar bila ada pesanan. Lama-kelamaan terpikir oleh Shopia untuk membuka kedai makan. Maka 5 tahun lalu ia pun mulai membuka kedai makannya.

Usaha kedai makanan khas Bengkulu ini tak cuma ia buka di Bengkulu. Pernah juga Shopia mencoba membuka kedai serupa di Brunai karena suaminya bekerja di sana. "Tetapi terpaksa ditutup karena orang sana tampaknya tidak menyukai masakan kita," keluhnya.

Para pelanggan Shopia terdiri dari berbagai kalangan karena harganya terhitung murah. Salah satu pelanggan setianya adalah ketua DPRD Bengkulu. "Hampir setiap hari beliau makan di sini," ujar Shopia bangga.

Di kedainya kita bisa menemukan antara lain nasi santan. Hidangan ini agak unik. Beras direndam dulu semalaman lalu dikukus sampai matang keesokan paginya. Setelah itu baru diaron dengan santan kental. Selain itu Anda juga bisa mencicipi rebung asam, yakni rebung yang direndam dalam air cucian beras dan dimasak seperti memasak asam pedas. Ada juga kelio lokan (kalio kerang), bagar hiu (gulai potongan ikan hiu). Khusus untuk bagar hiu, Shopia cuma menggunakan hiu punai, hiu tandung, dan hiu kio-kio. "Hiu jenis itu tidak amis," katanya.

Dalam sehari Shopia bisa menghabiskan ikan hiu sekitar 4 kilogram. Sedang untuk kelio lokan, ia menggunakan 3 kilogram kerang. Satu piring bagar hiu, Shopia menjualnya seharga Rp 4.500. Sehingga penghasilannya pun sehari bisa mencapai Rp 600 ribu. Untuk mendapatkan penghasilan setinggi itu, tentu saja mutu adalah hal yang utama. "Motto saya, kalau sudah selidah, kita harus pertahankan," tegasnya.

OLEH-OLEH KHAS BENGKULU

Mau cari oleh-oleh? Jl. Soekarno Hatta-lah tempatnya. Sederetan penjual jajanan khas untuk oleh-oleh Bengkulu dan sekitarnya siap melayani keinginan Anda. Mulai dari lempuk, emping, perut punai, kue siput, lumpuing, gelamai, sampai kopi.

Lempuk durian termasuk oleh-oleh yang paling laris. Harga 1 kilogram lempuk Rp 35 ribu. Ini untuk kualitas durian super. Sementara untuk kualitas durian biasa Rp 25 ribu. Bila Anda tak suka lempuk, Anda bisa memilih emping. Harganya rata-rata Rp 6.000 untuk setiap 10 ikatnya atau Rp 27-30 ribu per kilogram. Sedang perut punai dijual dengan harga Rp 4.000 per kotak. sdp@Rynol Sarmon

source: sedapsekejap.com

Posted by Imelda :: 6:10 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Bogor

ASINAN
Selain kota Hujan, Bogor tampaknya juga pas mendapat julukan sebagai kota asinan. Bayangkan saja, jumlah pedagang asinan di kota ini kini 150 orang menurut Ravi Dharma Kumala, pengelola Asinan Sedap Gedong Dalam saat ini. Dan tampaknya meski jumlahnya cukup mengejutkan, toh, mereka tidak kekurangan pelanggan. Beberapa di antaranya malah selalu kebanjiran pengunjung. Salah satunya adalah Asinan Sedap Gedong Dalam.
Kalau membeli asinan di hari libur atau Minggu, Anda harus bersedia berjejal-jejal bersama pembeli lain dan berusaha menarik perhatian pelayan agar dilayani lebih cepat. Letaknya di jl. Siliwangi, beberapa gedung sebelum Pasar Gembrong. Di ruko ini sang asinan bergabung dengan ruko-ruko lain penjual makanan khas Bogor.
"Sebetulnya asinan merupakan pengembangan usaha keluarga kami. Awalnya, sih, orang tua kami, Alm. Tjoe Foe Fong berdagang buah. Nah, yang paling dekat dengan usaha ini, kan, asinan buah," kata Ravi.
Asinan ini mereka rintis sekeluarga sejak tahun 1978 di Jl. Suryakencanan di salah satu los di Gedong Dalam. "Karena digusur, tahun 90-an, kami pindah ke ruko ini. Di sini kami membuka tempat makan untuk mereka yang mau bersantap di sini. Supaya lengkap, kami juga menyediakan taoge goreng dan laksa," katanya.
Asinan Sedap tidak saja menjual asinan buah yang terdiri dari irisan nanas, pepaya, gohok, salak, ubi, bengkoang, kedondong dan mangga, tetapi juga asinan sayur. Isinya sama banyak ragamnya, antara lain berisi wortel, kol, ketimun, dan taoge, lokyo, dan daun antanan. Bagi mereka yang gemar keduanya, disediakan juga asinan campur, terdiri dari buah dan sayur.
Asinan ini dijual per plastik seharga Rp. 4000, dilengkapi dengan kacang goreng dan sambal. Rasanya. Segar dan selalu bikin kita ingin melangkahkan kaki ke Bogor.

ROTI UNYIL
Ini termasuk jenis jajanan pendatang baru di kota Bogor. Usaha Ny. Giok ini baru mulai dirintis tahun 1992. "Awalnya kami buka bakeri yang menjual roti seukuran roti pada umumnya. Tetapi tahun itu juga kami mulai mencoba membuat roti berukuran mini," tutur sang pemilik.
Ternyata usaha roti mini yang kemudian diberi nama roti unyil ini langsung diterima masyarakat, bukan saja kota Bogor, tetapi luar kota. Malah dijadikan oleh-oleh yang dinanti-nanti oleh masyarakat luar Bogor.
Seperti asinan, ruko yang letaknya berdampingan dengan Asinan Sedap ini pun kerap diserbu pengunjung. Sampai-sampai mereka kewalahan melayaninya. Baru satu loyang besar roti matang, sudah habis diserbu, hingga pengunjung lain terpaksa memilih jenis lain.
Sebetulnya roti unyil buatan toko roti Venus ini tak beda dengan roti lain. Yang membedakan hanyalah ukurannya yang ekstra mini, tak lebih dari 5 cm. Isinya pun beraneka seperti roti manis pada umumnya yakni, jagung, daging cincang, daging asap, kismis, keju, cokelat, dan pisang. Harga per potong roti adalah Rp 600.
"Terus-terang kami tidak menyangka, usaha iseng-iseng ini bakal berkembang seperti sekarang," kata Giok yang mengaku lebih rumit membuat roti kecil ketimbang ukuran besar. Penanggung jawab roti sepenuhnya di tangan Hendra, sang adik. "Saya, mah, cuma ngurus-ngurus di depan,"tambahnya.
Kalau di hari libur, Roti Venus bisa menjual 10 ribu potong roti. Untuk itu dibutuhkan 5 karung tepung terigu. Maka tak heran kalau pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur, kedua toko tersebut selalu dipenuhi pengunjung untuk membeli oleh-oleh.

SOTO KUNING
Soto kuning Bogor cukup banyak penggemarnya. Coba saja jalan-jalan keliling Bogor, pasti di tiap jalan Anda temukan dua atau bahkan lebih tukang soto kuning. Dan anehnya setiap hari soto mereka ludas dibeli orang meski lokasinya cuma di emper-emper jalan.
Salah satu pedagang soto yang jadi favorit adalah Soto Pak Bongkok. Letaknya di Jl. Suryakencana, di perempatan jl. Roda, Gg. Aut, dan Suryakencana. Soto ini mangkal di depan mantan toko Djaja, toko yang menjual onderdil mobil.
Soto ini dibuat dari kuah santan yang dibubuhi kunyit hingga kuning warnanya. Isinya berupa daging dan jeroan yang diletakkan di atas wadah yang sudah dialasi daun pisang. Dengan besi yang diruncingkan, Anda bisa memilih dan menusuk daging pilihan Anda. Ada babat, lidah, daging, urat, dan usus. Setelah dipilih, tukang soto akan memotong-motong dalam ukuran serasi dan menatanya dalam mangkuk. Setelah dilengkapi kecap manis, irisan seledri, dan bawang goreng, daging tadi disiram kuah soto nan panas. Enak sekali rasanya. Di situ disediakan juga emping goreng atau emping jengkol sebagai tambahan.
Tapi untuk bisa menikmati kenikmatan soto kuning Pak Bongkok ini, kita harus datang jam 7 pagi, soalnya jam 10 sudah pasti habis. Apalagi kalau hari Sabtu, Minggu, dan hari libur, pasti berebutan. Salah satu pelanggan setianya adalah perancang kenamaan Peter Sie. Makanya tak heran kalau Soto Pak Bongkok bisa menghabiskan 6 kg daging dan jerohan sapi seharinya.
Soto serupa bisa juga dinikmati sore hari pada pedagang yang lain. Letaknya masih di Jl. Suryakencana, di seberang Bank CIC. Penjualnya adalah Pak Iwan. Harganya sama dengan Pak Bongkok yakni antara Rp 1.500 - Rp. 3.000 atau tambah Rp 1.000 untuk nasinya.
Sama dengan Soto Pak Bongkok, di Soto Salam (nama soto ini), kita juga harus rela antre kalau malam Minggu tiba. Soalnya bangku yang disediakan sangat terbatas. Bisa-bisa kalau kita datang pukul 19.00, sotonya sudah habis. Padahal Iwan, mulai membuka dagangannya baru pukul 17.00, lo! Soto kuning paling enak ditemani emping jengkol. Jangan takut akan baunya, karena dengan pengolahan sedemikian rupa, rasa dan bau jengkol nyaris tak terlacak! .

TAOGE GORENG
Jangan lupa mencicipi Tauge Goreng kalau mampir ke Bogor. Salah satu Tauge Goreng yang sangat nikmat disantap adalah Tauge Goreng Ibu Hj. Rodiah di Jl. Jend Sudirman. Walaupun dinamakan taoge goreng, tapi sebetulnya sang taoge sama sekali tidak digoreng. Tauge direbus bersama mi di atas nampan yang dipanaskan dengan api dari bara arang. Taoge yang sudah matang ini lalu disajikan bersama tahu goreng, lontong dan disiram kuah taoco yang dimasak bersama oncom dan bumbu.
Meski tiap pedagang taoge goreng selalu menyediakan bangku seadanya tempat kita makan, toh, orang lebih suka membawa pulang. Ternyata taoge yang dibawa pulang, lebih lezat dan harum. Apa rahasianya? Kemasan taoge yang berupa daun patat ternyata membuat taoge goreng lebih nikmat dan harum. Harga per porsi taoge goreng berkisar Rp. 3.500.
Selain, di depan toko roti Lautan, tauge goreng Hj. Rodiah bisa juga ditemui di Pasar Anyar. "Yang di sini sehari membutuhkan 10 kilogram taoge seharinya," kata Ishak Sopandi, sang pengelola.

CUNGKRING
Selintas namanya mengingatkan kepada teman kita yang berbadan kurus, tapi di Bogor yang namanya Cungkring adalah jajanan lezat yang cukup digemari. Makanan ini berupa potongan cingur sapi yang dimasak dengan bumbu kuning. Lalu disantap bersama lontong dan saus kacang. Kadang juga ditemani dengan tempe atau oncom goreng tepung.
Pedagang cungkring umumnya keliling dulu lalu mangkal di suatu tempat, seperti pasar-pasar, sekolah, gereja, atau lokasi yang banyak dilewati orang. Bentuk dagangannya berupa kotak kayu berdinding kaca hingga kita bisa dengan mudah memilih cingur yang dikehendaki.
Kemasannya berupa takir daun. Sang pedagang biasanya sudah menyediakan lidi untuk mempermudah kita makan. Rasanya, renyah, khas, dan sedap. Sayang cungkring cuma bisa ditemukan hingga pukul 12 siang. Karena setelah waktu itu biasanya dagangan mereka sudah habis.

DOCLANG
Untuk makan pagi, kita bisa pilih Doclang. Makanan ini berupa potongan lontong, tahu kuning, dan kentang. Lalu disiram dengan bumbu kacang yang beraroma pedas, gurih dan manis. Makin membuat tak terlupakan karena gerusan kacangnya yang agak kasar. Kalau ingin mencicipi Doclang yang enak, pergilah menuju Pasar De Vries, di Jl. Mantarena, dekat Jembatan Merah. Doclang di sini dikelola oleh Mak Icoh.
Mulanya Mak Icoh berjualan bersama suaminya di daerah Panaragan Kidul. "Tahun 1985 kami baru pindah ke Jembatan Merah. Sekarang saya jualan ditemani anak, soalnya suami saya, Pak Jumawi sudah meninggal 5 tahun lalu," terang Mak Icoh sambil melayani pembeli.
Pembeli Doclang Mak Icoh selain penduduk asli Bogor, juga dari Jakarta, Puncak, hingga Cipanas. Di hari libur, para pelanggannya sudah mulai antre sejak jam 6 pagi. Soalnya, kalau sedang ramai Doclang bisa habis sebelum pukul 2 siang. Seporsi Doclang harganya Rp. 2.500. Di hari libur mereka bisa memasak 6 liter beras untuk lontong. Lontongnya sendiri dibungkus dengan daun patat hingga khas keharumannya.

PESOR

Di Bogor, orang lazim menyebut Ketupat Sayur dengan Pesor. Salah satu Ketupat Sayur yang sangat terkenal berlokasi di dekat Gang Aut, sekitar Jl. Suryakencana. Ketupat Sayur ala Bogor tidak beda jauh dengan ketupat sayur yang sudah kita kenal. Hidangannya terdiri dari potongan ketupat yang disiram sayur labu siam lalu dilengkapi dengan semur kentang dan kerupuk kanji. Kalau ingin pedas, tinggal dibubuhi sambal.
Harga sepiring pesor Rp. 2.000 plus Rp. 500 bila ditambah telur. Pesor di Gang Aut sudah ada sejak tahun 70-an, lo. Saat ini Pak Edi meneruskan usaha dari Pak Ajum, kakeknya. Tiap hari Edi harus menyediakan untuk sayurnya 40 buah labu siam.
Bukan cuma kelezatan pesor yang bisa kita nikmati di tempat-tempat penjual pesor. Kecuali menatap orang-orang yang sudah rapi karena mau berangkat kerja atau sekolah, juga obrolan hangat sesama mereka yang makan di bangku. Perbedaan status hilang di sini. Yang ada hanyalah sepiring pesor panas yang lezat. Ada lagi yang menarik yakni cara memotong telur yang menggunakan benang. Seutas benang dijalankan di tengah telur, dan potongan telur pun meluncur mulus ke atas piring.



BANSUS
Bansus adalah kependekkan dari Bandrek Susu. Nikmat sekali dinikmati pada malam hari, di tengah udara sejuk kota Bogor. di Bandrek sendiri berupa campuran minuman yang terbuat dari sari jahe dan rempah-rempah, sehingga beraroma pedas dan hangat. Biasanya disajikan selagi panas.
Penambahan susu pada bandrek menjadikan rasa pedas bandrek sedikit berkurang, diganti dengan gurihnya susu. Warung bansus banyak sekali tersebar di sekitar Bogor. Tapi Bansus paling terkenal terdapat di Jl. Pahlawan, sekitar turunan Empang. Di warung Bansus yang sudah 18 tahun ini, juga dijual nasi uduk, empal goreng, dan semur jengkolnya. Menurut salah seorang pelanggannya, semur jengkol yang disediakan oleh Pak Hasan Basri sangat empuk dan tidak berbau.
"Ya, begitulah komentar para pembeli. Kami yang memasak hanya berusaha memberikan makanan yang enak disantap," jelas Ibu Tuti, putri Pak Hasan Basri. Banyak pelanggan seperti pejabat Bogor atau artis kondang yang menyempatkan diri mengudap di warung nonpermanen ini.

LUMPIA BASAH

Ada satu cemilan yang sangat terkenal di Bogor, yaitu lumpia basah. Disebut lumpia basah karena setelah diisi, lumpia bisa kita nikmati tanpa perlu digoreng.
Yang membuat lumpia ini beda dengan lumpia yang biasa kita temui di kota-kota lain, si penjual menyiapkan lumpia sesuai pesanan. Kita tidak bisa membeli lumpia yang sudah siap diisi, tapi harus menunggu si penjual menumis bumbu beserta bahan isi di depan kita. Alasan si penjual agar lumpia tetap hangat dan kulitnya tidak mengering.
Untuk menjaga lumpia tetap fresh, lumpia yang sudah siap disajikan langsung dibungkus dengan daun pisang satu per satu. Biarpun sudah dingin, tapi kalau sudah dibungkus daun pisang, kulit lumpia masih empuk dan enak.

SOTO MI
Soto Mi tak hanya dikenal di Jakarta saja. Banyak gerobak baik mangkal atau keliling yang menjual Soto Mi. Isinya pun tak beda, ada mi kuning dan bihun, ditambah irisan kikil, atau daging, risoles goreng, kentang, lalu diguyur kuah kaldu daging. Salah satu soto mi yang enak ada di Jl. Siliwangi, sebelum ruko Roti Unyil dan Asinan Sedap. Tapi dalam kompleks ruko Asinan Sedap ada juga Soto Mi yang cukup enak.

ES PALA DAN ES MANGGA
Es pala dan es mangga selalu bisa kita temukan di berbagai tempat jajanan. Misalnya, di ruko Siliwangi yang menjual Asinan Sedap. Isinya tentu berupa pala atau mangga yang diserut lalu dimaniskan. Rasanya segar dan asam manis. Per gelas harganya Rp 2.500 atau per kilonya Rp. 6.000.
Jimmy salah satu penjual es mangga di Siliwangi itu menyebutkan, ia bisa menghabiskan 15 kilogram mangga dalam sehari. "Belanjanya sih dekat, di Pasar Bogor saja, tapi pernah suatu kali susah sekali dapat mangga, terpaksa beli sampai ke Pasar Kramat Jati, Jakarta," tuturnya.
Kalau sedang bukan musim mangga, dan harga mangga menjadi sangat tinggi, Jimmy terpaksa menaikkan harga atau mengurangi isi es mangganya. " Kalau sampai benar-benar kosong, barulah tidak jualan es mangga," terangnya.


COLENAK
Nah, nama makanan ini rasanya tak asing di telinga kita. Colenak merupakan kepanjangan dari 'dicocol enak'. Makanan yang terdiri dari tapai singkong atau pisang yang dipanggang ini memang disajikan sambil dicocol larutan gula. Kini di atasnya ditaburi kerokan daging kelapa muda.
Sebagai makanan khas, Colenak bertebaran di mana-mana. Salah satu warung Colenak yang terkenal dari dahulu sampai sekarang adalah di Jl. Sukamulya II. Untuk menuju lokasi Saung Cholenak Sukamulya II No. 19, Anda harus sedikit jalan kaki karena letaknya cuma di jalan kecil.
"Dari dulu (tahun 70-an, Red.) tempat ini jadi tempat nongkrong anak-anak sekolah se-Bogor," ujar Pak Hasym bangga. Selain Colenak pisang atau tapai yang jadi andalan, ada menu lain yang banyak dipesan oleh pelanggan Saung Cholenak, yaitu, asinan jagung dan es moka kelapa muda. Sambil menikmati hangatnya colenak, kita bisa melayangkan pemandangan sekitar. Soalnya lokasi saung ini cukup tinggi.
Asinan jagung adalah pipilan jagung bakar dan irisan ketimun yang disiram cuka yang sudah dimasak bersama cabai, garam, dan gula. Dagangan ini pun cukup banyak bertebaran di Bogor. Selain di Sukamulya, asinan jagung yang mangkal terletak di Ruko Siliwangi (di depan Roti Venus).

LOTEK
Bentuk makanan ini tidak asing buat kita. Ada sayuran kangkung, kol, tauge kacang panjang dan wortel. Ditambah lagi potongan kentang dan tahu, disajikan dengan saus kacang tanah. Untuk orang Jakarta, kita biasa menyebut sebagai gado-gado. "Disebut lotek, gado-gado, atau pecel ya enggak apa-apa. Yang penting pembeli suka dengan lotek ini," ujar Ibu Ikah yang meneruskan usaha neneknya, Ibu Min.
Nama Ibu Min selanjutnya menjadi trademark lotek yang ada sejak 32 tahun lalu. "Selain dikenal sebagai Lotek Ibu Min, biasanya orang nyebut juga Lotek Bubulak. Soalnya lokasinya, kan, di daerah Bubulak.
Lotek Ibu Min atau Lotek Bubulak ini ada di Jl. R.E. Martadinata. Dari arah air mancur Jl. Jend. Sudirman, warung loteknya ada di sebelah kanan, sebelum jembatan Bubulak. Warung sederhana ini tidak saja menyediakan lotek. Kalau ingin yang segar-segar, kita bisa memesan rujak ulek, keredok, ketoprak atau baso. Saking banyak penggemar lotek ini, Ibu Ikah harus menyediakan 50 kg kacang tanah setiap 4 hari. "Dulu sebelum krisis, mah, kacang 50 kilogram bisa habis dalam 2 hari saja," jelasnya.

ES PUTER


Es puter tentu bukan minuman khas Bogor, tetapi ada es puter yang salalu diminati pengunjung kota Bogor. Yakni Es Puter Mas Doto. Letaknya di Jl. Sukasari. Tak usah heran kalau es ini demikian terkenal karena Mas Doto sudah berjualan es sejak tahun 60- an. Rasa manis esnya benar-benar dari gula.
Tiap kali produksi, per hari, Doto bisa membuat sampai 100 liter. Biasanya tiap hari rasanya dibuat berganti-ganti. Kadang kelapa muda, kadang avokad, nangka, dan durian. "Ya, tergantung musimlah," jelas Pak Doto.
Menikmati es puter ini tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Bila disantap bersama roti harganya cuma Rp.1.000. Tetapi bila ingin diminum ramai-ramai, Anda bisa membeli per liter. Nah, yang ini harganya Rp. 8.000.
Es puter yang kini juga ngetrend di Bogor adalah es puter durian. Uniknya si durian masih dibiarkan bersama bijinya dan diletakkan di dasar gelas. Jadi, makan es krim durian serasa makan durian sambil disendoki.

NGOHIANG, LOMI, DAN PANGSIT PENGANTIN

Ketiganya sering kali mangkal bersamaan. Ngohiang adalah daging yang digulung dalam kulit dan digoreng bersama adonan tepung. Tentu sesuai namanya, ada rasa bumbu ngohiang yang cukup tajam dan khas. Ngohiang Bogor agak berbeda dengan ngohiang yang kita kenal selama ini. Selain adonan dan komposisi bahan yang berbeda, cara penyelesaiannya lain, yakni digoreng dalam larutan tepung.
Sausnya pun khas, lo. Warnanya cokelat muda dan kental, bukan saus sambal seperti yang kita kenal selama ini. Irisan ngohiang disantap bersama kentang goreng, tahu goreng, dan asinan lobak. Harga satu lonjor ngohiang Rp. 6.000, sementara tahu dan kentang gorengnya masing-masing Rp. 2.000.
Lomi pun memiliki saus yang mirip, tetapi tentu lebih gurih karena dibuat dari kaldu daging dan ebi. Isinya seperti mi kangkung, yakni mi, kangkung, dan taoge. Tetapi kuahnya kental. Pangsit pengantin adalah sup yang isinya terdiri dari irisan ayam, irisan sayuran, soun, dan rolade ikan/ udang. Rasanya tentu saja sedap. Ketiga makanan ini dapat Anda nikmati di Jl. Sukasari, Jl. Siliwangi (di seberang Ruko Asinan Sedap), dan masih banyak tempat lain.
sdp@Rika Eridani, foto-foto: Veri Valensi

source: sedapsekejap

Posted by Imelda :: 6:06 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Purwokerto & Banyumas

SOTO SEDAP SOKARAJA
Letaknya di Jl. Jend. Sudirman 68, Sokaraja- Banyumas. Bukan cuma satu warung soto yang bisa kita temukan di sana. Anda tinggal memilih warung mana yang pas dengan selera Anda. Salah satunya adalah warung soto Sedap. Pemiliknya adalah Ny. Nining. Warung ini sudah mulai beroperasi sejak tahun 1994. Sebelumnya sudah ada warung soto lain, tetapi Nining tidak takut bersaing. Bahkan ia berani memasang harga lebih tinggi ketimbang warung lainnya. Satu porsi sotonya dijual Rp 3.500. "Tetapi isi dagingnya pun lebih banyak, lo," kilahnya.

Dalam sehari Nining membutuhkan 7 kilogram daging sapi. "Kalau libur, bisa dua kali lipat," tambah Nining yang mengaku memperoleh Rp 500 ribu tiap hari.
Dekat dengan penjual soto, Anda bisa memperoleh oleh-leh khas dari Banyumas atau Purwokerto. Di situ berderet toko yang menjual getuk goreng. Salah satu tokonya bernama, toko Asli. H. Tohirin-lah pemiliknya. Di sepanjang jalan ini, Tohirin punya 8 toko dengan nama yang sama.

GETUK GORENG ASLI
Awalnya, usaha getuk goreng ini dimiliki oleh sang mertua yang mulai berjualan sejak tahun 1918. Toko pertamanya diberi nomor 1. Kemudian usaha itu diteruskan Tohirin hingga bertambah maju dan memiliki 8 toko.

Harga getuk goreng Rp 9 ribu tiap kilogram. Sehari Tohirin harus menyediakan 1 kwintal singkong pada hari biasa atau 2 1/2 kwintal pada hari libur. Makanya tak heran, kan, kalau setiap toko bisa mengantungi uang Rp 1,5! setiap hari.


SERABI PURWOKERTO
Di alun-alun, depan kantor bupati Banyumas/Purwokerto, ada pasangan suami-istri yang berjualan serabi. Ny. Suparyati dan Bpk. Suparjo ini sudah berjualan serabi sejak tahun 1995. Mereka berjualan dari pukul 18.00 hingga pukul 21.00.

Harga satu serabi hanya Rp. 300. "Harga segitu murah sekali, lo. Soalnya rasanya juga enak," kata seorang pelanggan. Karena enaknya, tak sedikit orang datang mengunjungi warung serabi yang lebih dikenal dengan nama Serabi Bu Supar itu. Hingga per harinya, Supar bisa memperoleh Rp. 60 ribu. Padahal yang berjualan serabi di alun-alun pun ada beberapa. "Tetapi mereka memang jualannya pagi hari," kata Supar.

WEDANG RONDE

Masih di sekitar alun-alun, tepatnya di depan alun-alun, Anda bisa menemukan wedang ronde yang bikin ketagihan. Dari jauh kita sudah bisa melihat gerobak yang bertuliskan, " Wedang ronde Pak Amin" Pak Amin, sang penjual sudah berjualan ronde selama 6 tahun. Sebelumnya ia membuka kedainya di Yogyakarta. Tetapi ketika sudah banyak orang meniru kedainya, Amin memutuskan pindah ke banyumas.

Di tempat ia berjualan sekarang pun, ada 4 pedangang yang mengikuti jejaknya. Namun Amin masih terus bertahan. Wedang memang pas dijajakan di Purwokerto yang dingin. Kedainya buka dari pukul 17.00 hingga pukul 24.00. Harga tiap mangkok Rp 1.500. Setiap malam Amin bisa menjual 100 mangkok atau 200 mangkok di hari Sabtu.


ES SIWALAN


Meski cukup sejuk, di siang hari kadang, Purwokerto juga cukup menyengat. Makanya pedagang es siwalan yang juga berjualan di seputar alun-alun, juga menjadi pedagang pujaan. Uniknya, sekitar 4 pedagang yang berjualan di situ, hanya mau berjualan di musim kemarau.

Buah siwalan (buah lontar) diambil dari desa para pedagang yang umumnya datang dari tuban, Jawa Timur. Meski musiman, toh, mereka sudah berdagang sejak tahun 93. Tak tanggung-tanggung, lo, jumlah lontar yang mereka bawa. Sekali bawa, tiap pedagang bisa membawa 600 buah lontar. Lontar sebanyak itu sudah habis ludas dalam seminggu.

Harga per gelas es siwalan Rp 500. Tetapi bila Anda lebih suka membeli per buah, harganya Rp 2.500. Ini harga untuk siwalan berukuran besar. Untuk siwalan kecil, Anda cukup menyodorkan uang Rp 1.500 saja.

DAGE DAN RANJEM

Masih di Jl. Sudirman, cobalah berjalan sampai di Hotel Besar. Di depannya Anda akan menemukan makanan yang juga pasti ingin Anda cicipi. Namanya, dage. Sebetulnya cuma oncom goreng biasa, tetapi oncomnya berwarna hitam. Bersama sang oncom tadi juga dijual ranjem. Makanan ini terbuat dari ampas tahu yang dibentuk bulat lalu digoreng.

Pedanganya, Ny. Sukari sudah memulai usahanya sejak tahun 1965. Gerobaknya sudah buka mulai dari pukul 14.30 hingga pukul 21.00. Meski cuma oncom dan ampas tahu, penghasilan Sukari bisa mencapati Rp 125 ribu.

KERIPIK TEMPE & MENDOAN ECHO 21

Keripik tempe merupakan kudapan khas Purwokerto. Tak heran bila banyak sekali orang yang menjual keripik tempe. Salah satunya ada di Jl, Jend. Soetoyo no. 21. Tokonya bernama Echo 21. "Echo dalam bahasa Jawa
artinya enak. Sedang 21 adalah nomor tokonya," kata Unggul yang meneruskan usaha ini dari ibunya, Ny. Lejar Astuti.

Toko yang memiliki 20 karyawan ini dibuka dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 20.00 malam. Keistimewaan tempe Echo adalah bumbunya. "Bumbu kami memang khas," tambah Unggul tanpa mau menyebutkan rincian bumbu yang dipakainya.

Kendati Toko Echo bukan toko keripik tempe yang pertama, saat ini boleh dibilang paling laris ketimbang toko keripik lainnya. Bayangkan, dalam sehari mereka harus menyediakan bahan baku tempe sebanyak 1.000 bungkus. Di hari libur bahkan dibutuhkan 3.000 bungkus. Satu bungkus
tempe menghasilkan 2 buah tempe kering yang siap digoreng.

Selain menjual tempe, Toko Echo juga menjual mendoan. Mendoan hampir sama dengan keripik tempe. Bedanya, keripik tempe digoreng kering, sementara mendoan tidak kering. Di sini juga Anda bisa membeli sambal kecap Echo 21, teman makan mendoan. "Pokoknya siapa pun yang mencicipi tempe buatan kami dan kecapnya, pasti tidak berhenti makan, deh."

Tak hanya itu yang dikeluarkan toko ini. Unggul juga menjual bumbu keripik tempe dan mendoan untuk para pembeli yang ingin membuat keripik tempe atau mendoan di rumah.

JENANG JAKET
Tahun 1980 merupakan awal produksi produksi jenang jaket (jenang asli ketan). Pertama kali Bpk. Soeharjo, sang pemilik, hanya memproduksi 5 kilogram beras ketan. Tetapi 10 tahun kemudian, Soeharjo sudah menghabiskan 1 kwintal beras ketan. Begitu berkembangnya usaha jenang jaket, sekarang penduduk asli Purwokerto ini harus menyediakan 5 kwintal beras ketan, "Bahkan pernah, lo, saya mendapat pesanan yang menghabiskan 8 kwintal beras ketan," jelasnya.

Karena begitu banyak jenang yang harus ia sediakan, sampai-sampai Suharjo harus menyediakan 35 orang karyawan. Dua belas di antaranya merupakan bagian produksi, sedang bagian pengepakan dan pemotongan
terdiri dari 13 orang.

Meski tokonya terletak di dalam komplek, jangan kira jenang jaket sepi pembeli, lo. Dengan harga jual Rp 6 ribu tiap kilo, Seharjo mengaku bisa mengantongi Rp 2 juta. Tentu di hari lebur perhasilannya bisa dua kali lipat.

TOKO OLEH-OLEH ANEKA SARI

Toko yang dimiliki pasangan Gunawan dan Yati ini sudah buka sejak tahun 1963. Karena menjual oleh-oleh khas Purwokerto dan Banyumas serta daerah Indonesia lainnya, sudah bisa dipastikan yang datang ke situ, ya, para wisatawan lokal maupun internasional.

Toko sudah mulai melayani pembeli dari pukul 08.00 dan baru tutup pukul 20.00. Di situ Anda bisa memperoleh nopia, kue khas Purwokerto berbentuk bulat, berkulit keras dengan isi cokelat, makanan khas Surabaya, Malang, Salatiga, Magelang, Parakan, Temanggung, dan Bandung.

Di hari biasa Yati bisa menjual sekitar 200 bungkus nopia, tetapi di hari libur atau besar, 400 bungkus nopia pun bisa ludas dalam sehari. Harga makanan yang dijualnya bervariasi, mulai dari Rp 3.500 hingga Rp 25 ribu. "Dari untung penjualan ini saya bisa menyekolahkan keempat anak saya di perguruan tinggi di Jakarta," ujarnya bangga. sdp@Rynol Sarmon



Dicopy dari www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 6:04 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Tuesday, May 02, 2006 Jalan-jalan ke Padang

NASI KAPAU
Kalau pergi ke Sumatera Barat, jangan sampai kita tidak mampir ke warung Nasi Kapau. Makanan khas ini sebenarnya banyak sekali dijumpai di berbagai kota besar di Indonesia maupun mancanegara. Namun, soal rasa, Nasi Kapau asli tentu jauh lebih mengundang selera.
Dari begitu banyak warung Nasi Kapau, yang sangat terkenal adalah Nasi Kapau Uni Lis. tempatnya di kompleks Pasar Wisata Blok A/B lantai 1, nomor 29-30, sekitar 100 meter dari Jam Gadang Bukittinggi. Uni Lis mewarisi usaha neneknya sejak tahun 1972. "Alhamdulillah usaha nasi kapau ini dari dulu sampai sekarang tetap laris dan dicari banyak orang," ujar Uni Lis yang keberatan menyebut omzet yang didapat per hari.
Kedai Uni Lis yang berukuran sekitar 7 X 10 meter ini selalu dijejali orang yang antre memesan nasi kapau. Warung yang buka dari pukul 8 pagi sampai 5 sore ini pada hari besar atau hari libur, antreannya sangat panjang. Menurut salah seorang pelanggannya, nasi kapau Uni Lis bumbunya terasa beda dengan warung lain.
"Jenis nasi yang saya pakai juga beda. Saya selalu memakai beras kualitas nomor 1," tegas Uni Lis, yang menjual seporsi nasi sekitar Rp. 7500, tergantung dari lauk dan berapa kali menambah. Pada tiap pesanan itu sudah ditambahkan goreng rimbang, daun bawang, gulai rebung, kacang rendang, gulai daun lobak, dan gulai Cubadak (gulai nangka muda).
Tak terhitung pejabat atau selebritis yang sudah pernah mampir ke warung Nasi Kapau Uni Lis. Mereka pasti pernah mencicipi sajian Uni Lis seperti dendeng kariang, gulai tunjang, gulai ikan batalua, kalio hati, gulai ayam, rendang ayam, ayam bumbu, ayam goreng balado, atau gulai usus sapi. Jenis ayam yang dipergunakan di Nasi kapau Uni Lis semuanya jenis ayam kampung. Jelas saja, bumbu dan daging ayam jadi terasa lebih nikmat.


MARTABAK KUBANG
Bila petang menjelang atau ingin begadang, jangan lupa Martabak Kubang. Belakangan martabak Kubang makin dikenal di luar orang Padang. Maklumlah usianya sudah cukup tua. Kedai ini berdiri sejak tahuan 1963. Rasa martabaknya tidak terlalu jauh dengan martabak asin yang sudah dari dulu kita kenal. "Martabak Kubang adalah pengembangan dari martabak Mesir atau martabak Keling, dengan resep yang disesuaikan dengan selera urang awak," jelas Haji Yusri Darwis, penemu martabak Kubang.
Lantas mengapa dinamakan martabak Kubang? Ternyata pembuatanya berasal dari Kubang, sebuah desa kecil yang terletak 140 kilometer dari Payakumbuh. Yang membuat beda Martabak Kubang dari martabak-martabak lainnya adalah kuahnya. Sedang isi martabaknya sama. Tentu bumbu yang digunakan merupakan bumbu rahasia milik Haji Yusri Darwis yang tak mau ia kemukakan. Kuah penyertanya terdiri dari tomat, bawang bombay, cabai hijau iris dengan saus cuka. Rasanya, gurih dan segar.
Harga seporsi martabak Kubang relatif murah bila dibanding martabak asin lainnya. Anda cukup merogoh uang Rp 4.000 untuk menikmati hidangan lezat ini. Harga ini sudah berlaku sejak lama bahkan sejak harga seporsi nasi Padang masih Rp4.000. Namun H. Yusri masih enggan menaikkannya.
"Keuntungan kita tipis. Soalnya, kita berjualan bukan untuk mendapatkan laba, tapi sekadar untuk mencari makan sambil beramal," tegas H. Yusri kepada Sedap Sekejap. Mungkin karena tipis itu tadi, H. Yusri belum punya gedung sendiri. Kedai yang digunakan merupakan kedai kontrakan, baik yang terletak di Jl. M. Yamin maupun restoran Hayuda, Jl. S. Parman. Keduanya di kota Padang.
Menurut H. Yusri, kalau di Padang ada orang berjualan martabak Kubang, selain di dua kedai tadi, bisa dipastikan itu adalah usaha bekas karyawannya. "Saya tidak masalah mereka mempergunakan nama martabak Kubang. Kecuali untuk buka usaha di Jakarta dan sekitarnya, penggunaan nama tersebut tidak saya benarkan. Karena nama tersebut sudah saya registerkan," tandas H. Yusri yang dagangannya selalu habis itu.
Selain di Padang, martabak Kubang juga bisa ditemukan di Jakarta, yakni di daerah Tebet. "Nah, ini dikelola oleh adik-adik saya."


SOTO PADANG
Cari Soto Padang yang lezat? Pasti Padang-lah tempatnya. Ada satu soto Padang yang terkenal di kota nan indah ini. Nama restorannya adalah Soto Garuda. "Habis letaknya, kan, sudah di kota Padang," jelas Fauzan, sang pemilik. Letak persisnya adalah di Jl. Belakang Olo no. 44, Padang.
"Bapak saya, Anwar Bay yang merintis Soto Garuda sejak tahun 1950. Saya sendiri dari tahun 1974 ikut membantu meneruskan usahanya hingga kini," jelas Fauzan, pemilik dan penggelola Soto Garuda. Untuk menyajikan Soto Garuda, Fauzan berusaha mencari bahan-bahan terbaik dari seluruh Sumatera Barat. "Berasnya saya pilih dari Solok atau Bukittinggi. Daging sapinya dari kota Padangpanjang. Tiap harinya paling sedikit saya membutuhkan 40 kilo daging sapi," jelas anak kelima dari delapan bersaudara ini.
Karena sudah sangat terkenal, pembelinya berasal dari berbagai kalangan. Banyak pula pejabat negara ini yang pernah mampir menikmati kenikmatan Soto Garuda. Pokoknya, kalau taragak (kangen) makan soto Padang, ya, ke sanalah kita menuju. Maka tak heran, kalau Soto Garuda bisa habis sebelum pukul 14.00 meski sudah buka dari pukul 9 pagi. Tapi Anda tak perlu cemas kehabisan tempat, karena restorannya bisa memuat 130 orang.
Kalau Anda berminat, jangan coba mencarinya tiap hari Jumat. Soto Garuda selalu tutup di hari Jumat.


LEMANG TAEH
Nama Lemang tak bisa lepas dari Padang, tapi kalau kita menanyakan tempat yang menjual Lemang yang enak di kota Padang, pasti akan dijawab Lemang Payakumbuh, 130 km utara Padang.
Nah, lemang Payakumbuh yang dimaksud itu adalah Lemang Taeh atau Lemang Kuranji. Pembuatnya satu keluarga yang mewarisi usaha bapaknya, Munir. Dari 8 orang anaknya, hanya 4 bersaudara ini yang berjualan lemang, yakni Edi, Syamsu Elida, Nusyalmi dan Asmawati.
Lemang tidak dijual di kedai atau di retoran, tetapi di pasar. Seperti Asmawati, misalnya ia berjualan di Pasar Ibuh Payakumbuh, sedang Nusyalmi di Pasar Atas Payakumbuh. Sedang Edi dan Syamsu berkeliling dari pekan ke pekan. Itu makanya kita tidak bisa menyantap lemang di tempat membeli. Lemang harus dibawa pulang.
Edi yang berjualan sejak tahun 1981 ini mengaku sehari bisa membuat 20 tabung lemang. Untuk itu ia memerlukan 13 gantang beras (1 gantang = 24 liter, Red). "Itu pun selalu habis," kata Edi yang ditemui tengah berjualan di sebuah pasar, sekitar 10 kilometer dari Payakumbuh. Sementara Syamsu bisa menjual 10 tabung lemang setiap hari. Satu tabung lemang panjangnya kurang lebih 70 cm, dengan diameter tabung 10 cm.
Tiap tabung dijual seharga Rp. 15.000. "Lemang ini disukai oleh semua umur. Kadang dimakan bersama tapai pulut hitam. Hotel-hotel di Sumatera Barat juga sering memesan lemang kami," sambung Syamsu Elida, yang berjualan mulai pukul 10.00 sampai 17.00 WIB.
Meski satu keluarga, cara membuat lemang berbeda satu sama lain. Lemang buatan Syamsu Elida, untuk 1 baskom santan, dipergunakan garam sebanyak 1 kg. Santan yang dipakai berasal dari kelapa tua dan kelapa matang. Santan dipanaskan selama 30 menit terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan beras pulut. Setelah ditempatkan dalam tabung bambu, dibakar dengan sabut kelapa selama tiga jam.
Sedangkan resep milik Edi sedikit berbeda. Santannya tidak dipanaskan . Santan langsung diaduk dengan beras pulut dan dimasukkan ke dalam tabung, lalu dibakar dengan bara dari sabut kelapa. Nah, terserah Anda mau memilih yang mana.



KERIPIK SANJAI
Selain dikenal dengan Nasi Kapau-nya, ada oleh-oleh khas Sumatera Barat yang sering dicari para pendatang, yaitu Kripik Sanjai. Salah satu toko kripik yang terkenal adalah Kripik Sanjai Mintuo. Pemiliknya Ny. Mintuo (55).
Kripik Sanjai terbuat dari singkong yang diserut sepanjang singkongnya. Biasanya lebarnya bervariasi antara 5 sampai 10 cm. Singkong yang sudah diserut tadi direndam dalam air, kemudian digoreng hingga kering.
Setelah dingin, singkong goreng ini diolesi dengan bumbu yang rasanya manis, pedas, dan agak lengket. Selain menjual Kripik Sanjai yang panjang-panjang, ada juga Kripik Sanjai yang bentuknya lingkaran. Untuk rasanya juga lebih bervariasi dibandingkan dengan Kripik Sanjai yang original. Bumbu olesannya terdapat rasa tawar, asin, serta pedas dan manis.
Sehari Kripik Sanjai Mintuo bisa menghabiskan 150 kilogram singkong dan 80 kilogram minyak goreng seharinya. Harga kripik adalah Rp.8.500 per kilogram. Meski tak bersedia menyebutkan penghasilannya per hari, namun ia mengatakan penghasilannya sudah bisa menyekolahkan 6 anaknya menjadi sarjana. Oleh-oleh Kripik Sanjai adalah buah tangan yang paling laku, selain rasanya enak, juga tahan lama.


KRIPIK BALADO
Kripik Balado yang paling top di Bukittinggi adalah buatan Christin Hakim. Kripik balado ini hampir mirip dengan Kripik Sanjai, hanya bedanya serutan singkong Kripik Balado lebih tipis dan bumbunya ditumis dahulu baru singkong goreng dimasukkan. Jadi bumbunya benar-benar meresap. Kripik Balado Christin Halim ini sudah ada sejak 11 tahun yang lalu. Dahulu Christin tinggal di lorong, tapi makin lama usahanya makin sukses dan mampu memiliki 2 buah kios dengan 6 orang karyawan.
Menjelang Lebaran, Christin mampu menjual 200 kilo kripik per hari. Itu pun sudah melewati pemesanan jauh hari sebelumnya. Tapi pada saat hari biasa, kripik yang terjual hanya sekitar 100 kilo saja sehari. Selain menyediakan Kripik Balado, ada juga makanan kecil lain yang dijadikan favorit baru, yaitu kacang Tojin (kacang bawang dengan cincangan daun seledri.


