BoGaRiA
Saturday, May 27, 2006 Jalan-jalan ke Ciamis

Ikan Bakar Hj. Imi

Cukup banyak warung ikan bakar di seputar kota Ciamis. Soalnya balong (kolam ikan) cukup membudaya di wilayah ini. Jika Anda bertanya soal ikan bakar, rata-rata warga Ciamis akan menyebutkan nama Cigembor. Wilayah ini terletak sekitar 3 km arah timur Ciamis.

Pelopornya adalah Hj. Imi (alm). "Ibu saya memulai usaha ini sejak tahun 80-an," jelas putri Hj. Imi, Nooryanie (40 th). Wanita yang akrab disapa Ibu Nur itu, menyebutkan bahwa sang ibu memulai usahanya dengan berjualan kupat tahu, getuk, kroket, dan aneka jajanan ringan lainnya. Lalu sejak 1980 itulah Hj. Imi meluaskan usaha ke ikan bakar. Antara lain, ikan mas, mujaer, nila, dan gurame.

Seiring waktu, akhirnya Ibu Nur hanya menjual dua jenis ikan saja, ikan gurame dan ikan mas. "Biar lebih mudah menyediakan bahan segarnya," imbuhnya.

Ikan yang dibakar memang fresh from
balong yang ada di samping rumah makan. Anda bisa pilih yang ukuran sedang atau yang besar. Untuk 1 kilogram gurame dihargai Rp 35 ribu. Sedangkan ikan mas lebih murah, cukup Rp 12.500 per kilogram. Umumnya dihidangkan dengan nasi hangat, lalap daun singkong, dan tiga jenis sambal, yaitu sambal uleg, sambal kecap, dan sambal kacang.

Lalap daun singkong konon juga jadi favorit. Selain masih segar, rasanya juga manis. "Memang dibubuhkan sedikit gula," jelasnya.

Sambal kacangnya juga istimewa, karena dicampur jahe, kencur, dan honje. Rasanya segar dan unik. Cocok juga untuk cocolan ikan bakar.

Selain ikan bakar, ia juga menyediakan ayam goreng/bakar, mendoan, karedok dan tumis kangkung. Namun yang sering dipesan adalah ikan gurame dan ikan mas bakar. Di salah satu bagian dinding, terpajang belasan foto orang terkenal di tanah Parahyangan seperti Aom Kusman, trio Acil, Jaka dan Sam Bimbo hingga mantan gubernur Jawa Barat, Bapak Nuriana. Anda bisa berkunjung ke sini setiap hari sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam.

Galendo

Galendo adalah kudapan khas Ciamis hasil dari sisa olahan minyak kelapa. Adalah Bpk. Endut Rohadi (52 th), pria yang mengangkat kudapan tradisional ini menjadi populer. Awalnya Endut berjual beli kelapa. Namun sejak gunung Galunggung meletus sekitar tahun 1984, kelapa menjadi kecil ukurannya. Setelah jatuh-bangun dalam jual beli kelapa, ia memutuskan untuk memanfaatkan sendiri kelapa jualannya.

Minyak keletik pun menjadi pilihannya. "Kebetulan tahun 1994 saya memperolah bantuan dana dan pembinaan dari sebuah BUMN," jelasnya.

Endut pun mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan Pemerintah Ciamis hingga ia menemukan cara agar minyak keletiknya bisa awet hingga satu tahun. Nah, setiap memproduksi minyak, pasti terdapat sisa ampas rebusan santan untuk minyak keletik. Inilah yang disebut masyarakat Ciamis sebagai Galendo. Bentuknya mirip kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar. Rasanya manis-gurih. Ampas inilah yang kemudian dijadikan kudapan.

Agar lebih menarik, galendo yang masih panas langsung dipadatkan agar berkurang minyaknya, lalu langsung dikemas. Kemasannya dalam wadah anyaman bambu yang disebut sauk. Tapi Endut menggunakan 6 kemasan yang terlihat lebih rapi dan elit. Kemasan 1 kilogram, dijual seharga Rp 20 ribu. Sementara yang 450 gram Rp 12.500. Ada lagi yang 225 gram bentuk kotak dan lonjong dengan harga Rp 5 ribu. Sedang kemasan 125 gram dijual dengan harga Rp 3 ribu, dan 50 gram Rp 2 ribu.

Kemasan yang digunakan Endut sekilas mirip kemasan biskuit dan cokelat yang cukup populer. "Saya ingin agar anak-anak juga mengenal makanan tradisional ini. Makanya kemasannya disesuaikan," terang pria yang sering dilibatkan dalam pameran tingkat nasional ini. Rasanya pun bermacam-macam, ada wijen, cokelat, kacang, dan susu.

Dalam satu hari, ia membutuhkan sekitar 600 butir kelapa untuk membuat minyak keletik. Dari situ bisa dihasilkan sekitar 32 kilogram galendo per hari. Minyak keletik sendiri dijualnya seharga Rp 6.500 dalam kemasan 650 ml dan Rp 2.000 alam kemasan 200 ml.

Selain itu, ia juga membuat "Virgin Coconut Oil" atau minyak kelapa asli yang diberi merk Sovico. Minyak ini dihasilkan dengan pemanasan rendah dan lebih ditujukan untuk pengobatan. Bisa
dikonsumsi untuk menurunkan tekanan darah, diabetes, penawar racun, hingga menurunkan berat badan. Karena pembuatannya cukup rumit dan lama, harganya relatif mahal. Untuk kemasan ukuran 300 ml, dijual dengan harga Rp 50 ribu, dan ukuran 100 ml dijual Rp 20 ribu. Anda berminat? Tinggal kunjungi tokonya di jl. Kapten Harsono Sudiro, di daerah Cilame.

Bakso Simanalagi

Bakso Simanalagi sudah ternama di Ciamis. Lokasinya terletak tak jauh