DADIA
Dadia adalah sejenis susu yang dikentalkan (melalui pengendapan beberapa hari). Pengendapan dilakukan dalam bambu yang ditutup dengan daun pisang. Harga per tabung Rp.2.500.
Kalau kita buka isinya, warnanya putih kekuningan dan kental. Dadia bisa dibuat jadi masakan tertentu. Yang paling sederhana adalah hanya dicampur irisan cabe merah, bawang, dan daun sirih. Ini tentu jadi teman makan nasi yang nikmat bersama gulai.
Dadia juga bisa dihidangkan begitu saja bersama emping pulut (emping yang dibuat dari beras ketan), gula aren, dan kelapa parut. Dadia yang terbuat dari susu kerbau ini bisa bertahan hingga 8 hari jika kita simpan dalam lemari pendingin.


GULO-GULO TARE
Sambil menyusuri anak tangga Pasar Atas Bukittinggi kita bisa menemukan ibu-ibu berkerudung yang menjajakan permen khas Bukittinggi. Nama permennya adalah gulo-gulo tare, terbuat dari sari tebu. Bentuknya segiempat kecil dan pipih. Warnanya cokelat tua, dibalut dengan tepung beras sangrai.
Sehari, menurut Linda penerus pembuat dan penjual gulo-gulo tare, permen tradisional ini bisa menghasilkan uang Rp. 100 ribu. Permen-permen tersebut dibuat 2 kali dalam seminggu. Gula tebu yang dibutuhkan kira-kira 50 kilogram per minggunya. Cara membuatnya cukup sederhana. Gula tebu dimasak sampai mengental lalu dikeringkan.
Permen ini dikemas dalam plastik setiap 250 gram. Supaya tidak lengket sama lain, permen ditaburi tepung beras yang disangrai. Untuk memberi rasa lain, tidak sekadar manis, Linda seringkali mencampur adonan rasa kacang dan rasa durian. Tergantung dari musimnya.
Menurut Linda yang meneruskan jualan gulo-gulo tare dari orang tuanya, pembeli jatuh cinta dengan permen buatannya karena dapat sebagai penghilang dahaga.


KETUPEK NI NEWAN
Bentuknya sepintas mirip ketoprak. Peminatnya cukup banyak. Setiap hari Ni Newan membuka kedainya di Los Lambung Pasar Atas Bukittinggi tiap pukul 10 pagi. "Ya, rasanya pas, harganya pun terjangkau. Sepiring cuma Rp. 2.000," ujar seorang pembeli yang sedang dengan sabarnya menunggu pesanannya.
Menurut penjualnya, tiap hari menghabiskan 350 buah ketupat. Walaupun serupa dengan Ketorak, tapi isinya agak sedikit berbeda. Kalau ketoprak menggunakan bihun. Ketupek, memakai mi kuning. Isi lainnya adalah irisan kol mentah, dan daun singkong rebus,irisan batang talas rebus, dan irisan jantung pisang rebus lalu disiram dengan saus kacang dan kerupuk merah.


CINDUA LANGKOK
Cendol a la Bukittinggi ini jadi ciri khas karena beda dengan cendol yang biasa kita temui. Bahan dasar cendolnya terbuat dari tepung sagu aren yang dicampur dengan tepung beras lalu diberi warna. Untuk cendol hijau digunakan air daun suji, sedang cendol merah menggunakan getah gambia.
Uniknya cendol dihidangkan bersama saus gula merah, santan, tape singkong, dan potongan lopis ketan. Masih pula ditaburi emping beras. Ingin tahu rasanya? Hmm... segar! Harganya pun terjangkau, hanya Rp. 1500 per mangkok. Menurut Samidra yang meneruskan bisnis cendol dari orang tuanya, Cindua Langkok ini sudah ada sejak tahun 1946.



KRUPUK DOLAR
Sesuai namanya, kerupuk dari singkong ini besarnya cuma sebesar uang logam ratusan. Ini sebetulnya opak biasa yang diberi irisan daun bawang. Bahan bakunya terbuat dari singkong yang dikukus, digiling, lalu dicetak berbentuk lingkaran berdiameter 2 cm. Krupuk singkong ini sudah ada sejak 20 tahun lalu, menurut cerita Bapak Howen, pemiliknya.



SATE LAWEH

Mungkin kita kurang akrab dengan nama Sate Laweh. Lain halnya kalau disebut Sate Padang yang pasti tidak asing lagi. Nah, di kota Padang, kalau ingin menikmati Sate Padang yang enak, biasanya mereka akan menuju Pasar Padang pada jam 3 sore sampai 2 malam. Di sana terdapat Sate Laweh
Menurut penjualnya, Sate Laweh ini bukan satu-satunya di Padang, karena banyak penjual lain yang menjual sate serupa. Bedanya, Sate Laweh ini sudah ada sejak 80 tahun lalu. Dalam semalam Sate Laweh Pasar Padang bisa menjual lebih dari 400 tusuk sate dan menghabiskan 200 buah ketupat.
Sate Laweh mempergunakan daging sapi yang diiris tipis-tipis. Sebelum dibakar, daging yang sudah ditusuk dilumuri dengan parutan kelapa lalu dibakar di atas bara. Sate kemudian disuguhi di atas piring beralaskan daun pisang bersama potongan ketupat lalu disiram dengan saus kental berwarna merah yang pedas rasanya. Seporsi sate laweh yang berisi 10 tusuk sate itu dijual dengan harga Rp. 8.000.



SATE PADANG
Selain sate laweh yang terdapat di kota Padang, ada beberapa sate yang selalu dicari, yaitu Sate Mak Anjang di Bukittinggi, Sate Mak Khatib di Solok, dan Sate Mak Syukur di Padangpanjang. Di antara semuanya yang selalu dicari dan banyak penggemarnya adalah Sate Mak Syukur.
Di kota Padangpanjang terdapat 3 warung Sate Mak Syukur, dua di Pasar Padangpanjang, lainnya di jalan raya menuju kantor Balai Kota Padangpanjang. Yang terakhir ini adalah yang paling besar dan paling ramai oleh pengunjung. Perintis Sate Mak Syukur ini adalah Syukur Sutan Raja Endah sejak tahun 1947. Dan di tahun 1984 sampai sekarang dikelola oleh putra bungsunya, Syafril Syukur. Sehari Syafril menghabiskan 80 kilogram daging per hari. Sate sebanyak itu dijual sejak pukul 10 siang sampai pukul 9 malam.
Dari ketiga outlet yang dibukanya, Syafril bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp. 5 juta tiap harinya. Kecuali bila ada pesanan khusus semisal untuk pesta perkawinan atau acara seminar. Kesempantan ini tentu menambah masukan pada kocek.
Yang membuat orang datang dan datang lagi di warung Sate Mak Syukur ini karena rasa bumbunya yang berbeda, cara pengolahan juga pemilihan jenis daging untuk dibuat sate juga lain. Satenya terdiri dari lidah, jantung, tambonsu, dan jerohan daging sapi.
Menurut Syafril, daging jeroan itu sengaja dipilih jenis sapi Padangpanjang, yang menurutnya berbeda dengan daging sapi jenis lain. Untuk sausnya, dipergunakan kari daging yang dipanaskan dan dikeluarkan minyaknya. Kuah itu masih ditambah aneka rempah sedang untuk mengentalkan, diberi tepung beras. Perbandingan antara tepung dan cabainya, 5 kg cabai berbanding 1/4 kg tepung beras. Jadi rasanya lumayan pedas.
Seperti tempat makan tersohor lainnya di Sumatera Barat, Sate Mak Syukur tak luput didatangi pejabat maupun selebritis Indonesia. Tak kurang mantan Presiden RI Soeharto pernah merasakan kenikmatan Sate Padang ini. Bahkan berkat dorongan dari Abdul Latief, mantan Menaker zaman Orde Baru, Sate Mak Syukur sampai saat ini sudah membuka 2 cabang di Jakarta, yaitu Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai.


PISANG REBUS SUNGAI LASI
Pisang rebus yang dipergunakan adalah jenis pisang kepok. Yang membedakan dengan pisang rebus yang biasa kita kenal, adalah lama perebusannya. Biasanya kita merebus pisang hanya sekitar 30 menit, tapi untuk Pisang rebus Sungai Lasi membutuhkan waktu selama 10 jam! Akibatnya, pisang rebus tadi menjadi berwarna kemerahan hingga sampai ke dalam-dalamnya.
Untuk bisa mendapatkan sesisir pisang rebus Sungai Lasi, kita harus pergi ke daerah Silungkang di pinggir Sungai Lasi. Harga per sisirnya terbilang murah, hanya Rp. 3500.
PISANG SAPIK
Di Pasar Atas, kalau sekadar penganjal perut, kita bisa cicipi Pisang Sapik. Selintas namanya unik, tapi ini hanyalah nama untuk menyebut pisang bakar yang ditekan sehingga pipih. Pisang yang dipergunakan untuk Pisang Sapik ini adalah pisang kepok.
Harga satu porsinya berkisar Rp. 500 sampai Rp. 700 per pisang tergantung besar kecilnya. Sebagai pelengkap jajan pasar ini, pisang yang sudah dibakar dan dipipihkan diberi taburan unti. Lalu disajikan bersama sirup gula merah. Dalam satu hari, rata-rata penjual Pisang Sapik di Pasar Atas bisa menjual 500 buah pisang.
PASAR TRADISIONAL
Kalau kita berkunjung ke Bukittinggi jangan lupa mengunjungi pasar tradisionalnya karena tersedia barang-barang suvenir dan makanan kering untuk oleh-oleh. Biasanya yang dijual adalah berbagai jenis kerupuk mentah. Ada yang terbuat dari singkong, mlinjo, atau kulit sapi yang dikenal juga sebagai kerupuk Jangek. Ada pula dodol, lemang, dan berbagai jajanan tradisional seperti Pisang Sapik, Bika, hingga Sate Padang.
Dalam pasar tersebut, kita juga bisa menemukan penjual bumbu-bumbu khusus untuk masakan khas Padang, seperti rendang atau kalio. Bahkan tersedia juga rempah-rempah yang dipergunakan untuk memasak.sdp@Urip Santoso, Yurnaldi, foto-foto: Rynol Sarmon, Yurnaldi

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com Sujiwo.

Posted by Imelda :: 4:00 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Pati

NASI GANDUL

Bagi Anda nasi gandul mungkin masih asing, tetapi di Pati nasi ini amat terkenal. Asalnya dari Desa Gajah mati. Banyak penjual nasi gandul di sudut-sudut kota Pati yang berudara cukup panas ini. Kelezatannya bikin kita selalu kepingin menyantapnya kembali.

Salah satu warung nasi gandul yang selalu ramai pembeli adalah nasi gandul Bpk. Sardi. Bukan cuma di Pati nasi gandul buatan Sardi populer. Di Kudus dan Semarang pun orang yang mengenal nasi gandul, pasti menghubungi nasi dengan siraman daging ini dengan nama Sardi. Hingga tak heran warung ini sangat ramai, terutama di hari libur. Warungnya dipenuhi oleh mereka yang ingin menghilangkan lapar sampai yang ingin bernostalgia dengan masakan khas Pati karena lama tinggal di luar kota.

"Saya yang pertama kali mempelopori berjualan nasi gandul," aku lelaki berumur sekitar 60 tahun ini. Sekitar 24 tahun yang lalu Sardi mulai berjualan dengan menggunakan pikulan dari bambu secara berkeliling. Sekitar tahun 1994 barulah Sardi menyewa kedai. Kedai itu kini sudah jadi miliknya
Yang dimaksud nasi gandul sebetulnya cuma nasi yang disiram kuah cokelat lalu diberi potongan empal. Lantas mengapa dinamakan nasi gandul? "Karena nasi tidak langsung disajikan di piring, tetapi di alasi daun pisang (gandul= mengambang, Red)," jelas Sardi.

Pengunjung yang makan tidak perlu mencari-cari sendok makan karena Sardi tidak menyediakan sendok makan, melainkan daun pisang yang dilipat dua, difungsikan sebagai sendok. Harga sepiring nasi gandul Rp.3.500. Selain nasi gandul, di warungnya Anda juga bisa memilih empal daging, ayam goreng, dan tempe goreng. Tentu untuk pilihan tadi, Anda harus membayar ekstra. Setiap hari Sardi dibantu oleh 6 orang pegawai. Mereka membuat nasi dari 15 kilogram beras dan empal dari 30 kilogram daging. Warung Sardi buka dari pukul 17.00 sampai pukul 21.00.

Jangan kaget, penghasilan Sardi bisa mencapai Rp. 1,5 juta sehari. "Di hari libur, sih, lebih banyak lagi," katanya bangga. Karena kepiawaiannya membuat nasi gandul, Sardi pernah dikirim mengikuti lomba masak masakan khas Jawa Tengah tingkat kabupaten. Hasilnya luar biasa, ia menjadi juara satu hingga berhak mewakili Jawa Tengah ke ajang perlombaan masakan khas Indonesia yang popular dan inovatif yang diadakan oleh Departemen Pariwisata. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Sardi mengantongi juara Harapan 10


PETIS KAMBING

Kok, masakan Jawa Tengah menggunakan petis? Bingung, kan? Petis kambing made in Pati ini memang tidak memakai petis. Tetapi warnanya memang cukup gelap. Sebetulnya petis kambing tidak berbeda dengan gulai. Cuma ke dalamnya dimasukkan tepung beras yang disangrai sampai cokelat.

Petis kambing berasal dari desa Runting, sebelah Utara kota Pati. Adalah Bpk. Sambia yang menjual petis kambing terkenal di Pati. Usaha petis kambing ini kini diteruskan oleh istrinya, Bu Rasmi. Warungnya sudah mulai beroperasi sejak tahun 1965. Petis kambing Rasmi dibuat di rumah dan dijajakan langsung di rumah. Buka dari pukul 10 sampai pukul 13.00, terkadang di kala ramai, pukul 11.00 pun sudah ludas. Dibantu dengan 5 orang pegawai, termasuk anaknya sendiri, Rasmi bisa menghabiskan sekitar dua panci petis kambing. Tiap satu panci bisa dibuat 100 porsi. Anda betul-betul bisa berhemat bila makan di warung Rasmi. Bayangkan, satu porsi petis kambing cuma Rp. 500! Selain petis kambing Rasmi juga menyediakan sate kambing.


GETUK RUNTING

Walaupun getuk bukan termasuk jajanan khas pati, namun cukup banyak peminatnya. Di jalan Pati Tayu, kira kira 4 km dari kota Pati, tepatnya Desa Runting, kita akan menemukan warung yang menjual getuk. Usaha pembuatan getuk ini sudah ada sejak tahun 1960 yang lalu. Pelopornya Bpk. Jaeman. Sekarang usahanya diteruskan oleh anaknya, Bpk. Suri. Ia dibantu oleh istri dan kedua anaknya.

Sehari ia bisa menghabiskan sekitar 50 kg singkong matang yang ditumbuk sampai halus. Getuk kemudian disajikan dengan taburan kelapa dan serundeng atau kinca (sirup gula merah). Anda dipersilakan memilih salah satunya. Kudapan ini pun tidak membuat Anda miskin karena per getuk, Anda cukup mengeluarkan Rp 500.


PUTU BUMBUNG

Sepanjang jalan Panglima Sudirman berjajar tukang-tukang putu bumbung. Salah satunya mangkal di depan apotek Eka. Bpk. Sugiman sudah berjualan putu bumbung sejak tahun 1976. Awalnya ia berkeliling kota menjajakan dagangannya. Tetapi setahun kemudian, ia memutuskan mangkal di depan apotek Eka. "Apotek ini mengizinkan saya jualan di sini karena kata mereka, kue putu bumbung buatan saya enak," kisahnya.

Putu bumbung Sugiman mulai dijual sejak pukul 17.00 sampai pukul 21.00. Dalam sehari ia bisa menjual sekitar 250 buah kue putu. Untuk itu ia harus menyediakan 6 kilogram beras yang ditumbuk jadi menir (tepung beras yang kasar). Harga sebuah kue putu bumbung cuma Rp 200. Ukurannya cukup mini. Karena Sugiman memakai bambu jenis tali (bagian pucuk). Ukuran bambu berdiameter 3 cm



JAJANAN DI ALUN-ALUN

Ada sekitar 50 pedagang yang menjual aneka makanan di sepanjang alun alun, depan Masjid Baitunnur. Jajanan yang dijual pun beraneka ragam dari makanan khas Pati sampai aneka gorengan. Para pedagang mulai menjajakan dagangannya sekitar pukul 16.00 sampai pukul 23.00. Kalau sedang tidak hujan, pedagang bisa berjualan sampai pukul 24.00, bahkan lebih.
PUJATI (Pusat Jajan Pati)

Di dekat Pasar Puri kita akan menemukan pusat jajan serba ada. Ada sekitar 20 kios yang berjualan di area parkir Gedung Olahraga Pati. Makanan yang dijual pun sangat beragam, dari aneka soto sampai makanan hasil laut. Pusat jajan ini buka dari pukul 15.00 sampai dengan pukul 01.00. Juga di sediakan tenda tenda bagi yang ingin makan di luar kios .




SOTO AYAM KEMIRI
Salah satu penjual soto ayam kemiri adalah Bpk. Parman. Ia mulai menjual soto sejak tahun 1977 secara berkeliling, tetapi mulai tahun 1995, Parman mulai menetap. Soto ayam ini berasal dari desa Kemiri, sebelah timur Pati. Para pedagang soto ayam lainnya pun kebanyakan dari desa kemiri. Dalam sehari berjualan. Parman bisa meghabiskan sekitar 15 ekor ayam.

Warung soto ini buka dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Soto buatan Parman memang lezat. Keharumannya pun khas sekali karena masih dimasak dengan kayu bakar. "Ini memang ciri khas penjual soto kemiri," katanya. Soto kemiri tidak berbeda dari soto ayam lainnya hanya menggunakan kemiri dan kencur. Rasanya hangat dan gurih.


SATE KELINCI

Ingin makan sate kelinci khas Pati? Singgahlah di Jl. Soedirman, tepatnya di depan Kantor Kejaksaan. Mas Acil, nama penjualnya yang juga kebetulan pegawai di kantor kejaksaan.

Acil baru memulai usaha sejak 2 tahun yang lalu. Rasa sate yang dijual adalah penggabungan resep sate kelinci dari banyak penjual sate kelinci lainnya. Berkat keahliannya dalam menggabungkan dan menambah rasa, kini sate kelinci yang dijual Acil ini jadi makanan alternatif yang banyak dicari oleh orang orang.

Buka dari pukul 16.00 sampai sehabisnya. Selama waktu itu ia bisa menghabiskan 14 ekor kelinci. Satu kelinci bisa jadi 40 tusuk. Per porsinya harganya Rp 6.000. Bukan cuma sate yang dijual di warung yang berpegawai 5 orang ini. Mereka juga menyediakan sop tulang kelinci dan asem asem. Karena saking banyaknya pembeli dan permintaan, Acil juga membuka cabang di Jl. Kolonel Sunandar. Kelinci yang digunakan Acil langsung dari kelinci yang diternak sendiri. "Saya tertarik menjual sate kelinci , kan, karena semula memang beternak kelinci," ucapnya.

Konon daging kelinci bisa menyembuhkan penyakit lever, kuning, dan banyak penyakit lainnya. Buktinya, "Ada pembeli yang sekarang jadi pelanggan tetap karena merasa sembuh dari penyakit lever setelah makan sate kelinci buatan Acil." sdp @rynol sarmon

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com Sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:55 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Makanan sebagai Obat

Makanan Juga Bisa Berfungsi Sebagai Obat

Untuk mengobati penyakit ringan sehari-hari, seperti pusing, nyeri sendi, nyeri otot, perut kembung karena sembelit, jangan keburu menelan obat kimiawi. Coba dulu makanan untuk meredakan sakit. Selain itu, makanan pun sudah mulai mendapat tempat sebagai bagian dari terapi pengobatan penyakit berat, seperti sakit jantung koroner dan kanker, agar tidak menjadi semakin parah. Nah, makanan apa sajakah yang memiliki khasiat obat ?


Kini makanan tidak lagi hanya dipandang sebagai penikmat mulut dan pengisi perut. Masyarakat negara maju, seperti Jepang, AS, dan beberapa negara Eropa, memperhatikan makanan bukan lagi semata-mata dari segi manfaat gizinya. Mereka sudah menyadari pentingnya memperhatikan juga khasiat makanan sebagai sarana pengobatan, hingga muncullah istilah makanan fungsional (functional food).

Beberapa penyakit sehari-hari, seperti pusing, rasa nyeri pada otot, nyeri sendi, influenza, atau rasa lesu-lemah kurang bertenaga, ternyata bisa diatasi dengan makanan tertentu. Selain itu, kini makanan sudah ditempatkan sebagai bagian dari terapi penyakit berat, seperti stroke, jantung koroner, kanker. Bukan melulu sebagai makanan diet khusus untuk memulihkan kondisi tubuh. Namun dipilih makanantertentu yang memang memiliki khasiat obat dapat meredakan gangguan pembuluh darah penyebab serangan stroke atau jantung koroner.

MAKANAN PEREDA NYERI

Menyantap makanan kaya kalium dan vitamin B6, khususnya pisang segar (bukan pisang rebus atau pisang goreng), dapat mengurangi rasa nyeri, ngilu dan sakit pada persendian. Pada saat bersamaan, kita pun mesti lebih banyak makan buah-buahan kaya vitamin C, seperti jambu biji, pepaya, belimbing, jeruk. Bisa juga menyantap kenari untuk meredam nyeri sendi.

Rasa nyeri setiap kali datang bulan mestinya tak perlu terjadi. Sejak 3 hari menjelang haid hingga haid berakhir, santap brokoli yang telah diblansir. Kombinasi kandungan kalsium, vitamin C, dan senyawa fitokimiawinya dapat membereskan keluhan tersebut. Untuk memblansir, rebus brokoli dalam air mendidih selama 2 menit, segera angkat, rendam air es, tiriskan. Atau, blender brokoli yang telah diblansir bersama aqua secukupnya. Minum jus brokoli berikut seratnya.

Nyeri perut mulas karena salah makan dapat diredakan dengan minum jus wortel, jus ceri, atau jus semangka. Setiap kali minum 1 gelas (200 ml) dengan selang waktu 10 - 15 menit, hingga seluruh isi perut terkuras dan rasa nyeri hilang. Jus diminum hangat, dengan membubuhkan air hangat ke dalam blender ketika membuat jus. Jus akan merangsang gerakan peristaltik usus sehingga kotoran tercemar berikut timbunan gas yang terbentuk bisa didorong ke luar tubuh. Barengi mengompres perut dengan air hangat.

Sakit kepala berdenyut-denyut sampai tak tertahankan? Santap makanan pedas yang dibubuhi cabai rawit atau merica/lada. Misalnya rujak manis, sambal bersama lalap sayuran mentah, atau sup panas pedas merica.

Kalau suka, bisa saja makan tempe goreng panas bersama cabai rawit utuh. Rujak manis atau sambal lalap lebih baik, karena buah-buahan dan sayuran mentah kaya vitamin C.Senyawa biang rasa pedas akan meredam aktivitas otak ketika menerima sinyal rasa sakit dari pusat sistem saraf, sehingga beban rasa sakit akan berkurang. Biang rasa pedas dalam cabai disebut kapsaisin, sedangkan yang ada dalam merica adalah khavisin. Tambahan konsumsi vitamin C pada saat bersamaan akan meningkatkan efektivitas khasiat obatnya. Apalagi jika makanan pedas tersebut disantap hangat.

Selain menyembuhkan pening kepala, cabai maupun merica dapat mengencerkan lendir hidung dan tenggorokan. Oleh karena itu, para pengobat alami sering menganjurkan penderita influenza, tenggorokan tersumbat, atau sinusitis untuk menyantap makanan pedas. Namun penderita sakit lambung (mag) dan wasir/ambeien tidak disarankan memanfaatkan cabai atau merica.

MAKANAN ANTIURING-URINGAN

Selain lewat pengenalan potensi diri, sifat uring-uringan ? yang seringkali merugikan daripada menguntungkan? sebenarnya bisa dikendalikan dengan mengatur makanan. Hindari makanan yang dapat memperparah sensitivitas amarah. Sebaliknya, tingkatkan makanan yang dapat membunuh bibit amarah.

Ungkapan nenek kita dulu, Jangan kebanyakan garam, nanti gampang uring-uringan, ternyata ada benarnya. Karena itu, selain garam (natrium klorida), senyawa natrium lain pun sebaiknya dikurangi atau dihindari. Seperti baking soda (natrium karbonat), bubuk pengawet (natrium benzoat), sendawa (natrium nitrit), vetsin (natrium glutamat). Bahan tersebut banyak terdapat antara lain dalam kue-kue kering (cookies), roti, cake, pastry, corned beef, bakso, nugget.

Bahan makanan kaya karbohidrat sederhana termasuk pula sebagai provokator munculnya nafsu amarah. Seperti makanan-minuman terlalu manis, permen, kembang gula, es krim, manisan cokelat, meises, cake dengan lapisan krim mentega (buttercream). Demikian juga dengan minuman atau makanan kaya kafein, seperti kopi, teh pekat, minuman ringan (softdrink), cokelat bubuk, cokelat siram (coating chocolate).

Belakangan diketahui ternyata asupan lemak jenuh dan lemak trans, serta konsumsi protein berlebihan, ikut menjadi pemicu munculnya amarah. Seperti gajih, daging berlemak, mentega, margarin, minyak goreng kelapa/kelapa sawit. Beberapa makanan yang banyak mengandung jenis lemak tersebut di antaranya makanan gorengan, steak tanpa kentang, serta cake, terutama buttercake, lapis legit, tart.

Guna membendung bawaan gampang marah, makan lebih banyak pangan kaya karbohidrat kompleks. Contohnya nasi, jagung, pasta, mi, jali, umbi-umbian kukus yang masih dalam bentuk utuh seperti kentang, ubi jalar, singkong. Makan protein secukupnya saja, jangan berlebihan, apalagi jika makan daging.

Perbanyak menyantap pangan sumber asam amino triptofan serta vitamin B-kompleks, terutama yang kaya vitamin B3 (niasin), B12 (kobalamin), dan asam folat. Susu, yogurt rendah lemak, aneka sayuran daun hijau, serta aneka kacang-kacangan termasuk yang bisa diandalkan, seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kedelai, tempe.

MAKANAN PEMULIH TENAGA

Gejala empat el (lemah, lesu, letih, lelah) secara gampang sering dihubungkan dengan anemia besi, akibat yang muncul ketika tubuh kurang mendapatkan asupan zat besi. Solusinya mudah saja, benahi konsumsi makanan kaya zat besi berikut bahan makanan pendukung yang dapat meningkatkan penyerapannya.

Selain kadarnya tinggi, zat besi dalam daging mudah diserap tubuh. Sayangnya, daging menyimpan potensi merugikan jika dimakan berlebihan. Berbeda dari kacang-kacangan dan sayuran daun. Selain tidak berdampak buruk jika kebanyakan, kacang-kacangan dan sayuran daun sama-sama kaya magnesium, zat gizi lain penopang penyediaan energi siap pakai. Contohnya daun singkong, daun kacang panjang, daun talas, sawi putih (petsai), bayam.

Makanan kaya karbohidrat kompleks dan serat merupakan penyedia energi yang hemat, sehingga tidak membuat kita cepat lesu. Contohnya havermut/oat, beras merah, jagung, singkong. Kombinasikan dengan makanan kaya kalsium, seperti tahu, teri kering tawar, yogurt rendah lemak, susu skim. Biji wijen pun kaya kalsium. Wijen sangrai bisa dihaluskan bersama bumbu atau untuk taburan sayur tumis.

Jika merasa lesu di antara waktu makan, ambil saja pisang. Berbeda dari buah-buahan lain, selain mengandung gula buah yang tergolong karbohidrat sederhana, pisang juga kaya kalium. Dengan pasokan kalium, jaringan otot akan bertenaga kembali selama beberapa saat sebelum tubuh mendapatkan pasokan energi darurat dari makanan utama.

Kita sering salah kaprah mengulum permen, meneguk es sirup, atau makan kudapan manis untuk memulihkan tenaga dengan segera. Memang gula pasir atau gula merah dapat menyediakan energi seketika. Namun bahayanya, banjir gula darah mendadak akibat pasokan gula akan mengecoh tubuh. Mentang-mentang sediaan energi sedang melimpah, tubuh lalu boros menggunakannya, sehingga simpanan energi pun ikut terkuras. Akibatnya, tubuh justru menjadi lebih lesu daripada sebelumnya.

MAKANAN JANTUNG SEHAT

Tentu saja, makanan belum terbukti dapat mengambil alih seluruh upaya pengobatan sakit jantung. Namun setidaknya bisa diandalkan sebagai bagian dari sarana pengobatan guna menekan keparahannya, bukan semata-mata sebagai makanan diet bagi penderita. Oleh karena itu, makanan berkhasiat obat berikut hendaknya diberikan lebih sering.

Buah-buahan dan sayuran kaya senyawa obat flavonoid, khususnya kuersetin, mampu mencegah pelengketan sel darah merah dan kerusakan kolesterol baik LDL. Serangan jantung akut, yang sering membawa kematian, merupakan akibat dari penyumbatan pembuluh koroner oleh gumpalan darah pekat dan terbatasnya kolesterol baik HDL. Nah, asupan flavonoid mampu mengencerkan kembali darah pekat tersebut dan menjaga kadar normal kolesterol baik HDL.

Dibandingkan Jepang, jumlah pengidap gangguan jantung koroner di negara Finlandia mencapai lima kalinya. Sejumlah penelitian menyimpulkan perbedaan mencolok tersebut dikarenakan perbedaan konsumsi makanan mengandung flavonoid. Penduduk Finlandia hanya mengkonsumsi flavonoid 3 - 9 mg per hari, sedangkan konsumsi flavonoid masyarakat Jepang rata-rata 68 mg sehari. Selain teh, sumber utama flavonoid di antaranya apel, anggur terutama jenis anggur merah, jeruk, brokoli, seledri, buncis, wortel, bawang merah, bawang putih, bawang bombai, daun bawang. Sayuran daun hijau yang sering kita anggap sepele juga kaya flavonoid, seperti daun kacang panjang, daun pepaya, daun singkong, daun ubi jalar. Tingginya konsumsi flavonoid masyarakat Jepang terutama karena mereka rajin minum teh, 5 - 10 cangkir per hari.

Makan ikan sedikitnya 250 g (daging ikan) seminggu dapat memangkas separuh risiko mendapatkan serangan stroke atau jantung. Terutama ikan laut yang banyak mengandung lemak, seperti salmon, sarden, makarel. Namun ikan mas, bandeng, dan ikan air tawar/payau lainnya yang kaya lemak cukup bisa diandalkan. Lemak ikan dapat meningkatkan kadar kolesterol baik HDL, melonggarkan penyempitan pembuluh arteri,menormalkan detak jantung tak teratur yang sering menimbulkan kematian mendadak. Ikan disarankan dimasak tanpa menggunakan minyak goreng, agar komposisi lemak ikan tidak rusak. Sebaiknya dimasak pepes, sup, kukus (misalnya tim ikan ala Cina).
MAKANAN PENGHAMBAT KANKER

Tempe mengandung zat obat yang termasuk dalam kelompok isoflavonoid, terutama genistein dan daidzen. Senyawa tersebut dapat mencegah tumbuhnya sel kanker yang berkaitan dengan hormon, khususnya kanker payudara pada wanita dan kanker prostat pada pria.
Makan tempe setiap hari merupakan kebiasaan yang sangat baik. Selain tempe, senyawa antikanker tersebut tersimpan didalam tahu dan susu kedelai, sekalipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Baik sekali jika kita mulai membiasakan mengudap kedelai sangrai, baik kedelai putih maupun hitam.
Bayam, wortel, brokoli, kol, tomat merah, dan stroberi merupakan sayuran dan buah yang banyak mengandung zat penangkal kanker. Bagi perokok atau mantan perokok, makanan tersebut mampu memangkas risiko kanker paru-paru. Selain disantap sebagai masakan, sayuran bisa dikonsumsi sebagai jus. Stroberi bisa dimakan segar, dibuat jus, atau disantap bersama sereal.
Keterbatasan asupan selenium berpotensi menumbuhkan sel kanker, terutama kanker paru-paru, kanker prostat, kanker payudara, kanker usus besar, kanker empedu, kanker otak, kanker leher. Dengan asupan selenium yang cukup, kemungkinan tumbuhnya kanker tersebut dapat dibabat.
Selenium terutama banyak terdapat dalam ikan laut, seperti salem, tongkol. kesuksesan kerja senyawa obat tersebut sangat ditentukan pula oleh kecukupan sediaan vitamin C dalam darah. Karena itu, konsumsi makanan kaya vitamin C harus ditingkatkan pula, seperti jambu biji, jeruk, pepaya, belimbing, mangga, nanas, sirsak, lalap sayuran mentah. Wied Harry Apriadji (Penulis adalah penulis bidang gizi, pangan & kuliner. Perancangan menu diet & umum. Pemotretan makanan, minuman & produk pangan)

Posted by Imelda :: 3:54 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Cirebon

NASI JAMBLANG
Nasinya biasa saja, tidak berbumbu. Tetapi karena dibungkus dan disajikan di atas daun jati, nasi ini menjadi istimewa. Bahkan orang Cirebon sendiri menyukainya. Boleh dibilang Nasi Jamblang favoritnya jajanan Cirebon. Buktinya kedai nasi jamblang bertebaran di berbagai jalan di kota Cirebon, baik siang maupun malam. Namun yang paling beken adalah Warung Nasi Jamblang Mang Dull. Letaknya di daerah Gunung Sari, tepatnya di jalan Dr. Cipto Mangunkusumo tepat di seberang supermarket Matahari.
Setiap hari, sekitar pukul 6 - 8 pagi pasti terlihat jubelan orang yang tengah menikmati nasi jamblang sebagai sarapan pagi di warung Mang Dull. "Nanti ramai lagi sekitar jam makan siang," tutur Sobari (35 th), pengelola warung tersebut.
Sobari bersama adiknya Mustopa sudah 5 tahun meneruskan usaha warung ini setelah Abdul Rojak, ayah sekaligus sang pendiri meninggal dunia pada tahun 1994. Nama Mang Dull diambil dari nama sang ayah yang merintis penjualan nasi jamblang ini sejak awal tahun 1970 dengan berjualan secara keliling.
"Dulu Bapak cuma menjual sekitar 50 bungkus sehari", tutur Sobari mengenang. Tetapi setelah mendapat bantuan kredit dari salah satu bank, Mang Dull bisa mangkal di dekat kolam renang dan Stadion Gunungsari yang kini menjadi pusat perbelanjaan Grage Mal.
Harga satu pincuk nasi jamblang hanya Rp 300. Umumnya orang makan beberapa pincuk. Lauk-pauk yang menemani sambal goreng, sayur tahu, tempe goreng, telur dadar, perkedel kentang, dan perkedel kelapa yang disebut cemplung, otak sapi goreng, tahu goreng, dendeng, atau rendang jeroan.
Jika masih kurang, tersedia beberapa jenis pepes seperti pepes usus ayam, jamur, rajungan, dan ikan asin renyah yang disebut penjelan. Masing-masing lauk berkisar antara Rp 300 sampai Rp 1.500.
Karena begitu ramainya pengunjung, Sobari sengaja hanya membuka warungnya sejak jam 4 pagi hingga jam 2 siang. "Nanti terlalu capek mas. Selain itu juga berbagi rezeki dengan warung nasi jamblang lainnya yang buka sore atau malam hari", jelas Sobari yang menghabiskan 1 kuintal beras setiap harinya.
Di malam hari Anda bisa menyantap nasi jamblang di sepanjang Jl. Tentara Pelajar. Ada sekitar 18 warung di situ. Salah satunya warung Pak Sahir. "Di sini menunya lebih lengkap", ujarnya berpromosi. Memang lauk-pauk yang tersedia lebih beragam antara lain, ayam goreng, gulai cumi, rendang jeroan sapi, pepes sumsum telur rajungan, plus menu standar yang sudah disebutkan sebelumnya. Warung-warung ini umumnya buka sejak jam 1 siang hingga jam 4 dini hari.

NASI LENGKO
Selain nasi jamblang ada juga jenis nasi lainnya yang juga digemari masyarakat Cirebon, yaitu nasi lengko. Meskipun berbahan dasar sama, yaitu nasi, penyajian dan lauknya berbeda.
Nasi lengko agak sulit ditemukan di tempat lain kecuali di Jl. Pagongan, Cirebon. Warung milik H. Barno ini sudah 11 tahun berdiri dan buka setiap hari sejak pukul 6 pagi hingga 9 malam. Meski "cuma" warung, kapasitas pengunjung sampai 100 orang. "Tapi berjualannya sudah sejak tahun 70-an," tutur Hj. Yayah Rukiyah, istri Barno.
Awalnya memang hanya ikut-ikutan membantu kakak iparnya yang menjual nasi lengko. Setelah memiliki modal, Barno mendirikan warung nasi lengko sendiri. Kini sehari ia harus menyediakan 40 kg beras untuk melayani para pelanggannya.
Nasi lengko sebenarnya mirip dengan nasi pecel. Isinya berupa nasi yang di atasnya diberi irisan kecil timun, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu. Kemudian disiram dengan bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng. Nasi lengko kurang lengkap jika tidak dinikmati dengan sate kambing. Satu porsi nasi lengko mencapai Rp 4.000, sedangkan sate kambing mencapai Rp 6.000 per sepuluh tusuk.
Lantas apa, sih, sebenarnya rahasia nasi lengko. "Semuanya dikerjakan secara tradisional," jelas Yayah. Untuk menanak nasi, ia menggunakan kayu bakar. Untuk menggoreng tahu atau tempe digunakan anglo (kompor tradisional) yang menggunakan arang. Memang cukup repot, "Tapi ini demi mempertahankan rasa", ujarnya lagi. Selain itu, tempenya didatangkan dari Wanasaba, Kabupaten Cirebon yang khusus membuat tempe untuk nasi lengko yang berbentuk kotak-kotak kubus kecil sepanjang 4 cm.
Dalam waktu dekat, Yayah merencanakan membuka cabang di Jl Pemuda, Cirebon. "Jadi yang jauh dari Jl. Pagongan bisa ke Jl. Pemuda saja", ujarnya sambil menambahkan ia telah membuka pula cabang di jl. Dr. Otten, Bandung.

EMPAL GENTONG
Meski namanya empal, sebetulnya lebih mirip soto daging atau jeroan sapi. Masakan khas Cirebon ini bisa ditemukan di warung Mang Darma. Ia sudah berjualan empal sejak tahun 1948 secara berkeliling di kota Cirebon. "Sekarang Bapak sudah tak mampu berjualan", tutur Casita (27), anak Mang Darma yang kini mengurus warung tersebut. "Soalnya sudah 80 tahun. Jadi harus istirahat di rumah", tambahnya lagi.
Awalnya, tutur Casita, Darma bekerja sebagai penumbuk bumbu pada penjual empal gentong lainnya. Lama-kelamaan, ia pun hafal bumbu empal gentong. Karena itulah sejak tahun '48, ia keluar dan membuka usaha sendiri dengan berjualan keliling. Kemudian sejak tahun '82, Darma mangkal di dekat rel kereta, tak jauh dari lokasi jualan saat ini. "Di tempat ini baru sekitar 5 tahun," jelas Casita.
Sesuai dengan namanya, daging dan jeroan ini dimasak di dalam gentong dari tanah liat selama lebih dari 10 jam. Yang dimasak juga tidak terbatas hanya daging, tetapi juga jeroan seperti limpa, paru, hati, usus, babat, bahkan kepala sapi pun masuk. "Soalnya memang ada yang suka," jelas Darma.
Dalam sehari, warung Darna bisa kedatangan 100 orang. Untuk itu ia menyediakan 25 kilogram daging dan jeroan! Makanya tak heran kalau hasilnya bisa mencapai Rp 700 ribu per hari. Belum termasuk bila ia mendapat pesanan untuk rapat, arisan, atau pesta.
Pembeli bisa memilih daging atau jeroan yang dikehendakinya. Setelah itu daging dalam gentong tadi akan dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah. Di atasnya lalu ditaburi bawang goreng dan daun bawang. Empal gentong bisa disajikan dengan nasi atau lontong, sesuai selera pengunjung.
Kini empal gentong Mang Darma dijual Rp 5.000 per porsi. Sebagai pelengkap, biasanya disediakan kerupuk lambak (kerupuk kulit kerbau) yang didatangkan dari Plered, disebut derokdok. Selain di Jl. Slamet Riyadi, empal gentong Mang Darma juga bisa di temukan di beberapa tempat di Cirebon seperti di Pujagalana, Stasiun Kereta Cirebon atau di Grage Mal yang semuanya dikelola anak-anaknya. Di Jakarta, Empal gentong Mang Darma bisa ditemukan di daerah Bintaro.


TAHU GEJROT
Tak banyak orang yang tahu mengapa tahu yang disantap bersama saus kecokelatan ini dinamakan tahu gejrot. Tetapi kata sebuah sumber nama itu diambil dari cara memberi saus yang digejrotkan (dikeluarkan dari botol melalui lubang dengan cara dikocok-kocok). Biasanya penjual tahu gejrot menyediakan 2 piring terbuat dari tanah liat seukuran telapak tangan orang dewasa. Piring pertama digunakan untuk tahu goreng yang sudah di iris-iris. Piring kedua berisi ramuan khas yang terdiri dari bawang merah, cabe, dan garam. Bumbu ini kemudian diulek lalu ditambahkan saus berupa campuran gula merah dan kecap tadi yang dibubuhi sambil digejrot kan tadi.
Penganan ini bisa ditemukan di hampir setiap sudut kota Cirebon. Salah satu pedagangnya adalah Sarkim (32) yang sudah 10 tahun menjajakan dagangan ini. Daerah operasinya meliputi jalan-jalan utama Cirebon seperti Pagongan, Karanggetas, dan Siliwangi. Ia berjualan sejak jam 9 pagi hingga 5 sore.
Tahu-tahu ini diambilnya dari seroang bandar tahu gejrot di daerahnya sekitarCiledug, 35 km ke arah timur Cirebon. Karena bergabung dengan bandar tahu gejrot ini, ia berkesempatan mengikuti acara-acara resmi di kota Cirebon yang menghadirkan makanan-makanan khas Cirebon. Dalam satu hari ia bisa mendapatkan keuntungan hingga 20 ribu rupiah. "Lumayanlah untuk biaya makan sehari-hari", tuturnya.

OLEH-OLEH KHAS CIREBON
Kecuali makanan khas di atas, ada pula makanan Cirebon lain yang berupa keringan yakni kerupuk udang, rangginang, emping, klitik (butiran jagung yang dipukul gepeng lalu digoreng dengan rasa asin dan manis), encrod (keripik singkong pedas), kerupuk melarat, rebon, ikan asin, petis udang, dan terasi. Nah, oleh-oleh ini bisa didapat di Pasar Pagi, pasar tradisional yang terletak di Jl. Karanggetas atau di Jl. Lemah Wungkuk.
Yang paling sering dicari orang adalah kerupuk melarat. Warnanya kuning, merah, atau hijau, dibuat dari tepung tapioka. Rasanya manis-manis asin. Disebut melarat, karena digoreng di atas pasir. Rangginang yang terbuat dari ketan juga tersedia dalam berbagai jenis dan ukuran di pasar ini. Ada yang mentah, ada yang sudah digoreng. Rasanya pun bermasam-macam, ada yang manis, asin, pedas dan rasa udang.
Ikan asin jambal roti juga termasuk yang disukai banyak orang. Ikan asin ini bisa didapatkan dengan harga 20 - 22 ribu per kilonya. "Tergantung jenisnya mas. Ada yang agak keras atau yang renyah", ujar Mastiyah, seorang penjual di situ. Selain itu juga tersedia keripik yang terbuat dari kulit ikan jambal roti yang diiris tipis.

ES CUING
Es Cuing sebetulnya tak ubahnya dengan cincau hijau. Cara penyajiannya saja yang berbeda. Bila di sini orang menjual es cincau dengan sirup yang dibuat dari gula putih, es cuing disantap dengan sirup gula merah, es serut dan siraman santan. Ciri khas lain, saat dimasak, sirup gula merah dicampur dengan sobekan daun pisang kering untuk memberi aroma. Rata-rata es cuing dijual Rp 500 per gelas. Rasanya sungguh segar di tengah teriknya suhu udara Cirebon yang cukup menyengat.
MI KOCLOK DAN TEH POCI
Mi selalu terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia. Cirebon pun memiliki mi yang khas yang disebut mi koclok. Salah satu kedai mi koclok terdapat di depan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Memakan Mi Koclok sebaiknya dalam keadaan perut lapar. "Rasanya sangat gurih, sehingga cepat kenyang", tutur Enah, yang sudah 7 tahun berjualan di situ. Gurihnya mi berasal dari kuah yang terdiri dari campuran kaldu ayam dan santan yang sangat kental. Sedangkan isinya berupa mi telor yang telah direbus, irisan telur rebus, daging ayam, taoge, dan kol. Semua ini lalu disiram dengan kuah gurih yang masih panas. Harga per mangkuk Rp 3.000.
Di komplek ini pula bisa ditemukan teh poci. Minuman hangat ini harganya Rp 2.500 disajikan dalam poci kecil terbuat dari tanah liat serta gelas yang berisi gula batu. Di komplek Keraton Kasepuhan ini terdapat sekitar 8 kedai yang menyediakan teh poci. Tentu masih ada jajanan lain seperti, nasi goreng, soto ayam, sate kambing, dan gule.



EMPING DAN INTIP
Bila Anda menyusuri Jl. Raya Gunung Djati menuju Indramayu, maka akan Anda temui emping dan intip. Kedua makanan ini memang sudah sejak lama menjadi home industry di daerah ini sejak puluhan tahun lalu.
"Sudah 20 tahun lebih saya membuat dan menjual emping", tutur Ikhsan (61). Menurutnya ada sekitar 20 lebih rumah tangga yang membuat usaha emping ini. Biasanya ia membuat emping seminggu sekali dengan bahan 100 kg tangkil (mlinjo) yang didatangkan dari Banten, Kuningan, atau Rajagaluh.
Mlinjo kemudian disangrai dengan pasir panas selama kurang lebih 15 menit, lalu dipukul untuk memecahkan kulit serta mengeluarkan dagingnya. "Dagingnya yang berwarna putih inilah yang diolah menjadi emping yang tipis, atau kripik mlinjo yang kecil-kecil", tuturnya.
Emping ini dijualnya sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 24 ribu per kilonya. Terkadang ia menerima pesanan untuk ekspor ke Singapura, Malaysia, atau Arab. Kegiatan pembuatan emping akan meningkat menjelang muludan (memperingati Maulid Nabi). Di saat-saat seperti itu ia membutuhkan 8 kwintal mlinjo
Pengusaha emping biasanya juga membuat intip, makanan yang terbuat dari kerak nasi. Kerak nasi yang terdapat di dasar panci ini dilepaskan, lalu dijemur hingga kering. Setelah itu digoreng hingga mengembang dan diberi bumbu penyedap. Jika ingin yang manis, bisa diberi larutan gula merah. Sementara untuk yang asin, diberi ramuan yang terdiri dari bawang putih, ketumbar, santan, gula, dan garam. Bumbu ini dioleskan ketika intip baru saja diangkat dari penggorengan sehingga aromanya sangat menggoda. Rasanya renyah sekali, mirip-mirip dengan rangginang. Harganya? "Murah kok, cuma Rp 8.000 sekilo", ujar Endah, seorang pembuat dan penjual intip.
BUBUR SOP AYAM
Bubur biasanya disajikan tanpa tambahan kuah karena sudah mengandung banyak air. Tetapi di Cirebon justru disajikan dengan banyak kuah. Tentu beras yang dimasak tidak selunak dan sebasah bubur, tetapi agak lebih kering. Namanya Bubur sop ayam.
Kuahnya berisi irisan kol, soun, dan taoge. Menjelang disajikan, bubur ditambah kedelai goreng, irisan daging ayam, daun bawang, bawang goreng, kecap, merica, dan kerupuk.
Bubur ini banyak dijual berkeliling dengan gerobak di berbagai sudut kota Cirebon. Kalaupun ada yang mangkal biasanya di depan pertokoan atau supermarket. Salah satunya Sunardi (32). Pedagang yang telah menggeluti dagangannya 5 tahun ini mangkal tepat di seberang supermarket Matahari pada persimpangan antara Jl. Dr. Cipto dan Jl. Tuparev. Setiap hari ia bisa menghabiskan 4 kg beras. Sunardi menjual buburnya seharga Rp 2.000,-.

SATE KALONG
Ini bukan sate dari kalong atau kelelawar, tetapi dari daging biasa. Bila dinamakan sate kalong, cuma karena dijualnya pada malam hari saat kalong beroperasi. Sate kalong terbuat dari daging kerbau yang ditumbuk lembut bersama gula. Tiap tusuk sate saling menempel hingga membentuk seperti kipas. Sebelum di sajikan, sate dilepaskan satu-sama lain lalu dipanggang di atas arang. Setelah matang, dihidangkan dengan bumbu kacang seperti biasa dan lontong.
Sate kalong pun dijual secara berkeliling. Harga per tusuknya rata-rata Rp 200. Sehari seorang pedagang sate kalong, bila laku, bisa menghabiskan sekitar 2 kilogram daging kerbau.

DOCANG
Docang biasanya dijual berkeliling di pagi hari hingga siang hari dengan gerobak dorong. Agak sulit juga menemukannya. Tetapi jika ingin mencari yang mangkal, Anda bisa menemukannya di dalam Pasar Gunung Sari atau di depan Supermarket Yogya, di gang kecil antara dua toko.
Docang terbuat dari lontong yang diiris-iris kecil, ditaburi parutan kelapa segar serta irisan daun singkong yang telah direbus. Kemudian disiram kuah panas yang berisi dage (sejenis oncom atau tempe bungkil) yang dihancurkan, sehingga mengapung di bagian atas kuah. Sebelum disajikan, ditaburi kerupuk kecil-kecil berwarna putih.
Docang dijual dengan harga sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per porsi. Setiap hari, Bu Ida, salah seorang penjual docang yang berjualan sejak pukul 7 hingga pukul 12 siang mengaku bisa menjual sampai 100 porsi.
Kenapa tak berjualan sampai sore hari? "Docang tak cocok dinikmati sore atau malam hari. Jadi percuma saja menjualnya sore hari pasti tidak laku." sdp@Miftakh Faried/Foto-foto : Miftakh


Sujiwo >> dicopy dari www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 3:53 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Jogjakarta

GUDEG
Begitu sampai di Yogya, pasti gudeg-lah yang kita cari pertama kali. Betul di Jakarta atau kota lainnya, makanan ini bertebaran di mana-mana, tetapi belum sreg rasanya kalau tidak mencicipi gudeg asli Yogya.
Banyak kedai atau restoran yang menggelar gudeg. Bahkan hotel-hotel berbintang di Yogya pun menyuguhkan gudeg. Namun salah satu gudeg yang kini dicari orang adalah Gudeg Ibu Wito atau Yu Narni. Tempatnya di Jl. Kebon Ndalem, sekitar 100 meter dari jalan besar.
Narni mewarisi usahanya dari sang ibu, Ibu Wito, sejak tahun 1976. Usia kedai gudegnya lumayan tua, sejak tahun 1959. "Ibu saya mulainya di dalam Kebon Ndalem sini, tapi makin lama makin maju usahanya, sekarang bisa berada di depan gang Kebon Ndalem. Sempat juga di pinggir Jl. Mangkubumi, tapi sering kali saat ada tamu agung yang lewat jalan tersebut, kami yang berjualan harus masuk ke dalam gang. Ngumpet. Lama kelamaan, daripada bersusah payah, kami berjualan di dalam Jl. Kebon Ndalem sampai saat ini," jelasnya.
Warung gudeg Mbak Narni yang berukuran 2 X 10 meter ini tiap pagi selalu dijejali pembeli sejak pukul 6 pagi sampai 9 malam. Pembelinya pun beragam. Karena itu harganya pun tidak sama. "Dua ratus rupiah boleh. Apalagi ratusan ribu," canda Narni.
Di hari biasa, Mbak Narni bisa meneyediakan ayam opor sampai 20 ekor. Tapi hitungan tersebut bisa berlipat lima saat memasuki musim liburan atau Lebaran. "Untuk nangka mudanya saja saat ramai saya bisa menghabiskan 1 1/2 kwintal, kok," terangnya.
Banyak pejabat dan selebritis yang pernah mampir ke warung Mbak Narni. Mereka pernah mencoba sajian lengkap gudeg buatan Mbak Narni yang dilengkapi dengan telur, ayam opor, tahu dan tempe bacem, serta areh (saus dari santan kelapa, Red) dan sambel goreng krecek. Uniknya gudeg Mbak Narni adalah manis dan kering, tidak berair.
"Gudegnya dimasak dengan api dari kayu bakar. Ini yang tetap saya pertahankan sampai sekarang walaupun harus berkorban rumah saya jadi kotor terkena jelaga," tuturnya. Karena kering, gudeg buatannya bisa tahan sehari. Padahal dijamin tanpa bahan pengawet hingga bisa dibawa untuk oleh-oleh yang dikemasnya dalam kendil (wadah dari tanah liat, Red.).
Mau gudeg yang lain? Mampirlah ke wilayah Wijilan. Di sana Anda bisa sarapan gudeg. Tetapi jangan lewat dari pukul 10 pagi, Anda bakal gigit jari karena kehabisan.
Gudeg Juminten juga termasuk kedai gudeg yang berusia tua dan terkenal. Letaknya di Asem Gede, belakang Pasar Kranggan. Gudeg Juminten cocok untuk dibawa bepergian karena dikemas dalam kendil. Agar tidak basi, saus areh dan sambalnya dikemas tersendiri. Gudegnya sendiri tidak terlalu kering, dan di atas gudeg diberi potongan ayam goreng yang digoreng a la ayam Mbok Berek. Untuk satu gudeg kendil kecil dan setengah ayam goreng harganya Rp. 25.000, dan Rp. 35.000 untuk gudeg kendil besar.


BAKMOY

Nasi bakmoy bisa jadi sarapan jadi sarapan lezat saat Anda berada di Yogya. Hidangan ini terdiri dari nasi putih yang diberi potongan ayam, daging sapi, tahu dan udang yang dimasak dengan bawang dan kecap. Lalu disiram dengan kaldu daging. Di bagian atas, ditaburi bawang goreng dan seledri cincang. Harga semangkuk bakmoy berkisar Rp. 3000.
Untuk memperoleh semangkok bakmoy nan hangat dan lezat tersebut, kita bisa menuju ke Jl. Asem Gede 17, tepat di seberang penjual gudeg Ibu Juminten. Nama warungnya adalah Bakmoy Oentoeng. Pengelolanya adalah Sena Subrata, putra Pak Oentoeng.
"Ayah saya dulu menjadi penjaja bakmoy keliling. Ya, sekitar tahun 1950.Baru setelah tahun 1976, Ayah memiliki tempat berjualan menetap," ujar Sena yang dibantu oleh 3 pegawai dalam menjalankan usahanya.
Setiap harinya, Sena membutuhkan 2 1/2 kilogram ayam kampung dan 5 kilogramb eras. "Pelanggannya kebanyakan pelanggan lama. Baik yang tinggal di Yogya atau perantau," jelas Sena yang masih melayani sendiri pembelinya.


SATE MANIS
Kalau pergi ke Pasar Bringharjo di Yogya, jangan lupa mampir untuk mencicipi sate manis. Disebut sate manis karena rasanya manis. Daging sapi yang dipergunakan adalah daging sapi bagian sandung lamur yang banyak memiliki lemak.
Untuk bisa menikmati sate manis ini, kita hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp. 3500 sampai Rp. 6000 per 10 tusuk. Sambil makan sate yang dipincuk, Anda bisa jalan-jalan di pasar yang menjual banyak batik ini.
ANEKA SATE
Di Yogya selain ada sate manis, ada pula sate kambing maupun sate ayam. Ini memang bukan sate khas Yogya, tapi bagi orang-orang Yogya, sate ayam Podomoro di Jl. Mayor Suryotomo, termasuk favorit. Di kedai sate Podomoro, kita bisa memilih sate daging ayam biasa, jerohan ayam, kulit, atau telur muda. Menyantapnya bersama perasan air jeruk, bawang merah mentah atau potongan cabai rawit yang bisa diambil bebas.
Warung Sate Pak Amat terbuka bagi Anda yang gemar sate kambing. Warung ini buka dari pukul 12 siang sampai menjelang tengah malam. Sate kambing yang dijual di sana bukan saja daging atau bagian hati saja. Tersedia juga sate jeroan sampai pada bagian torpedo dan ginjal. Selain sate, di sini Anda bisa menikmati tongseng atau gulai.

GADO-GADO
Mau gado-gado Yogya yang orisinal? Pergilah ke Gado-Gado Ibu Hadi, Lantai 2 Pasar Bringharjo. Kalau gado-gado Jakarta yang sudah kita kenal itu diulek langsung, maka gado-gado Yogya, saus kacangnya sudah diolah dengan bumbu-bumbu. Rasanya segar karena terdapat rasa manis dan asam.
Isinya juga agak sedikit berbeda, antara lain kol dan mentimun mentah lalu diberi irisan tahu dan kentang rebus. Tidak lupa ditambahkan irisan daun selada.


BAKMI JAWA
Rasanya belum ke Yogya kalau belum mampir ke warung bakmi Jawa. Salah satu yang patut kita kunjungi adalah Bakmi Pak Mundiyo. Lokasinya di Jl. Ibu Ruswo. Selain bakminya yang enak, kita juga disuguhi suasana warung makan tahun '40-an. "Saya sengaja mempertahankan nuansanya karena kebanyakan orang yang berkunjung ke sini untuk bernostalgia," jelas Pak Rejino, pemilik sekaligus pengelola Bakmi Mundiyo.
Selain bakmi godog (rebus, Red.) yang menjadi favorit, adalah pak lay. Hidangan ini semacam capcay, tetapi isinya lebih lengkap. Dari jeroan ayam, irisan daging ayam, dan udang. "Menu seperti ini langka, lo, di Jakarta," jelas seorang pelanggan Bakmi Mundiyo dari Jakarta kepada Sedap Sekejap.
Selain bakmi goreng, kita juga bisa memesan bakmi kuah atau bakmi yang dimasak nyemek (agak basah). Semua dimasak di atas arang hingga rasanya khas dan bikin ngangeni.
Di wijlayah Gondomanan, ada lagi bakmi yang juga lezat. Namanya bakmi Pak Rebo. Lokasi tepatnya di Jl. Brigjend. Katamso, sebelah selatan Purawisata. Cara memasaknya juga di atas arang. "Bakmi kami khas, lo, karena kaldunya dari ayam kampung yang ditambah udang," kata sang pemilik.


PENGANAN TRADISIONAL TRUBUS
Kalau jalan-jalan sekitar Yogya, Anda akan sering kali bertemu ibu-ibu setengah baya menggendong wadah dari bambu dicat krem muda dengan tulisan Trubus berwarna merah. Mbok penggendong tenong ini menjajakan berbagai jajan pasar yang nikmat untuk dikudap.
Jajanan yang disediakan biasanya berupa kue mangkok, kue pepe, bakwan udang, dan macam-macam makanan basah lainnya hingga bakmi atau bihun goreng. Tapi di hari-hari tertentu, penjual tenongan Trubus tersebut membawa makanan-makanan yang berbeda. Rabu, misalnya, ia membawa semar mendhem, Sabtu menjual selat atau lumpia. Soal rasa? Jelas enak! Soalnya penjual tenongan Trubus tadi mengambil makanannya dari Toko Trubus yang pusatnya di Jl. Poncowinatan, dekat Pasar Kranggan.


ANEKA SOTO
Soto bukan makanan khas Yogya, tapi sungguh tidak sulit menjumpai warung soto. Salah satunya adalah soto Pak Sholeh di wilayah Tegalrejo. Soto disajikan bersama nasi putih yang disiram dengan kuah dan irisan daging sapi. Pelengkapnya, baceman daging sapi. Harganya semangkoknya hanya Rp. 2000, dan bacemannya seharga Rp. 2000 per potong.
Ada lagi soto ayam yang membuat kita harus mampir dan bikin ketagihan. Letaknya cukup jauh dari pusat kota. Kita harus menuju ke arah Jl. Raya Godean KM 3. Letaknya di Jl. Ngesti Harjo. Nama ngetopnya adalah Soto Sawah karena letaknya di tengah persawahan.
Ada lagi kedai soto yang bisa dinikmati malam hari. Meski kedainya di parkiran belakang Stasiun Tugu cukup sederhana, toh, pelanggannya cukup banyak.

AYAM GORENG MBOK BEREK
Siapa yang tidak mengenal Ayam Mbok Berek? Ayam nan gurih dan nikmat ini aslinya memang dari Yogyakarta. Tepatnya di wilayah Kalasan, desa Candisari. Kalau kita berkunjung ke Kalasan, ada dua buah restoran yang menjual ayam goreng ini. Yang satu milik sang ibu, satunya milik Ny. Noor, putri Mbok Berek.


GEPLAK
Geplak boleh jadi merupakan oleh-oleh yang paling sering dibawa pengunjung. Dibuat dari parutan kelapa, gula, perasa, dan warna. Daerah pembuat geplak adalah Bantul. Konon Ny. Pawirodinomo yang pertama kali memperkenalkan geplak sejak tahun 1912. Sampai saat ini ia masih tinggal di kota Bantul, sekitar 15 kilometer dari Yogyakarta. Tokonya di Jl. Jend Sudirman No. 192 dikelola oleh putrinya, Ny. Suharti.
Geplak yang lain bisa Anda temukan di Jl. Wahid Hasyim, Bantul. Namanya Geplak Yu Tumpuk. Pemiliknya adalah Bpk. Ciptodiharjo yang meneruskan usaha Yu Tumpuk, sang istri yang kini sudah almarhum.
Geplak Yu Tumpuk sangat terkenal karena ia menyediakan rasa gula jawa. Beda dengan penjual geplak lainnya, Geplak Yu Tumpuk tetap mempergunakan besek (kotak dari anyaman bambu, Red.) untuk kemasannya. Tiap kilonya dijual seharga Rp. 7500. Selain gula jawa, di situ juga tersedia geplak rasa vanili, frambos, dan jeruk.
Dalam perluasan usahanya, Yu Tumpuk juga membuat rempeyek kacang tanah. Peyek ini sangat terkenal karena gurih, renyah, dan mumbul ke atas. "Padahal bentuknya tidak bagus. Saya heran juga kenapa orang-orang sangat menyukai," ujar Cipto di belakang tokonya.
Kedai yang sebentar lagi akan diteruskan oleh sang menantu, Kelik, belakangan ini sudah mulai memperluas usaha dengan menjual bakpia dan beberapa jenis kue basah.


BAKPIA
Siapa tak kenal bakpia Patuk? Bakpia khas Yogya ini bisa ditemui di mana-mana. Mereknya beragam. Mulai dari Bakpia Patuk 75, sampai 25, 55, dan 35. Tak kita sangka, awalnya bakpia cuma ditawari dari rumah ke rumah oleh sang pemilik, Ny. Lie Bok Sing. Saat itu tidak hanya bakpia yang dijual, tetapi karena banyak peminatnya, akhirnya ia mengkhususkan diri pada bakpia.
Karena tanpa bahan pengawet, bakpia Patuk 75 tidak dapat bertahan terlalu lama. Paling-paling hanya sekitar 3 hari saja. "Sebaiknya kalau mau dibawa ke luar kota, diangin-anginkan dulu, jangan panas-panas langsung ditutup dan dibawa pergi," jelas Ny.Wenny, pengawas cabang Bakpia Patuk di jl. H.O.S. Cokroaminoto.
Saat ramai, produksi bakpia bisa mencapai 4 sampai 5 karung tepung terigu. Pembuatannya pun bisa lembur sampai pukul jam 7 malam. Di hari-hari biasa mereka hanya membutuhkan 2 karung tepung saja. Bakpia Patuk 75 hanya menyediakan bakpia isi kumbu/ kacang hijau yang diambil dari Blora.


PASAR BRINGHARJO
Bukan cuma batik yang ada di Pasar Bringharjo. Pasar yang letaknya di Jl. Malioboro ini juga menjual berbagai macam jajanan, makanan kecil, sampai buah tangan untuk yang di rumah. Di sini Anda bisa mencicipi pecel atau urap lezat. Pelengkapnya pun cukup komplet yakni tahu dan tempe bacem atau tempe gembus (tempe yang dibuat dari ampas tahu). Para penjaja pecel ini bisa ditemui di pelataran depan Pasar Bringharjo.
Selain membeli daster atau kain batik sebagai oleh-oleh, kita bisa membelikan teman atau kerabat gula jawa. Jangan salah lo, gula kelapa yang dijual per kilo sekitar Rp. 3000-an ini warnanya kuning keemasan. Ada pula gula aren yang terbuat dari nira pohon aren. Pembuat gula jawa terbaik dan paling terkenal di Yogya adalah dari Wates.
Ada juga penganan yang harus kita coba kalau mampir ke Bringharjo. Ada mendut, yaitu bulatan ketan diwarnai merah dan hijau disiram dengan kuah santan. Kalau mau yang lebih khas, pilih mega mendung, yaitu makanan kecil yang terbuat dari hunkue yang diwarnai biru dan putih. Jadi serupa dengan lapisan langit yang biru. Rasanya, jelas nikmat, deh!

JAJANAN DI KOTA GEDE
Dahulu Kota Gede yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta pernah menjadi ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Di daerah ini pun kita tak akan kekurangan makanan lezat. Beberapa di antaranya bisa jadi petunjuk untuk Anda.
KIPO
Makanan ini adalah khas Kotagede. Bentuk dan rasanya mirip kue bugis. Bahan dasarnya memang sama-sama tepung ketan dan unti kelapa. Tetapi kipo menjadi khas karena proses pembuatannya yang berbeda. Kue tidak dikukus seperti bugis, tetapi dibakar di atas wajan tanah liat. Hingga keharumannya jadi khas.
Salah satu penjual kipo adalah Ny. Endah yang meneruskan usaha mertuanya, Ibu Djito almarhum di Jl. Mondorakan No. 27.

YANGKO
Yangko adalah salah satu jenis oleh-oleh yang disukai. Selain rasanya enak, juga tahan lama. Kalau menginginkan yangko yang enak, mampirlah di toko Ngudi Roso Jl. Masjid Besar 1. Di toko inilah, kita bisa memperoleh yangko asli dengan merek Yangko Ibu Darto.
Saat ini yangko tampil dalam berbagai rasa. Ada rasa durian, stroberi, dan frambos. "Itu permintaan pasar, kok," jelas Pak Ketut, putra Ibu Darto, yang kini juga turut memproduksi yangko.
Industri yangko di Kota Gede masih merupakan industri rumah tangga."Saya hanya punya 2 tenaga untuk bisa memproduksi sekitar 300 dos dalam sehari. Bahkan untuk memotong dan mengemas, kita masih pakai tangan, lo," tambah Ketut bangga.

SATE KARANG
Sate karang bisa ditemui di wilayah Kota Gede di malam hari. Disebut Sate Karang karena lokasi penjualannya di Lapangan Karang, Kota Gede. Sate ini dibuat dari daging sapi yang dibumbui saus kacang lalu disajikan bersama lontong dan kuah lodeh. Unik dan lezat.
Di kedai ini tidak disediakan tempat duduk seperti pada umumnya. Para pembali duduk lesehan di atas tikar yang digelar di lapangan. Tentu saja, pantat kita agak terasa basah saat menduduki tikar, tapi begitu mulai menikmati satai dan wedang ronde, badan jadi terasa hangat.
Nah, kalau malam Minggu atau bulan purnama, sebaiknya kita datang sebelum pukul 7 malam. Kalau tidak, kita harus rela antre! "Minimal kita harus menyediakan 30 kilogram daging sapi, kalau pas ramai. Untuk ketupatnya dibutuhkan sekitar 20 kilogram beras," jelas Bpk.Prapto Hartono, penerus dan pemilik Sate Karang.
Jangan salah kira, lo. Sate Karang ini sudah terkenal sejak tahun 1948. Cuma saja saat itu masih dijual berkeliling oleh Pak Karyo Semito, ayah Prapto. Baru mulai tahun 1955, Karyo memutuskan menetap di Lapangan Karang.
JAJAN PASAR
Masih ada jajanan khas lain dari Kota Gede yakni Legomoro. Penganan yang terbuat dari beras ketan dan diisi daging yang dicacah ini sebenarnya serupa dengan lemper yang dibungkus daun pisang dan dikukus. Bedanya dengan lemper, setelah dibungkus daun, masih diikat tali bambu. Soal rasa, tidak jauh dengan lemper.
Ada juga lo, wajik dan sagon ala Kota Gede. Rasanya serupa dengan wajik dan sagon yang sudah kita kenal selama ini dengan penyajian berbeda. Kalau selama ini kita mengenal wajik yang diiris berbentuk kotak-kotak, di Kota Gede, kedua makanan ini dicetak bundar berdiameter 10 cm, dan dialasi daun pisang.
sdp @Rika Eridani,

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:51 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Solo

NASI TUMPANG
Makanan khas Solo ini sekarang makin sukar ditemui. Sesuai namanya nasi ini terdiri dari nasi putih yang ditumpangi aneka sayuran rebus seperti bayam, taoge, dan kacang panjang lalu disiram dengan kuah kental. Kuah kental ini dibuat dari campuran santan dan tempe semangit yang dihaluskan. Sajian khas Solo ini paling enak dinikmati untuk sarapan. Maka, penjual nasi tumpang di pasar-pasar tradisional ada pada pagi hari saja.
Selain ditemukan di pasar tradisional, penjual nasi tumpang banyak terdapat di sekitar Lapangan Manahan. Apalagi di hari Minggu saat banyak orang berolahraga pagi, jajanan Nasi Tumpang dijadikan salah satu pilihan sarapan. Selain dinikmati dengan nasi putih, sayur tumpang sama enaknya kalau disiramkan di atas bubur nasi yang masih panas. Nah, yang ini namanya menjadi Bubur Tumpang.

SOTO GADING
Walau bukan makanan khas Solo, tapi banyak warung soto yang dikenal enak oleh warga Solo. Selain soto ayam, ada pula soto sapi. Salah satu warung soto yang terkenal adalah Soto Gading yang terletak di Jl. Gading. Soto disajikan langsung bersama nasi putih dalam satu mangkuk
Kalau soto tak cukup, Anda dapat menambahkan salah satu lauk pauk yang disajikan tersendiri. Misalnya, tempe goreng kering, bakwan, tahu goreng, sosis solo atau garang asem.
Biarpun pengunjungnya sangat banyak, tapi kita tidak akan dibiarkan menunggu pesanan terlalu lama. Pelayannya gesit-gesit, lo. Setiap pesanan selalu disertai teriakan dalam bahasa Jawa halus.


ANEKA SATE
Seperti halnya soto, hidangan sate bukan makanan khas Solo. Tapi ada beberapa sate enak yang pantang kita mampiri saat ke Solo. Salah satunya sate jerohan Yu Rebi di daerah Penumping. Kecuali jeroan komplet seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, babat, iso, dan kikil, tersedia juga daging sapi.
Bagi orang yang mengidap penyakit darah tinggi, tak usah menghindar warung ini. Karena di warung milik Ibu Rebi ini juga disediakan sate tempe gembus. Bumbu perendam tempe sama dengan rendaman bahan jeroan. Demikian juga bumbu untuk menyantapnya.
"Tadinya Ibu saya, Bu Rebi, hanya berjualan keliling kampung. Lama-lama capek juga keliling. Jadi, Ibu memutuskan berjualan menetap di wilayah Penumping sini," jelas Wijianto, putra Ibu Rebi. Dalam sehari warung sate ini mampu menghabiskan 30 sampai 50 kg daging dan jeroan. Tak heran, karena pelanggannya bukan berasal dari Solo saja, melainkan dari kota-kota sekitar Solo. "Apalagi kalau masa liburan. Tamu akan lebih banyak dari Jakarta," terang Wiji.
Satu lagi warung sate yang sangat disukai orang Solo, yaitu Sate Tambaksegaran. Letaknya di Jl. Sutan Syahrir No. 39. Menu sate yang terkenal dari Sate Tambaksegaran adalah Sate Buntel. Sate yang berbahan baku daging kambing ini, tidak disajikan dalam bentuk potongan dadu seperti yang biasa kita kenal. Sate ini berupa cacahan daging kambing yang dibuntel atau dibalut dengan lembaran lemak daging kambing, lalu dibakar di atas bara arang.
Bumbu penyertanya adalah kecap manis dengan potongan tomat dan kol. Kalau suka pedas, tinggal tambahkan cabai ulek. Dinikmati bersama acar ketimun lebih sedap lagi.
"Kalau soal sate buntel, orang memang kenalnya kami. Bisa dikatakan kalau kami adalah pembuat pertama Sate Buntel," jelas Ny. Dewi, putri pemilik Sate Tambaksegaran. Warung sate ini sudah ada sejak tahun 1948, dahulu dikelola oleh Ny. Lim Hwa Youe. "Karena kesehatannya kurang baik, sekarang pengelolaannya dilakukan oleh kami berdua," kata Ny. Budianto.
Tiap harinya Sate Tambaksegaran selalu menyediakan daging kambing di luar tulang-tulang untuk sop sebanyak 40 sampai 50 kg per hari. Selain menyediakan sate, ada pula gulai, sop, atau tongseng. Selain Sate Buntel, cicipi juga gulai sumsumnya. Betapa nikmat menghirup kuah gulai sembari menyedot sumsum dari tulang.


TENGKLENG
Kalau main ke kota Solo, jangan lupa cicipi tengkleng asli Solo. Soalnya masakan dari tulang dan kepala kambing ini menjadi kebanggaan Solo seperti halnya nasi liwet. Kenikmatan makan Tengkleng terasa saat kita menggerogoti daging dari tulangnya atu mengisap-isap isi sumsum tulang. Sajian tengkleng serupa gulai kambing. Bedanya, yang dijual bukan potongan daging, melainkan potongan tulang kaki atau kepala kambing. Kuah gulai kambing juga cukup pekat dengan santan yang kental sedangkan kuah Tengkleng tidak sepekat gulai kambing. Sebagai pelengkap biasanya disediakan jeroan dan otak, tetapi di jual dengan harga lebih mahal. Antara kuah dan isi biasanya ditata berbeda tempat. Pembeli bisa memilih potongan kaki atau kepala kambing sesuai selera. Harganya juga terjangkau, rata-rata 1 porsi berkisar Rp. 3000-an.
Walaupun banyak warung tengkleng di kota Solo, Warung Tengkleng Barokah di Lapangan Manahan lebih sering dikunjungi orang. Tengkleng Barokah hanya berjualan tiap hari Minggu. Nah, kalau tidak ingin kehabisan, jangan datang lewat jam 7 pagi. Di luar hari Minggu, Anda bisa makan tengkleng di daerah Laweyan, tepatnya di Pasar Jongke pusat oleh-oleh khas Solo. Warung tengkleng di Pasar Jongke juga sangat terkenal.

MI TOPRAK
Mi toprak salah satu makanan khas Solo. Jajanan enak ini banyak ditemui di pelosok kota Bengawan ini. Tapi jangan bilang sudah mencicipi Mi Toprak kalau belum mampir ke Warung Toprak Kartopuran di Jl. Kartopuran. Pengelolanya saat ini adalah Mbak Yuyun, cucu dari Mbah Karto, pemilik pertama Mi Toprak ini.
Jam 11 siang warung Mi Toprak ini baru melayani pembeli. Biar begitu setengah jam sebelumnya pembeli sudah mulai antre. "Mi Toprak Kartopuran rasanya lain. Tetelannya banyak, tapi rasanya tetap segar," komentar seorang calon pembeli.
Komposisi Mi Toprak terdiri dari mi kuning, potongan kol tahu goreng, telur, tempe goreng, dan sosis solo. Lalu disiram dengan kuah kaldu dan irisan tetelan daging sapi, serta taburan bawang goreng plus seledri. Untuk pelengkap, kita bisa menambah karak (kerupuk nasi). Rasanya pas dimakan di waktu brunch karena tidak terlalu mengenyangkan, tapi cukup mengganjal perut sambil menunggu makan siang. Harganya juga cukup murah, lo. Hanya Rp. 3.000.
"Sebelum krisis (krisis ekonomi, Red.) sehari kami bisa menghabiskan lebih 9 kg mi kuning. Kalau sekarang paling banter hanya 5 kg saja. Itu pun cuma di hari liburan sekolah, Sabtu, atau Minggu," terang Mbak Yuyun yang baru mengelola Mi Toprak ini selama 2 tahun terakhir.



NASI LIWET
Nah, ini dia salah satu makanan khas Solo. Biasanya ada menjelang malam hari. Kebanyakan warung yang ada tidak menyediakan tempat duduk. Para pengunjung dipersilakan duduk lesehan. Salah satu Nasi Liwet yang terkenal adalah Nasi Liwet Ibu Wongso, di daerah Keprabon, Jl. Teuku Umar. "Warung ini sudah ada sejak tahun 1963. Turun-temurun dari nenek dan ibu saya, Bu Wongso. Baru 7 tahun belakangan saya yang mengelola," ujar Bu Cipto sambil melayani pembeli.
Setiap malamnya, Bu Cipto bisa menghabiskan 15 liter beras, 8 ekor ayam untuk opor, dan 50 - 100 butir telur. "Kalau sedang ramai paling banyak hanya menambah 2 liter beras saja," sambungnya.
Nasi liwet yang dijual seporsi Rp. 7.000 ini memang banyak penggemarnya, terutama dari luar kota. Yang disebut nasi liwet adalah nasi gurih yang diguyur dengan sayur labu siam. Untuk lauknya, pindang telur ayam serta suwiran daging ayam opor dan areh. Disajikan diatas pincuk (piring dari daun pisang, Red.), sedangkan sendoknya ya sendok stainless steel biasa. Jangan salah lo, satu porsi nasi liwet ini ukurannya tidak terlalu banyak. Porsi nasinya sekitar 6-8 sendok makan saja. Tak heran, kalau sudah merasa cocok dengan rasa dan suasananya, bisa-bisa kita minta tambah dan tambah.


WEDANG DONGO
Sambil menikmati gurihnya nasi liwet, Anda bisa minum wedang dongo. Minuman hangat beraroma jahe ini serupa dengan wedang ronde. Isinya terdiri dari bulatan ketan dengan isi kacang tumbuk dan irisan kolang-kaling. Setelah diguyur dengan air jahe manis, wedang dongo tidak ditaburi kacang tanah yang disangrai.
Di samping Nasi Liwet Ibu Wongso, masih di wilayah Keprabon, ada warung khusus yang menjual wedang dongo ini. "Orang-orang bisa menyebut dengan wedang ronde. Tapi orang Solo lenih senang menyebutnya dengan wedang dongo. Saya sendiri kurang tahu kenapa diberi nama dongo," kekeh Bayu Priyono, sang penjual.
Nama warungnya adalah Warung Klengkeng. Karena di siang hari warung ini digunakan untuk menjual Es Klengkeng. "Kalau musim panas, laku sekali. Tapi tetap saja lebih terkenal wedang dongonya," jelasnya. Untuk wedang, tiap malam, Bayu harus menyediakan 50 kilo kacang putih.
Terutama di musim liburan. Waktu masa kurang aman seperti tahun-tahun lalu, penjualan bisa turun 40 persen lebih. Tahun ini sudah mulai bergerak normal," terang Bayu.


DAWET
Menikmati Dawet di cuaca panas memang enak sekali. Nah, kalau kebetulan sedang mampir ke Pasar Gede Solo (sekarang pindah di samping Gladak, karena pasar lama sedang direnovasi dari musibah kebakaran, Red.), jangan lupa cicipi Dawet asal Solo. Dawet atau cendol dari Solo ini terbuat dari pati aren, atau disebut pula sebagai onggok. Air dawetnya pun berwarna putih bukan kecokelatan karena guyuran sirup gula kelapa.
Isi dawetnya selain cendol, biasanya diberi selasih dan pacar cina. Sebagai pemanisnya, sirup gula kelapa. Untuk mendapatkan kesegaran Dawet tadi, kita hanya perlu merogoh kantong sebanyak Rp. 1000 rupiah saja.


GEMPOL PLERET


Minuman segar ini sekarang sudah mulai susah dijumpai. Hanya di tempat-tempat tertentu . gempol pleret yang manis-manis gurih ini baru bisa ditemui. Salah satunya, di depan Toko Abon Varia, di kawasan Coyudan. Gempol pleret terdiri dari bulatan-bulatan tepung beras seukuran ibu jari orang dewasa. Bulatan ini lantas diguyur dengan kuah santan, dan dikucuri gula kelapa cair. Rasanya? Wah, sedap sekali, apalagi dinikmati di pinggir jalan sambil berdiri.


SERABI NOTOSUMAN
Pergi jalan-jalan ke Solo, jangan lupa mencicipi serabi. Bedanya dengan serabi yang sudah kita kenal, serabi khas Solo tidak dimakan bersama saus santan manis. Tetapi rasanya memang sudah manis. Salah satu penjual serabi ternama di kota Solo adalah Serabi Notosuman. Letaknya di Jl. Mr. Moh. Yamin.
Awalnya di tahun 1920-an, pasangan Hoo Gieng Hok 1920-an memulai usaha serabi di Notosuman. Usaha ini ternyata berkembang, sampai-sampai bisa diwariskan kepada anak cucu. Makin terkenal lagi pada masa Ibu Margo Utomo. Karena serabinya yang kondang itu, beliau pernah di-booking oleh Bung Karno. Ibu Margo Utomo tidak boleh menjual serabinya selama sehari ke masyarakat. Dari membuat biangnya pertama jam 9 pagi sampai membuat serabi terakhir dijaga terus oleh tentara.
Saat ini usaha keluarga diteruskan oleh putra-putri Ibu Margo Utomo. Di Solo sendiri terdapat dua toko Serabi Notosuman. Keduanya dikelola oleh dua orang putri Ibu Margo, yaitu Ny. Handayani dan adiknya, Ny. Lidya. "Kedua toko ini saling mendukung, kok, tidak saling bersaingan," ujar Lidya kepada Sedap Sekejap. "Soalnya kalau salah satu dari toko kita bahannya habis, kita bisa back up. Hingga nyaris tak ada sisa adonan," lanjutnya lagi.
Serabi favorit kota Solo ini dalam sehari di satu toko bisa menghabiskan 20 kg beras. "Belum lagi kalau ada tambahan pesanan. Bisa lebih dari itu. Di hari libur, Sabtu, atau Minggu pesanan juga banyak," ujar Lidya sambil tersenyum. Tak heran kalau ingin mendapat serabi, kita memang harus pagi-pagi sekali datang memesan. Terlambat sedikit, bisa-bisa gagal membawa serabi. "Sebenarnya kita mulai siapkan bahan dari pukul 2 dini hari. Ke toko sekitar jam 2.30. Tapi herannya ada saja yang datang jam segitu, lo," kata Lidya.
Kalau sedang banyak pesanan, bisa saja kita yang datang pukul 5.00 baru bisa dilayani pukul 7.00. Di hari biasa memang kita bisa datang sedikit lebih siang, tetapi tetap tidak bisa lebih dari pukul 10.00.
Biarpun ada 2 toko, tapi pengaduk adonannya cuma satu, lo! "Kita masih satu resep. Bahan-bahannya sama. Cuma tempat jualannya saja beda. Begitu juga yang di Yogya. Biarpun pengaduknya beda, tapi bahan dan resep masih sama. Jadi dari segi rasa tak ada perbedaan."


OLEH-OLEH KHAS SOLO
Tidak perlu bingung memilih buah tangan bila datang dari Solo. Di kota ini tersedia segudang pilihan. Dari toko kue modern macam Toko Orion tersedia kue dan roti. Salah satunya yang terkenal adalah sus kering dan lapis Surabaya. Tempatnya di Jl. Urip Sumoharjo.
Sementara di Pasar Klewer, pusat batik Solo, kita bisa menjumpai berbagai penganan khas Solo. Dari ampyang kacang, sampai intip goreng. Yang paling unik adalah intip goreng, karena bahan bakunya dari kerak nasi yang dijemur, lalu digoreng baru dikucuri gula kelapa cair.
Tempat yang lain adalah Pasar Jongke. Kalau ke tempat ini terlalu jauh, pilihan lainnya adalah Jl. Coyudan. Di sana ada sebuah toko oleh-oleh yang terkenal, Toko Varia. Di samping menjual berbagai oleh-oleh, kue basah tradisionalnya seperti sosis Solo dan Semar Mendhem dikenal enak. Selain itu Toko Varia kondang dengan abonnya. Jenisnya pun bermacam-macam ada ayam dan sapi, dengan rasa manis atau pedas.
Bagi yang suka berkunjung ke pasar tradisional, jangan lupa mampir ke Pasar Gede. Sayang sekali Pasar Gede lama habis terbakar. Walaupun pindah sementara, tapi masih ada oleh-oleh khas yang dijual di sana. Salah satunya jeruk Tawangmangu. Di Pasar Gede ada pula penjual karak (kerupuk nasi) mentah. Pas sekali untuk oleh-oleh. Kalau ingin memberi oleh-oleh yang bisa langsung dinikmati, kita bisa pilih usus goreng atau kulit ayam goreng. Jangan salah, lo, gorengan usus dan kulit ini sangat kering dan renyah. Jadi pasti awet dan cocok untuk oleh-oleh.


TIMLO
Makanan satu ini jangan tidak diicipi. Rasanya belumlah sampai Solo kalau belum mencoba yang namanya Timlo ini. Sajian yang berupa potongan hati dan ampla ayam ditambah irisan sosis Solo dan telur pindang manis disiram kuah kaldu bening yang segar ini memang banyak ditemukan. Tapi yang paling banyak penggemarnya adalah Timlo Solo di Jl. Urip Sumoharjo dan satu warung Timlo Sastro di belakang Pasar Gede lama,tepatnya di daerah Ketandan. Biasanya Timlo dinikmati bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng.
Untuk warung Timlo Jl. Ketandan, kita hanya bisa mendapatkannya selama pagi hingga siang hari saja. Sedangkan untuk Timlo Solo Jl. Urip Sumoharjo bisa dinikmati kapan saja. Uniknya, penjual Timlo Sastro, dalam menghitung makanan yang kita santap tidak mempergunakan kertas nota seperti yang kita kenal. Kita hanya menyebutkan makanan dan minuman yang kita santap, lalu sang penjual menghitung dengan sabak (serupa papan tulis kecil, Red.).

sdp@Rika Eridani, foto-foto: Rika


Sujiwo >> dicopy dari sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 3:48 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Jakarta -2-

ASINAN KAMBOJA
Sesuai dengan namanya, asinan kreasi Ny. Isye ini berlokasi di Jalan Kamboja, Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak dibuka tahun 1986, Asinan Spesial Ny. Isye ini sudah laris manis. "Maklum kami tangani secara spesial," ujar Toto Suharto, suami Ny. Isye, pemilik kedai ini.
Bicara soal spesial, ternyata bukan cuma pembuatannya yang khusus, pemilihan bahan pun dilakukan secara istimewa. Selada, wortel, mi, ketimun, dan taoge, misalnya hanya dibeli di penjual langganan di Pasar Cipinang. Bahkan untuk kol yang kebutuhannya setiap hari 15 kilogram, khusus didatangkan dari Lembang, Jawa Barat. Begitupun dengan kerupuk mi yang di"impor" dari Bogor. "Soalnya kerupuk mi buatan Bogor dibuat dari campuran tepung sagu dan terigu. Jadi lebih renyah," jelas Isye.
Toh, tak hanya di dua kota itu pasangan ini berburu bahan demi kelezatan asinan mereka. Kacang tanah bumbu sang asinan mereka datangkan dari Tuban. Alasannya, kacang tanah dari Jawa timur itu lebih gurih dan pas dijadikan bumbu asinan.
Untuk menghasilkan asinan yang lezat itu, Isye punya trik khusus. "Saya pakai gula pasir, bukan gula merah seperti umumnya yang dibuat orang. Supaya tahan lama, air yang digunakan pun air matang," papar Isye.
Soal tahan lama memang bukan omong kosong. Menurut Isye asinan buatannya mampu bertahan hingga 1 minggu. "Bahkan seorang pelanggan saya yang membawa asinan saya ke Amerika bilang, asinan saya bisa bertahan sampai 1 bulan," kata Isye bangga Di kedai yang relatif kecil dan sederhana yang cuma bisa menampung 30 - 40 orang itu, Isye boleh dibilang tak kerepotan melayani pembelinya. Kecuali karena dibantu 10 karyawannya, para pelanggannya lebih suka memesan lewat telepon. Selain itu, ia pun sudah membuka dua cabang di Food Plaza Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai. Mereka juga kerap ambil bagian di acara-acara festival makanan yang kerap di gelar di berbagai Mal di Jakarta.

GADO-GADO BOPLO
Di Jakarta gado-gado Boplo merupakan trade mark gado-gado. Tak heran, gado-gado ini sudah "beredar" selama 29 tahun. Padahal awalnya, sang pemilik, Ny. Juliana Hartono cuma memulai dari hobi mencoba-coba resep. Keisengannya ternyata membawa hasil. Kini gado-gado buatannya bukan main lakunya. "Satu hari saya membutuhkan 50 kilogram kacang, lo," cetusnya bangga. Ketika pertama kali berjualan Aye, panggilan Juliana, membuka kedainya di rumahnya, di daerah pasar Boplo, Kebon Sirih. Karena laku keras, ia pindah ke tempat yang lebih besar di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat yang sekarang dikelola saudara iparnya, Ny. Esther.

Keistimewaan gado-gado Boplo terletak pada kacangnya. Kalau biasanya orang membuat gado-gado dengan kacang tanah, Aye menambahkan kacang mede. Makanya harganya pun 2 kali lipat gado-gado umumnya. Satu piring gado-gado Boplo dijual dengan harga Rp 8.000. Trik ini ditemukan Aye tahun 1985. Dan ternyata semakin menambah jumlah pelanggannya. Berapa banyak perbandingan kacang tanah dan kacang mede, cuma Aye yang tahu. "Saya yang memegang resepnya. Dan resep itu pun sudah saya patenkan, lo," tandasnya.
Kini Aye sudah membuka dua cabang di Perumahan Kelapa Gading dan di Diamond Food Court Mal Kelapa gading. Malah khusus untuk wilayah Kelapa Gading, kata Aye, "Saya menyediakan jasa antar ke rumah."
Khusus untuk hari Minggu di Kelapa Gading, baru-baru ini Aye juga menyediakan nasi uduk dan nasi ulam. Sementara di Jl. Wahid Hasyim Aye cuma buka Senin hingga Sabtu. Dari ketiga kedai itu, Aye mengaku, mendapat pemasukan sekitar Rp 15 juta. "Uang itu selain untuk beli bahan, juga untuk menggaji 12 karyawan."
Gado-gado yang diawali keisengan ini bukan cuma mengantarkan Aye pada kehidupan yang lumayan mapan, tetapi juga sebuah penghargaan dari Tim Penggerak Aku Cinta Makanan Indonesia Departemen Pangan/Bulog pada bulan April 1994.

MI JAWA
Kalau Anda pecinta bakmi, singgahlah di Bakmi Jawa yang terletak Jl. Penjernihan, Pejompongan, Jakarta Pusat. Tak kurang dari 6 macam bakmi bisa Anda cicipi di sana. Mulai dari bakmi telur, bakmi kepala, bakmi uritan, bakmi paha, bakmi brutu, sampai bakmi rempela ati. Semua itu tersedia dalam versi rebus dan goreng.
Bukan cuma mi yang ditawarkan Sentanoe Kertonegoro (60). Sesuai namanya, restoran ini juga menyuguhkan aneka makanan lain khas Yogyakarta seperti, gudeg, tahu guling, lotek jawa, mangut lele, dan carang gesing. Tak ketinggalan pula wedang ronde, dawet dan jajan pasar asal Jawa Tengah seperti jenang gempol, lumpia, dan ledre. Pendeknya segala jajanan khas Jawa Tengah bisa Anda temukan di sana.
"Restoran ini memang saya buka lebih untuk pelestarian budaya ketimbang usaha bisnis," kata Sentanoe yang mengaku khawatir makanan tradisional kita tersisih dari makan luar negeri. Itu makanya Sentanoe yang juga dosen Ekonomi di beberapa perguruan tinggi di Jakarta ini enggan disebut pengusaha. "Saya lebih bangga dikatakan pengamat budaya," tandasnya.

Awalnya, Sentanoe merasa prihatin dengan nasib makanan tradisional daerah asalnya yang dijual di kaki lima dengan penanganan seadanya. Bakmi jawa yang menurutnya ibarat "makanan kebangsaan" warga Yogya merupakan makanan istimewa yang patut diangkat ke tempat yang lebih terhormat.
Akhirnya ia menghubungi penjual bakmi jawa langganannya di Jl. KHA. Dahlan Yogyakarta, Pak Rakiman. Ia menawari Rakiman berjualan di Jakarta. Akhirnya dibukalah kedai bakmi jawa yang pertama di Jl. Rempoa Raya tahun 1995. Setelah laris, Sentanoe pun membuka cabang di Penjernihan.
Selain Rakiman, Sentanoe juga mengajak ahli masak lain dari Bantul. Mereka diminta mendidik tenaga masak di Jakarta sampai bisa. Perkakas pun sengaja ia datangkan dari Yogya. Misalnya, poci, gelas, dan stoples. Karyawannya yang berjumlah 30 orang itu pun datang dari Gunung Kidul, Yogyakarta.
Karena tujuan semula untuk melestarikan budaya, maka interior restoran pun didesain khas Jawa. Di beberapa sudut tampak digelar makanan khas tadi, lengkap dengan pikulan yang khas. Para pelayannya pun menggunakan seragam batik khas Yogya. Sambil makan, para pengunjung ditemani gending jawa. Suasananya betul-betul romantis.
Diakui Sentanoe, selain kelezatan makanannya, suasana rumah makannya turut menunjang kelarisan restorannya. "Menurut pengamatan saya ada 3 tipe pengunjung restoran saya. Yang pertama, orang yang ingin makan. Setelah itu orang yang bernostalgia dengan suasana Yogya, dan orang yang ingin memperkenalkan makanan Yogya kepada temannya. Banyak, lo, public figure yang juga gemar makan di sini. Titik Puspa, Adnan Buyung Nasution, dan Muladi termasuk pelanggan saya," kata Sentanoe bangga.
Meski lebih menekankan unsur budaya, rumah makan ini cukup mendatangkan keuntungan. "Ya, setiap bulan omzetnya mencapai Rp. 75 juta," kata pria yang tengah menyusun buku Yogyakarta 2000 ini.

BUBUR AYAM CIDENG
Kalau cuma melihat tempatnya, tak pernah Anda sangka, Bubur Ayam Cideng ini punya segudang penggemar. Bayangkan, kedai yang terletak di kawasan Pasar Thomas, Cideng, Jakarta Pusat ini cuma mampu menampung 15 pengunjung saja. Tapi cobalah, duduk di situ dalam 2 jam, niscaya Anda akan melihat arus pengunjung yang silih-berganti tiada henti. Sementara di jalan, antre berjajar mobil-mobil mewah. Para pemiliknya rela makan di dalam mobil ketimbang tak kebagian tempat.
Udin (56 th), sang pemilik, sudah tak ingat kapan ia mulai merintis usahanya. "Pokoknya, usahanya saya teruskan dari Ibu yang semula berjualan ketoprak. Tapi karena nggak laku, saya banting stir ke bubur ayam," jelas Udin.
Karena makin hari penggemarnya makin berjibun, bukan cuma Udin yang beralih ke bubur ayam, ibu pun meninggalkan ketopraknya dan membantu Udin. Bahkan kemudian makin banyak lagi pembantu Udin.
Yang ditawarkan kedai ini cuma dua macam, bubur ayam biasa dengan harga Rp 4 ribu dan bubur ayam kuning telur seharga Rp 5 ribu. "Buburnya juga nggak macam-macam, kok. Pake ayam, kedele goreng, seledri, tongcai, dan emping. Tapi kecapnya memang khusus. Sejak dulu saya cuma percaya pada kecap cap Bebek sejak harganya masih seratus perak," papar Udin.
Masih ada rahasia khusus. "Berasnya harus beras Cianjur. Dan saya selalu bikin ayamnya sendiri, mulai dari motong sampai masak," cetus Udin.
Tak sedikit orang yang mengajak Udin bekerja sama membuka cabang, namun Udin selalu menolak. "Bukan karena sombong, tetapi saya rasa sekarang ini sudah cukup. Yang penting, kan, sudah ada buat makan dan biaya anak sekolah." Karena merasa cukup pula Udin tak pernah menambah kebutuhan berasnya. Sejak dulu ia cuma menggunakan 5-6 kg beras setiap hari. Jika sudah habis, ya sudah. Tak heran kedainya cuma buka selama 3 jam. "Penghasilan saya pun cuma Rp 500 ribu setiap hari. Tapi itu sudah cukup, kok, untuk menggaji karyawan," kata Udin yang hanya membuka warungnya sampai hari Sabtu itu.

NASI UDUK KARET
Meski cuma kedai, jangan remehkan Nasi Uduk Yoyo yang letaknya di Karet Bivak ini. Umurnya pasti mengujutkan Anda. Hampir setengah abad! Ya, sudah 46 tahun nasi uduk ini bertahan kendati pemiliknya, Pak Yoyo yang asli Betawi ini sudah meninggal 20 tahun lalu. Kendati juga warung nasi uduk makin ingar-bingar di Jakarta.
Kini kedai nasi uduk ini dikelola Asmawi (45 th) dan istrinya, Rohani (41). Sehari pasangan ini memasak 20 liter beras, 5 ekor ayam untuk ayam goreng, dan 5 kilogram daging sapi untuk empal. Jumlah ini mengingkat kalau ada pesanan utnuk arisan atau rapat kantor. "sebelon krisis lebih banyak lagi,"kata Rohani.
Selama 46 tahun ini sudah beberapa kali kedai ini pindah-pindah. Entah karena lokasinya akan dibangun gedung mewah atau sebab lainnya. Toh, kedai ini tetap saja sederhana. Ukurannya pun cuma muat 20 tempat duduk. Makanya setiap jam makan siang selalu terlihat antrean panjang. Namun orang tetap saja bersedia mampir makan di situ.
Di kedai ini para pengunjung sudah bisa makan kenyang dengan hanya menyediakan uang Rp 1.500. Tentu ini cuma untuk sepiring nasi uduk polos tanpa lauk. "Tapi karena nasi uduknya enak, ya, cukuplah," kata seorang pengunjung.
Sebagai teman nasi uduk, Rohani juga menyediakan ayam goreng serundeng, empal, ati-ampela goreng, dan gorengan kambing. "Cuma kalau malam saya nggak menyediakan gorengan kambing," jelas Rohani. Menurut pasangan ini, nasi uduk mereka tidak ada keistimewaannya dalam pembuatan. "Biasa aje kayak nasi uduk pada umumnya. Tetapi memasaknya saya tetap pake kayu bakar supaya rasanya lebih gurih," jelas Rohani.

SOTO GEBRAK
Menunya memang hanya ringan-ringan saja. Cuma soto-sotoan, dari soto ayam, soto daging, babat, usus, campur, dan rawon. Semuanya dipukul rata dengan harga cukup murah, 4 ribu rupiah seporsinya. Tetapi pengunjung yang datang ke sini harus punya hati "tabah". Sejak datang Anda sudah dikageti suara benturan menggelegar dari botol kecap yang dibantingkan ke meja. Benturannya cukup membuat jantung berdebar. Karena itu di dinding tertulis huruf besar-besar, "Senyum Boleh, marah Jangan" seakan mohon maaf terhadap kejutan-kejutan yang bakal Anda terima sepanjang makan di situ.
Meski kedai soto yang terletak di Jl. Setiabudi, Jakarta Pusat ini sudah didirikan sejak tahun 1972, namun ciri khas "gebrakannya" baru dimulai tahun 1990. "Terus-terang saya memperoleh idenya dari Soto Dog (artinya gebrak, Red) Jawa Timur," kata Purwanto, penanggung jawab Soto Gebrak Setiabudi.
Tapi, lanjut Purwanto, karena khawatir disangka menyajikan soto dari daging anjing, akhirnya disepakati bernama soto gebrak. Begitu keras gebrakan botol kecap berbentuk seperti botol jin ini (karena leher botolnya memanjang dan membesar dibagian bawah
Bukan cuma itu akibat gebrakan si botol kecap. Meski sudah diingatkan, toh, pengunjung yang protes tak sedikit jumlahnya. Maklumlah mereka yang tak terbiasa, merasa tidak bisa menikmati soto dengan santai. Apalagi mereka yang latah, pasti malu dibuatnya. Seperti seorang gadis yang tengah menikmati pesanannya, berseru "Eh copot-copot, ada apaan sih?" dengan tampang bingung. Tampaknya ia pengunjung baru. Sementara pengunjung lainnya yang sudah tahu, hanya senyam-senyum saja melihatnya.
Selain soto, Soto Gebrak Jaya Mulya memiliki menu andalan sate telur muda dan sate usus ayam goreng. Untuk sate telur muda, jangan coba-coba mencarinya di atas pukul 11 siang kalau tak mau kehabisan. "Padahal setiap hari saya membawa 30 hingga 50 tusuk," jelas Anton yang membuka kedainya sejak pukul 9 pagi ini. Dalam satu hari, ia menggunakan sekitar 40 kg daging sapi, 17 kg usus ayam, dan campuran jeroan yang terdiri dari usus, babat dan paru sekitar 15 kg. Pendapatan kotor yang diperolehpun lumayan, sekitar 3 juta rupiah per hari.
Di samping di Jl Setiabudi, Soto Gebrak ini bisa ditemukan di kawasan Jl. Tebet Utara I tepat di tikungan Casablanca dan juga di Jl. Pondok Gede yang menuju arah Lubang Buaya. ), setiap dua tahun, ia terpaksa mengganti botol kecapnya karena pecah .

GULTIK
Gulai memang bukan masakan asli Jakarta, namun Jakarta tidak kekurangan jajanan gulai. Di tikungan Jl. Mahakam dan Bulungan, Jakarta Selatan, misalnya, berderet kedai-kedai gulai yang akrab dikenal sebagai gultik (gule tikungan). Bahkan oleh para penggemarnya yang umumnya anak-anak muda istilah itu kemudian diplesetkan jadi gule tikus.
Uniknya, kedai-kedai yang berderet di sana tidak saling bersaing. Mereka kompak satu sama lain. Meski tanpa aturan tertulis, para pedagang berjualan bergantian. Baik hari maupun jamnya. Pedagang yang satu segera angkat kaki, begitu pedagang lainnya datang. Makanya kedai-kedai ini bisa buka selama 24 jam karena penjualannya bergantian. Tiap penjual kebagian 3 hari berjualan setiap minggunya.
Harganya boleh dibilang cukup miring. Dengan Rp 2 ribu, kita sudah bisa menikmati satu mangkuk gulai plus nasi beserta kerupuk. Rasanya pun cukup lezat. Daging sapinya empuk, kuahnya dari santan kental, dan bumbunya pun pas. "Daging, sih, memang kita pilih yang berkualitas," kata Tawar seorang penjual di situ yang mewarisi dagangannya dari kakeknya, Wongso Sutomo.
Meski harus dagang bergantian dan bukan satu-satunya kedai yang berdiri di situ, usaha Tawar cukup laris. Sehari ia bisa menghabiskan 5 - 6 kilogram daging. "Kalau malam Minggu bisa 9 kilogram," cetus Tawar yang bisa mengantongi Rp 300 ribu setiap kali berjualan.



YANG MULAI LANGKA, KUE RANGI DAN KERAK TELUR
Di samping jajanan di atas yang mangkal di kedai-kedai atau restoran, ada juga jajanan keliling yang mulai langka ditemui. Di antaranya kue rangi dan kerak telur. Bagi Anda, terutama bukan penduduk Jakarta, kue rangi mungkin terdengar asing. Bentuknya mirip kue pancong atau bandros, ukurannya saja yang lebih kecil. Rasanya jauh berbeda karena kue rangi dibuat dari bahan yang sederhana. Cuma campuran tepung kanji dan kelapa parut. Setelah dipanggang, kue disajikan dengan larutan gula merah.
Harganya relatif sangat murah. Hanya Rp 100 tiap sekat atau Rp 1.000 tiap lembar yang terdiri dari 12 sekat kue. Tetapi jangan tanya perjuangan untuk mendapatkannya. Boleh jadi hari ini Anda melihat pedagang kue rangi lewat di jl. Palmerah, besok ditunggu beberapa jam pun tak Anda temui.
Menurut Opik, pedagang yang berhasil ditemui Sedap Sekejap, para pedagang memang menjajakan dagangannya tak tentu arah. Yang penting laku. Ada beberapa daerah yang masih cukup sering dilewati pedagang kue rangi. Di antaranya, daerah Tanah Abang, Palmerah, dan Muara Angke. "Sebetulnya, sih, masih ada sekitar 30 pedagang yang berjualan di daerah ini," kata Opik.
Satu-satunya pedagang kue rangi mangkal yang bisa ditemukan Sedap Sekejap adalah di daerah Sabang. Nama penjualnya, Buang Sujana. Pria kelahiran Bogor berusia 34 tahun ini sudah berjualan kue rangi sejak tahun 1989. Usaha ini didapatkan dari orang tuanya yang dulunya juga penjual kue rangi. Bahkan cetakan kue rangi yang digunakannya saat ini juga warisan dari orang tuanya.
"Kalau beli sekarang mahal, bisa sampai lima puluh ribu", ujarnya. Mula-mula ia menjual kue ini secara berkeliling sampai akhirnya mangkal di tempatnya sekarang sejak tahun 1994. Di tempat itu pun kadang dagangannya tak habis. Kalau sudah begitu, Buang akan pergi menyusur jalan sekitarnya. "Kalau untung, dapatlah satu hari Rp 40 ribu," katanya.
Kerak telur pun termasuk makanan agak sulit didapat saat ini meski tak sesusah kue rangi. Paling tidak dengan pergi ke Monas, Anda bisalah menemukan 5 tukang kerak telur. Bentuknya bulat pipih, penuh dengan taburan serundeng kelapa.
Cara membuatnya cukup unik. Ketan yang sudah direndam air dimasukkan ke wajan yang sudah panas, ditekan-tekan hingga membentuk lingkaran. Kemudian ditaburi kelapa parut yang sudah dikukus. Di atasnya lalu dipecahkan 1 butir telur dan dibubuhi garam dan vetsin. Ketika setengah matang, wajan dibalikkan untuk memanggang bagian atas kerak telur. Kerak telor tidak akan tumpah karena bagian ketannya sudak merekat pada wajan. Setelah matang, kerak telur disajikan bersama serundeng (kelapa parut yang disangrai) dan bawang goreng.
Untuk 1 buah kerak telur seperti ini dijual seharga Rp 3.500 hingga Rp 6 ribu. "Biasanya kita lihat-lihat pembelinya. Kalau tampak berduit, ya, kita naikkan," kata Nur Ali, seorang penjual kerak telur di Monas.
Setiap hari Ali berjualan sejak pukul 4 sore hingga 11 malam. Dalam waktu sepanjang itu ia cuma bisa menjual 17 porsi. Untuk 17 porsi itu, ia membutuhkan 1 liter beras ketan putih dan 1,5 kg telur. Tentu sebelum krismon, penghasilan Ali lebih besar lagi. Maklum mereka yang jalan-jalan ke Monas pun dulu lebih banyak ketimbang saat ini. Jadi, tak heran kalau para pedagang kerak telur undur diri dari usahanya. Bukankah penawaran selalu sejalan dengan permintaan? sdp@Miftakh Faried/ Foto-foto : Miftakh

Posted by Imelda :: 3:46 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Makassar

COTO MAKASAR

Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki soto. Ada yang sepintas mirip, tetapi ada pula yang berbeda. Cotto makasar adalah salah satu soto yang agak berbeda dari soto-soto yang ada di daerah lainnya. Kuah cotto dibuat agak keruh. Penyebabnya adalah penambahan kacang yang digiling halus. Isinya berupa jeroan dan daging sapi. Soto yang hangat lezat ini dihidangkan bersama irisan lontong.

Anda yang gemar menikmati soto, dijamin bakal dimanjakan di Ujung Pandang karena yang namanya cotto makasar bertebaran di mana-mana.Hampir di tiap sudut kota bakal Anda temukan satu atau dua pedagang cotto. Kedai mereka diberi nama sesuai dengan nama jalan tempat mangkal dagangan mereka. Bahkan kini di mall pun kita bisa menjumpai kedai yang khusus menjual cotto makasar.

Saking banyaknya yang menjajakan cotto, kita agak sedikit bingung untuk memilih mana yang sesuai dengan selera kita.

Salah satu pedagang cotto makasar yang sangat ramai pembeli dan sudah lama beroperasi adalah Cotto Nusantara. Lokasinya memang di Jl. Nusantara, tepatnya di depan pelabuhan peti kemas Makasar.

Konon Cotto Nusantara sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. H Tutu, nama pemilik tempat tersebut, dibantu istrinya, Hajah Salawati Daeng Senga, meneruskan usaha yang terlebih dahulu di rintis oleh orang tua Tutu. Begitu ramainya warung ini, bahkan ketika masih siap siap pun, beberapa pembeli sudah duduk, menunggu dengan sabarnya. Padahal warung ini buka sejak pukul 07. 30 dan baru tutup sampai dagangannya habis. "Ya, kira-kira pukul 10 malamlah," kata Tutu.

Semangkuk cotto dijual Tutu seharga Rp 4.000. Tidak malah juga sebetulnya untuk semangkuk soto berisi daging, jeroan, dan lontong. Mungkin karena harganya, mungkin juga karena kelezatannya, cotto makasar buatan Tutu ini laku keras. Makanya sehari ia harus bisa menyediakan 60 kilogram daging ,jeroan, dan lidah.



SOP KONRO & SOP SODARA

Ada lagi sejenis soto yang juga banyak dicari orang saat berkunjung ke Ujung Pandang. Namanya sop konro dan sop sodara.Bagi mereka yang tidak biasa, kedua nama ini memang agak asing. Tetapi di Jakarta pun sop konro termasuk sop yang banyak penggemarnya.

Kedua sup ini sebetulnya tidak berbeda jauh. Sop konro isinya daging sapi, sementara sup sodara berisi jeroan, terutama babat. Di dalamnya juga ditambahkan perkedel. Uniknya sop konro, daging sapi disuguhkan bersama tulangnya yang besar-besar hingga begitu tersaji di depan kita, kelihatan amat menggoda. Meski disajikan

berikut tulang, tidak berarti kita akan kesulitan menyantapnya, lo.
Begitu masuk mulut, daging akan terlepas dengan sendirinya. Keduanya sama-sama disantap bersama kuah panas yang dibuat dari berbagai macam bumbu serta kluak dan kacang merah yang dilumatkan.

Bagaimana dengan sop sodara? Ternyata penamaan sop yang juga sama lezatnya ini punya cerita tersendiri. Para penjual sendiri yang memberi nama karena umumnya para penjual ini berasal dari daerah yang sama yakni daerah Pangkep. Karena mereka merasa bersaudara maka sop dagangan mereka diberi nama sop sodara. Para pedagang ini menggelar dagangannya di depan lapangan bola Karebosi, Jl. Jend. Ahmad Yani. Mereka sudah kira kira 20 tahun

Untuk mencicipi sop konro, Anda cukup menyediakan uang Rp 9.000, sementara sop sodara harganya Rp 5.000. Salah satu warung tenda penjual kedua macam sup ini adalah milik Ny. Nina. Warung ini buka sejak pukul 10 pagi hingga tengah malam. Warung ini bukan main larisnya. "Saya harus menyediakan 10 ekor sapi yang diambil tulang iganya saja," Jelas Nina.

Sedang untuk sop sodara, Nina hanya menyediakan 10 kilogram daging dan 5 kilogram isi perut. Jangan kaget, Nina bisa mengantungi Rp 800.000 sehari. "Tapi kalau bulan puasa bisa lebih banyak lagi," kata ibu beranak tiga ini bangga.

ES PALUBUTUNG

Kalau kita ke Ujung Pandang,sungguh keliru kalau kita tidak mencicipi es palubutung. Es ini sangat unik dan khas. Isinya berupa pisang yang disajikan dengan bubur sumsum, lalu diberi susu, sirup , dan es. Wah, segarnya! Dahaga kita karena berada di udara yang terik di Ujung Pandang dengan serta merta menguap. Harga permangkuk hanya Rp. 2000. Masih ada penjual es lain yang juga digemari masyarakat asli sana mapun pendatang dan turis, yakni es pisang ijo.
Salah satu pedagang es palubutung yang sampai sekarang masih bertahan ada di Jalan Veteran Utara. Bpk. Abdul Hami, namanya. Ia mengaku telah berjualan es palubutung selama 20 tahun, meneruskan usaha ayahnya. Warung tenda esnya sudah buka sejak pukul 10.00 sampai pukul 20.00. Dalam sehari Hami mengaku bisa menghabiskan sampai 20 sisir pisang kepok. Tiap sisir bisa menjadi 10 mangkok es palubutung.

PISANG HIJAU & ES PUTAR
Seperti telah diuraikan di atas, selain es palubutung, es pisang ijo juga memiliki penggemar. Kedua macam es ini banyak kita temukan di depan Benteng Fort Rotterdam. Di situ juga tersedia aneka macam es seperti es buah dan es putar. Es pisang ijo tidak berbeda jauh dengan es palubutung. Cuma pisang yang dibalut adonan tepung, bukan pisang kepok, tetapi pisang manis. Irisan pisang ini disajikan bersama bubur sumsum, sirup, dan es serut. Rasanya? Wah, segar nian!



PISANG EPEK
Orang Ujung Pandang tampaknya amat pandai memanfaatkan penghasilan alamnya. Pisang, salah satunya. Selain dibuat es, pisang juga dijadikan penganan selingan nan lezat. Pisang epek namanya. Sebetulnya pisang epek tak lain hanyalah pisang bakar, tetapi istimewanya bikin kita ketagihan. Bayangkan, pisang yang sebelum dibakar, dijepit lebih dahulu ini ini disuguhkan dengan taburan kelapa dan disiram kinca gula merah dan duren. Bisa Anda bayangkan, kan bagaimana lezatnya gula merah yang dipadu dengan durian?
Anda tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk menyantap pisang epek. Dengan Rp. 2.500 Anda sudah dapat satu porsi pisang. Isinya 3 buah pisang atau 4 buah kalau pisangnya berukuran kecil. Pisang yang digunakan bisa pisang kepok atau pisang manis. Pedagang pisang epek banyak sekali. Salah satunya ada di depan Tugu Pahlawan. Penjualnya, Pak Arsad mengaku sudah berjualan sejak 10 tahun yang lalu. Dalam sehari Arsad bisa menjual 15 sisir pisang. Apa rahasia sukses Arsad? "Saya pandai memilih pisang. Pisang yang dipakai jangan yang terlalu matan. Kecuali lebih enak, bentuknya pun bagus karena tidak pecah sewaktu dijepit," ungkapnya.

PEDAGANG KELAPA MUDA
Masih haus? Jangan khawatir, ada pedagang kelapa muda di sepanjang jalan. Bahkan dipagi hari pun pedagang kelapa muda sudah mulai beroperasi. Mereka menggelar dagangannya sejak 08.00 sampai pukul 7 malam. Umumnya para pedagang itu sudah berjualan sejak 25 tahun yang lalu. Kelapa muda yang disuguhkan dibelah dulu lalu diberi sirup. Uniknya, jenis sirupnya bermacam-macam. Anda boleh memilih salah satu yang Anda sukai. Tentu saja sebelum disajikan, kelapa muda tadi dibubuhi es dulu. Harga per buah hanya Rp. 2.500. Dalam sehari para pedagang itu bisa menghabiskan sekitar 50 buah kelapa. Asal tahu saja, kelapa-kelapa pelepas dahaga dari udara terik ini didatangkan dari daerah Bulu Kumbah.


ANEKA HIDANGAN TEPI PANTAI LOSARI
Berniat jalan-jalan ke Pantai Losari? Tak perlu takut kelaparan. Di sepanjang Jl Metro Tanjung Bungo ini kita akan banyak menemui deretan penjual aneka makanan dan minuman yang memenuhi dua ruas jalan itu. Ada sekitar 150 pedagang yang berjualan di sana. Makanan yang dijual pun beraneka ragam dari makanan khas makasar sampai aneka ikan ikan laut, seperti pisang epek, sop konro, cotto makasar, dan ikan bakar. Pendeknya di samping keindahan alam, perut kita juga ikut dimanjakan
Jus markisa merupakan oleh-oleh yang selalu dijinjing orang, tak peduli di daerahnya sendiri jus ini mudah ditemukan. Merk yang paling sering dicari adalah bintang dunia dan bola dunia. Pembuat jus dengan merek di atas adalah Edwin Andreas. Ia memulai usahanya tahun 1970. Ia bukan perintis usaha ini. Orang tuanyalah, King andris yang memulai usaha ini sejak tahun 1961.

Meski saingan tak sedikit, namun jus markisa buatannya tetap berkibar. "Kuncinya ya, menjaga mutu. Buahnya harus bagus," kata Edwin.

Awal kali yang dibuat hanya satu merek yaitu Bintang Dunia,namun karena banyaknya permintaaan pasar dan harga jual yag mulai mahal, terpikir untuk membuat jus markisa yang lebih terjangkau harganya. Maka diciptakanlah Bola Dunia dengan harga yang lebih murah, namun kualitasnya tidak kalah dengan Bintang Dunia.

Jus markisa buatan Edwin dijual dalam 3 macam kemasan. Botol tritop dengan isi 3 botol kaca berukuran masing-masing 315 ml Rp 45.000, Botol jenefer dengan isi 2 botol kaca, masing-masing berukuran 1/2 liter, Rp 50.000. Sedang botol pet dengan isi 1 botol plastik berukuran 2 liter dijual dengan harga Rp 75.000.

Edwin dibantu oleh 25 orang karyawan. Mereka bahu-membahu hingga bisa menghasilkan 12 kali produksi tiap hari. Satu kali produksi menghasilkan 144 liter. Markisa yang dijual dalam sehari bisa mencapai 600 liter. Mereka juga menyediakan servis lebih. Kalau Anda tak mau membawa sendiri, tulis saja pesanan Anda berikut alamat lengkapnya. Maka pesanan Anda akan sampai di tempat yang dituju. Sayangnya, yung boleh dipesan hanya kemasan botol tritop dan jenefer saja. sdp @ teks & foto: Rynol Sarmond

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com Sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:44 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Bandung

BANDREK DAN BAJIGUR
Selain dijual berkeliling, bandrek dan bajigur bisa Anda temukan di pusat jajanan, Jl. Cisangkuy. Pemiliknya adalah Hj. Siti Maemunah. Usia warungnya tidak main-main. Sudah 42 tahun! "Tapi pindah ke sini, sih, baru tahun 1994. Sebelumn ya di jl. W.R. Supratman," cetus Dedeh (49) sang penerus.
Minuman hangat ini dijual Dedeh seharga Rp 1.250. Biasanya para pelanggan menikmatinya bersama aneka gorengan seperti gehu (tahu goreng isi tauge), pisang goreng, nangka goreng, dan nanas goreng yang dijual Dedeh seharga 300-400 rupiah per buah.
Warung Dedeh buka sejak jam 6 sore hingga jam 12 malam. Selama itu ia mampu menjual 300-400 gelas bandrek dan bajigur. "Kalau malam minggu bisa lebih banyak lagi," jelas Dadah yang kini dibantu 5 orang karyawan, termasuk mengurus cabang bandreknya di MM Dago sejak 2 tahun lalu.


BAKSO MALANG KARAPITAN
Sejak hadir di pertengahan tahun '97, Bakso Malang langsung melejit. Makanya tak heran kalau cabangnya terus bertambah. Sampai sekarang sudah ada 5 tempat yakini jl. Karapitan, jl. RE Martadinata, jl. Soekarno-Hatta, Jl. Merdeka, dan di King's Shop ping Center.

Menu yang tersedia cukup beragam. Di antaranya bakso malang campur, ceker, bakso urat, bakso telur, batagor, dan siomay. Tersedia pula bakso mini, bakso goreng, pangsit goreng sampai nasi goreng. Harganya berkisar antara Rp 3.500 hingga Rp 7.000 seporsi. "Variasi makanan ini sengaja disediakan supaya pengunjung tidak bosan. Yang penting juga bakso kami berada di bawah pengawasan LP POM MUI Jabar," terang Nono Warsono, operation manager Bakso Malang Karapitan.
Menu tadi masih ditambah dengan rujak jagung bakar. Penganan ini sebetulnya hanya jagung manis yang dibakar, disisir, lalu disajikan bersama kuah asinan. Harga per mangkoknya Rp 2.200. Tempat makan yang buka setiap hari sejak jam 10 pagi hingga 10 malam ini setidaknya kedatangan 100 pengunjung setiap harinya. "Kalau malam minggu, pasti sulit dapat tempat," ujar Nono. Padahal kapasitas pengunjungnya mencapai 100 orang.
Begitu menariknya tempat ini sehingga banyak banyak artis yang pergi ke Bandung menyempatkan diri mencicipi makanannya. Di salah satu dindingnya terpajang semacam "Hall of Fame" yang berisi foto dan tanda-tangan artis-artis terkenal yang berkunjung ke sana. Tak kurang dari Setiawan Djodi, Ruth Sahanaya, dan Ari Sudarsono membubuhkan tanda tangannya di situ.

BAKSO TAHU DAN SIOMAY IKAN

Makanan ini sungguh memasyarakat di Bandung. Hampir di setiap ruas jalan terlihat pedagang bakso tahu dan siomay ikan, baik yang dijual mangkal atau gerobak dorongan.
Sambil main ke Lembang Anda bisa menemukan bakso tahu Pa Lili di jl. Geger Kalong Girang (sedikit sebelum Lembang). Nama Lili diambil dari nama pemiliknya yang sudah berjualan baso tahu sekitar 15 tahun.
Baso tahu Pa Lili dijual 500 rupiah per buah. Tidak ada ukuran porsi sehingga pembeli bebas mau memilih berapa siomay yang ingin dimakannya. "Rata-rata memesan empat buah sekali makan," ujar Ny. Lili. Untuk berjualan di warungnya yang buka sejak jam 8 pagi hingga 9 malam, Ny. Lili harus menyiapkan sekitar 1.000 buah bakso tahu dan siomay setiap dua hari. Jadi saya nggak capek karena tidak usah bikin setiap hari. Soalnya siomay bisa tahan disimpan dalam lemari pendingin," papar Ny. Lili yang bisa menghabiskan 6-8 kg ikan tengiri. Selain bakso tahu dan siomay, tersedia pula es campur. "Es campur ini termasuk favorit, lo" ujar wanita yang pernah menyabet juara I lomba baso tahu dan siomay yang digelar Eldorado Club beberapa tahun lalu ini.


BATAGOR

Batagor sebenarnya hanyalah bakso tahu yang digoreng. Untuk menyantapnya, Anda dapt pergi ke Jl. Veteran. Nama kedainya adalah Batagor Kingsley. Usia kedai ini sudah 28 tahun. berbeda," ujar Benny (43) pemilik Batagor Kingsley di jl. Veteran. "Semula orang tua yang membuka restoran cina. Tetapi setelah mereka meninggal, saya menghentikannya dan berkonsenterai pada batagor saja," kisah Benny (43), sang pemilik yang mengaku perlu 5 tahun untuk mendapat resep lezat seperti batagor yang dijualnya sekarang. Tetapi yang penting, lanjut Benny sebenarnya, "Ikan tengiri yang digunakan harus masih segar." Benny biasa memperolehnya dari Pamanukan, Subang. Jika tak segar, ia memilih tak membuat batagor. "Sekali rasanya tak enak, bisa lari semua pelanggan saya," ujarnya.
Rahasia lain, Benny menggoreng bakso tahu dan siomay dalam keadaan mentah. "Memang jadi lama, tetapi rasanya jadi lezat," kata Benny sambil menyebutkan batagornya bisa bertahan 5 - 10 hari dan sudah melanglang buana sampai ke Singapura, Australia, dan Amerika. Bukan cuma ikan yang diperhatikan Benny. Ia pun sudah punya merek tertentu untuk minyak goreng dan tepung kanji. "Bahkan untuk minyak harus baru. Makanya setelah dipakai menggoreng sekali, saya langsung ganti. Sisa minyaknya saya jual murah," tuturnya. Batagor Kingsley kini dijual 1.750 per buah. Satu porsi biasanya berisi tiga buah. Dibantu sekitar 10 karyawannya, kini Benny melayani pelanggannya sejak jam 8 pagi hingga 9 malam. "Kamis kami libur untuk menyiapkan racikan batagor sekalian istirahat.

SUSU SEGAR
Banyak kedai susu segar di Bandung. Salah satunya adalah Bandoengsche Melk Centrale. Letaknya di Jl. Aceh. Sesuai dengan namanya yang berbau Belanda, kedai ini pun dibuat bernuansa Belanda begitu juga peralatan untuk memprosesnya. Kedai yang telah menjadi pusat produksi dan distribusi susu sejak abad 19 ini menyediakan berbagai macam susu dari yoghurt, kefir, dan milkshake berbagai rasa. Harganya berkisar Rp 1.000 hingga Rp. 4.500 per gelas.
"Semua susu diperoleh dari sebuah perusahaan susu di Lembang yang kualitasnya terjamin. Sehari saya harus memesan 1.000 liter susu," tutur Mustafa Ramadani, Penanggung Jawab BMC. Di samping susu, BMC juga menyediakan hidangan lain seperti sop buntut, lontong kari, sayur asem, nasi goreng ikan asin, batagor, dan bakso tahu. Bahkan Bakso Lapangan Tembak Senayan kini juga hadir di situ. BMC yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Industri Pemda Jawa Barat ini buka hingga pukul 11 malam. Di situ tersedia 100 tempat duduk hingga Anda tak perlu takut kehabisan tempat.

BROWNIES PRIMARASA
Selain sus Merdeka, Pisang Molen Kartika Sari, dan tahu Yunyi, Brownies Primarasa juga termasuk oleh-oleh yang sering dibawa orang jika pula dari Bandung. Usaha yang dimulai sejak tahun 1987 ini awalnya tak terlalu mulus. "Untuk mencoba resep brownies saja setiap hari saya habis Rp. 200 ribu untuk membeli bahan," ujar Theresia Yuliaty, pemilik Primarasa.
Setelah seleranya pas, barulah ia menuai hasilnya. Lama-kelamaan, brownies Primarasa menjadi trade mark brownies di bandung karena Theresia memang mengkhususkan diri membuat brownies. "Jadi kalau menyebut brownies, pasti ingat primarasa," tuturnya bangga. Kini ia mesti menyiapkan minimal 300 buah brownies untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya setiap hari. "Jika ada pesanan, bisa mencapai seribu dalam sehari," ujarnya.
Brownies buatannya kini tersedia dalam 4 rasa, yaitu coklat, keju, moka, dan raisin (kismis). Harganya antara Rp. 17.500 hingga Rp. 23.000 per loyang. Semuanya dibuat di rumahnya yang sekaligus menjadi pabrik dan toko Primarasa, di Jl. Kemuning. Di toko yang bukan sejak 6 pagi hingga 6 sore ini tersedia pula picnic roll, apple cake, dan pai daging yang mulai disukai pelanggannya. Untuk menjaga kualitas rasa browniesnya, ia tak segan menggunakan bahan impor. "Selain tepung dan gula, yang lainnya bahan impor," ujarnya.

CENDOL ELIZABETH
Awalnya es cendol ini dijual berkeliling di pusat kota Bandung, seperti Dago, Cigereleng, dan Dipatiukur. Tentu namanya belum seperti sekarang. Nama es cendol Elizabeth ini baru digunakan setelah tempat mangkalnya di jl. Otista, dibangun toko tas Elizabeth, tahun 1982.
"Dulu saya bahkan menyediakan es cendol secara gratis bagi setiap pengunjung atau rombongan yang datang ke toko Elizabeth setiap hari Sabtu dan Minggu," kenang Rohman (39) sang pemilik. Tetapi teknik dagang seperti itu diubahnya sejak tahun 1985. Kini cendolnya bisa dinikmati dengan harga Rp. 1.000. Meski tak menyebut berapa gelas per hari yang berhasil dijualnya, tetapi dari jumlah bahan yang digunakan, kita bisa melihat cendol ini laku keras.
Setiap hari Rohman menghabiskan sekitar 25 kg tepung beras, 25 tepung sagu, dan 200 butir kelapa untuk dijadikan santan. Ia juga sering kewalahan menerima pesanan untuk pesta perkawinan. "Anak buah saya hanya 15 orang. Jadi, kalau ada 19 orang yang pesan untuk pesta kawin, misalnya, yang 4 terpaksa saya tolak."


COLENAK MURDI

Colenak termasuk jajanan khas Bandung yang masih bertahan. Colenak Murdi yang terletak di jl. Ahmad Yani di kawasan Cicadas ini, misalnya, sudah berdiri sejak tahun 30-an. "Murdi nama kakek saya," ujar Rajak (67) yang memegang usaha turunan ini dari ayahnya.
Colenak terdiri atas peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian dinikmati dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah. Bedanya dengan colenak yang dijual biasa, colenak Murdi menggunakan esens durian. "Itu digunakan sejak tahun '67. Alhamdulillah banyak yang suka," ujar Rajak.
Sehari Murdi menghabiskan 50 - 70 kilogram peuyeum Cimenyan. "Sayang sekarang makin sulit didapat. Maklumlah daerah Cimenyan kini dijadikan perumahan. Padahal di situ peuyeumnya enak. Kualitas peuyeum juga tergantung pada cuaca. Kalau musim kemarau, peuyeum yang dihasilkan lebih enak dan padat ketimbang waktu musim hujan," jelas Rojak.
Selain dipesan hotel-hotel besar di Bandung, colenak buatannya juga sering dihidangkan dalam acara pertemuan atau resepsi pernikahan sebagai hidangan tradisional. "Colenak juga bisa dibawa sebagai oleh-oleh, lo. Karena mampu bertahan sampai 3 hari," kata Rajak.

ANEKA KERIPIK
Mencari keripik, Karya Umbil-lah tempatnya. Mulai dari keripik singkong, gadung, ubi, sampai oncom dan tempe ada di sana. Toko yang terletak di Jl. Cihampelas ini sudah berdiri sejak tahun 1965. "Tetapi usaha keripiknya sendiri sudah dirintis sejak tahun 1947 oleh orang tua saya," ujar Valentinus (49).
Jajanan ini tersedia dalam kemasan 2 ons atau 1/4 kg dengan harga antara Rp. 4.000 hingga Rp. 14.000 per bungkus. Produksi keripik ini tidak dibuat di satu tempat, tetapi terpencar di rumah saudara-saudaranya. "Ini memang home industry keluarga. Jadi saudara-saudara membuat makanan di rumah masing-masing sebelum disetor ke jl. Cihampelas untuk dipak atau dibungkus dengan kemasan Karya Umbi," jelas Valentinus. Selain keripik, di Karya Umbi juga dijual aneka oleh-oleh khas Bandung lain seperti dodol tasik, sale pisang, dan opak ketan. "Penganan tersebut adalah titipan. Makanya tidak diberi merek kami," tutur dosen di Fakultas Hukum UNPAD ini.

ULI BAKAR
Selain susu dan ayam, uli (ketan) bakar juga jadi favorit di Lembang. Pedagang uli bakar berderet di sisi kiri jalan Lembang, sedangkan warung makan di sebelah kanan jalan. "Sudah sejak tahun '70 saya berjualan," ungkap Acep (51) yang mangkal di seberang Ayam Brebes. Usaha ini diwarisinya dari ibunya yang dulu berdagang ketan serta aneka makanan di pasar Lembang.
Ketan bakar yang diiris kotak ini biasanya dihidangkan dua cara, manis atau pedas. Jika manis bisa dicocolkan pada gula yang bercampur kelapa sangrai, sedangkan yang pedas dinikmati dengan sambal oncom. "Sepotong uli bakar dijual Rp. 1.250," ujar Acep yang menghabiskan 5 liter beras ketan setiap harinya. Makan satu rasanya kurang puas dalam dinginnya udara Lembang. Apalagi malam hari. Dijamin perut akan selalu minta diisi. Selain ketan bakar, ia juga menyediakan minuman hangat lainnya seperti bandrek dan bajigur yang dijual Rp. 1.000 per gelasnya. "Soalnya ketan bakar paling enak dinikmati dengan minuman panas seperti bandrek atau bajigur. Apalagi Lembang sangat dingin," paparnya. Ia berjualan 24 jam setiap harinya, bergantian dangan kakaknya.

SATE KELINCI
Beberapa ratus meter sebelum atau sesudah menikmati uli bakar atau susu murni, tepatnya di Kampung Batu Reok, Anda akan menemukan warung-warung sederhana yang menawarkan sate kelinci. "Rata-rata warung di sini sudah berjualan lebih dari 2 tahun," ujar Trisna (41) salah seorang pemilik warung.
Sate kelinci diambil dari kelinci yang berumur 4-6 bulan. "Dagingnya empuk dan manis," terangnya. Sate ini dihidangkan dengan bumbu kacang atau bumbu kecap dengan irisan cabai kecil. Harganya Rp.6.000 per 10 tusuk. Uniknya, pembeli bisa memilih sendiri kelincinya sejak masih hidup. "Makanya dagingnya pun segar. Selain itu pembeli percaya sate ini betul-betul terbuat dari daging kelinci, bukan ayam," tutur Trisna.
Selain sate, tersedia juga gule dan rendang kelinci seharga Rp. 3.500 per porsi. Khusus untuk menu ini dipilih dari kelinci yang berumur 3 bulan. "Supaya dagingnya empuk," ujar Trisna yang berjualan sejak sore hingga tengah malam setiap harinya. Dalam satu hari, ia menyediakan 20-30 ekor kelinci untuk membuat ketiga menu tersebut. "Untuk sate, satu ekor bisa menjadi 60-90 tusuk," jelasnya.
Beternak kelinci menjadi andalan hampir sebagian besar penduduk di sini. Selain murah, beternaknya juga mudah. "Dalam 6 bulan saja, kita sudah bisa memperoleh hasilnya," jelasnya. Selain itu, kulit kelinci laku dijual sebagai bahan untuk kerajinan.Harga kulitnya bisa mencapai Rp. 1.500 per ekor. Bahkan, lanjut Trisna, air seni kelinci juga laku dijual Rp. 25 ribu per botol. "Orang-orang membelinya untuk dijadikan pupuk."


MARTABAK SAN FRANSISCO
Martabak San Fransisco termasuk warung martabak yang diburu oleh para penggemar martabak. Kurang jelas mengapa dinamakan begitu. "Saya sendiri juga cuma meneruskan usaha ini sejak tahun 80-an. Jadi tak tahu asal-usulnya," ujar Maman (46).
Martabak San Fransisco tersedia dalam tiga rasa, daging ayam, sapi, dan kornet. Pembeli juga bisa memilih yang biasa atau spesial. Harganya Rp. 15 ribu untuk yagn biasa sedang yang spesial harganya Rp. 18 ribu. "Yang biasa memakai 2 telur, yang spesial menggunakan 3 telur. Telurnya telur ayam negeri," ujar Maman.
Di warungnya yang buka sejak jam 4 sore hingga 11 malam ini, ia bisa menjual sekitar 100 martabak dalam sehari. "Sebelum krisis bisa mencapai 200 lebih," tambah Maman yang membutuhkan sekitar 1 kwintal bawang daun sehari ini. Di tempatnya berjualan, selain martabak telor juga tersedia makanan lain seperti martabak manis, nasi rames, ayam panggang, dan pempek.

KUE KERING
Ingin mencari kue kering di Bandung? Datang saja ke jl. Gempol Wetan. Anda akan menemukan aneka kue kering seperti sus bawang, kaastengels, kue almon, nastar, kue tambang keju, putri salju, kue jahe, dan kue mente. Pemiliknya adalah Ny. Henrietta.Di toko yang berdiri sejak tahun 1980 ini ada sekitar 44 jenis kue kering. Kue-kue ini dijual dalam kemasan plastik dengan harga antara Rp. 3.500 hingga Rp. 12.000 per bungkus atau Rp 10 ribu hingga rp 27.500 dalam kemasan kardus. Kue kering yang menjadi favorit pengunjung biasanya sus bawang yang berbentuk bulat-bulat dan tambang keju. "Hampir setiap pengunjung mencari kue ini," ujar Lina. Kendati lumayan sulit mencari toko ini, tetap saja banyak yang mencarinya sebagai oleh-oleh. Bahkan di hari Lebaran dan Natal, lebih banyak lagi pengunjung yang datang hingga mereka harus membuatnya dua kali lipat.


MI KOCOK
Mih Kocok SKM Sapi Asli cukup punya nama di Bandung. Letaknya di Jl. Sunda, tak jauh dari pasar swalayan Yogya. SKM sendiri diambil dari nama sang pemilik, Sukirman, yang kini sudah meninggal.
Sukirman, menurut Anto (32) sang anak, sudah mulai berjualan mi kocok sejak harga per mangkoknya cuma Rp. 25. yang kini mengelola warung. Kini harganya sudah Rp 3.500 - Rp. 5.000. Sesuai namanya, mi kocok buatan Anto menggunakan kaki sapi. "Satu hari saya membeli 20 stel kaki sapi (1 stel = 4 kaki sapi, Red.) dan 25 kg mi. Semuanya sudah ada penyalur khusus," ujar Anto yang membuka warungnya pukul 9 pagi hingga 10 malam setiap hari.
Mih Kocok SKM terhidang dalam dua pilihan, yang biasa dan yang spesial. Yang spesial dilengkapi dengan telapok yakni bagian bawah kaki sapi yang berwarna kehitaman. Dalam satu hari, warungnya mampu menjual 400-600 porsi setiap hari. Jumlahnya bisa bertambah jika ada pesanan untuk rapat pertemuan atau resepsi pernikahan.

PEPES IKAN MAS
Pepes ikan mas juga termasuk masakan Bandung yang lekang oleh waktu.Anda bisa membeli pepes ikan mas salah satunya di Jl. Nanas, buatan Ny. Inen dan Ny. Lies. Mereka sudah berjualan pepes ikan sejak 20 tahun yang lalu. Keunggulan pepes ikan mas buatan pasangan ini adalah durinya yang lunak dan aman dimakan.
Rahasianya terletak pada pemanggangan yang makan waktu 12 jam di oven khusus. Pengovenan bisa menghabiskan 1 tabung gas sekali naik. Oven ini dibuat sedemikian rupa hingga ikan mas tidak hancur dagingnya meski dimasak lama. Sehari mereka bisa memproduksi 150 ekor ikan mas. Bahkan di bulan puasa bisa meningkat hingga dua kali lipat. Produksi besar ini tidak hanya dipasarkan di Bandung, tetapi juga ke Jakarta.
Harga pepes berkisar atnara rp 10.500 - Rp 37.800, tergantung dari beratnya. Selain pepes ikan, juga disediakan pepes induk ikan bertelur yang harganya mencapai Rp. 55.000 dengan berat 2-5 kg. Selain untuk oleh-oleh, pepes ikan mas juga sering dipesan oleh hotel-hotel yang ada di Bandung dan untuk pesta perkawinan.

SATE KARDJAN
Mencari sate di Bandung tentu teringat pada Sate Kardjan yang dijual sejak tahun 1970 dijual di jl. Pasirkaliki. "Sebenarnya sejarahnya dimulai sejak tahun 1925 oleh kakek saya di Klaten," tutur Kristiadi, cucu pendiri sate Kardjan yang kini mengelola bisnis keluarga itu. Sate Kardjan mengkhususkan diri pada daging kambing. Beberapa menu andalan di antaranya sate polos, sate selap gajih (diselipi lemak), atau sate buntel yang harga rata-ratanya 950 rupiah per tusuk. "Semua sate ini dibuat hanya dari bagian paha kambing karena merupakan bagian terbaik untuk dibuat sate," jelas Kristiadi yang memeproleh daging dari langganannya di Pasar Ciroyom.
Selain itu juga tersedia sate cempe yang menggunakan daging kambing berusia 3 bulan yang manis dan empuk. "Dalam sehari membutuhkan sekitar 50 kg paha kambing dan 10 ekor cempe," ujar Kristiadi yang membuka warungnya dari pukul 12 siang hingga 12 malam itu. Menurutnya, Kardjan juga menjadi pelopor bagi penjualan tongseng di Bandung. "Sebelum sate Kardjan muncul di Bandung, belum ada yang menjual tongseng," papar Kristiadi. Setelah Kardjan memperkenalkan tongseng, maka muncullah tongseng-tongseng lainnya.
Untuk memuaskan langganannya, Kristiadi menghidangkan sate dalam piring panas (hot plate). Bumbunya terdiri dari 2 pilihan yakni bumbu kecap dan bumbu kacang. Pembeli boleh memilihnya sesuai selera.


RESTORAN SINDANG RERET

Sindang Reret bisa dikatakan trade mark rumah makan Sunda di Bandung. Sindang artinya datang, reret artinya melirik. Maksudnya, siapa pun yang melirik ke restoran ini, pasti tergiur untuk datang mencicipi.
Konsep awal yang ditawarkan ketika restoran ini dibuka tahun 1973 adalah interiornya yang unik. Tempat makan diatur terapung di atas air (bale kambang). Namun konsep ini hanya diterapkan di Sindang Reret Ciwidey, tidak di cabang lainnya. "Cabang lain punya keistimewaan yang lain lagi. Misalnya, di Naripan yang selalu mempertunjukkan wayang golek setipa malam Minggu," terang Harries Kommeng, Sales and Marketing Manager restoran Sindang Reret.
Seperti menu khas Sunda lainnya di sana tersedia karedok, sayur asem, soto Bandung, gepuk, gurame bakar, gurame goreng, dan sambal terasi hingga nasi timbel komplet. Tersedia pula aneka minuman seperti bandrek, bajigur, cincau, dan susu murni. Namun menu yang paling dicari adalah pepes ikan, karedok, dan gepuk. Saat ini untuk ke-4 restoran dalam sekali weekend membutuhkan lebih dari 1 kwintal gurame dan ikan mas.

SEKOTENG BUNGSU 29
Es Sekoteng Bungsu sebetulnya tak ubahnya es campur biasa. Namun namanya sudah terkenal ke mana-mana. Usaha es ini semua dirintis oleh Pak Oyen sejak tahun 1965. Usaha ini kemudian diambil alih oleh Sumarsana ketika Oyen meninggal tahun 1970. Sang pengganti langsung mengganti namanya menjadi es sekoteng Bungsu 29 sesuai dengan nomor rumahnya. Namun nama Oyen sendiri tidak ditinggilkan. Ada nama es campur yang diberi nama es campur Oyen.
Satu mangkuk es sekoteng yang terdiri dari kelapa muda, sekoteng, advokad, dan kolang-kaling ini dijual dengan harga Rp 3.000. Anda bisa datang sekitar pukul 09.00 sampai pukul 5 sore. Tetapi terkadang pukul 4 sore pun es sudah ludas terjual. Satu hari, Dirman mengaku menghabiskan 40 butir kelapa muda. Tentu ini perhitungan tanpa pesanan pesta.

SOTO BANDUNG



Soto Bandung memang berbeda dengan soto dari daerah lain karena tidak menggunakan santan dan bening warnanya. Isinya pun berbeda, menggunakan lobak dan daging sapi yang dipotong kecil-kecil, serta daun bawang, seledri dan kacang kedelai goreng.
Jika ingin merasakan soto Bandung yang asli, coba saja datang ke jl. Cibadak, dekat alun-alun Bandung. Anda akan melihat rumah makan Soto Ojolali yang telah berdiri sejak tahun '40-an. "Dulu yang memulai adalah kakek saya, almarhum Pak Karta," ujar H. Tisna (56) yang mulai mengelola usaha ini sejak tahun 1970. "Kalau tak salah, dulu harganya masih menggunakan satuan benggol atau sen," tambahnya. Awalnya, menurut Tisna, kakeknya berjualan soto secara pikulan di daerah Cibadak. Setelah mengumpulkan modal, barulah soto ini memiliki warung makan. Setiap hari soto yang dijual Rp. 6.000 per porsi ini laris manis. Sampai-sampai Tisna harus menyediakan 20 kilogram daging dan 20 kilogram lobak setiap harinya.
Soto ini juga bisa dinikmati Jl. Raya Cipasir, Rancaekek yang justru lebih besar dari pada pusatnya di Jl. Cibadak. "Selain soto, juga tersedia makanan khas sunda lainnya dan seafood," ujar Tisna berpromosi.



SURABI
Surabi (kita mengenalnya sebagai serabi) juga cukup terkenal di Bandung. Isinya beraneka ragam. Dari oncom, keju, vanila, sampai stroberi. Serabi seperti ini dijual di Jl. Geger Kalong. Cuma saja Anda mesti ekstra sabar karena pesanan biasanya baru datang setelah menunggu 30 menit. Itu pun harus menunggu di trotoar jalanan atau di dalam mobil karena kedai itu hanya bisa menampung 20 pengunjung.
Warung ini dibuka sejak jam 3 sore hingga 11 malam. "Alhamdulillah, ramai terus," tutur Andri yang menghabiskan sekitar 50 kg tepung beras setiap harinya. Awalnya hanya iseng saja ketika banyak orang membuka usaha kafe jalanan dengan menu barat seperti sosis atau kentang goreng. Lantas bersama sekitar 12 saudaranya, Andri membuka warung dengan menu yang berbeda dari lainnya, yaitu surabi. "Ada saudara saya yang hobi dan pandai memasak, akhirnya lahirlah aneka surabi seperti ini," ujarnya di sela-sela kesibukannya melayani pesanan.

KUE SUS MERDEKA
Sebetulnya toko kue Merdeka yang terletak di Jl. Merdeka Bandung ini tidak hanya menjual Sus Merdeka, tetapi roti dan aneka kue. Tetapi sus buatan toko kue ini kemudian yang melejit sampai-sampai dikenal sebagai Sus Merdeka.
Sus yang menjadi primadona ini memang berbeda dalam hal isi dengan sus buatan toko kue lainnya. Kalau sus lain diisi vla, Sus Merdeka dicampur dengan krim plus rum yang lumayan mencolok. Toko kue Merdeka sendiri sudah berdiri sejak tahun 1969. Tetapi baru setahun kemudian berkembang pesat. "Sus kami mulai banyak dipesan di acara-acara resmi seperti rapat, arisan, atau pertemuan penting," ujar Didi Susimba, Penanggung Jawab Toko Kue Merdeka yang dikelola oleh PT. Tirta Ratna ini.
Harga kue per buah Rp. 1.200 sedang sus kering yang kini mulai digemari juga harnya Rp. 5.000 per bungkusnya. Kini akibat dari susnya yang terkenal itu, toko kue Merdeka sudah membuka banyak sekali cabang di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya.

PISANG MOLEN
Apa yang diminta kerabat Anda sebagai oleh-oleh manakala pergi ke Bandung? Pisang molen? Tak usah kaget. Kue ini tengah menjadi tren oleh-oleh dari Bandung di samping Sus Merdeka atau Brownies Primarasa. Banyak pisang molen di jual ornag di Bandung. Tetapi tampaknya yang diproduksi Kartika Sari paling ramai. Bisa jadi saat datang ke tokonya di Kebon Kawung, dekat stasiun kereta api, Anda diminta menunggu karena masih dibuat.Ny. Agus, sang pemilik tertarik mengembangkan kue ini sejak lama kala ibunya masih berjualan kue. 鉄aya sampai kursus kue supaya mendapatkan kue yang enak,・kisah Ny. Agus.
Usahanya berhasil. Saat ini kue molen buatannya tidak hanya berjaya di Bandung (kini sudah ada 3 cabang lainnya), tetapi juga di berbagai kota besar di Indonesia. Sepuluh buah kue dalam 1 dus itu dijualnya seharga Rp. 11 ribu untuk molen keju, Rp. 12 ribu untuk molen keju cokelat. Ini untuk molen ukuran biasa. Sedang molen ukuran kecil masing-masing Rp. 8000 dan Rp. 9.000. Bila tak puas dengan ukuran tersebut, Anda bisa memilih ukuran jumbo seharga Rp. 2.500.

LOTEK KALIPAH APO
Sesuai namanya, lotek ini dijual di jl. Kalipah Apo, tidak begitu jauh dari Cendol Elizabeth. Sejak buka pukul 09.00 hingga pukul 16.00 kedai ini selalu ramai dengana ntrean pembeli. Mereka dengan sabar menanti karyawan yang mengelola usaha milik Mariana Latif ini emngulek bumbu di atas cobek raksasa berdiameter ス meter itu.
Kalau lotek ini bisa bertahan selama 48 tahun itu karena Mariana selalu berusaha mempertahankan kualitas. 鉄ampai sekarang ibu masih membeli sayuran sendiri setiap subuh di pasar,・kata Hena, pengelola kedai yang menjual loteknya seharga Rp. 4.500. Selain lotek, tersedia juga kolak campur, rujak campur, bubur lemu dan rujak bebek (tumbuk). Umumnya dijual dengan harga 3.500 rupiah per porsi. Rujak bebek hanya bisa didapatkan hari Minggu saja. 鉄oalnya agak repot membuatnya,・ujar Hena yang menutup kedainya setiap hari Selasa itu.

KUE BALOK
Kue balok sebetulnya bukan kue asing bagi Anda. Kue ini mirip pukis, tetapi lebih besar dan bagian atasnya merekah. Umunya penjual kue balok menyajikan kue ini dalam dua rasa berbeda, manis dan cokelat. Harganya Rp. 250 per buah.
鉄angat nikmat bila dimakan dengan susu. Apalagi jika masih panas,・ujar Yayan, salah seorang penjual kue balok. Dalam 1 hari pria asal Tasikmalaya ini bisa menjual sekitar 200 kue balok. Biasanya ia mangkal di perempatan Antapani sejak pukul 8 hingga sore hari. Setelah itu ia menjajakan dagangannya secara berkeliling.

Bubur Ayam Zaenal.

Bubur Ayam Zaenal sudah sejak tahun 1970 mangkal di daerah simpang Dago. Setiap hari warung yang bisa menapung 20 orang itu kedatangan 200 pengunjung yang tergila-gila dengan bubur kental buatan sang pemilik. Begitu kentalnya sampai-sampai disantapnya pun tak hanya menggunakan sendok, tetapi berikut garpu. Isinya sebetulnya biasa saja seperti bubur pada umumnya, dengan irisan ayam, kecap, emping, cakue danirisan daun bawang. Tetapi menurut Rosyidi (40), sang pemilik, rasa buburnya dijamin gurih dan lezat.
適arena perbandingan bersa dan ayamnya adalah 1:2. Setiap hari saya memasak 20 kilogram beras dan 30 ekor ayam,・aku Rosyidi yang meneruskan usaha bubur ini dari sang ayah, Zaenal.
Semangkok bubur dijualnya dengan harga Rp. 6 ribu. Kalau terlalu mahal, pembeli dapat memesan setangah porsi saja. Harga bubur setengah porsi hanya Rp. 3.500. Meski relatif mahal, toh Rosyidi tak pernah kehabisan penggemar. Dari pukul 06.00 hingga pukul 24.00, buburnya selalu diserbu penggemar. 溺alah hampir setiap hari ada saja orang yang merasa kesal karena kehabisan bubur,・ucapnya bangga


USAHA PERMEN KARAMEL UNTUK MANFAATKAN LIMPAHAN SUSU
Pangalengan (2 jam perjalanan dari Bandung ke arah selatan) terkenal dengan hasil susunya. Jadi tak usah heran kalau di Jakarta Anda melihat sepeda yang menjual susu segar dari Pangalengan. Begitu melimpahnya hasil susu di situ, sampai-sampai orang memanfaatkannya untuk dijadikan permen susu karamel. Permen ini bisa ditemui hampir disetiap toko yang menjualoleh-oleh khas Bandung. Biasanya dibungkus kecil-kecil dengan kertas berwarna-warni dalam kemasan plastik.
Ada beberapa perusahaan permen karamel di Pangalengan. Salah satunya merk TK yang terletak di daerah Sukamenak. Pemiliknya adlah Ny. Ipah Datipah Ismail (55). Sudah sejak tahun 1970 ia membuka usaha ini ketika produksi susu sapi saat itu melimpah, melebihi kebutuhan masyarakat. Ipah lantas bekerja sama dengan koperasi setempat berusaha memanfaatkannya menjadiolahan lain yang memiliki daya jual. Setelah bermusyawarah, pilihan jatuh pada permen karamel. 添ang namanya permen, kan tidakpernah sepi pembeli,・kata Ipah.
Sebenarnya, menurut Ipah, permen karamel sudah dibuat sejak dulu. Sayangnya kualitas dan pemasarannya tidak berjalan bagus. 溺aka itu saya berusaha memperbaikinya. Alhamdulillah sambutannya cukup bagus,・ujarnya. Saat ini, ia membutuhkan sekitar 1.500-1.800 liter susu untuk produksi satu hari. 鉄ebelum krisi bisa mencapai 3.500 liter susu,・tambahnya.
Betul memang dugaan Ipah. Permen tak pernah sepi dari pembeli. Omzetnya dalam sebulan tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai 80-120 juta. Padahal proses pembuatannya tidak sulit-sulit amat, Cuma mebutuhkan waktu 10 jam untuk pengadukan susu dan gula hingga kental.
Pemasaran permen karamel sampai saat ini lebih banyak di daerah Jawa Barat, terutama Bandung. Dengan dibantu sekitar 100 karyawan, kini Ipah juga membuat jenis makanan lain dengan bahan susu, seperti dodol susu dan kerupuk susu. Dodol susu menggunakan bahan baku beras ketan sedangkan kerupuk susu menggunakan tepung tapioka dan kepala susu. 撤okoknya saya berusaha memaksimalkan kegunaan susu,・tegas ibu beranak 7 ini.
Selama hampir 30 tahun berkarya, sudah cukup banyak penghargaan tingkat daerah dan nasional yang diraihnya, seperti pengusaha kecil berprestasi, penghargaan dari Gubernur Jawa Barat Nuriana, hingga Upakarti. Bahkan pada bulan Maret ini, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama suami dan seorang anaknya. sdp@Miftakh Faried, Foto-foto : Miftakh

Sujiwo >> di copy dari www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 3:43 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Cianjur&Sukabumi

CIANJUR

RUMAH MAKAN H.M. NANA

Ingin mengisi perut di daerah Cianjur? Cobalah mampir ke Warung Makan H.M. Nana di Jl. Cibandulu. Warung makan yang menyajikan khusus hidangan Sunda ini selalu ramai dikunjungi pelanggan. Tidak hanya dari dalam kota Cianjur sendiri, juga para pelancong yang kebetulan melewati kota beras ini.

Begitu duduk, para pelayan rumah makan ini dengan sergapnya menata nasi hangat berikut hidangan yang tersedia. Hingga kita bisa langsung memilih. Biasanya setiap hari tersedia antara lalin pepes ikan mas, pepes oncom, atau ayam goreng yang masih panas. Sebagai pelengkap disediakan satu bakul penuh lalapan segar disertai sambal terasi dan sambal oncom. Dijamin akan ketagihan!



TAOCO CAP MEONG NY. TASMA

Taoco made in Cianjur cukup dikenal di mana-mana. Bumbu masak yang terbuat dari kedelai yang difermentasi ini memang bisa memperlezat aneka tumisan kita. Nah, salah satu penghasil taoco terkenal di Cianjur adalah Taoco Cap Meong Ny. Tasma.

Begitu terkenalnya taoco bergambar kucing ini sampai-sampai hampir semua taoco mengikuti label ini. "Padahal hanya ada satu Cap Meong yang asli, lo," ujar pengelola Tauco Cap Meong, Ny. Tasma. "Yang asli hanya di sini, Jl. HOS Cokroaminoto No. 160, milik saya," ujarnya. Berdiri sejak 1880, tak heran penggemarnya cukup banyak hingga kini. Meski cuma taoco menurut Tasma, pembuatannya makan waktu sampai 2 bulan. "Kalau lagi hujan malah sampai 3 bulan baru jadi," paparnya.

Selama pembuatan sampai jadi taoco disimpan dalam guci tanah liat. Setelah pemesan datang, taoco baru dikemas dalam botol. Harga tiap botol antara Rp. 2500 hingga Rp. 5.000 tergantung besarnya botol. Pengemasan yang baru dilakukan kalau ada yang membeli menghindari kita dari risiko kerusakan. Maklumlah taoco buatannya cuma bisa bertahan hingga 2 hari. Lain halnya kalau disimpan dalam lemari pendingin, bisa sampai 1 bulan.

MANISAN MULIA SARI

Cianjur termasuk daerah di Jawa Barat yang kondang dengan manisannya. Banyak orang yang harus singgah dulu di Cianjur dalam perjalanan dari Bandung ke Bogor atau sebaliknya, hanya untuk membeli manisan buah. Salah satu manisan buah yang terkenal adalah manisan Mulia Sari.

"Buatan kami dijami menggunakan gula asli dan tanpa pengawet. Makanya cuma bertahan sampai dua hari," ujar Rudyawan, pemilik sekaligus pengelola Manisan Mulia Sari Jl. HOS Cokroaminoto. Ia mengaku tak sulit mencari bahan baku buah. "Sudah ada pelanggan yang selalu menyetor buah," jelas Rudy.

Para penyetor ini selalu datang membawa buah-buahan sesuai musimnya. Tentu yang dibawa cuma buah yang bisa dibuat manisan karena tak semua buah enak dijadikan manisan. "Dahulu kami pernah mencoba menjual manisan bengkuang dan pepaya, tapi tidak lama. Soalnya kedua buah tadi tidak tahan lama. Akhirnya kembali lagi buah-buahan yang dibuat manisan hanya itu-itu saja, dan tergantung musimnya," uingkapnya.

Manisan Mulia Sari dikenal berkat ibu Rudyawan, Ny. Tan, yang membuat manisan pala kering di tahun '50-an. Karena laku, Ny. Tan juga mulai membuat manisan buah. "Ternyata banyak yang suka. Jadilah orang mengenal manisan buah Cianjur Mulia Sari buatan Ny. Tan," kisah Rudy.

Melihat kesuksesannya, banyak tetangga sekitar sini yang mengikutinya. Namun, toh, manisan Mulia Sari tak kekurangan pembeli. Setiap hari toko ini bisa menjual sebanyak lebih dari 60 kilo buah-buahan per hari pada musim liburan atau akhir minggu. Padahal, "Toko kami tidak terletak di pinggir jalan, lo," jelas Rudy.

SUKABUMI

WARUNG MAK UTI

Selama Sedap Sekejap jalan-jalan ke Sukabumi, banyak yang menganjurkan untuk mampir ke Warung nasi Mak Uti. Warung yang terletak di Jl. Pengadilan ini menyajikan aneka hidangan khas Sunda. Meskipun letaknya masuk ke dalam gang, tetapi pelanggannya sampai kepada artis dan pejabat.

"Awalnya ibu saya, Mak Uti, hanya menjual nasi di pinggir jalan. Lama-lama banyak penggemarnya hingga kami bisa membeli tempat di Jl. Pengadilan ini. Lalu bisa menjadi warung nasi seperti ini," ujar Ny. Nani, pengelola dan putri Mak Uti.

Berbeda dengan warung nasi di Cianjur, warung nasi Sukabumi serupa dengan sajian buffet. Penjual akan memberikan nasi satu porsi, lalu kita tinggal memilih lauk pauk atau sayur yang kita inginkan. Lauk yang disediakan berupa aneka pepes, aneka jerohan sapi, gepuk (empal, Red.), dan ayam goreng. Sebagai pelengkapnya, di meja tempat kita makan, disajikan aneka lalap dan sambal terasi. Soal harga tak perlu khawatir, karena per porsi makanan, lengkap dengan dagingnya hanya sekitar Rp. 3.500. Dan Rp. 6.000 per porsi jika kita memilih daging dan sayur.

BUBUR AYAM

Tempat bubur ayam yang kondang di Sukabumi adalah di Jl. Pajagalan. Warung bubur ayamnya bernama Odeon. Berbeda dengan bubur ayam yang biasa kita temui selama ini, bubur ayam Sukabumi sangat khas. "Yang bikin beda karena buburnya agak encer dan selalu disajikan dengan ayam tim bukan ayam rebus
atau ayam goreng.

Walaupun sama-sama menambahkan cakue, pada bubur ayam Sukabumi, cakuenya diiris tebal-tebal dan digoreng garing. Yang berbeda lagi, bubur disajikan bersama cah sayur asin dan tahu. Pelengkapnya berupa taburan irisan kulit pangsit goreng. Rasanya? Sedap sekali, lo.






MOCI

"Belum ke Sukabumi kalau belum beli oleh-oleh moci," kata orang-orang. Moci Sukabumi memang sangat terkenal, jadi kalau kita sepulang dari Selabintana atau Lido, tak salah kalau mampir dulu membeli moci.

Selain baunya wangi dan rasanya legit, moci Sukabumi biasanya dikemas dalam keranjang kue bambu. Salah satu moci yang terkenal di kota asal Desy Ratnasari ini ada di Jl. Otista No. 39. Mereka tidak membuka toko, tetapi hanya menggelar meja yang dipenuhi oleh tumpukan keranjang berisi moci. Meja itu pun hanya ditaruh
seadanya di garasi sebuah rumah.

Ibu Atin, pemilik dan pengelolanya melayani langsung pembeli dari sebuah meja yang dipasang di depan pintu.
"Nenek saya sejak tahun 1964 membuat moci. Lalu diturunkan kepada menantunya, yakni ibu saya. Setelah ibu saya merasa tidak mampu lagi, lantas diwariskan kepada saya," tutur Atin.

Menolak menyebutkan jumlah produksi per hari, Atin menyatakan bahwa moci buatannya tanpa bahan pengawet dan pewarna. "Dari dulu seperti ini. Saya hanya mempertahankan, buktinya pembeli selalu menyukainya," jelasnya.

Moci buatannya ada dua macam. Satu macam berisi kacang berbentuk bulat. Satunya kosong, dipotong kotak-kotak. Meski sudah banyak orang yang menjual moci berwarna, toh, Atin tetap mempertahankan moci tanpa warna. sdp@Rika Eridani, foto-foto : Veri Valensi



di copy paste dari www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 3:40 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Palembang

PEMPEK
Pempek tentu jadi prioritas utama bagi para turis domestik atau orang Palembang asli yang lama meninggalkan kotanya. Banyak sekali kedai pempek di sepanjang jalan. Namun Sedap Sekejap mencatat, paling tidak ada 3 kedai pempek yang diminati banyak orang.
Yang pertama adalah Pempek Dempo. Letaknya di Jl. Dempo Dalam. Banyak jenis pempek dijual di situ dari lenjer (pempek panjang), kapal selam (pempek isi telur), pempek tahu (tahu diisi pempek), pempek adaan (pempek bulat), dan pempek pepaya (seperti pastel diisi serutan pepaya). Satu lagi adalah pempek kerupuk yang bentuknya seperti mi bergulung-gulung. Semua jenis pempek memiliki dua ukuran besar dan kecil.
Begitu datang, biasanya pengurus kedai akan menyajikan seluruh jenis di piring berikut piring kecil untuk tempat menaruh cuka. Cukanya sendiri ada di dalam botol yang tersedia di tiap meja. Cara makannya cukup unik. Kalau di sini pempek disajikan dengan kuah mengguyur, di sana pempek dimakan dengan cara dicocolkan pada kuah. Itu sebabnya tempat untuk kuah cukup di piring kecil. Kecuali pempek, di kedai ini juga dijual makanan khas lain yang masih berhubungan dengan pempek seperti tekwan, model, laksam, dan celimpungan.
Tekwan adalah sup yang agak asam rasanya dengan bakso ikan yang dilengkapi kaldu udang, soun, jamur kuping, dan irisan bengkuang. Mirip dengan sup ini adalah model. Isinya berupa irisan pempek tahu lalu disiram dengan kuah yang mirip tekwan.
Laksam juga berisi pempek. Tetapi kali ini pempek lenjer. Kuahnya bersantan. Begitu juga dengan celimpungan. Hanya saja pempek yang digunakan adalah pempek adaan dan kuahnya berwarna kuning.
Kedai pempek lain yang populer dan juga banyak dikunjungi adalah Pempek Noni. Letaknya di Jl. Kolonel Haji Burlian, di depan kantor polda. Sama seperti pempek Dempo, di sini pun bisa Anda temui aneka jenis pempek dalam dua jenis ukuran. Di tempat ini juga Anda bisa membeli oleh-oleh lain berupa aneka kerupuk dan kemplang.
Satu lagi tempat pempek yang sedang naik daun adalah Pempek Pak Raden. Kedai ini sudah 10 tahun usianya. Pendirinya adalah Bapak Ahmad Rivai Husein. Tentu juga dilengkapi oleh-oleh khas Palembang seperti kerupuk dan tekwan kering (bakso ikan kering siap pakai).
Menyadari banyak orang senang membawa pempek untuk oleh-oleh di ketiga tempat ini sudah disediakan kemasan khusus berbentuk kardus yang diplakban rapat. Di dempo, malah disediakan cuka dalam konsentrasi pekat hingga kita tidak terlalu berat menjinjingnya. Sesampai di rumah larutan cuka tadi tinggal diencerkan dengan air.
Kalau Anda berjalan-jalan di jalan utama, selalu tampak pempek yang dijual di kaki lima atau dijual di gerobak dorong secara berkeliling. Ada jenis pempek yang unik yang tidak dijual di kedai di atas. Namanya juga pempek lenggang, tetapi bentuknya bukan bulat panjang. Tetapi adonan dasarnya pempek, dari ikan, tepung kanji, dan ditambah telur. Makanya warnanya kekuningan. Adonan ini dimasukkan dalam takir daun berbentuk segi empat lalu dibakar. Kemudian panas-panas dimakan bersama kuah cuka.

KERUPUK
Jalan sedikit dari Pempek Dempo Anda bisa temukan toko yang menjual aneka macam kerupuk. Tepatnya di Jl. Dempo luar. Namanya Kerupuk 601. Segala jenis kerupuk dijual di situ. Umumnya para pembeli membeli dalam jumlah besar untuk oleh-oleh.
Sama dengan kerupuk 601, ada lagi kedai kerupuk yang dinamakan Taxi 333. Di sini dijual lebih dari 10 jenis kerupuk kemasan kecil hingga kemasan besar. Berbeda dengan kerupuk 601 yang cuma menjual, kedai kerupuk 333 juga menjadi tempat untuk membuat kerupuk.
Orang Palembang menyebut kerupuk dengan nama kemplang. Tetapi sesungguhnya ada perbedaan khusus antara kerupuk seperti yang selama ini kita kenal dengan kemplang. Secara pembuatan memang tidak berbeda jauh, tetapi penyelesaiannya berbeda. Kerupuk digoreng, sedang kemplang dibakar.
Ada tiga jenis utama kerupuk atau kemplang yang dijual yaitu ikan gabus, belida, dan tenggiri. Yang terbuat dari ikan tenggiri, rasa dan aromanya lebih tajam. Untuk membuat kerupuk-kerupuk ini dibutuhkan waktu 3 hari. Dari tiga bahan dasar tadi dibuat aneka bentuk kerupuk. Dari yang ukurannya bulat kecil (garis tengah 4 cm), bulat lebih besar, oval, sampai seperti mi yang bergulung-gulung. Anda tinggal memilih bahan dasarnya sekaligus bentuk dan ukuran kantongnya.

MARTABAK HAR
Kalau di Jakarta atau beberapa tempat lain martabak telur berisi adonan daging, lain dengan Palembang. Martabak telur betul-betul cuma berisi telur. Setelah kulit yang lebar tipis itu dicelupkan ke minyak panas, segera dituangkan kocokan telur ayam di atasnya. Kulit lantas dilipat seperti biasa lalu dibiarkan sampai cokelat.
Martabak seperti ini disajikan bersama kuah kental yang terbuat dari campuran kentang, air, dan rempah-rempah. Nah, martabak serupa ini yang cukup populer di Palembang adalah martabak Har singkatan dari Haji AbdulRosak, sang pemilik yang orang Palembang keturunan India. Letaknya di Jl. Jend. Sudirman.
Usia kedai ini sudah cukup tua karena sudah berdiri sejak tahun 1930. kedai ini selalu ramai dikunjungi dari siang hingga malam. Tak heran kalau setiap hari harus disediakan paling tidak 4 peti telur.

MASAKAN KHAS PALEMBANG
Banyak kedai atau restoran yang agak besar yang khusus menjual masakan atau hidangan Palembang. Di antaranya adalah Pindang Meranjat yang letaknya di daerah Pakjo. Ada lagi restoran serupa bernama Pindang Pegagan yang letaknya di Jl. Demang Lebar Daun. Keduanya menyediakan tempat lesehan hingga yang makan bisa bersantap dengan santai beralaskan tikar.
Restoran lainnya adalah Palembang Indah. Letaknya tepat di belakang Internasional Plaza. Hanya saja di sini tidak disediakan tempat lesehan. Tetapi ketiganya menyediakan makanan khas Palembang yang cukup variatif dan banyak jenisnya. Mulai dari pindang yang rasanya asam-asam segar karena ditambah nanas, pentung daging (bola-bola daging giling berbumbu abon), brengkes (pepes), sate ikan (gilingan ikan yang dibumbui dan dicampur telur lalu dibungkus daun dan dikukus), dan sambal kemang atau mangga muda.

LEMPOK DUREN
Lempok duren amat terkenal di Palembang. Namun adanya hanya musim durian saja. Di toko-toko oleh-oleh lempok berbungkus kertas minyak ini selalu terlihat. Dijual per kilogram. Harganya relatif mahal karena bahan dasarnya betul-betul hanya durian dan gula.

PASAR AMPERA
Pergi ke Palembang tanpa datang ke pasar Ampera rasanya kurang lengkap. Pasar ini termasuk pasar yang besar dan terkenal di Palembang. di pasar ini bukan cuma dijual sayuran dan buah-buahan tetapi bahan-bahan khas Palembang. Misalnya, bekasem.
Bekasem dibuat dari ikan kecil yang dicampur nasi lalu ditaruh di tempat tertutup rapat dan dibiarkan menjadi asam. Setelah cukup waktunya, bekasem digoreng atau ditumis sampai berbutir-butir, dihidangkan bersama nasi hangat.
Di pasar ini juga disediakan bermacam bumbu giling yang sudah dibungkus sesuai jenis masakannya. Misalnya bumbu rendang, malbi, dan kari. Praktis sekali hingga saat memasak, kita tidak perlu lagi meracik dan menghaluskan bumbu. Anda tinggal membeli daging, ayam, atau ikan patin yang banyak juga dijual di sana dalam bentuk potongan-potongan yang artistik.
Menjelang Lebaran atau Lebaran Haji, dijual juga ketupat kosong. Umumnya rumah ketupat terbuat dari daun kelapa, tetapi selongsong ketupat di Palembang terbuat dari daun lontar hingga warnanya cokelat muda. Bentuknya pun besar-besar, jauh lebih besar dari ketupat pada umumnya. sdp@Urip Santoso, foto-foto: Urip

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com oleh sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:36 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Jepara&Kudus

JEPARA

SUP UDANG

Makanan khas Jepara ini sangat populer di masyarakat Jepara, tetapi warung yang menyediakan sajian ini belumlah banyak. Salah satu yang terkenal adalah Sop Udang Mbak Yati yang terletak di Jl. Wahid Hasyim No. 184. Warung makan ini buka dari jam 07.00 pagi hingga sekitar jam 15.00 atau tergantung habisnya stok sup udang. "Biasanya kalau hari libur, ya, cepat habis. Kalau hari biasa saya buka sampai jam 16.00," ujar Yati, sang pemilik.

Sup udang yang disajikan bersama nasi putih ini berupa sup dengan kaldu udang. Isinya berupa potongan halus kol dan udang rebus. Disajikan hangat dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri. Pada saat memesan, biasanya kita akan ditanya, mau pedas atau tidak. Kalau suka pedas, pada piring untuk menyajikan Sup Udang, langsung diulek cabai rawit segar. Baru ditata nasi dan kol. Kemudian disiram kuah Sup Udang yang bercita rasa manis gurih itu. Rasanya? Wuah sedap sekali! Biasanya orang Jepara menyajikan atau menikmati Sup Udang saat sarapan pagi.

KACANG LISTRIK

Namanya terdengar antik. Dalam benak kita kacang ini merupakan kacang yang keriting. Padahal yang dinamakan kacang listrik adalah kacang tanah yang digoreng kering dengan pasir. Kacang yang gurih dan renyah ini mudah kita temui dan dijadikan oleh-oleh khas Jepara. Sayangnya, industri kacang garing ini masih berupa produksi rumahan. Salah satu produsen kacang listrik yang terkenal adalah Ibu Rosidah yang tinggal dan memproduksi kacang listrik di daerah Saripan.

Usaha kacang listrik ini sudah ia jalankan sejak 30 tahun lalu. "Dulunya saya hanya membuat sedikit-sedikit. Dibungkus dengan kertas minyak, dan dijual ke sekolah-sekolah. Lama-lama banyak yang mencari dan akhirnya sekarang dalam sehari bisa produksi 3-4 kilogram. Kalau sedang libur, bisa lebih," ungkap Rosidah.

Tetapi saat liburan, lanjutnya, ia bisa menjual kacang sekitar 10 kilo pada musim liburan. Membuatnya cukup lama. "Untuk mendapatkan kacang yang renyah dan gurih, kita harus merendam dulu dengan bumbu bawang putih minimal selama 1 jam," terang Rosidah.
Agar rasanya enak, Rosidah menggunakan banyak bumbu. Untuk 1 kilogram kacang tanah, ia memakai 100 gram bawang putih sebagai bumbu. Setelah direndam dan ditiriskan, baru kacang tanah berbumbu tadi digoreng dengan pasir laut yang sudah dibersihkan.

Kenapa harus dengan pasir? Karena, "Digoreng dengan pasir lebih enak karena dan hasilnya lebih garing dan tak berminyak," kata Rosidah yang menjual kacang listrik-nya Rp. 15.000 per kilogram.


WEDANG CORO

Menikmati sore hari di Jepara paling enak sambil ditemani secangkir Wedang Coro. Minuman beraroma jahe dan disajikan hangat ini sepintas lalu serupa dengan bandrek atau bajigur. Bedanya minuman ini ditambahi dengan bubuk rempah-rempah berupa merica dan aneka apotek hidup. Tak heran kalau rasanya cukup pedas dan membuat perut kita hangat. Untuk wedangnya berupa air jahe yang ditambah santan, daun pandan, dan daging kelapa muda yang dipotong kotak-kotak kecil.

Salah satu pembuat Wedang Coro yang sedap adalah Pak Slamet. Tiap sore sekitar pukul 16.00 ia sudah mangkal di Jl. W.R. Supratman. Sambil
menjajakan Wedang Coro, ia juga menjual aneka gorengan sebagai teman minum Wedang Coro.



TENGGIRI

Sebagai penghasil ikan, Jepara juga dikenal sebagai pembuat kerupuk tenggiri. Ada satu daerah di Jepara, Jl. Kyai Moliki, yang khusus membuat kerupuk tenggiri. Salah satu pembuat sekaligus penjualnya adalah Ibu Siti Jubaedah.

"Saya mulai usaha ini sejak 10 tahun lalu. Mulanya, ya, hanya sedikit, lama-lama bisa produksi sampai 1 kuintal kerupuk sehari. Kalau sedang musim hujan seperti ini, biasanya untuk mengeringkan kerupuk perlu bantuan oven," jelasnya.

Sedangkan untuk kalangan tertentu lebih menyukai membeli kerupuk tenggiri di Pecinan. Karena prosentase pembuatannya 1:1, yaitu 1 kilogram ikan ditambah 1 kilogram pati, maka harga jual kerupuk mentah ini jauh lebih mahal, jelas harganya lebih mahal, sekitar Rp. 30.000 per kilo.


SEAFOOD

Anda ingin menikmati seafood sambil ditemani deburan ombak? Langkahkan kaki menuju Pantai Bandengan atau dikenal pula sebagai Pantai Tirta Samudra. Di lokasi ini, kita bisa menemukan rumah makan yang menyediakan sajian aneka hidangan laut. Salah satu rumah makan yang terkenal adalah milik Ibu Sri. "Kalau mampir ke sini jangan lupa mencicipi ikan bakarnya. Sedap, lo," pesan seorang teman kepada Sedap Sekejap.

Setelah dicoba memang rasanya sangat enak. Apalagi disajikan hangat-hangat. Bisa dimakan dengan nasi putih ditemani lalap segar atau dicocol dengan sambal. "Rahasianya terletak pada bumbunya. Kita memiliki bumbu rahasia untuk membuat ikan bakar Bu Sri tetap lezat," ungkap Jumarmi, karyawan Ibu Sri.
KUDUS

SOTO KUDUS

Siapa yang tak kenal soto kudus? Bukan hanya di kota-kota besar di Indonesia saja yang sudah kenal kepopuleran soto ayam yang nikmat ini, di berbagai daerah kecil pun selalu saja ada yang menjajakan soto kudus. Makanya kalau berkunjung ke kota Kudus, jangan tidak mencicipi hidangan khas Kudus ini.

Soto Ayam yang sarat dengan kaldu ayam kampung dan rasanya menyegarkan ini, sangat mudah ditemui di seluruh pelosok kota Kudus. Di Kudus, Soto Pak Deluh ini paling terkenal, hingga memiliki 4 outlet di kota Kudus. Saat ini pengelolanya bukan Pak Deluh, tetapi sudah diwariskan kepada cucu-cucunya. Salah satunya adalah Ibu Elliyani dan suaminya Pak Ronji yang saat ini mengelola cabang di Jl. R. Agil Kumadya.

Walaupun sudah memiliki 4 cabang, tetapi dalam pembuatan soto, tetap menjadi satu. "Dibuatnya di dapur yang sama dan dibuat oleh orang yang sama. Baru kemudian dibagi 4 bagian," jelas Ronji.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tiap harinya minimal kedai ini menyediakan 30 ekor ayam kampung. Menemani soto, disediakan jua sate hati dan ampela ayam, sate telur burung puyuh, dan sate gatra (calon telur ayam, Red.) Tak kurang dari berbagai pejabat di Jawa Tengah dan artis-artis kondang pernah singgah di kedai soto yang sederhana ini.
SOTO KERBAU

Berawal dari larangan Sunan Kudus kepada pengikutnya untuk tidak makan daging sapi, maka banyak sekali warung yang menyediakan kudapan berupa daging ayam atau daging kerbau. Sebelum mencicipi sendiri, kita akan berpikir rasa atau aroma daging kerbau pasti kurang enak. Padahal, kalau kita mengunjungi rumah makan yang menyediakan masakan daging kerbau yang sudah kondang, kita tak akan bisa membedakan rasa dan aromanya dengan daging sapi, lo!

"Untuk orang Kudus, daging kerbau rasanya lebih sedep dibandingkan dengan daging sapi," terang Mbak Masrumi, pengelola Warung Soto Kerbau Pak Siban. Daging dan jeroan kerbau olahan Warung Soto pak Siban terasa lembut dan dagingnya berwarna merah muda. Rasa sotonya pun segar. "Itu berasal dari kaldu daging kerbau. Pokoknya kalau sudah sekali mencoba, pasti akan ketagihan," janji Masrumi.

Bersama sang ibu, Ny. Kasruni, mereka meneruskan usaha Soto Kerbau Pak Siban yang saat ini sudah meninggal dunia. Dalam sehari mereka harus menyiapkan 8 kilogram daging kerbau. Jam buka warung dari pukul 07.30 hingg pukul 10.00. Setelah itu soto kerbau sudah ludes tandas. Harganya juga cukup terjangkau. Satu porsi hanya Rp 2 ribu.

Menyajikannya bukan dalam mangkok, melainkan dengan piring. Soto Kerbau disajikan bersama nasi putih, baru diguyur dengan kuah dan potongan daging kerbau. Rasanya sudah jelas, gurih dan pantas dicoba.








JENANG KUDUS

Nah, oleh-oleh yang satu ini jangan lupa dibeli. Jenang Kudus merek Sinar 33, Mubarok, Mabrur, atau Viva. Ketiga merek ini adalah jenang (dodol, Red.) yang sangat terkenal di Kudus. Sehingga orang yang berkunjung ke Kota Kretek ini tak pernah lupa membeli untuk oleh-oleh keluarga dan teman di kota asalnya. Kalau ingin membeli jenang khas Kudus ini, ada baiknya langsung membeli di toko Sinar 33 di Jl. Sunan Muria No. 33. Karena di toko ini kita bisa memperoleh semua merek jenang Kudus di atas. Bahkan kita juga bisa menikmati rumah asli Kudus sambil berbelanja jenang untuk oleh-oleh.

Salah satu pengusaha jenang Kudus adalah Ny. Hj. Mabruri, pengusaha jenang mereka Sinar 33. Mubarok, Mabrur, dan Viva. ia mulai berproduksi pada tahun 1915. Pembuatan jenang masih mempergunakan tangan, begitu juga dengan pengemasannya. Sementara penjualannya dilakukan secara direct selling.
Potensi jenang makin berkembang setelah tahun 1933. Karena makin besar, jenang yang dahulunya 100 persen mempergunakan bahan alami, kini mulai dikemas kertas. "Dahulu masih mempergunakan loyang tampah," kenang Bapak M. Noordin, Kepala Bagian Pemasaran Pj. Mubarok Group.

Hingga kini jenang Sinar 33 dengan kemasan kertas masih kami produksi dan bisa menguasai 30 persen seluruh penjualan jenang grup Mubarok. Bahkan kini Mubarok memproduksi 4 merek. "Tetapi semuanya kami produksi dan pasarkan bersama-sama sehingga tak ada persaingan di antara produk-produk ini.

Walau banyak produksi jenang serupa tersebar di seluruh Kudus, sampai kini Jenang Kudus Sinar 33, Mubarok, Mabrur, dan Viva belum tergoyahkan. "Kami berusaha untuk tidak berhenti di satu titik kepuasan. Kami terus mengembangkan usaha ini, selain diversifikasi merek, juga mengembangkan resep jenang untuk makin tahan lama dan siap untuk masuk ke internasional," tutur Noordin.

Jenang Kudus ini mampu menghabiskan 4-5 kuintal kelapa untuk sekali produksi. "Untuk masa liburan atau menjelang lebaran bisa sampai 3-4 kali lipat."


PINDANG KUDUS

Makanan yang satu ini hanya bisa kita temui di Kudus. Sesuai dengan namanya, pindang ini cita rasanya manis. Dibuat dengan nya yang manis dan penggunaan bumbu tradisional, kluwek. Walaupun mempergunakan kluwek, tapi tetap tak berwarna hitam. Isi pindang ini berupa sayatan daging ayam dan daun melinjo.

Salah satu penjual Pindang Ayam yang terkenal adalah di warung soto Pak Deluh. Selain menjual soto ayam khas Kudus, mereka juga menyediakan Pindang Ayam yang nikmat. Lagi-lagi penyajian Pindang Ayam ini serupa dengan Soto Kerbau, yaitu mempergunakan piring dan disajikan bersama nasi putih.


LENTOG

Untuk memulai hari, orang-orang Kudus menyukai sajian Lentog. One dish meal ini berupa lontong, sayur tewel (sayur nangka muda, Red.), dan opor tahu. Yang menjadi beda karena sayur tewel dimasak hingga hancur menyerupai bubur.

Karena amat menyukai Lentog, sampai-sampai di sebuah jalan di Kudus, yaitu Jl. Tanjung Gang 1 terdapat bursa Lentog. Biarpun banyak penjaja Lentog, tapi ada satu warung yang selalu disesaki pembeli, yaitu Warung Lentog Tanjung Pak Ndek.

Kalau Anda ingin mencoba, jangan segan meminta satu porsi, karena porsi Lentog bisa dikatakan sedikit. Menyajikannya dengan piring kecil, diisi dengan potongan lontong dan ditaburi sayur tewel. Kemudian disiram kuah dan potongan opor tahu. Kalau ingin tambah pedas, kita bisa mengambil sendiri cabai rawit yang dimasak merah seperti sayur krecek dalam gudeg. Soal rasa jangan ditanya. Jangan-jangan nanti Anda menjadi salah satu penggemar berat Lentog khas Kudus. sdp@Rika Eridani, foto-foto : Veri Valensi

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:35 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan di jakarta

JaKaRta FooD RoaD MaP.. nyam nyam ^^


A. BUBUR AYAM

1 Bubur Ayam Cikini, depan KFC (malam)
2 Bubur Ayam Hotel Indonesia (malam)
3 Bubur Ayam Jl. Tanjung, Menteng
4 Bubur Ayam Cideng, Ps. Cideng Tanah Abang (malam)
5 Bubur Ayam Sukabumi, Tebet
6 Bubur Ayam Senayan: yang enak yang di depan
Istora, mobil Ijo (Minggu pagi)
7 Bubur Ayam Sukabumi, Jl. Radio Dalam, pas tikungan
8 Bubur Ayam depan RS Pondok Indah (pagi)
9 Bubur Ayam Sawangan, depan Polsek Sawangan,
Cinere (pagi)
10 Bubur Ayam Barito , depan makam jl. Barito





B. NASI GORENG

1 Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih (malam)
2 Nasi Goreng Jl. Lembang, Menteng: jangan salah
pilih cari yang rame dikunjungi orang
3 Nasi Goreng Jl. Lombok, Menteng
4 Nasi Goreng Sosis, seberang Lippo Menteng depan
ex Nanaban Tei
5 Nasi Goreng Sea Food Cikini, dekat KFC
6 Nasi Goreng Kambing Bakti, dekat Senopati, masuk
dari Pom Bensin Senopati
7 Nasi Goreng Pekalongan, Jl. Fatmawati, Pondok
Labu, depannya ex.Circle K
8 Nasi Goreng Jl. Daksa.
9 Nasi Goreng Kambing "NGK" Kuningan, kira2 200 m
di belakang Gedung Dharma Wanita,: Rasanya tob,
bisa rekues dr rasa ga pedes ampe pedes
banget..Disitu juga ada sop kambing dan sate
kambing yg rasanya juga gak kalah nikmat
deh..Mulai 3 April buka dr jam 11 siang


C. NASI UDUK / WARTEG

1 Nasi Uduk Mas Miskun, Jl. Kramat Raya, dekat
Hotel Acacia
2 Nasi Uduk Gondangdia, di bawahnya Fly Over
Kereta Jl. Gondangdia Lama
3 Nasi Uduk Babe Saman, Jl. Kebon Kacang II, kalau
nggak salah
4 Nasi Uduk Rawa Mangun, dekat Terminal Rawamangun
5 Nasi Uduk Spesial Jl. Kali Malang, deket
terminal, dekat perempatan Jati Bening
6 Warteg Warmo, Tebet: setiap orang pasti tahu
tahu kalo harganya terlalu mahal tp rasa ngepas!
7 Nasi Uduk Dikun, depan Komp. Pertanian, Ps. Minggu
8 Warteg Setia, Jl. Fatmawati, depan Ps. Mede:
tempat makan selebriti


D. BAKMI / BAKSO / YAMIN

1 Bakmi Udin, Jl. Besuki, deket SD Besuki, Menteng
2 Bakso / Mie Bakso Jl. Tanjung
3 Mie Ayam Gang Kelinci: katanya sih yang enak di
Gang Kelinci Ps.Baru
4 Bakmi Ps. Cikini
5 Bakso Komplek IKJ, deket Bioskop 21:
tongkrongannya anak-anak IKJ
6 Bakso / Siomay LIA Pramuka
7 Bakso Matraman, di Jl. Matraman Raya, sebelahnya
SD Marsudirini: Es Durennya ennak tennan....
8 Mie deket gereja, depan PARKIT, Sabang
9 Bakmi Tropik, Ambassador Mall, Jl. Casablanca
10 Mie Lomie, Karet: hati-hati ada babi-nya
11 Baso Lapangan Tembak, Senayan
12 Mie Ayam Buncit, di Jl. Warung Buncit
13 Mie Engkoh, depan Komp. Pertanian Ps. Minggu
14 Bakso Titoti, dari Pancoran kira2 400m dari
Goro sebelah kiri jalan
15 Bakmi Boy, Ps. Mayestik, Jl. Cikajang
16 Bakso Bola Tenis, dekat Lapangan Blok S (malam)
17 Bakso/Siomay Blok S, depannya RS Kebayoran:
eh..Es Podengnya enak juga
18 Bakmi Pangsit depan RSB Asih, Melawai (BARU)
19 Bakmi Permata, Permata Hijau, dekat Tops
Supermarket >>> TOPS udah ga ada lagi skrg...
20 Cwie Mie Malang (HCM) di Arteri Simatupang, KTS
& Arteri Pondok Indah (depan Pom Bensin)
21 Baso Tirta Marta Pondok Indah, depannya Sekolah
Tirta Marta: Mie Ayam dpn gardu juga enak
22 Mie Yamin Tri-M Pondok Indah, pdi pertokoan
dekat Ora et Labora PI
23 Bakmi Villa, belakang Villa Cinere Mas, Jl.
Karang Tengah, Cinere


E. AYAM GORENG / BAKAR

1 Ayam Goreng Pemuda, Jl. Surabaya, Menteng;
Casblanca
2 Ayam Bakar Menteng, seberang Menteng Plaza
3 Pecel Ayam Bu Bambang, Ps. Benhil
4 Ayam Bakar Jl. Denpasar, Kuningan, dari
Casablanca sebelah kanan jalan (BARU)
5 Ayam Berkah, Blok M belakangnya SMP 56: yang
enak yang tenda kuning,sambelnya mantap...
6 Ayam Taliwang, Tebet; Jl Wolter Monginsidi; Jl.
P. Polim samping Apotik Jaya
7 Ayam Bakar SoGO (Somay Gope'), dari arah Halim -
Bekasi, sebelum Hero Kalimalang, kiri
8 Ayam Bakar Gantari, sebelah Blok M plaza adanya
di pinggir jalan.Ngantrii boo kalo pas jam makan
>>>>Sudah dibuka pula Ganthari di Jl. Sunda jadi
satu ged. sama EF...Suasananya lumayan enak...
9 Ayam Bakar di Bioskop Metrropol, deket RSCM,
sambelnya enak.
10 Taliwang di belakang POM bensin Melawai n di
depan bank Permata juga enak...sambelnya pedessss
shhhhhh...guramenya mantaaaabbbbb maannn!!! dan
kadang2 suka ada 2 pengamen yg suka bawain lagu2
mellow ala Wednesday Slow Machine..bisa request
pula, hehehhe


F. SEA FOOD

1 Sea Food Rawamangun, deket Ps. Rawamangun
2 Sea Food 99, Kp. Melayu, dekat RS Mitra Keluarga
3 Ikan Tude, Jl. Blora sekarang pindah ke Jl
Talang betutu
4 Sea Food di Pertokoan Bintaro Sektor 9, belakang
Mc Donald Sektor 9
5 Sea Food depannya Bunderan PSKD IV Blok M
6 Sea Food Baruna, pojokan depannya Balemang Caf=E9
7 Sea Food Muara Angke: bisa beli Ikan (milih
sendiri) dan minta bakarin disana. :oops:
8 Sea Food AYU.. dpn Balai samudera kelapa Gading
(tenda'an gitu) msk parkir komp.Balai Samudera,
trus tny tk parkirnya.. enak banget, kepiting saos
padang, kerang saos padang, cumi tepung (cocol
saos sambelnya), udang saos padang (hehe saos
padang semua, biz gua demennya yg saos padang ;p)
*Nat*


G. SATE

1 Sate Kambing Muda, bintaro (perempatan bintaro,
gerbang bintaro) top banget
2 Sate Kambing Jalan Karawang (makan siang) kalo
bingung cari teriak Buyung .aja
3 Sate Ayam bunderan Kolam Lembang
4 Sate Kambing pojokan jalan Sabang, depan kantor
polisi: ngantri selalu
5 Sate Kambing Ny. Semarang, Megaria/Metropole
6 Sate Kambing Jono, Jl. Pejompongan
7 Sate Pancoran, Jl Raya Ps. Minggu, deketnya ILP
8 Sate Kambing Bu Yanti, Duren Tiga
9 Sate Blok S, tetanggaan ama Baso Blok S, depan
RS Kebayoran
10 Sate Cikajang, Ps. Santa
11 Sate Apotik Jaya, Panglima Polim
12 Sate Ayam Jl. Samba
13 Sate Ayam depan RS Pertamina: uenakk!
14 Sate Hadori, Jl. Bangka, cabangnya Bandung:
katanya
15 Sate Ayam di pertokoan Pondok Indah Plaza,
dekat Mc Donald Pondok Indah Plaza (malam)
16 Sate Tri-M Pondok Indah, di pertokoan deket Ora
et Labora Pondok Indah(siang)
17 Sate Kambing Pak Haji Jl. Karang Tengah, dekat
perempatan Lb. Bulus(Hero Lb. Bulus) - Kr. Tengah
18 Sate Pak Heri di depannya ATM BCA, lumayan
rame, dan ada tukang juice dgn berbagai rasa yg
inovatif..adanya sore bow...


H. STEAK

1 Steak Cemara Art & Curio, Jl. Cemara
2 Steak di dalam pelataran Komplek Taman Ismail
Marzuki IKJ
3 Steak 41, Jl Tendean, sebelahnya Golden Truly
4 Steak Rollies, di Kampung Tenda Semanggi:
Chicken steak nya enak, murah lagi
5 Bebek Balap, di Tenda Bis Tingkat Semanggi
6 Abuba (Abu Bakar), Cipete: awas banyak asep!
7 Kemang Steak, Jl. H. Nawi


I. GULAI / TONGSENG

1 Deketnya Mesjid Sunda Kelapa banyak yang gerobaknya
2 Sepanjang Jalan Karawang, hati-hati dikerubutin
calo makanan (makanan aja ada calonya ). Hubungi
Buyung.
3 Jl. Mendut, deketnya Prambors, pas tikungan
deket KONTRAS
4 GULTIK (Gule Tikungan): ada yang bilang Gule
Tikus.....hiiii:-)
5 Sepanjang Bunderan Bulungan Blok M, awas banyak
Pe*%#K- nya >> Pempek maksudnya??? :))


J. SOTO / SOP

1 Sop Buntut, deketnya Mesjid Cut Mutiah, siang
doank, kadang-kadang jam 13.00 udah abis
2 Soto Mie Jl. Cilacap, Menteng
3 Soto Mie YPK, depan RSB YPK, Jl. Gereja Theresia
4 M. Soleh Kumis 999, Jalan Blora
5 Soto Madura Ps. Baru, di pojokan seberang
jalannya Mesjid Istiqlal
6 Soto Mie Jl. Lautze, Ps. Baru
7 Soto Madura Gubeng, Jl. Juanda, Sebelah Bank
Mandiri (d/h Bank Exim)
8 Sop Buntut-nya Hotel Borobudur >>>> ini mahalll
be'eng!!! -> embeeerr!! >o< *Nat*
9 Coto Makassar Kelapa Gading, Jl. Boulevard
10 Soto Betawi, tembusannya jalan Minangkabau
11 Soto Gebrak, di Lapangan Ros Tebet, yang enak
pas tikungan, deketnya tukang Ban
12 Sop Konro, Makasar, di Jl. Lap Ros Tebet, awas
ngantri
13 Sop Kambing Irwan, seberang RSB Asih, Melawai
14 Soto Kudus Blok A
15 Soto Ayam UKI Cawang letaknya di tengah lapang,
agak terperosok ke dalam
16 Soto/Sop Ayam By Pass, di prempatan depannya
Samsat Cipinang, yang ke arah tembusan Otista,
sebelah kiri setelah lampu merah
17 Soto Ayam Ambengan Surabaya, Jl. Walter Monginsidi
18 Soto Kudus Blok M, Jl. Radio Dalam


K. JAWA / SUNDA

1 Pecel Lele, Jl. Juanda depan Bank DKI
2 Dapsun (Dapur Sunda), (1) Jl Cipete 200m dari
Golden Truly; (2) Jl Gatot Subroto ex MBAU
3 RM. Nikmat Nusantara, jl. Kebon bawang 6/68, tg.
priok. deketnya kantor pajak jak-ut. Adanya siang
doang. Cobain sop buntutnya deh.... top banget!!>
4 Dapur Sunda Laksana, sebelah Bakmie GM Melawai
5 Gudeg di dalam Ps. Cikini
6 Gudeg Mbak Trie, depannya Lintas Melawai Club
7 Gudeg Lesehan Blok M, deketnya 5 a sec Blok M,
Jl. Panglima Polim
8 Gudeg Lesehan deketnya Hotel Melawai: Sorry
disini juga banyak PE.*#%..K nya
9 Warung Sunda Cobek di Palmerah sebelahnya kantor
Gramedia, kira2 400 m setelah PAsar Palmerah. Bisa
ambil makanan sendiri sesuai selera, harganya
lumayan murah..Banyak pilihannya lagi...sambil
makan bisa denger degung Sunda berbackground
gemericik air...hmm...asa di lembur euy!
Tapi...ramenya cuma pas makan siang, kalo agak
sorean, jgn harap makanannya masih ada...


L. SUMATERA

1 Jalan Kramat deket Fly Over Senen, aneka masakan
padang di jual disana hati hati ketabrak mobil
2 Sate Padang depan supermarket Tip Top, Rawamangun
3 Sate Padang seberang Lippo Menteng
4 Sate Padang Goyang Lidah depan C0inere Mall
5 Sate Padang Mak Syukur, Food Court Pasaraya Blok M
6 Sate Padang, Plaza Pondok Indah,
7 Soto Padang Jl. Pintu Air, Ps. Baru
8 Restoran Aceh di Ps. Baru, deketnya Antara:
Masakannya dicampur pake rempah-rempah, termasuk
Ganja , tapi ueenaakk >>> Kalo mau ganjanya aja
boleh gak??
9 Rumah Makan Medan Jaya, Gule Kepala Ikan sama
Asam: ganja (?) nya Ok banget
10 Ayam Pop RM Sederhana: paling enak sih yang di
Sabang
11 Sate Padang Ajo Manih di jln Balai Pustaka,
deketnya Tip Top Rwmngn, didepannya Pizza
Hut..Dagingnya gede2 dehh...adanya malem


M. ASIA

1 Remaja (Chineese), Komp. Mal Kelapa Gading
2 Tanpa Nama (Jepang), Jl. Kebun Binatang, Cikini
3 Roku-roku (Jepang), sepanjang Jl. Fatmawati
(dekat 5 a sec)
4 Restoran Trio Jl. Gondangdia Lama sudah top dari
jaman opa oma


N. GADO-GADO / KETOPRAK

1 Gado-gado Jl. Tanjung, depannya Rumah Ponco,
Awas banyak tentara dan demo!
2 Gado-gado Jl. Cemara (dekat Ps. Boplo), bumbunya
pake kacang mede
3 Gado-gado Jl. Kertajaya, jejeran Jl. Adityawarman
4 Gado-gado Jl. Kertanegara
5 Gado-gado Jl. Daksa
6 Ketoprak Jl. Sunda (dekat Sarinah), deketnya GM
sama Inter Studi
7 Ketoprak Jl. Borobudur kalo ini deket kantor
Divisi Tehnik Masima
8 Ketoprak di Lapangan Parkir Pacuan Kuda Pulo Mas
9 Ketoprak Atma Jaya, didalem Kantin Kampus Unika
Atma Jaya:
10 Ketoprak STEKPI, dekat lapangan parkir STEKPI
11 Ketoprak Jl. Ciragil, uenaak tapi mahaal!
12 Ketoprak Jl. Cikajang


O. SIOMAY / BAKPAU / LUMPIA

1 Siomay Dorongan Borobudur
2 Siomay Bulungan, depan GOR Bulungan
3 Siomay Bandung, Jl Cipete.
4 Siomay Senayan, Plaza Senayan Lt. Dasar, dekat Hero
5 Bakpau Theresia, dekat kompleks Gereja Theresia
6 Lumpia Jakarta, Jl. Pecenongan
7 Siomay pas depan Menteng Plaza


P. PEMPEK / OTAK-OTAK

1 Pempek Jl. Garuda, Kemayoran
2 Pempek Jl. Radio Dalam
3 Pempek di depan Lapangan Blok S, sebelah salon:
Top!!
4 Otak - otak Jl. Sangaji, Tanah Abang:mahal oi...
tapi es kelapa + kopyornya enak lho!
5 Otak-otak deketnya Mesjid Istiqlal: yang jualan
pake dorongan
6 Pempek "Jalan Kelor" Matraman, di sebelum
tikungan Jalan Slamet Riyadi. Saosnya enak..


Q. MARTABAK / KERAK TELOR

1 Martabak Favorit Rawamangun, depannya Apotik
Rini Rawamangun / Tiptop >>> naaahhh, ini
sebelahnya Sate Padang Ajo MAnih yg gw bilang tadi....
2 Martabak Mesir Kubang, Jl. Sahardjo
3 Martabak Bandung, di Manggarai jalan Minangkabau
(3A kalau nggak salah mereknya) >>> yg bener AA,
tp sayang disini mahal, padahal rasanya sih biasa
bgt...
4 Martabak Tendean, di Restoran Mbok Berek Tendean
5 Martabak Bandung Fatmawati, deket Perempatan
Cipete, yang enak yang sebelahnya Toko Karpet
6 Martabak Spotlite, (1) Jl. Fatmawati; (2) Jl.
Cinere Raya
7 Martabak Bandung Blok M, deketnya Duta, Barito
8 Martabak Pela, cabangnya martabak Barito
9 Martabak Bangka yang deket RCTI, deket toko buah
10 Kerak Telor PRJ, pokoknya kalo yang jual orang
Betawi pasti enak
11 MArtabak 28, cabangnya ada di Jl. Sahardjo,
Jln. Wijaya depannya PTIK. Lumayan enak dan murah
harganya


R. TAHU / TOGE GORENG

1 Toge Goreng PLN Bogor, Top Banget, depannya
Restoran Bogor Permai, Bogor yang di gubuk sebelah
tukang sate
2 Tahu Isi Tiptop, Rawamangun
3 Toge Goreng Ps. Baru, belakang Metro, Gg. Tua
Pek Kong
4 Di Jalan Ateri Pondok Indah, sebelon perempatan
Komplek KOSTRAD (sore-malam)
5 Di pelataran RuKo Pondok Indah Plaza,
biasanya mangkal deket Mc Donald


S. ES / JUICE

1 Juice Duren Ps. Cikini
2 Es Doger Jl Besuki
3 Es Krim Ragusa (Italia), Jl Veteran
4 Es Duren Matraman, Jl Matraman Raya
5 Es Kelapa / Kopyor - Otak-otak Jl. Sangaji
6 Es Doger / Es Kelapa Jl. Karawang
7 Es Palu Butung, jualannya di Sop Konro, atau
restoran Makasar
8 Es Podeng Blok S, temenannya Sate Blok S
9 Juice di Jl. HOS Cokroaminoto di depannya Bank
Lippo, macem2 tuh juice nya, dr strawberry ampe
duren..rame banget ampir tiap malem sama org2 kantoran


T. ASINAN / RUJAK

1 Asinan Jl. Kamboja, depan Tiptop Rawamangun,
terkenal dari dulu.
2 Rujak Ulek/Serut/Juhi di Jl. Sabang depan Robinson
3 Di depan Markas KODAM JAK-SEL, dari Jl. Arteri
Pondok Indah, yang mo ke PI pas di perempatan
KOSTRAD, belok kiri, * 100 meter sebelah kiri (ada
pas siang doank)
4 Rujak Aceh di Pasaraya Blok M


U. KUE

1 Kue coklat Maison Benny, Jl. Cikini, dekat TIM
2 Pistales SMA III, Jl. Setia Budi
3 Kue Tradisional Ny. Ali, Jl. Kramat Pela
4 Toko Kue TV Jl. Cikajang: enak!!!
5 Martin, Pal Merah
6 Toko Roti Bon-Bon di depan RS Sumber Waras.
rotinya lembut banget...
7.Rotiboy, Pasaraya Blok M, Mall Taman Anggrek dan
BNI Tower...paling enak kalo dimakan pas panas2
atau nget...asal rela ngantri aja..
8. Roti Bread King, adanya cuma di Mall Ambassador
Lt. 2, dan ada counternya juga di Lt. 1 Mall
Ambassador dan ITC Kuningan.. Cobain Mr. Brown Jr.
nya yg mirip2 rotiboy deh...walaupun lebih mahal
gopek, tapi ukurannya lebih gede dan rasanya ga
kalah enak dr rotiboy...


V. ROTI BAKAR

1 Roti Bakar Edi, terkenal sejak jaman taon 80'an,
di Jalan Daksa, ada jualan Nasi Uduk + Ayam, kalo
pesen bilang aja, Nasi Uduk ayam Injek-injek
2 Roti Bakar Wiwied, Jl Fatmawati, depannya ATM
BCA Fatmawati, deket Komp. Keuangan
3 Roti Bakar Pondok Indah, deket RS Pondok Indah
4 Roti Bakar di Bunderan PSKD IV Blok M


W. MACAM2

Di belakang Gedung Bidakara di dpn lap. Tennis.
Ada bubur ayam, sate padang, sate ayam, bakmi
goreng, rebus, nasi goreng, Dimsum, ikan
bakar/goreng dll.. Yg seneng liat pemandangan ABG
mending kesitu aja dech.

kiriman oman

Posted by Imelda :: 3:33 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Tasikmalaya & Garut

KUPAT TAHU

Garut boleh dibilang kota kupat tahu. Tak terbilang jumlah pedagang kupat tahu di kota ini. Salah satu pedagang yang sudah terkenal sejak lama ada di jl. Ciledug. Ahmad gozali, sang penjual kondang itu sudah berjualan sejak tahun 1970. Pertama kali berjualan Ahmad hanya bermodalkan pikulan yang ia jajakan di sekitar jalan Ahmad Yani. Baru sekitar tahun 1980 dia menetap di jl. Ciledug. Kupat tahu yang sangat terkenal ini hanya berisi ketupat dan tahu yang dipotong-potong lalu diberi bumbu kacang. Biasanya para pembeli akan ditanya, apakah berniat memakai acar atau tidak. Acarnya terdiri dari wortel dan ketimun. Bisa juga tanpa acar, tetapi memakai taoge. Satu porsi kupat tahu dijual Rp 4.500, terkadang dia juga melayani pembeli yang hanya ingin membeli setengah porsi. Karena satu porsi kupat tahu memang sangat banyak.

Dalam sehari ia mampu menghabiskan sampai 20 ikat ketupat. Satu ikat ketupat terdiri dari 4 buah ketupat.Dengan dibantu oleh dua orang teman, warung makannya buka dari pukul 08.00 sampai pukul 20:00. Namun bila sedang ramai pembeli, warungnya baru bisa tutup sekitar pukul 16.00.

Keistimewaan kupat tahu Gozali, tahunya selalu panas. Jadi, sedap bila disantap dengan taburan cabe bubuk dari cabe rawit kering yang ditumbuk sendiri



BOLU KOJA

Pedagang kue tradisional yang ada di pasar Mandala Giri Garut memang sangat banyak, namun cuma ada satu penjual yang menjual kue bolu koja. Ibu Suhana sudah berjualan di pasar itu sejak 30 tahun yang lalu.

Kue bolu yang berbentuk lingkaran dengan diameter 7 cm ini terbuat dari bahan tepung terigu, gula jawa, dan kelapa. Memang bolu koja, termasuk jajanan khas kota Garut yang sudah jarang penjualnya. Makanya tak heran kalau bolu koja Suhana tetap banyak

pengemar. Dengan bemodalkan pikulan yang dibawa oleh anaknya, Suhana bisa menjual bolu koja sampai 100 bungkus. Harga per bungkusnya dijual Rp 2.000. Ibu 4 anak ini mulai berjualan dari pukul 06.00 sampai pukul 16.00



SOTO AYAM TASIK

Soto ayam yang ada di sekitar kota Tasikmalaya kebanyakan berasal dari daerah Empang, Tasik. Sebetulnya soto ayam Tasik tidak berbeda dengan soto ayam pada umumnya kecuali dalam isi. Soto ayam Tasik memang hanya berisi daging ayam kampung yang disuir lalu disiram kuah bersantan.

Nah, kalau Anda tertarik dengan soto ini, kunjungilah kedai soto Pak Adang yang ada di jalan Empang. Kedai ini sudah ada sejak 15 tahun yang lalu. Dengan dibantu seorang putrinya, Adang mulai buka dari pukul 05.00 sampai pukul 22.00. Satu porsinya dijual seharga Rp 6.000 .

Dalam sehari Adang bisa menjual sekitar seratus porsi lebih,dan menghabiskan 10 sampai 15 ekor ayam kampung. Selain soto ayam, Adang juga menjual soto daging dan babat.

SATE SAPI & SATE DOMBA

Mau cari sate sapi di Tasik? Sama sekali tidak susah. Penjual sate sapi dan domba tidak sedikit jumlahnya. Coba saja pergi ke Jl. Empang Sari. Di sana berjejer tukang-tukang sate. Salah satu penjualnya adalah Bpk. Masna. Ia sudah berjualan sejak tahun 1985.

Sate sapi buatan Masna cukup lezat dan membuat ketagihan. "Soalnya sebelum dimasukkan dalam tusuk sate, dagingnya saya rendam dulu dalam aneka campuran bumbu sampai daging berwarna kuning," kata Masna yang biasa menggunakan daging has itu. Dalam sehari ia bisa menjual sekitar 700 tusuk sate domba dan sapi. Bahkan pernah sampai 2.000 tusuk dalam sehari, dari pukul 14.30-pukul 24.00. Pegawai Masna ada 3 tiga orang.



NASI KUNING

Nasi kuning buatan Wawan sudah terkenal di jalan Ranggalawe. Nasi yang terdiri dari nasi kuning, telur dadar iris, serta kering tempe dan kacang tanah. Terkadang tempe diganti dengan bihun agar pembeli tidak merasa bosan.

Sebelum berjualan di jalan Ranggalawe, Wawan pernah berjualan di depan supermaket Yogya. Namun karena penjual nasi kuning di sekitar situ tidak sedikit jumlahnya, dia mencoba pindah ke lokasi yang sedikit penjual, namun ramai pembeli. Akhirnya, lulusan STM ini berjualan di jalan Ranggalawe. Nyatanya pilihan Wawan sungguh tepat. Kini ia bisa menghabiskan sekitar 15 sampai 20 liter beras. Satu piring nasi kuning dijualnya Rp 2.500.

Dari tamu-tamu hotel yang terdapat di sekitar tempat mangkal Wawan, sebenarnya telah berulangkali meminta Wawan berjualan sampai malam. Selama ini warungnya sudah tutup sampai pukul 16.00. Namun sejauh ini Wawan belum bisa mengabulkan keinginan para pelanggannya itu. "Sebetulnya nasi kuning saya biasa, lo. Cuma bumbunya saya lebihkan supaya rasanya lebih oke," terangnya.

ES KELAPA MUDA & KOPYOR

Berdagang di depan Masjid Agung Garut sejak 10 tahun yang lalu, Salimin bergabung dengan para pedagang es kelapa lain yang jumlah cukup banyak.

Salimin menjual es kelapanya seharga Rp 2.000 per gelas, sedang untuk satu buah kelapa, dijualnya Rp 7.000. Salimin mulai berjualan dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 20 sampai 30 butir kelapa. Bahkan lebih di musim kemarau.

Es kelapa yang dijual di Tasikmalaya ini agak berbeda dengan es kelapa yang kita kenal. Sirupnya bukan dari sirup gula biasa, tetapi sirup gula merah lalu es disajikan bersama susu kental manis.


DODOL PICNIC GARUT

Bermula dari keinginan H.Iton Damiri yang masih ingin bekerja sekembalinya dari pengungsian perang kemerdekaan. Ia terpikir untuk membuat dodol. Tahun 1949 dimulailah usaha itu. Yang dilibatkannya cuma 5 orang karyawan. Perusahaan dodol keluarga itu diberi nama Halimah, nama salah satu keluarganya.
Kini perusahaan dodol milik Iton sudah berkembang pesat. Namanya diganti menjadi Dodol Picnic. Karyawannya pun sudah berjumlah 200 orang. Jenis dodol pun dibuat variatif, dari buah-buahan, kecang, cokelat, dan banyak jenis lainnya. Pemasaran Dodol Picnic hampir ke seluruh Indonesia, seperti Medan, Surabaya, dan kalimantan. Bahkan salah satu perusahaan penerbangan Indonesia juga memakai Dodol Picnic sebagai penganan untuk penerbangan di musim haji.

Dalam sehari pembuatan Dodol Picnic bisa menghabiskan 3 ton beras ketan, 4 ton gula merah, dan 2.000 butir kelapa. Dodol Picnic sekarang juga sudah mempunyai anak usaha binaan yang khusus menjual penganan khas Garut. Prima Rasa, nama toko itu, terletak di Jl. Ciledug Garut. Penganan itu pun berlabel Picnic.



PINDANG & PAIS IKAN MAS

Pindang dan pais ikan mas Ma Ecot sudah terkenal di Garut, khususnya daerah Cikajang Garut. Usaha ini sudah mulai dirintis Ma Ecot sejak tahun 1965. Lima tahun kemudian diteruskan oleh anaknya.

Sekarang rumah makan Ma Ecot pindah ke daerah Nagrek, kira kira 36 km dari kota Bandung. Tak tanggung-tanggung jumlah rumah makan Ma Ecot sekarang. Semuanya ada 4, masing-masing dipegang oleh anaknya yang berjumlah 4 orang.

Pindang ikan mas maecot sangat empuk sampai ke tulang tulang, karena proses pembuatannya cukup lama, Pernah dicoba untuk mengganti ikan mas dengan jenis ikan lain,namun menurut Ma Ecot dan keempat anaknya, ikan maslah yang paling cocok untuk dipindang dan dipais (dipepes).

Satu ekor pindang dijual dengan harga Rp 5.000 dan pais Rp 6.000. Dalam sehari pembuatan pindang bisa menghabiskan sekitar 50 kg ikan. Sedang untuk pembuatan pais hanya menhabiskan 30 kg ikan. Tapi jumlah itu tidak tentu juga "Kita bahkan pernah menghabiskan 80 kg ikan, " aku Oni, menantu Ma Ecot. Makanya tak usah heran bila penghasilan mereka bisa mencapai Rp. 2 juta dalam sehari..

Untuk menjaga kepuasan pelanggan, ikan yang dipakai tidak sembarangan. "Saya mendatangkannya dari Tasikmalaya, tempat peternak ikan yang baik," ucap Oni. sdp@Rynol Sarmon

Dari www.sedap-sekejap.com Sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:30 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Pontianak

LEMPOK GANG KASUARI
Boleh dibilang lempok sudah jadi jajanan khas pontianak. Tetapi bukan berarti makanan ini bisa ditemukan setiap saat. Hanya pada musim durianlah seperti September, Ontober, Desember dan April-lah, lempok membanjiri kota Pontianak. Pada saat ini pun harga lempok relatif murah.
Lempok Gang Kasuari sudah berdiri sejak 25 tahun silam. Sesuai namanya industru rumahan ini diproduksi di Gang Kasuari, Jl. Merdeka Barat. Piranti masaknya seperti kuali, pengaduk kayu dan kompor minyaknya pun masih sederhana. Pemiliknya, Bpk. Abun memulai usahanya hanya dengan menawarkan produknya pada tetangga sekeliling rumah. Awalnya, usahanya tidak berjalan mulus. Teman-temannya menyukai hasil buatannya, tetapi bukan untuk dibeli. "Mereka cuma mau berter cuma-cuma," kenangnya.
Namun jiwa bisnis Abun semakin tertantang. Ia terus memperkenalkan lempok buatannya ke masyarakat luas. Kerja kerasnya tak sia-sia. Lempok buatannya mulai dicari orang di tahun 80-an. "Sekarang saya malah kebingungan karena permintaannya mulai tinggi. Padahal buash durian tidak terlalu banyak," jelas Abun yang kadang terpaksa menolak pesanan karena kesulitan durian.

Abun menekankan pesanan dalam partai besar. Makanya lempok garapannya selalu dikemas dalam kaleng minyak tanah yang besar. Satu kaleng berisi 25 kilogram lempok. Setiap kilo harga jualnya sekitar Rp. 35 ribu. Tetapi tentu ia tetap melayani pesanan kecil yang membeli lempok untuk oleh-oleh. Para pembeli partai besar biasanya membeli untuk dijual kembali. Menyadari hal ini Abun sengaja tidak mencantumkan label atau merek. "Biarlah para pembeli itu yang nanti memberi label sesuai keinginannya."
Kalau lempok buatan Abun bisa panjang umur sampai sekarang, penyebabnya tak lain karen pria ini selalu menjaga kualitas lempoknya. "Rasa dan kebersihan jadi prioritas utama. Saya juga tidak menggunakan bahan tambahan makanan. Betul-betul durian asli dan gula," tandas Abun.
Waktu musim dingin, Abun bisa menghasilkan 100 - 125 kilogram lempok. Semua itu dimasak di atas 6 buah kompor minyak dengan 15 tenaga kerja yang berasal dari tetangga sekitar rumah. Agar lempoknya semakin wangi dan padat, Abun, menyarankan menjemur lempoknya selama 3 hari sebelum dikonsumsi.


BINGKA ANGGREK

Dinamakan bingka anggrek karena kue ini diproduksi oleh ibu-ibu PKK Anggrek. Sebetulnya yang mereka buat tak cuma kue bingka, tetapi aneka hidangan khas Pontianak. Tetapi entah mengapa yang populer adalah kue bingka.
Begitu populernya kue bingka buatan para ibu PKK ini hingga mereka tak cuma terkenal di masyarakat Pontianak, tetapi juga di kalangan pejabat dan masyarakat luar kota.
Kue dengan tekstur kenyal-kenyal lembut dan kekhasan aroma ini biasa hadir dalam pesta maupun upacara adat. Bahan dasar utamanya telur, gula, dan santan.

"Perbandingannya satu banding satu," terang Ny. Asma, komandan PKK Anggrek. Untuk membuat kue bingka lebih kokoh, ditambahkan sedikit terigu. Tetapi supaya lezat, jumlah pemakaiannya sedikit sekali. Karena sebetulnya bingka tidak memakai bahan terigu sama sekali.

Ada lagi rahasia lainnya, "Santannya selalu saya masak dulu sebelum dicampur dengan bahan lain supaya tahan lama. Pemanggangan pun dilakukan agak lama. Pokoknya sampai bagian pinggir kue berwarna cokelat," ungkapnya.

Jenis kue bingka yang dijual PKK Anggrek bermacam-macam dari kue bingka ubi jalar, singkong, kentang, sampai dengan durian. Satu loyang kue bingka dijual dengan harga Rp. 3.500. Satu loyang kue bisa dibagi menjadi 6 potong.

Untuk menjaga mutu, kelompok para ibu ini sepakat tidak memasarkan bingka buatan mereka di pasar bebas. Jadi, mereka yang berminat mencicipi juadah karya mereka harus datang langsung ke Jl. Teuku Umar, Gang II. "Lewat pesanan saja sudah banyak, kok."


SATE MANIS BERKUAH
Sate Pontianak termasuk jenis sate yang unik. Satenya terbuat dari daging sapi. Rasanya manis lalu disuguhkan bersama kuah sup yang bumbunya antara lain kecap manis. Satu porsi terdiri dari 7 tusuk , plus 1 buah ketupat. Di hari dingin, hidangan ini terasa sangat oke, hangat, manis, dan gurih. Harga per porsi cukup terjangkau, Rp. 3.500.

Penjualnya, Iqbal mengakui, sate buatanya memang unik. Tetapi nyatanya begitu diperkenalkan, toh, langsung direspon pasar. Ia memperoleh resepnya dari sang ibu yang memang jago masak.

Setiap hari umumnya Iqbal bisa menjual 500 tusuk sate, tetapi di hari libur, bisa sampai dua kali lipat. Meski sudah sangat laris, toh Iqbal tidak merasa perlu membuka cabang di tempat lain. Bahkan setelah mendapat banyak saingan. Saat ini di berbagai sudut kota di Pontianak sate dengan siraman kuah sup seperti ini, banyak sekali. "Saya malah bangga kalau penjual sate ini makin banyak. Saya bangga karena hasil racikan saya sekarang jadi ciri khas sate di Pontianak," ucapnya.


KWETIAU ANTASARI

Kalau soal ketenaran, kwetiau Pontianak memang oke. Coba Anda jalan-jalan di Jakarta atau beberapa kota besar, ada saja kita temukan restoran yang mengklaim miliknya sebagai kedai kwetiau pontianak.

Kepopuleran kwetiau Pontianak memang sudah sampai ke mana-mana. Masakan dari negeri Cina ini umumnya dijual di malam hari. Coba saja berjalan-jalan sepanjang Jl. Ir. Haji Juanda, Jl. Antasari, dan Jl. Pattimura. Di sana berderet cafe kaki lima yang ditata seperti di negeri Hongkong. Di antara menu-menu masakan cina yang ditawarkan, seperti nasi goreng, ayam mabuk, ayam asap, bebek panggang, dan udang peking, selalu saja tersedia kwetiau yang mengundang selera itu. Sungguh aneh bila Anda tak tergoda. Karena aromanya sangat khas dan menggiurkan.

Kwetiau yang ditawarkan bermacam-macam, yakni kwetiau goreng, kwetiau rebus, sampai kwetiau siram. Kwetiau goreng tak beda dengan mi goreng, dengan campuran sayuran (sawi dan taoge) serta aneka daging dan jeroan. Sementara kwetiau rebus adalah kwetiau yang dimakan bersama kuah, kadang ditambah dengan bakso. Nah, yang banyak peminatnya adalah kwetiau siram. Mula-mula kwetiau ditumis dulu dalam sedikit minyak dan sedikit bumbu, kemudian disiram dengan kuah kental.

Kuah kentalnya berisi sayuran, daging-dagingan, dan aneka jeroan. Rasanya? Bukan main! Apalagi jika disantap selagi panas.
MANISAN DORONG DAN MANISAN KERING

Manisan dorong memanfaatkan buah-buahan yang banyak terdapat di Pontianak, seperti nanas, bengkuang, pepaya, ceremai, jambu bol, jambu air, asam payak (buah asam yang bulat, warnanya cokelat), dan asam buih (serupa dengan asam payak, cuma ukurannya lebih kecil).

Salah seorang penjual, Iwan, mengatakan buah yang digunakan murni buah segar. Kondisinya pun harus masih segar dan bagus. Buah segar tadi kemudian disetup dengan air gula dan pewarna.

Satu bungkus manisan dorong dijual seharga Rp 500. Banyak manisan tiap bungkus kurang lebih 100 gram. Sedangkan untuk asam payak dan asam buih harganya Rp 1.500 , isinya sekitar 4 - 5 buah.

Selain manisan dorong yang basah, di Pontianak juga dijual manisan kering. Kota ini cukup banyak memiliki penjual manisan kering. Hingga Anda tak perlu aneh kalah mendapat oleh-oleh manisan kering dari kerabat yang baru pulang dari Pontianak. Karena meski bukan makanan khas kota itu, manisan kering betul-betul marak di sana.
Menurut Ali, penjual manisan kering di Pasar Nusa Indah, manisan kering umumnya didatangkan dari Kuching, salah satu negara bagian Malaysia. Jumlah jenisnya tak tanggung-tanggung. Ada 50 jenis! Mulai dari salak, mangga, ceri, aprikot, jambu, mangga, apel, persik, plum, dan sebagainya.

Tentu manisan kering tidak hanya bisa diperoleh dari Kuching. Tetapi manisan dari Kuching memiliki kriteria tersediri. Selain rasanya mantap, renyah pula jika dikunyah. Rata-rata manisan dijual antara Rp. 10 sampai 25 ribu per kilonya. Sekali ambil, Ali membeli kurang lebih 50 kilogram untuk tiap buahnya. Manisan sejumlah itu baru habis dalam satu atau dua minggu , Namun menjelang hari raya biasanya Ali sudah menyiapkan stok manisan 3 - 5 kali lebih banyak.




BURSA OLEH-OLEH JUANDA

Mau cari oleh-oleh di Pontianak? Datanglah ke Jl. Pattimura. Di sepanjang bahu jalan berderet kios makanan yang menjajakan makanan khas Pontianak berikut makanan khas dari kabupaten lain di Kalimantan Barat. Salah satunya milik Bpk. Chandra yang sudah membangun kiosnya sejak tahun 80-an. Di kiosnya, Anda bisa memilih antara lain, lempok, manisan kering, aneka kerupuk, terasi, keripik ikan, ebi, ikan asin, sampai bawang putih segar.

Harga makanan amat bervariasi. Misalnya kerupuk ikan belida kualitas paling baik, per bungkus harganya Rp. 35 ribu, lempok per kilogram dijua Rp. 25 ribu. Ini untuk kualitas yang kurang. Sementara untuk kualitas tinggi, harganya Rp.35 ribu. "Yang tinggi kualitasnya, bahannya lebih asli," jelas Chandra.

Umumnya pembeli yang datang, membeli lempok dan kerupuk ikan belida. "Lempok dagangan saya dijami asli karena dibeli langsung di pembuat yang selalu menjaga mutu dan keaslian produk buatannya" tegasnya.

Chandra membeli lempok dalam kemasan kaleng lalu membagi dan membungkusnya sendiri. Sedangkan kerupuk ikan belida dibeli langsung di daerah Sambas dan Singkawang. Rasanya memang lebih gurih.

Selain ikan belida, Anda dapat membeli jenis kerupuk lain. Misalnya, kerupuk udang. "Bahkan dulu sebelum ikan arwana belum dikramatkan, kami pernah menjual kerupuk ikan arwana. Rasanya juga, lezat, lo."


AYAM PANGGANG SUGEBAN

Ekspansi di bidang makanan dari negara tetangga Malaysia turut memeriahkan nuansa hidangan kota Pontianak. Ayam panggang Sugeban yang berlokasi di Jl. Teuku Umar, misalnya, sebetulnya ciri khas negara Malaysia. Satu porsi ayam sugeban terdiri dari sepotong ayam panggang, nasi, sambal, dan lalapan. Harganya Rp. 8000. Anda juga bisa membeli per ekor yang dijual Rp. 35 ribu.

Ciri khas ayam ini terletak pada sambalnya. Yang meracik sambal adalah sang pemilik sendiri, Ibu Sumiati. Bahannya terdiri dari cabai merah kering, gula merah, dan air jeruk limau.

Begitu sedapnya sambal buatannya, hingga sambalnya selalu lebih dahulu habis ketimbang ayamnya. "Soalnya, pembeli tidak sungkan-sungkan minta tambah sambal kalau kesedikitan," kata karyawan yang biasa melayani pengunjung. Selain ayam berikut sambalnya, cah kangkung belacan (kangkung yang ditumis dengan sambal terasi) merupakan sayur favorit. Konon, nasi berikut ayam, dan kangkung, merupakan hidangan yang klop dan serasi.

Kedai ini buka dari pukul 10 hingga pukul 21.00. Selama jam-jam itu, pengunjung selalu penuh. Makanya, sang pemilik selalu mengimbau agar mereka memesan lebih dulu via telepon 1 jam sebelum datang.


AIR TAHU DAN SARI KACANG HIJAU PONTIANAK THEATRE

Pontianak tak cuma terkenal dengan makanannya. Ada juga minuman yang bikin kita ketagihan. Salah satunya adalah air tahu dan sari kacang hijau. Minuman ini bisa diperoleh antara lain di Jl. Pattimura. Lokasinya berdekatan dengan gedung bioskop Pontianak Theatre. Walaupun gedung bioskopnya sendiri sudah lama tutup, tetapi namanya tetap jadi embel-embel minuman ini.

Irwan, pedangan minuman ini mengaku sudah berjualan di sana sejak tahun 80-an. Setiap hari ia mampu menjual 30 liter hingga 35 liter air tahu dan sari kacang hijau.
Walaupun sarana berdagang yang digunakan hanyalah gerobak sederhana, tetapi pembeli tidak pernah putus mengerubunginya. Bahkan ada saja pembeli dari luar kota seperti Sungai Pinyuh, Sungai Ambawang, dan kota kecil lain yang berdekatan dengan Pontianak.

Makanya bila Anda ingin juga mencicipi minuman ini, datanglah sepagi mungkin (buka pukul 09.00). Karena minuman jualan Irwan selalu tandas setelah 4 jam.

Apa, sih, yang dimaksud dengan air tahu? Minuman ini tak beda dengan minuman kembang tahu yang sering dijual berkeliling. Rasanya seperti tahu lembut. Kalau kita membeli, sang pedagang akan menyendoki tipis-tipis ke dalam mangkuk hingga sepenuh mangkuk. Kemudian disiram dengan larutan gula putih. Di atasnya ditaburi gula pasir atau irisan gula merah. Bedanya dengan minuman kembang tahu yang selama ini kita kenal, kembang tahu disiram gula merah yang dimasak bersama jahe. Semangkuk air tahu dijual seharga Rp. 500, tetapi jika ingin menikmati dalam porsi besar, harganya Rp. 1.000.

Selain air tahu, sari kacang hijau buatan Irwan pun banyak dicari orang. Aromanya harum pandan. Segelas sari kacang hijau dijual Rp. 1.000. Harga jual memang sengaja ditekan agar pembeli tidak lari. "Kalaupun ada kenaikan bahan, naiknya tidak lebih dari 300 perak," janjinya.

Yang penting, bagi saya, lanjurnya, kepuasan pembeli. "Makanya kualitas bahan tetap saya utamakan. Tentu saja ditambah pelayanan. Kalau resepnya, sih, tidak istimewa, kok," kata Irwan tertawa. sdp@Tulisan dan foto, kiriman Tono

Dicopy dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by Imelda :: 3:26 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke wonosobo

KUE MANGKOK GUDANG MALANG

Kalau Anda termasuk penggemar kue tradisional, segera langkahkan kaki Anda ke daerah Gudang Malang. Di sana ada pembuat kue mangkok kondang. Tak usah heran, usaha ini sudah dimulai sejak tahun 1940. Kini usaha pembuatan kue mangkok dipegang langsung oleh Ny. Winarni yang meneruskan usaha ini dari sang ibu.

Awalnya Winarni yang sebelumnya berjualan di daerah Kretek ini, membuat kue mangkok hanya berdasarkan pesanan. Para pemesannya pun kebanyakan dari daerah Gudang Malang. Lama-kelamaan terpikir oleh Winarni, lebih baik kalau ia membuat secara rutin dan memberi merek pada dagangannya. Maka diciptakanlah sebuah merek, "Kue Mangkok Gudang Malang" yang kemudian menjadi terkenal di Wonosobo.

Kue mangkok buatan Winarni ada 2 macam, kue mangkok cangkir, dibuat di dalam mangkok dan dikukus beserta mangkoknya. Adonannya dibuat dari santan sehingga rasanya cukup gurih. Satunya lagi adalah kue mangkok daun. Adonan dimasukkan dalam takir daun berbentuk mangkok. Nah, jenis yang ini sama sekali tidak diberi santan. Tak cuma adonan atau wadah yang membedakan jenis kue mangkok yang dijual di situ. Ukurannya pun ada 2 macam, besar dan kecil.

Sekali membuat, Winarni mengaku bisa menghabiskan sekitar 20 kilogram tepung beras. Dari sejumlah tepung itu bisa dihasilkan 600 buah kue. Proses pembuatan kue mangkoknya dimulai sejak pukul 2 dini hari sampai pukul 10.00. Jadi, Anda sudah bisa membeli bersama para pelanggannya yang lain mulai pukul 11 siang.

Kue mangkok cangkir dijual hanya Rp 350 sedang kue mangkok dalam takir dijual Rp 400. Itu harga kue mangkok ukuran kecil. Untuk ukuran besar dijual Rp 650.

Selain membuat kue tradisional, Winarni juga membuat abon sapi yang juga diberi merek Gudang Malang. "Dan memang sebenarnya yang lebih dulu dikenal orang adalah abon Gudang Malang. Namun karena naiknya harga bahan pokok dan menurunnya daya beli orang sekitar, saya bikinnya cuma kalau ada pesanan," jelas Winarni.

Kini ada beberapa toko yang masih rutin berlangganan abon malang buatan Winarni. Pelanggannya bukan cuma dari Wonosobo, tetapi juga dari Malang, Surabaya, dan Yogya. Bahkan ia pernah juga melayani pembeli dari Jakarta.

Abon buatan Winarni bisa bertahan hingga 1 1/2bulan. Sekali membuat ia menghabiskan 60 kilogram sampai 1 kwintal daging sapi. Untuk itu Winarni dibantu oleh 4 orang karyawan. Abon buatannya itu dijual seharga Rp 90 ribu per kilonya.


MI ONGKLOK PAK MUHADI

Rasanya hampir tiap daerah di Indonesia terdapat pedagang mi. Nah, di Wonosobo mi yang terkenal adalah mi ongklok. Aslinya bernama lomi, tetapi karena pembuatannya diongklok-ongklok, belakangan dikenal sebagai mi ongklok. Mi ongklok pertama kali dipopulerkan oleh Bpk. Muhadi.

Semula Muhadi berjualan dengan menggunakan gerobak dorong dan hanya berkeliling di sekitar Jl. Achmad Yani. Baru sekitar tahun 1970 Muhadi membuka kios yang juga bertempat di Jl. Achmad Yani. Dengan dibantu anaknya, Muji, usaha mi ongklok maju pesat dan semakin banyak pelanggannya. "Pelanggan saya bukan cuma dari Wonosobo, lo, tetapi juga dari luar wonosobo," kata Muji bangga.
Mi ongklok santapan yang lezat dan hangat. Mi dicampur dengan kol dan irisan kucai lalu disiram kuah dari kaldu ayam. Kaldu kental (dicampur larutan kanji) ini mengepul panas, mengundang selera. Entah mengapa mi ongklok dijual bersama 10 tusuk sate sapi ber- bumbu kacang. Harga mi ongklok berikut sate sapi Rp 5.500. Tetapi tentu saja Anda boleh-boleh saja bila cuma ingin menyantap semangkuk mi tanpa sate. Nah, untuk semangkuk mi itu Anda cukup membayar Rp 1.000. "Mau satenya saja juga boleh. Harganya Rp 4.500," ungkap Muji.

Mi Ongklok Pak Muhadi bisa dinikmati setiap hari mulai pukul 12 siang hingga pukul 7 malam, tetapi lebih baik kalau Anda berusaha datang lebih awal sebab kadang, "Pukul setengah enam sudah habis," kata Muji.

Dalam sehari kios ini bisa menjual 350 sampai 400 porsi mi dan sate, bahkan di hari libur bisa terjual 500 porsi. Muji juga menerima pesanan untuk acara pernikahan. "Kebanyakan, sih, dari luar Wonosobo. Misalnya, dari Semarang, Magelang, dan Banjarnegara.


KIOS DENDENG TIVI
Cari oleh-oleh untuk dibawa pulang? Langkahkan kaki Anda ke Kios Dendeng Tivi yang ada di jalan Bismo 21, Desa Sumberan. Kios ini sudah 10 tahun berdiri. Sang pemilik, Ny. Yuanita, bukan cuma menjual, tetapi juga membuat beberapa penganan yang digelar di situ. Salah satunya adalah dendeng dan lidah sapi.

Awalnya dendeng buatan Yuanita dikenal dengan nama dendeng gebuk. Kemasannya pun di dalam kaleng. Tetapi lama-lama Yuanita merasa, akan lebih praktis dan tahan lama jika dendeng dibungkus dalam kantung plastik.

Yuanita menyediakan 3 jenis dendeng yakni, dendeng rasa asin, manis, dan pedas. Kebanyakan ia memasarkan dendengnya di luar wonosobo, sampai ke Semarang,Purwokerto, bahkan sampai ke Bandung. Dalam sehari ia menghabiskan 30 kilogram daging sapi untuk dibuat dendeng dan 5 kilogram lidah sapi.



Untuk daging Yuanita memesan khusus pada penyalur yang di- datangkan khusus dari Wonosobo sendiri dan Boyolali. Yuanita tak sungkan- sungkan berkonsultasi dengan dinas peternakan setempat untuk beroleh daging berkualitas.

Selain dendeng dan lidah sapi Yuanita juga menjual abon sapi dan abon ayam gareng dan panggang. Di kiosnya juga dijual jajanan buatan para anggota IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)di wonosobo. Anda dapat menemukan kue-kue ringan seperti grubi, sale pisang, kripik tempe, opak, ketan, dodol, dan jipang.

KACANG DIENG, KERIPIK JAMUR & CARICA
Apalagi khas Wonosobo yang sering ditenteng orang sebagai oleh-oleh? Jawabnya adalah, kacang dieng dan keripik jamur. Kacang dieng tak lain dari kacang koro yang digoreng. Rasanya renyah, gurih, dan selalu bikin kita tidak berhenti mengunyahnya.

Keripik jamur juga cukup unik bagi para pendatang, terutama mereka yang tinggal jauh dari Wonosobo. Jamur merang kering yang digoreng dengan tepung ini pun rasanya asin-asin gurih. Makin baru dibuat, makin renyah rasanya.

Kedua oleh-oleh yang terkenal bermerek Cendawa Mas. Pembuatnya adalah Ny. Kodhijah. "Saya sudah mulai membuka usaha ini sejak tahun 1980," kisahnya.

Bersama tujuh orang karyawannya Khodijah biasa menggoreng 2 kwintal kacang dieng dalam sehari dan 6 kwintal jamur. Selain kacang dan jamur, Khodijah juga membuat manisan carica atau manisan pepaya. Manisan carica juga sama larisnya dengan kacang dan jamur. Makanya setiap hari ia harus bisa mengolah 25 kilogram carica untuk dijadikan manisan.

Untuk kacang dieng Khodijah menjual dengan harga Rp 17.000 tiap kilogramnya. sedang keripik jamur Rp 18.000 tiap kilogram. Sementara harga manisan carica adalah Rp 4.500 per botolnya. Semua penganan khas buatannya juga tidak hanya dipasarkan di Wonosobo, juga ke Semarang, Solo, Yogya, dan Jakarta. Untuk memberi servis lebih Khodijah memberi harga khusus kepada para pembelinya yang memesan dalam jumlah besar. sdp @ teks & foto: Rynod S.

Di copy dari www.sedap-sekejap com oleh Sujiwo

Posted by Imelda :: 3:22 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Medan

SOTO MEDAN DAN SOP TAPANULI

Kalau Anda termasuk orang yang gemar makan soto, jangan lupa mampir ke Soto Medan Sinar Pagi di Jl. Sei Deli. Pengelolanya adalah Ibu H. Yurdanis. Ia meneruskan usaha ini dari sang ayah, Bpk. Piliang.

Pada awalnya soto ini tidak seterkenal sekarang. Yurdanis yang merantau dari Padang ke Medan memulai usahanya dengan coba-coba. "Modalnya pun cuma 3 kilogram beras dan sekilo daging," jelas Evie adik Yurdanis yang kebagian tugas kasir.

Dalam kurun waktu tiga puluh lima tahun lamanya akhirnya soto Piliang dikenal luas warga Medan. Orang Medan sering menyebutnya sebagai Soto Sei Deli. Setiap hari warung mereka diserbu pelanggan dari berbagai lapisan. Bukan hanya rakyat biasa bahkan para pejabat pun, tak segan-segan mampir di warungnya. Kalau dulu mereka cuma punya 3 karyawan, sekarang malah sudah 12 karyawan.

Di kedai ini Anda bisa memilih soto ayam, daging, babat, usus, paru, dan limpa. Tentu dengan rasa yang sedap sekali. Kalau tidak, mana mungkin sang pemilik bisa menjual 400 - 500 piring seharinya. Jangan kaget, lewat soto ini, bisa dicapai sekitar Rp. 40 - 50 juta tiap bulan.

Begitu larisnya soto sei deli ini, sampai-sampai yang menirunya pun banyak sekali. "Untuk menjaga pelanggan, kami memasang plakat, 'Soto Medan Cabang Sei Deli' di tiap cabang kami," ungkap Evie.

Selain soto, orang Medan juga tergila-gila pada sop kambing. Coba saja datangi kedai sop kambing Al-Hamra, milik Mansyur Zubaidi (60) yang mangkal sehari-hari di Jl Tapanuli, Medan. Sop kambing warga keturunan Arab yang sudah mangkal di kawasan itu sejak tahun 80-an ini, memang lain dari yang lain.

Ternyata rahasianya ada pada bumbu. "Bumbunya masih saya datangkan dari Jedah, Timur Tengah. Untuk bunga lawang saya masih minta dikirimi dari Thailand karena bunga lawang Indonesia kurang wangi. Tapi untuk cengkeh, saya cuma membelinya dari Aceh," kata Zubaidi ayah lima anak dan kakek tiga cucu ini.

Sebelum berkecimpung langsung di kedainya, Mansyur hanyalah tukang perabotan rumah tangga. "Istri saya yang jualan sop. Saya sendiri paling-paling cuma kebagian jaga," sela Mansyur yang sempat jualan di Deli Plaza selama 3 tahun ini.

Kini pelanggan mereka tak cuma masyarakat sekitar. Artis tenar, atlet, pejabat Ibu Kota, bahkan tamu dari luar negeri pun rajin singgah di kedainya. "Pernah ada tamu dari Taiwan. Dia suka sekali dengan sop buatan saya. Sampai-sampai dia minta dibungkuskan untuk dibawa ke negerinya. Mungkin mereka senang karena warung saya sederhana dan tradisional. Ya, di sini, kan, cuma ada meja dan bangku,"papar Mansyur.

Meski laris Mansyur belum mau menurunkan kemahirannya membuat sop kepada anak-anaknya. "Mereka masih sekolah," cetus Mansyur yang tetap terus menjaga kualitas sopnya ini.

"Saya masih antre setiap pagi di Sentral Pasar supaya dapat daging yang baik yang akan dipotong."

Tak cuma itu, lanjut Mansyur, "Saya juga turun tangan sampai ke soal pencucian daging. Kalau tidak bersih, saya takut bau."
Setiap hari Mansyur menyediakan 20 kilogram daging. Daging sebanyak itu kira-kira bisa mendapatkan 200 porsi sop. Semangkuk sop dijual Mansyur Rp. 9.000. Di akhir minggu atau di hari libur, tentu Mansyur harus menyiapkan lebih banyak sop lagi.


IKAN SALE

Dari namanya sudah bisa diketahui, ikan sale adalah ikan yang dipanggang dengan asap yang banyak hingga warnanya hitam dan mengeluarkan minyak. Ikan ini merupakan makanan khas masyarakat Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan).

Salah seorang penjual ikan sale di pasar tradisional Aksara Medan, Pardomuan Harahap mengaku, sudah sepuluh tahun berjualan ikan sale."Memang, sih, jualnya nggak khusus, tetapi dengan ikan asin," ujar Harahap. Sebenarnya, lanjut Harahap ikan sale punya sejarah panjang. "Dulu pada awalnya para petani secara tidak sengaja membuat makanan ini. Suatu hari, para petani yang tengah tidur di ladang menemukan banyak ikan yang terdampar di sungai. Daripada dibuang, ikan tersebut diasapi dan diberi nama ikan sale."

Tampaknya hidangan ini bisa diterima masyarakat sekitar, maka ikan sale sekarang sengaja dibuat. Umumnya ikan yang digunakan adalah lele, belut, jurung, bahung, dan lapam. Pokoknya ikan-ikan sungai.

Harga ikan sale mulai dari Rp. 25 ribu sekilo hingga Rp. 55 ribu sekilo. Dalam seminggu Harahap mengaku bisa menjual 25 kilogram ikan sale seminggu. Sengaja ia tidak mendatangkan ikan sale lebih banyak dari itu karena ikan sale cuma bertahan sampai 2 minggu. "Lebih lama lagi, ikan sale bisa dimakan rayap," jelasnya. Di samping Harahap, ada lagi penjual ikan sale di Pasar Aksara. "Dia abang saya. Omzetnya bisa sampai 10 kali lipat saya," puji Harahap.



PAKKAT ROTAN

Selain ikan sale ada lagi makanan khas masyarakat Batak Mandailing yakni pakkat atau rotan (pucuk rotan, Red.). Penganan ini berbentuk mirip bambu-bambu kecil. Dijualnya hanya pada bulan puasa. Jangan mengira rotan yang bisa disantap ini sama dengan rotan yang dijadikan kursi atau meja. "Rotan yang ini adalah jenis rotan getah," kata Panggabean, salah seorang penjual di Simpang Aksara.

Tanaman rotan getah ini biasanya tumbuh liar di hutan-hutan dan tepi sungai. Menyantapnya tak bisa mentah-mentah, melainkan dibakar dulu. Kulitnya dikupas dengan pisau atau tangan. "Nah, daging pohon yang berwarna putih itulah yang disantap. Bentuknya berlapis-lapis menyerupai rebung bambu," kata Beno Sakti Siregar pedagang pakkat yang lain.

Namanya juga pucuk rotan tentu saja rasanya tak gurih atau manis. "Rasanya justru lebih pahit dari daun pepaya atau pare. Makanya, lebih enak dimakan pakai saus atau sambal," saran sang penjual.

Meski pahit, peminatnya banyak. Maklum pucuk rotan amat dipercaya mampu menambah tenaga, mengobati darah tinggi, rematik, dan menguatkan otot, apalagi kalau dimakan secara rutin.



LEMANG TEBING TINGGI

Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (80 km tenggara Medan, Red.) terkenal dengan lemangnya. Maka, tak salah kalau kota ini disebut kota lemang. Di kawasan Jl Tjong A Fie (kini Jl KH Ahmad Dahklan) terdapat puluhan pedagang lemang degan gerobak sorongnya menjajakan jualannya mulai pukul 15.00 sore sampai 21.00 malam.

Sofia Maya (28) salah seorang pedagang lemang mengaku, setiap hari bisa menjual 400 batang lemang. Untuk itu ia membutukan 80 kilogram beras ketan per harinya. "Tapi kalau bulan pauasa bisa sampai 3 kali lipat," tambahnya.

Lemang Sofie terkenal dengan sebutan lemang batok. Konon sang neneklah yang pertama kali memperkenalkan hidangan khas tanah Minang ini ke daerah Tebing Tinggi. Hj Upik Nareh Sikumbang (84), sang nenek sudah membuka usaha lemang di kawasan ini sejak tahun 40-an. "Saat itu Nenek cuma bermodalkan 3 kilogram ketan," ungkap Sofie.

Sungguh tidak mudah berjualan lemang saat itu, jelas Sofie. Sang nenek sering kali harus berhadapan dengan Belanda yang mengejarnya. Tetapi, karena ingin mempertahankan hidup, nenek tetap berjualan. "Hingga hasilnya bisa kami nikmati turun- temurun."

Karena jualan lemang bisa menghasilkan maka sebagian masyarakat sekitar Tebing Tinggi mengikuti jejaknya. Walhasil, pedagang lemang di kawasan Tjong A Fie selalu ramai. Harganya relatif murah, antara Rp. 5 - Rp. 10 ribu per batang. Daya tahannya bisa mencapai satu minggu.

ANYANG


Santapan ini sebenarnya khas Melayu. Tetapi pencintanya dari berbagai etnis. Bahkan, ada pedagang asal Minang yang berniat "memodifikasi" resepnya agar pas dengan selera Minang. Makanan ini banyak dijumpai di restoran-restoran masakan Minang-Melayu. Bahkan jika datang bulan puasa, setiap pedagang makanan kaki lima tak pernah luput menjual makanan ini. "Habis, cocok untuk tradisi buka puasa,"cetus Farida Hanum salah seorang pedagang rumah makan yang khusus menyediakan menu anyang.

Pada bulan puasa biasanya pedagang berjualan mulai kawasan Jl Amaliun, Glugur, Simpang Limun, Serdang, Gatot Subroto serta di seputar kampus USU Medan. Anyang sebetulnya mirip urap. Hanya saja bumbu kelapanya disangrai seperti serundeng. Bumbu dasarnya tetap mirip yakni, bawang merah, serai, daun jeruk, dan ketumbar. Semuanya dihaluskan lalu disangrai bersama kelapa.

Jenis anyang cukup banyak. Ada anyang rawa, anyang umbut pisang, anyang paku alias pakis, anyang taoge, anyang rotan alias kepa, dan anyang rebung. "Nama-nama itu cuma untuk membedakan bahan bakunya saja,"tutur Hanum. Anyang biasanya dimakan dengan bubur pedas. "Tapi kalau tak ada bubur, untuk lauk nasi juga pas. Selain untuk dimakan sehari-hari anyang juga sering hadir di pesta.

Menjual anyang tentu banyak untungnya. Dengan Rp. 50 ribu, bisa diperoleh 3 sampai 4 kali keuntungan. Jadi, kalau modalnya Rp. 500 ribu, hitung sendirilah keuntungannya.

R.M. SIBOLGA

Tak pernah terpikir oleh H. Abdul Latief (61) nelayan kelahiran Singkil, Aceh Selatan ini untuk menjadi pengusaha rumah makan Sibolga yang sukses di Sibolga. Selain dirinya, adik serta abangnya pun membuka rumah makan yang sama. "Jadi di Medan ini ada 4 rumah makan yang masing-masing dimiliki oleh kami berempat," kata Latief yang merupakan kakak tertua ini.

Sepanjang hari orang-orang banyak menyerbu rumah makan ini. Mulai dari warga biasa, karyawan, bahkan pejabat antre memarkir mobilnya di setiap rumah makan Sibolga.

Awalnya, rumah makan Latief yang berdiri sejak tahun 1972 ini diberi nama Nasrul, diambil dari nama putra bungsu mereka. Pasalnya, begitu Nasrul lahir, rumah makan ini mendadak maju pesat. Pertama berdirinya di Sibolga. Karena maju pesat, maka Latif mengalihkannya ke Medan.

Kunci kesuksesannya antara lain adalah kepandaiannya dalam memilih ikan segar. "Kepandaian saya itu berhubungan dengan profesi saya yang dulu yaitu sebagai nelayan," ucapnya.
Menu yang tersaji di RM Nasrul sangat khas dan spesifik. Mulai ikan geleng, sambal pete, gulai kepala ikan kakap, sampai ikan pale. Tetapi hidangan yang paling dicari orang adalah ikan kembung kuring. "Hidangan ini betul-betul harus berasal dari ikan yang segar. Warnanya harus mengkilat dan masih keras. Insangnya pun harus segar warnanya," jelas Latief.

Ikan kembung lalu dibuat menjadi ikan isi. Bumbunya tidak jauh beda dengan otak-otak bandeng, yakni, bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan irisan daun bawang serta seledri. Tentu ditambahkan juga telur dan garam. Yang membedakan, ikan digoreng dua kali. Penggorengan terakhir dilakukan setelah ikan dibalut telur.

Meski termasuk hidangan laris, tetapi Latief hanya menyediakan hidangan ini dua kali dalam seminggu yakni hari Senin dan Kamis. Harga satu ikan Rp. 3.000. Masing-masing R.M. Sibolga bisa menjual sampai 150 ekor dalam sehari. Tak heran, karena hidangan ini bukan cuma digemari penduduk Medan, tetapi juga orang Jakarta dan penduduk negeri tetangga yang kebetulan berkunjung ke Medan.

Boleh dibilang semua hidangan yang ditawarkan, laris manis. Buktinya banyak pemesan datang dari hotel berbintang di Medan. Bahkan, hampir pada setiap acara keluarga dan kantor, selalu ada saja satu atau dua hidangan keluaran restoran ini. Karena, selain harganya murah rasanya lumayan gurih dan pas di lidah.

DURIAN MEDAN

Durian Medan terkenal dengan aroma dan rasanya yang sangat legit. Selain itu harganya juga sangat murah dibanding durian Jakarta. Harga durian Medan ukuran super berkisar Rp. 4 ribu - Rp. 10 ribu per buah bila sedang musim. Tetapi bila tiba "musim gantung", alias sedang tidak musim, harganya bisa mencapai Rp. 15 ribu. Durian yang dijual berasal antara lain dari Sibolga. Bahorok, Nias, hingga Aceh.

Ada beberapa kawasan di sekitar Medan yang banyak menjual durian. Yakni di kawasan Jl H. Adam Malik atau dikenal dengan kawasan Glugur By Pass, Peringgan, dan kawasan Kampung Lalang (Sunggal). Kawasan yang terakhir ini agaknya tak pernah sepi dari penjual durian. Setiap hari ada saja penjual durian. Mereka melengkapi tenda dengan lampu petromaks dan bangku panjang untuk para pembeli yang ingin makan di tempat.

Selain bisa makan di tempat. Durian juga bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Karena itu tiap pedagang menyediakan boks yang terbuat dari plastik kedap udara berukuran 15 x 10 cm. Isinya memuat 10 hingga 12 butir durian dengan harga Rp. 50 ribu per boks. Untuk menjamin udara tidak dapat masuk, diluar pembungkus diberi lak ban. "Soalnya udara yang masuk dapat mempengaruhi rasa durian," kata seorang pedagang.


Durian yang dikemas dalam wadah tertutup ini memiliki daya tahan sampai tiga hari lebih. Selain itu, apabila dibawa atau dikirim dengan jasa penerbangan aromanya juga tidak mengganggu orang sekitar.

RM MANDAILING SRI RESTU

Rumah makan Mandailing Sri Restu termasuk salah satu rumah makan khas Batak yang terkenal di Medan. Pengelolanya adalah Nana Nasution. Ia sudah sepuluh tahun lebih mengurus restoran yang sebelumnya bernama Restu Ibu ini.

Masakan yang jadi favorit di Sri Restu adalah daun ubi (singkong) yang ditumbuk lalu dimasukkan ke dalam perut ikan mas. Tak cuma itu masakan dari ikan yang ditawarkan restoran ini. Anda juga bisa mencoba ikan mas arsik, ikan sale yang digulai atau digoreng, serta sambal tuk-tuk.

Sehari-hari rumah makan yang dibuka sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 22.00 malam ini ramai dikunjungi masyarakat. Mulai dari masyarakat biasa, pejabat, hingga artis. "Biasanya mereka datang berombongan. Saya
sendiri tidak tahu apa istimewanya restoran saya. Yang jelas kami menyediakan masakan Medan asli. Hingga orang dari luar Medan tidak repot mencari ke mana-mana," cetus Nana yang enggan menyebut omzet restonya itu.

JAMBU BIJI TENG-TENG

Sebenarnya ini adalah manisan jambu biji biasa. Penjualnya umumnya para keturunan Cina. Dulu jambu biji teng-teng yang terkenal ada di kawasan Jl. Garut. Namun, "Sekarang sudah banyak dijual di pasar-pasar bahkan di plaza," kata Merry salah seorang pedagang jambu biji teng-teng di Jl Garut. Menurutnya,usahanya ini sudah berdiri dua puluh tahun lalu.

"Awalnya, mertua saya yang jual jambu biji ini. Diteruskan pada suami saya. Saya sendiri cuma ikut menjualkan," aku ibu tiga putra ini. Manisan jambu yang dijualnya, dibuat sendiri. "Jambunya adalah jambu Taiwan. Rasanya lebih enak, makanya penggemarnya pun banyak," papar Merry yang sudah punya pemasok langganan ini.

Jambu-jambu itu kemudian direndam dalam larutan gula yang sudah dibubuhi pewarna mekanan dan tepung orange. Lama perendaman hanya beberapa jam saja untuk jambu yang sudah dikupas. Sementara untuk yang belum dikupas, harus direndam sampai dua malam. "Kalau yang tanpa kulit direndam terlalu lama, rasanya pasti tak renyah lagi," kata Merry.

Sehari Merry membuat 50-100 buah manisan jambu biji. "Jumlah segitu bisa habis semua. Umumnya yang beli datang dari luar kota," tambah Merry yang juga berjualan rujak dan minuman segar ini.

Satu buah jambu teng-teng tanpa kulit dihargai Rp. 2000 per buah. Tetapi Anda bisa membayar lebih murah kalau beli plastikan. Satu plastik berisi 2 buah jambu, harganya Rp. 3500. Bagaimana dengan yang berkulit. "Satunya Rp. 2.500," cetus Merry.

RUJAK KOLAM

Selain jambu biji teng-teng, di Medan masih ada kawasan penjual rujak kolam Sri Deli. Kawasan penjual rujak ini sudah ada sejak tahun 45-an. "Kawasan ini, kan, memang berdekatan dengan Mesjid Raya, Istana Maimoon dan Kolam Sri Deli. Jadi, Sultan Deli, keluarga dan kerabatnya. Bila sore hari selalu singgah kemari duduk-duduk sambil makan rujak. Makanya, rujak ini kami sebut rujak kolam "Sri Deli," ujar Afrizal (46), salah seorang pedagang rujak berlabel Rujak Takana Juo. Ia mewarisi usaha orang tuanya turun-temurun.

"Mulanya kakek saya yang berjualan, lalu Bapak dan kini saya yang meneruskan sejak tahun 80-an," kenangnya. Apa, sih, keistimewaan rujak kolam ini? "Sebenarnya bumbunya sama seperti yang lainnya. Cuma rujak kami rata-rata bumbunya ditambahkan pisang klutuk atau pisang batu. Maksudnya, kalau makan rujak orang,kan,sering sakit perut atau mules. Nah, pisang ini gunanya menghilangkan rasa mules tadi," urai Afrizal.

Di Kawasan sepanjang Jl Mesjid Raya persis di depan kolam Taman Sri Deli ada enam pedagang rujak yang mangkal. Dulunya ada 25 pedagang. "Yang lain sudah merantau ke Malaysia. Lagi pula sejak kami jualan di sini sudah banyak orang yang mengikuti jejak kami," kata Afrizal. Sebungkus rujak harganya Rp. 4.000. "Padahal dulu cuma Rp. 150, lo."

Dari berjualan rujak ini Afrizal bisa mengantongi Rp. 300 ribu per hari. Dengan uang itu," Saya bisa menyekolahkan kelima anak saya."

DODOL TANJUNG PURA

Awalnya dodol Tanjung Pura di Desa Paya Prupuk, di jalan Lintas Medan - Aceh dirintis oleh M. Isa. Tetapi usaha tersebut tak lagi jalan setelah diteruskan sang anak. Kini muncul perintis baru yakni H. Syahrul Hasti
(56) . Dodolnya diberi nama "Pak Ul". Jenisnya macam-macam, dari dodol labu, dodol kacang merah, dodol nangka, sampai dodol durian.

Selain dodol, Pak Ul juga membuat makanan khas Langkat seperti kue karas, punai aram, putu kacang, wajik, kue bawang, keripik tempe, rengginang, kacang tojin, kue marke ala India/Brazil, dodol labu, dodol kacang merah, dodol nangka, dodol durian, serta wajik nanas.

"Yang membuat penduduk sekitar sini juga. Kami menjualnya ke daerah-daerah seperti Aceh, Pakan Baru, Padang, dan Jakarta," jelas Ucok, anak Syahrul.

Sekarang para pekerja itu sudah mandiri. "Ada sekitar 43 kios di sekitar kediaman kami yang menjajakan makanan khas Melayu ini, terutama dodol Tanjung Puranya. Kami, sih, nggak marah. Sebab kami punya penggemar sendiri," lanjut Ucok yang selalu menjaga mutu dodol dan kualitas bahannya itu.

Dodol khas Tanjung Pura memang lain dari yang lain. Kemasannya pun berbeda. Kalau dodol biasa dibungkus dengan plastik. Dodol Tanjung Pura dibungkus dengan upi atau daun pinang. Nah, dengan pembungkus upi ini, ketahanan dodol bisa sebulan.

Harga dodol bungkus upi berkisar dari Rp. 250 hingga Rp. 2.500 per bungkus. Sedang yang dibungkus plastik dijual dengan harga Rp. 2000 per plastik. Seplastik berisi 200 gram dodol.

Sehari Syahrul memasak 5 kuali dodol. Satu kuali berisi 15 kilogram ketan. Untuk mengerjakan dodol sebanyak itu Syahrul dibantu 10 orang tenaga kerja. Meski sudah begitu banyak, toh, Ucok mengaku kadang tidak bisa memenuhi permintaan pembeli. "Tetapi apa boleh buat kami tidak punya tenaga." Karena itulah, khusus menjelang Lebaran, para pemesan harus sudah ngorder sebulan di muka. Bahkan, kata Ucok, beberapa tahun sebelumnya ia pernah mengerjakan pesanan yang begitu banyak hingga sehari harus masak 100 kuali.

Kedai Pak Ul buka setiap hari sejak pukul 08.00 hingga pukul 20.00. "Soalnya yang datang cukup banyak. Mereka tak cuma gemar makan dodol, tetapi juga kue karas, punai aram, dan rengginang. Banyak juga pembeli dari Malaysia, Australia, dan London. Jadi, kalau kami tutup sore-sore, ya, tetap saja ada yang menggedor," papar Ucok.

MIE TIAU MEDAN

Hampir di setiap sudut kota Medan, ada saja restoran, warung makan, dan kaki lima yang menjajakan mie tiau (kuetiaw, Red.). Salah satu pedagang mie tiau terkenal di Medan adalah Machmud Siregar. Rumah makannya yang terletak di Jl Abdullah Lubis, persis di depan Masjid Abdullah Lubis. Selain mie tiau, Machmud juga menjual sekitar 76 masakan lain di warungnya.

"Dulu warung saya cuma sederhana saja. Namun, sejak tiga bulan lalu saya buka lagi warung baru di sebelah warung terdahulu. Bahkan seminggu ini saya ada program menerima pesanan untuk katering," ujar pria yang masih terlihat gagah ini.

Campuran bumbu kuetiaw hanyalah bawang putih, bawang merah, merica, cabe giling, dan jahe. Agar lebih sedap lagi ditambahkan daun bawang, kol, sawi, dan tomat. Semua bumbu itu ditumis lalu ditambahkan telur. Setelah itu baru dimasukkan mie tiau, kecap, dan bumbu penyedap.

Sebagai pelengkap, ditambahkan kerupuk, timun, dan ayam yang disuwir-suwir atau udang, dan bakso. Mie tiau biasa disantap bersama acar. "Acarnya harus dibuat sejak malam hari supaya meresap," jelas Machmud.


ES CAMPUR MEDAN

Salah satu penjual es campur Medan yang terkenal adalah pasangan suami istri Darbi dan Fadilah, warga Perumnas Simalingkar. Sehari-hari
ia jualan di Pasar Petisah Medan. Darbi yang tahun ini menunaikan ibadah haji bersama istrinya ini, sudah empat belas tahun menekuni usaha es ini. Mulai dari es campur, es koteng, es tebak, dan berbagai jenis juice.

Es campur Medan berisi cendol, lengkong atau cincau, delima, nangka, jagung, kacang merah, dan tape. Semuanya disantap bersama larutan gula aren dan santan. Menurut Ucok, dalam sehari es campur laku hingga 100 - 300 gelas. "Harga per gelas es campur Rp. 2000." Namun seorang pembeli yang sempat ditanyai Sedap Sekejap menyebutkan es campur buatan Darbi memang istimewa. "Gulanya tampaknya betul-betul gula aren asli. Santannya pun kental, jadi, terasa gurihnya."
BIKA AMBON

Bika Ambon sudah identik dengan kota Medan. Buktinya, para pendatang selalu menjinjingnya sebagai oleh-oleh. Tapi tahukah Anda bagaimana riwayat Bika Ambon ini? Menurut Joni (30), anak pengusaha Bika Ambon "Ati" yang sangat terkenal di Jl Mojopahit No. 11 J & F mengaku, ibunya termasuk perintis penjual bika ambon di Medan.

"Waktu itu, "Saya masih SD saya sudah bantu-bantu ibu berjualan di Pasar Petisah. Harga per potongnya saat itu cuma Rp. 50 saja dan sekotak Rp. 2.500. Sekarang sepotong sudah ada yang dijual Rp. 500 dan sekotak Rp. 25 ribu," jelas Joni lancar.

Walau riwayat kedatangan bika ambon di Medan sendiri tak begitu jelas. Tapi, lanjut Joni, "Ibu pernah bilang ada seorang warga Ambon yang merantau ke Malaysia membawa kue bika ini. Cuma, setelah tahu rasanya enak. Orang itu bukan kembali ke Ambon lagi, tetapi singgah di Medan. Sehingga sejak empat puluh tahun lalu bika ambon ini jadi terkenal di Medan," urainya.

Kini Anda dapat mencari bika ambon di kawasan Jl Mojopahit. Tak kurang dari 20 penjual bika ambon meramaikan jalan yang lumayan panjang ini. Begitupun bika ambon masih bisa dijumpai di Jl Asia, Jl Sumatera, Jl Kangkung, dan Jl Sekip. Bahkan, di setiap toko kue pasti ada bika ambon.

Jika hari biasa bika ambon Ati bisa terjual 50 - 100 kotak. Namun di hari besar seperti Lebaran atau Tahun Baru, omzet jualnya bisa sampai 3 kali lipat.

Joni sendiri tidak mengetahui mengapa orang begitu gandrung dengan bika ambon. Mungkin saja, katanya, karena rasanya manis dan gurih. Daya tahannya pun cukup lama. "Bisa sampai 4 hari, lo," tandasnya.

Untuk memudahkan para pelanggan, Joni sudah menyiapkan kotak khusus untuk mereka yang berminat membawanya ke luar kota. Ada yang muat untuk 2 dus kue. Ada pula yang sampai 10 dus.

SIRUP MARKISA

Sama seperti bika ambon, sirup markisa, pun dianggap sebagai oleh-oleh khas dari Medan. Adalah Suwandi Onggo (68) yang memulai usahanya membuat syrup di Jl Medan - Brastagi Km 62, Peceren Desa Sempa Jaya, Brastagi (Sumut). Onggo sendiri sekarang sudah meneruskan usaha pada anak-anaknya, Peggy dan Edwin Onggo.

Sirup markisa Onggo yang terkenal memakai nama Pyramid Unta. Awalnya, usaha ini dikelola orang Belanda. Namanya sirup Cap Kalkun. "Tetapi saat itu sirup markisa hanya dibuat sekadarnya. Sekarang kami mengolahnya dengan profesional. Maka namanya pun diganti jadi Pyramid Unta," jelas Peggy.

Buah markisa sendiri diperoleh keluarga Onggo dari Tanah Karo, asal domisili Onggo, Dairi, Samosir, Solok, dan Ujung Pandang."Di Tanah Karo tumbuhan ini malah kami budi dayakan, lo. Tetapi hasilnya masih terbatas. Karena itulah kami juga bekerja sama dengan petani dalam hal pengadaan bibit," kata Peggy.

Masih banyak sirup markisa lain yang beredar di Medan. Namun Peggy menyebutkan tak khawatir perusahaannya tergeser. "Soalnya kami selalu menjaga mutu. Gulanya adalah gula murni," tegasnya.

Kala markisa sedang musim, mereka mengumpulkan sari markisa. Sari ini diperoleh dari daging buahnya. Kalau sedang musim, sehari mereka bisa membuat 60 ton sari markisa. "Tetapi kalau sedang tidak musim, paling-paling 15 ton per hari," lanjut Peggy yang sudah memiliki 50 karyawan.

Untuk memudahkan orang membawa oleh-oleh markisa, Onggo sudah mempersiapkan sirup ini dalam bentuk DO. Hingga orang tak perlu menenteng markisa yang berat itu ke luar kota sebagai oleh-oleh. "Para pembeli tinggal menukarkan DO yang kami buat di kota tempat kita berada."

Selain sebagai oleh-oleh, orang Medan senang menyuguhkan sirup ini di kala Lebaran atau Tahun Baru. "Makanya permintaan di saat-saat itu atau di bulan puasa meningkat banyak."

Harga satu botol markisa Rp. 6.000. Markisa Super harganya Rp.8.000 per botol, sedang jus markisa harganya Rp. 6.000 per botol. Untuk dua liter sirup markisa kualitas super harganya Rp. 32.500 satu derigen.


Selain sebagai oleh-oleh, orang Medan senang menyuguhkan sirup ini di kala Lebaran atau Tahun Baru. "Makanya permintaan di saat-saat itu atau di bulan puasa meningkat banyak."

Harga satu botol markisa Rp. 6.000. Markisa Super harganya Rp.8.000 per botol, sedang jus markisa harganya Rp. 6.000 per botol. Untuk dua liter sirup markisa kualitas super harganya Rp. 32.500 satu derigen.

Kini Pyramid Unta juga mengeluarkan sirup markisa dengan berbagai rasa, seperti orange, leci, melon, strawberry, dan rasberry. "Tetapi yang laku, sih, biasanya orange dan melon," ungkap Peggy.

Sejak tahun '95, sirup markisa sudah dijual di luar negeri seperti Inggris dan Singapura. Makanya, dalam sebulan mereka bisa menjual 300 - 400 lusin botol sirup markisa.
MI KELING

Meski resepnya asli made in India, masakan ini seolah sudah jadi hidangan khas Medan. Bahkan, kalau ada pelancong lokal maupun luar negeri mampir ke Medan pasti minta dibelikan Mi keling khas Medan ini.

Tetapi bagi Anda yang pendatang baru di Medan, jangan coba-coba mencari mi keling karena yang tertulis di gerobak hanyalah mi rebus. Jadi mengapa disebut mi keling? Penyebabnya cuma karena penjualnya adalah orang-orang Keling, dari kawasan selatan Negeri India.

Pedagang mi keling bisa ditemukan di seputar kawasan Medan. Seperti, Jl Pagaruyung yang sejak sore hingga pagi hari menjadi kawasan jajanan malam bagi masyarakat Medan. Salah satu penjualnya adalah Zainuddin. Ia menjajakan dagangannya di tepi Jl. Kartini, persis di belakang Hotel Tiara Medan.

Bahan dasar mi ala Zainuddin sama seperti mi rebus biasa. Namun ke dalamnya ditambahkan taoge, selada, irisan kentang, tahu, ketimun, telur, serta ditaburi seledri dan kerupuk. Sebagai pelengkap, bisa ditambahkan perkedel jagung atau rempeyek. Semua itu disiram dengan saus khusus.

Saus inilah yang memberi ciri khas pada mi keling. Bahan dasarnya terdiri dari udang giling plus bumbu-bumbu lain. Untuk mengentalkannya digunakan tepung kanji. Bumbu saus mi keling memang istimewa. Konon, resepnya juga asli diciptakan nenek moyang masyarakat Keling di India.

Menurut cerita ibu Zainuddin, resep ini memang diturunkan dari nenek moyangnya. Dulu, di India, mereka berusaha menciptakan jenis masakan yang murah dan praktis, sekaligus enak. Dengan meramu berbagai bumbu, terciptalah masakan mi ini.

Dari harga jual Rp. 1.000 sekarang Mi Keling sudah jadi Rp. 3.500 per porsi. Setiap hari dagangan Zainuddin bisa laku 200 - 300 piring. Untuk itu dibutuhkan kira-kira 10 kilogram mi. Satu kilogram mi bisa menghasilkan 15 piring. Tak jarang pula Zainuddin mendapat rezeki nomplok berupa pesanan borongan.

"Misal, untuk arisan atau pesta-pesta yang diadakan perusahaan. Biasanya, mereka pesan satu gerobak,lo," ungkap Zainuddin. Pada hari-hari khusus, seperti Lebaran, Tahun Baru, atau Imlek pesanan tambah banyak. "Kalau sudah begitu, saya harus kerja ekstra sampai-sampai tidak bisa tidur nyenyak. Tapi, begitulah yang namanya rezeki pantang ditolak. Apalagi datangnya, kan, tak rutin," papar Zainuddin.

Zainuddin dan para pedagang Mi Keling ini rata-rata mengatakan keuntungan yang diperoleh dari Mi Keling ini cukup untuk menghidupi keluarga mereka. "Berkat mi ini, kami bisa menyekolahkan anak-anak," kata Zainuddin. Warga yang sehari-hari tinggal di kawasan Kampung Keling ini juga sering mengajak anaknya ikut jualan. "Setidaknya,saya ingin meneruskan resep warisan nenek moyang kami ini," ujar Zainuddin.

NANI ARSIK, NANI LOMANG DAN IKAN MAS NATI NOMBUR

Nani arsik, nani lomang, dan ikan mas nati nombur, bukan hanya dijual di rumah-rumah makan khas daerah saja. Masakan khas daerah Batak ini juga sudah merambah ke restoran Kuta Raja di Hotel Tiara Medan. Bahkan, pihak hotel tak segan-segan menampilkan menu yang kabarnya jarang disediakan oleh rumah-rumah makan khas daerah di Medan.

Masakan khas Batak Toba ini bahan utamanya bisa dari ikan mas, ikan nila, ayam, atau daging. Nah, bumbu-bumbunya ini asli dari tetumbuhan Batak sehingga dia dinamakan masakan khas Batak. Misalnya, bawang Batak, arsik, andaliman, kincung, kemiri, lengkuas, kunyit, dan bawang merah. Cara memasaknya tergolong unik.

"Ikan arsik, misalnya. Masyarakat Batak biasanya memasak ikan ini tanpa dibersihkan sisiknya. Ikan dilumuri bumbu dulu baru diungkep sampai matang. Setelah matang pun, tidak boleh dibuka supaya keharumannya tetap terjaga," jelas Bachriun, executive cheff restoran Kuta Raja Hotel Tiara Medan, didampingi Femi Indriani, public relation officer.

Bahkan, lanjut Bachriun, akan lebih enak lagi kalau dimasak secara tradisional menggunakan kayu bakar. "Memasaknya cukup lama sampai-sampai tulang ikan pun hancur hingga bisa dimakan. Karena tulang ikan mas itu, kan, halus-halus,"jelas Bachriun mantap.

Nah, masakan Batak Toba yang bukan ikan, salah satunya adalah nani lomang. Bahan dasarnya ayam atau daging giling. "Digilingnya pun agak kasar, tapi jangan terlalu halus. Daging dimasak dengan campuran bumbu bawang putih, bawang merah, dan santan kental," kata Bachriun.

Setelah dicampur bumbu, lantas dimasak dalam bambu muda. Maksudnya, "Dibakar seperti lemang. Waktu masaknya relatif singkat. Cukup satu setengah menit. Makanya aroma bambu harus terasa," ujar Bachriun mantap.

Ikan Mas Nati Nombur mirip dengan arsik. Cuma bumbunya tanpa kunyit. Setelah bumbu digiling, lantas disiram di atas ikan dan siap dibakar.

Selain masakan khas Batak, juga ada masakan pepes ikan yang dipanggang dari Melayu. "Pepes ikan ini masakan khas Melayu. Ikan yang dipepes biasanya ikan sembilang, ikan patin, ikan jurung, tuka-tuka (pari kecil, Red.), dan ikan bawal. Pokoknya semua jenis ikan yang terdapat di sungai dan laut." Aku Bachriun yang diiyakan Taufiq Hidayat, food & beverage manager. Bumbu pepes ikan ini sama seperti memasak pepes ikan dari daerah lain.
sdp@ kiriman Debby Safinaz

Posted by Imelda :: 3:18 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Jalan-jalan ke Semarang

NASI AYAM

Nasi ayam amat populer di Semarang. Dijual dalam pincuk-pincuk yang isinya nasi gurih, suwiran daging ayam yang dimasak opor, telur ayam bacem, dan sambal goreng jipang. Selain dijual secara berkeliling, kita bisa juga menemukannya di tempat tertentu. Salah satunya,di depan Supermarket Matahari Simpang Lima. Ada sekitar 12 mbok-mbok penjual nasi ayam di sana.
Rata-rata mereka sudah lama berjualan nasi ayam. Surtini, misalnya, sudah 20 tahun berdagang nasi ayam. "Tetapi mangkal di sini, sih, baru 11 tahun," katanya. Di lokasi ini nasi ayam standar dengan menu di atas, dijual dengan harga Rp. 2000.
Tetapi kalau Anda mau lebih lengkap, tersedia juga lauk tambahan seperti opor ayam, ati ampela, sate telur puyuh bacem, sate usus ayam, dan sambalnya.
Begitu cintanya masyarakat Semarang dengan hidangan ini, sampai-sampai meski jumlah pedagangnya sudah banyak, toh, masih laris juga. Surtini, contohnya. Ia berjualan sejak pukul 06.00 hingga siang hari. Selama waktu itu ia menghabiskan 7 kilogram beras. Padahal tak sedikit jajanan lain serupa di kota Lumpia ini. Malam hari nasi ayam juga bisa ditemui di tempat yang sama. Jangan terkejut bila Anda melihat antrean yang cukup panjang plus ayam dan nasi berbakul-bakul. Karena jumlah sebanyak itu pun umumnya ludas tanpa sisa.


NASI LIWET
Sepintas sama saja dengan nasi liwet, toh, orang tetap menamakannya nasi liwet. Isinya pun sama persis dengan nasi ayam Cuma penyajiannya saja yang berbeda. Nasi ayam disajikan dalam pincuk, nasi liwet di atas piring yang diberi alas daun pisang dan ditambahkan kerupuk rambak.
Banyak sekali tenda-tenda nasi liwet lesehan di Semarang. Antara lain di Simpang Lima, di jl. Pahlawan. Hartini, penjual yang sudah mangkal di situ selama 20 tahun di situ melengkapi jualannya dengan ayam goreng, ayam bumbu, ati ampela goreng, usus sapi goreng, babat goreng serta koyor (urat sapi yang kenyal). Ia juga menjual nasi pecel.
Waktu "operasi" Hartini lumayan panjang. Ia sudah berangkat sejak menjelang sore dari rumahnya di daerah Pleburan, tak jauh dari lokasi. Tendanya mula dibuka sejak pukul 4 sore. "Hari biasa pukul 9 malam sudah habis, tetapi kalau malam Minggu bisa semalam suntuk," kata Hartini yang sehari bisa menghabiskan 20 kilogram beras itu.


MI KUPAT
Sesuai dengan namanya, sajian ini berisi ketupat dan mi. Tetapi akhir-akhir ini mulai berganti menjadi mi lontong. Karena sulitnya mencari daun janur. Dagangan ini biasa dijual berkeliling. Isinya lumayan sederhana. Cuma irisan ketupat, mi telur yang direbus bersama irisan sawi dan taoge lalu diberi air bawang putih, taburan seledri, bawang goreng, dan kerupuk gendar. Sebagai penyedap juga ditambahi kecap.
Mugi Suharto yang sudah 20 tahun berkeliling Semarang menjual mi kupat menjual makanan ini hanya seharga Rp 1.000. Makanya tak heran kalau sehari ia bisa menghabiskan 6 kilogram mi. Padahal dalam tiap mangkuk mi yang dibutuhkan pun cuma setumpuk kecil.

l
LUMPIA SEMARANG
Coba Anda keliling dalam kota Semarang. Di tiap pelosok pasti ada 1 atau 2 tukang lunpia (nama sebenarnya adalah lunpia, tetapi karena masyarakat sering menyebutnya lumpia, maka sebutan lumpialah yang populer kemudian). Tetapi lumpia yang paling laris adalah lumpia Mbak Lien yang terletak di Jl. Pemuda dan lumpia Gang Lombok di daerah pecinan.
Meski lumpia keduanya berbeda, ternyata keduanya masih memiliki hubungan keluarga. "Kami sama-sama keturunan Tjoa Thay You yang sudah berdagang lumpia sejak tahun 1920," kisah Iriani, pemilik warung lumpia Mbak Lien. Di balik hidangan ini, terselip cerita unik. Konon, kata Iriani, pemuda Tjoa saat pertama kali membuka kedai lumpianya mendapat saingan dari gadis Jawa, Wasi, yang juga berjualan lumpia. Yang satu lumpianya bergaya Cina, sementara lumpia buatan Wasi manis rasanya sesuai lidah Jawa. Bukannya malah saling bersaing dan bermusuhan, keduanya malah jatuh cinta dan meleburkan usaha mereka dalam lumpia baru yang punya cita rasa agak manis.
Di warung Iriani tersedia 3 macam lumpia, spesial, ayam, dan udang. Yang spesial berisi rebung, udang, telur, dan ayam. Anda bisa memesan lumpia basah maupun kering. Keduanya dalam ukuran yang relatif besar. Setiap hari Lien, nama panggilannya bisa menghabiskan 2 kuintal rebung. "Tapi rebung saya pilihan, lo. Saya cuma mau rebung dari bambu ampel dan bambu petung. Karena keduanya lembut dan enak," tutur Lien.
Masih ada lagi rahasianya yakni mengenali musim. Karakteristik rebung, jelas Lien berbeda saat musim kemarau dan musim hujan. Nah, ini mempengaruhi penambahan gula. "Ada rebung yang tidak berani gula, Ada juga yang malah tambah enak kalau dibubuhi gula," imbuhnya.
Kualitas bahan juga turut mempengaruhi kelezatan sebuah lumpia. "Makanya saya selalu memilih bahan nomor 1 walaupun harganya mahal," tegas Lien yang menjual lumpianya seharga Rp 2.300- Rp 2.900.

Lain lagi dengan lumpia Gang Lombok, milik paman Lien. Ia tidak mengutamakan rebung, tetapi udang dan telur. "Saya cuma menyempurnakan resep," kata Purnomo Usodo (60), sang pemilik. Lumpia tersebut dijualnya Rp 2.500. Sehari ia bisa menjual 500 buah lumpia. Selain mutu isi lumpia, Purnomo menyebut faktor kulit lumpia juga pegang peran penting. "Kulit lumpia harus kenyal dan tidak mudah sobek. Apalagi untuk lumpia basah yang bisa bertahan sampai 5 hari di dalam kulkas," jelas Purnomo.
Lumpia keluarga Tjoa ini bisa ditemukan di jl. Pandanaran, jl. Sultan Agung, Jl. Mataram, Jl. Pemuda, dan Gang Lombok. "Di luar itu, bukan keluarga kami," ujar Mbak Lien.


TAHU PONG
Sesuai namanya tahu ini kopong dan kosong di bagian tengahnya. Tahu ini disajikan dengan nasi hangat, petis yang sudah dicampur kecap, bawang putih, dan acar ketimun. Tetapi di kedai milik Miharto (57) di Jl. Gajah Mada Semarang disediakan juga bentuk lainnya seperti tahu pong gimbal, tahu pong telur, atau tahu pong gimbal telur. Gimbal adalah sejenis bakwan udang.
Untuk menjaga rasa tahu pong, Miharto tetap menggunakan tahu dari daerah Pragen, yang sejak dulu digunakan oleh ibunya. 鏑ebih halus dan mengembang jika digoreng," ujarnya.
Dalam satu hari ia bisa menghabiskan 100 tahu emplek (tahu ukuran 10 x 10 cm yang kemudian dipotong kecil saat akan digoreng). Untuk menambah semarak jualannya, Miharto yang sudah berjualan tahu pong selama 27 tahun ini juga menyediakan acar lobak. Acar ini tersaji dalam bentuk parutan tipis yang rasanya manis segar. "Pas sekali dimakan bersama tahu pong," ujar Sapto, karyawan swasta yang tengah makan siang di situ.


WINGKO BABAT
Wingko pasti bukan makanan asing buat Anda. Kue pipih putih yang rasanya kenyal ini biasanya dijual dalam amplop kertas bergambar kereta api. Nah, di Semarang kudapan ringan ini tersebar di mana-mana. Tetapi kalau Anda bertanya di mana sebaiknya membeli wingko, dengan serta-merta orang yang ditanya akan mengarahkan Anda ke Jl. Cendrawasih. Di sini memang ada sebuah toko yang sekaligus jadi pabrik pembuatan wingko. Pemiliknya adalah keluarga Sinata. "Ini usaha turun-temurun dari nenek saya, Loe Soe Liang sejak tahun 1958," tutur Ny. Sinata yang mengeluarkan wingkonya dengan merek Kereta Api D. Mulyono.
Selain di tokonya sendiri, wingkonya bisa ditemukan di toko-toko lain yang menjual oleh-oleh khas Semarang. Tetapi karena takut mengeras, Sinata tidak berani menjualnya di banyak toko. "Maklumlah kue ini cuma bertahan 5 hari," jelasnya.
Harga wingko per buah antara Rp 900 - Rp1.400, tergantung dari rasanya. "Yang rasa durian lebih mahal," kata Sinata yang juga mengeluarkan wingko rasa nangka pisang, dan cokelat. Harga ini sama di setiap toko. "Karena kami sudah memberi diskon pada toko."


TAHU GIMBAL
Tahu gimbal sebenarnya masih kerabat jauh tahu pong. Makanan ini terdiri dari irisan lontong, tahu biasa yang digoreng, irisan gimbal, kol, dan taoge. Kemudian disiram bumbu yang terdiri dari bawang putih, kacang tanah, cabe, petis, serta air gula. Terakhir diberi sepotong telur mata sapi yang diiris-iris, lalu disiram kecap.
Makanan ini dijual secara berkeliling dengan harga Rp. 3.000 per porsi. Tetapi ada juga beberapa pedagang yang mangkal di Simpang Lima. Winarsih (33), salah satunya. Ia sudah berjualan tahu gimbal 6 tahun di persimpangan Jl. Pandanaran dan Jl. Gajah Mada, di depan Masjid Raya Baiturrahman.
"Dulu sebelum krismon saya bisa menghabiskan 1 peti telur, tetapi sekarang ramainya cuma malam Minggu saja," kata Winarsih. Namun seperti jajanan lain di Semarang, tahu gimbal termasuk yang disukai masyarakat Semarang.
SOTO BANGKONG
Mendengar namanya banyak orang mengira soto ini terbuat dari daging kodok. "Bangkong memang artinya kodok," ujar H. Soleh Sukarno, pemilik Warung Soto Bangkong yang terletak tepat di samping Kantor Pos Bangkong, jl. MT Haryono. Konon nama ini muncul karena kawasan tersebut tadinya berupa sawah luas dan banyak kodoknya.
Sudah sejak tahun 1950 ia berjualan soto bangkong. "Tetapi dulu namanya belum soto bangkong," ujarnya. Nama Soto Bangkong mulai digunakan tahun 1960. "Soalnya orang yang mau membeli soto saya selalu menyebut soto bangkong, jadi, ya, saya gunakan saja," jelas pria yang tampak segar di usia 80 tahun ini.
Soto bangkong dihidangkan dalam mangkok berisi nasi, bihun, taoge, irisan telor rebus, bawang daun, dan daging ayam. Tentu dilengkapi kuah soto yang gurih. Sebagai temannya, Anda bisa menambahkan sate ayam, sate kerang, sate telur puyuh, tahu, tempe, serta perkedel kentang. Harganya cuma Rp. 2.500 semangkok.
Sehari pria asli Semarang ini membutuhkan 50 ekor ayam kampung. Ayam ini langsung dimasak oleh sang istri, Hj. Musinah (70). Soleh sendiri sehari-hari masih melayani pembeli. "Karena kata para pembeli, racikan saya lebih sedap," kata Soleh bangga.
Biasanya ia dan istrinya meracik soto seusai salat subuh. Waktu mereka buka sejak pukul 07.00 hingga pukul 13.00. "Setelah itu kami istirahat dan baru buka kembali pukul 15.00 hingga pukul 22.00," jelas Soleh.
Usaha soto bangkong ini kini menyebar di berbagai kota di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta, dan Bandung. "Anak sayalah yang mengembangkannya".

BANDENG DURI LUNAK DAN AYAM TULANG LUNAK




Inilah satu keajaiban olahan bandeng. Bandeng diproses dalam pressure cooker hingga durinya lunak dan bisa disantap. Tetapi ajaibnya daging ikan tetap utuh dan keras, tidak hancur. Salah satu bandeng duri lunak yang cukup top di Semarang adalah Bandeng Presto, milik Agus Pradekso (65), letaknya di Jl. Pandanaran.
Awalnya, menurut Agus, cuma karena kegemaran sang istri membuat pindang bandeng. Suatu ketika,Agus membelikan Hana, sang istri panci tekan bermerk Presto. Hana pun lalu mencoba membuat pindang dengan panci itu. Ajaibnya, bukan cuma dagingnya yang empuk, tetapi juga tulang-tulangnya.
Pindang ini lalu ditawarkan pada rekan-rekannya. Tak dinyana, banyak yang menyukainya. Agus pun memutuskan untuk membuatnya sebagai usaha di rumahnya Jl. Pandanaran no. 33. Semakin lama usahanya meningkat sehingga ia memutuskan pindah ke tempat yang lebih besar di jl. Pandanaran 67-69, tepat di persimpangan jl. Pandanaran dan jl. Kyai Saleh.
Selain bandeng duri lunak, tersedia juga bandeng isi (otak-otak bandeng), dan pepes bandeng. Semuanya tetap dilunakkan hingga durinya bisa disantap. Tiap jenis bandeng bisa bertahan sampai 2 hari dalam kemasan biasa dan 5 hari dalam kemasan kedap udara. "Tetapi yang dibungkus kedap udara harganya lebih mahal Rp 5.000," kata Agus yang menjual bandengnya seharga Rp 30 ribu per kilo ini.
Untuk meningkatkan kualitas rasa, sudah 5 tahun ini Agus menggunakan teknologi steam boiler. Panci ini bisa memuat 50 kilogram bandeng sekali produksi. "Hasilnya lebih empuk dan bersih," ujar Agus yang mampu menjual 50 kilogram bandeng per harinya.
Tak cuma bandeng duri lunak yang kini bertebaran di Jl. Pandanaran. Sekarang Ayam tulang lunak pun marak di situ. Harganya sekitar Rp 25 - Rp 30 ribu per ayamnya. Setelah di rebus dalam steam boiler, ayam dilumuri tepung dan digoreng. Tentu penemuan ini pun pantas dikagumi karena seperti bandeng juga, meski tulangnya lunak, daging ayam tetap utuh dan tidak hancur.

TEH POCI
Sudah tiga tahun terakhir ini di Simpang Lima digelar warung lesehan teh poci. "Dulu kan ngetren kafe, hingga kami tertarik mencoba lebih sederhana," ujar Wasto (37 th), yang sudah 2 tahun membuka lesehan teh poci.
Setiap pengunjung yang memesan teh mendapat 1 poci teh tubruk dan cangkir-cangkir tanah liat yang berisi gula batu. Selain menyediakan aneka gorengan dan mi rebus, tak jarang penjual nasi liwet bakul ikut bergabung di warung yang dibuka mulai pukul 17.00 hingga pukul 04.00 subuh ini. Banyak muda-mudi yang gemar lesehan di sini. Sambil menyantap hidangan ringan dan tentu saja sambil mengobrol seru.
Miftakh Faried/Foto-foto: Mi

Posted by Imelda :: 3:02 AM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------

Tuesday, April 04, 2006 Jala-jalan ke Jambi

CARI HIDANGAN UNIK DI KOTA JAMBI

Sebelumnya Anda pasti tak menduga, Jambi punya segudang makanan unik. Sebagian mirip dengan hidangan Palembang. Sebagian lagi mirip masakan Padang. Toh, kekhususannya tetap ada. Setelah mencicipi semua masakan yang dijual di sana, jangan lupa cicipi juga rambutan goreng!

Burgo Sudi Mampir


Makanan khas Jambi ini sudah mulai sulit ditemukan. Salah satu yang masih bertahan menjualnya adalah Pak Ahmad Asbi (51 th). Sudah sejak tahun 70-an ia berjualan makanan ini.

Burgo terbuat dari campuran tepung beras dan sagu. "Biasanya saya pakai sagu tani," jelasnya.

Adonan tersebut lantas dibuat semacam dadar yang agak tebal, lalu digulung memanjang. Rasanya kenyal dimulut. Cara menyajikannya, burgo dipotong pendek-pendek, lalu disiram kuah santan yang gurih serta taburan bawang goreng.

Kuah santan dibuat dari kaldu udang dan ikan. Sehari ia mampu menjual hingga 50 porsi burgo. Menu inilah yang paling cepat habis di warungnya yang cukup sederhana yang dinamainya, "Sudi Mampir".

Selain itu juga tersedia nasi gemuk. Ini adalah nasi yang dimasak dengan santan, mirip nasi uduk di Jakarta. Teman makannya, teri goreng, suwiran telur dadar, kerupuk, kacang tanah goreng, serta sambal. Nah, sambal ini rasanya istimewa, mirip sambal saos yang gurih manis. Terbuat dari tomat, cabai merah, gula merah, gula putih, dan penyedap rasa. Semuanya dimasak selama 1 jam sampai kehitaman.

Mau cari yang lebih unik? Coba, lontong kuah nangka khas jambi dengan kuah santan. Atau kue tradisional Jambi seperti bolu kojo, kue lumpang, haji serban (terbuat dari ketan dan tepung beras), martabak ubi, risoles, hingga pempek. Semua hidangan berat dihargai Rp. 2.500 per porsi. Sedangkan aneka kue dan gorengan cukup Rp. 500 saja per buahnya.

Lokasi berjualan Pak Ahmad terletak di daerah Tanjung Pinang, Pendawa. Sebagian besar masyarakat kota Jambi mengetahui warung ini. Namun Anda harus datang pagi hari untuk memperolehnya karena warung ini buka hanya sejak pukul 6 pagi hingga pukul 9 pagi. Jika terlambat, pasti akan kehabisan.


Gulai Tempoyak

Tempoyak boleh dibilang hidangan khas Jambi. Yaitu daging buah duren yang diolah dengan garam, dan aneka campuran bahan lain lalu difermentasi hingga rasanya mirip terasi. Gulai tempoyak biasanya berbahan ikan. Umumnya menggunakan ikan patin atau ikan gabus. Untuk memperolehnya, Anda harus pergi ke RM Khas Jambi Sari Raso, di daerah Simpang IV Sipin, sekitar 9 km arah barat kota Jambi. Cukup jauh memang. Toh, rumah makan ini selalu didatangi pelanggannya.
"Saya memang tidak mau membuka cabang di kota Jambi, takut kualitas rasanya berkurang," jelas Hj. Kamariyah (50 th) yang sudah lebih dari 10 tahun membuka usahanya ini.
Saya memang tidak mau membuka cabang di kota Jambi, takut kualitas rasanya berkurang," jelas Hj. Kamariyah (50 th) yang sudah lebih dari 10 tahun membuka usahanya ini.

Kamariyah hanya menggunakan tempoyak kualitas terbaik. Cirinya, berdaging kuning dan aromanya wangi duren segar. Selain itu ia juga hanya menggunakan cabai berwarna putih dan merah sebagai campuran kuahnya. Rasanya sungguh segar, paduan gurih, asam, manis dan harum tempoyak. Teman makannya adalah sambal calo yang berbahan tomat hijau, terasi, cabai merah, dan jeruk nipis.

Tersedia pula pindang patin dan aneka hidangan lainnya yang sekilas mirip hidangan di rumah makan padang. Rata-rata harganya Rp. 6 ribu per menu. Dalam sehari bisa 1 kg tempoyak yang digunakan sebagai campuran berbagai hidangan di rumah makannya. Dengan dibantu 4 karyawan, ia membuka rumah makannya setiap hari sejak pukul 7 pagi hingga 9 malam.



Rambutan Goreng dan Selai Nanas Goreng
Inilah cemilan yang cukup unik di Jambi. Sentra produksinya terletak di daerah Tangkit Baru, Muaro Jambi, sekitar 16 km arah timur Kota Jambi. Pengolahan nanas sudah dilakukan sejak tahun 80-an ketika lahan di wilayah ini mulai ditanami buah nanas. Hasil yang melimpah membuat masyarakat di Tangkit mulai membuat aneka olahan buah nanas. Bentuknya antara lain selai, selai goreng, dodol, dan keripik nanas.

Salah satu penjualnya adalah Pak Yusra dan adiknya, Siti Hajar (39 th). Produk utamanya adalah selai goreng. Proses pembuatannya cukup memakan waktu. Nanas dikupas, dicuci, lalu dilumatkan. Kemudian dimasak bersama gula selama 4 ­ 5 jam, dan dijemur hingga agak mengering. Selai ini kemudian dipotong kecil-kecil, dan dicelupkan ke dalam adonan tepung, lalu digoreng. Sudah sejak tahun 96 mereka berproduksi
Sedangkan produk rambutan goreng baru diproduksi sejak tahun 2000. "Dulu saya memiliki lahan rambutan sebesar tiga hektar," jelas Siti.

Karena panen yang melimpah itulah ia berinisiatif membuatnya seperti selai goreng. Proses membuatnya tak jauh berbeda dengan selai goreng. Rambutan diolah utuh tanpa membuang bijinya. Sekilas rasanya menjadi mirip dengan kurma. Dalam seminggu, Siti biasanya mampu memproduksi 1 ton rambutan goreng. Ia dibantu sekitar 8 orang karyawan.

Semua produknya diberi merek Yusra, dan telah dipasarkan di sejumlah supermarket di kota Jambi. Jadi Anda tak perlu jauh-jauh ke Tangkit. Produk ini mampu bertahan hingga 6 bulan untuk dikonsumsi. Khusus selai nanas bahkan bisa bertahan hingga 1 tahun. Namun Siti mengakui masalah pengeringan bahanlah yang menjadi kendala produksi, karena jika musim hujan tiba, praktis proses penjemuran menjadi susah. Ia mengharap ada pihak yang bersedia membantu untuk menyediakan alat pengering atau semacam oven untuk memperlancar usahanya.

Semua produk berbahan nanas bisa dibeli Rp. 22.500 per kg. Sedangkan rambutan goreng lebih mahal sedikit, Rp. 25.000,- per kg. Tersedia dalam kemasan 150 gram, 250 gram, hingga 500 gram.




Sate Padang Beringin
Ini memang bukan hidangan khas Jambi. Tapi hampir semua warga Jambi memburunya. Sate ini terletak di sebuah warung yang tak begitu besar di jl. Sam Ratulangi, pasar Jambi. Cukup untuk menampung hanya 20 orang saja. Namun pengunjungya selalu hilir-mudik bergantian makan atau dibungkus.

"Sebenarnya saya meneruskan usaha orangtua saja," ujar Iid (40 th).

Sebelum ia lahir, orang tuanya sudah berjualan di situ. "Jadi setidaknya sudah lebih dari 40 tahun usaha ini berjalan," imbuhnya.

Dalam satu hari, ia membutuhkan 10 kilogram bahan yang terdiri atas daging, jantung, dan lidah sapi. Jika masa liburan atau bulan puasa tiba, maka bahan yang dibutuhkan meningkat.

Untuk 1 porsi sate padang dengan lontong bisa dibeli seharga Rp. 8 ribu. Anda bisa memperolehnya jika datang antara pukul 10 pagi hingga pukul 5 sore. Terkadang jam 3 4 pun sudah habis. Teman makannya ada kerupuk ikan seharga Rp. 1.000 per bungkus.

Di sini juga tersedia es campur yang segar. Isinya terdiri dari cincau hitam, dawet hijau, kacang hijau, selasih, avokad, es serut, lengkap dengan siraman susu cokelat. Harganya Rp. 4 ribu per mangkuk. "Tak sedikit yang minta dibungkus untuk dibawa ke luar negeri," jelas Iid.



Nasi Minyak dan Martabak
Di Kota Jambi ada dua nama yang cukup terkenal soal makanan ini. Handil dan Muhajir. Nasi minyak dan martabak Handil terletak di jl. D.I. Panjaitan, kebun Handil. Warungnya cukup besar. Pemiliknya A. Latif Khan (51 th) yang sudah membuka kedainya sejak tahun 1994. "Sebelumnya saya berbisnis tekstil," papar Latif.

Karena kurang menggembirakan, ia banting setir ke bisnis makanan. "Kebetulan sayLalu dipilihlah hidangan ala India untuk dijual. "Ketika memulai usaha, saya gratiskan pengunjung makan selama beberapa waktu. Termasuk mengundang berbagai instansi terkemuka di Jambi," kenangnya.

Menu yang bisa dipilih adalah nasi minyak. Bentuknya mirip nasi kuning, namun sarat dengan bumbu khas India dari pekak, kunyit, cengkeh, kapulaga, sampai minyak samin.

Teman makannya bisa dipilih kari ayam kampung, kari daging, atau kari kambing yang dijual Rp. 13 ribu per porsi. Atau bisa memilih martabak India (berisi kentang) yang dijual Rp. 13 ribu plus kari. Jika kurang puas, bisa memilih martabak mesir (isi kornet) atau martabak spesial (isi daging dan telur). Harganya Rp. 15 ribu per buah.

Warung ini buka setiap hari sejak pukul 8 pagi hingga 3 sore, lalu tutup. Buka lagi jam 5 sore hingga 10 malam. Selain itu Latif juga menerima pesanan menu khusus lainnya, yaitu nasi briyani. Namun menurut Latif, racikan masakan di kedainya sudah agak dikurangi sesuai lidah Indonesia. "Jika terlalu keras, nanti pelanggan kurang cocok," jelasnya.

Sedangkan di kedai Muhajir (34 th), nasi minyak hanya dibuat khusus melalui pesanan. "Jadi kalau tidak memesan, saya tidak membuat. Karena nasi ini tidak bisa disimpan. Harus dikonsumsi hari ini juga," jelasnya.

Bumbunya cukup kuat, dari kapulaga india, cengkeh, kayu manis, lada, jinten, minyak samin hingga susu kental. Ia baru 5 tahun meneruskan usaha orang tuanya yang dirintis sejak tahun '80-an.

Di sini nasi minyak dihargai Rp. 3 ribu per porsi. Temannya adalah kari kambing (Rp. 5.000) atau kari ayam (Rp. 3.000). Tersedia pula aneka martabak dari yang biasa hingga super yang harganya antara Rp. 7 ribu hingga Rp. 25 ribu. Anda bisa berkunjung ke kedainya hanya di sore hari sejak pukul 4 hingga 11 malam. Anda juga bisa mencicipi bandrek telur yang sarat rempah seperti kembang pekak, masni (daun kering dari bangladesh), kapulaga india, pala, cengkeh, susu dan kayumanis. Bisa pilih telur ayam atau bebek. Harganya Rp. 5 ribu per gelas. Rasanya sungguh nikmat, hangat dan sama sekali tidak berbau amis telor karena sarat rempah tadi.

Muhajir juga menerima pesanan kambing guling spesial berisi makaroni berbumbu untuk pesta. Harganya Rp. 1 juta dengan kambing ukuran 10 kg.


Pempek
Ada dua nama yang cukup terkenal di Jambi, pempek Asiong dan pempek Plaju. Pempek Asiong yang terlama ada di Jambi. "Ketika saya lahir, orang tua saya sudah membuka warung ini," papar Akun (32 th), putra Asiong.

Kini ia yang meneruskan bisnis ini, sementara orang tuanya hanya memantau saja.Di kedai yang cukup luas ini, setidaknya ada 10 jenis pempek yang bisa Anda peroleh. Yaitu lenggang, selam, model dan mie tahu yang harganya antara Rp. 5 ribu hingga 6 ribu per buah. Untuk yang ukuran kecil ada pempek keriting, balok, bulat, tahu, otak-otak dan pempek panggang. Harganya Rp. 1.100 per buah. Semua dihidangkan langsung di atas meja bersama kuah di mangkuk kecil. Kita tinggal memilih mana yang disuka. Apa yang kita makan, itulah yang dibayar.

Pempek panggang boleh Anda coba karena agak unik. Pempek ini berbentuk bulat agak pipih. Tengahnya berisi udang, cabai, dan kecap. Setelah dipanggang, langsung disantap. Rasanya cukup pedas dan jadi semakin pedas jika dicelupkan ke dalam cuko.

Anda bisa berkunjung setiap hari sejak pukul 8 pagi hingga 9 malam. "Namun setiap Senin kami libur," jelas Akun.

Selain pempek tadi, Anda bisa juga menikmati pempek Plaju. Lokasinya, di jl. Panglima Polim. Meskipun baru dibuka sejak tahun 2000, namun pempek ini sudah menyedot banyak pelanggan. Adalah Pak Sanusi (49 th) dan istrinya, Ny. Pupu (45 th) yang memulainya. "Dulu ada kerabat yang mencicipi pempek buatan kami, lalu mengusulkan untuk dijual saja. Maka kami buka kedai ini. Sambutannya cukup baik," jelas Sanusi.

Di sini, Anda bisa memilih aneka pempek seperti kulit ikan (tenggiri), tahu, kapal selam, balok, lenjer, telor kecil, lenggang, dan laksan. Harganya antara Rp. 1.200 hingga Rp. 5.500 per buah. Di kedai ini cukonya sudah disiapkan di dalam botol di atas meja. Jadi, kita tinggal menuangkan sendiri sesuai selera.

Yang unik dan menjadi favorit adalah pempek kates (pepaya). Pempek ini tidak dihidangkan dengan digoreng, tapi hanya dikukus. Isinya pepaya mentah yang diparut tipis, lalu dicampur udang. Rasanya sungguh lezat. Anda bisa mencicipinya setiap hari sejak pukul 11 siang hingga 9 malam. Khusus hari Minggu, sanusi membuka kedainya lebih awal, pukul 8 pagi.

"Soalnya hari minggu pembeli sangat ramai," paparnya.

Mi Celor
Sesuai namanya, hidangan ini terdiri atas mi dan telor. Masih ada tambahan berupa tumisan daging sapi, irisan telur dadar, dan taburan bawang goreng. Lalu disiram kuah santan. Cukup banyak yang menjual hidangan ini. Namun yang paling terkenal terletak tepat di simpang Jelutung, di pojok toko "Dua Sekawan".

Sudah sejak tahun 70-an Ahmad Kosim (50 th) berjualan disimpang Jelutung, di pojok toko "Dua Sekawan".

Sudah sejak tahun 70-an Ahmad Kosim (50 th) berjualan di situ. Saat ini seporsi mi celor dijual Rp. 6 ribu per porsi. Dalam sehari ia menghabiskan 7 kilogram mi untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya. "Kira-kira jadi sekitar 80 porsi lah," jelasnya.

Sedangkan di hari libur bisa meningkat hingga 10 ­ 15 kg mi. Ia berjualan tiap hari sejak pukul 06.30 hingga 11 siang. "Habis tak habis, saya pulang," jelasnya.

Di toko ini juga tersedia Kopi O yang terkenal di Jambi. Kedai yang tepat berada di sebelah gerobak mi celor Ahmad ini sudah lama sekali berdiri. "Kira-kira sejak tahun 1952 sudah dibuka oleh orang tua saya," jelas Ratmanyadi (41 th).

Kopi ini hasil olahan sendiri dan tidak dijual bebas. "Saya hanya menjual dalam bentuk seduhan," tambahnya. Secangkir dijual Rp. 2 ribu.

Kopi ini sangat kental dan aromanya sangat pekat. Anda tak akan menemukan ampas, karena telah disaring. Dalam seminggu, setidaknya ia membutuhkan 8 kilogram kopi untuk diseduh. Kedai kopi ini buka setiap hari, mulai pukul 6 pagi hingga 4 sore.



Sujiwo >> di copy dari majalah www.sedap-sekejap.com

Posted by Imelda :: 2:53 PM :: 0 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------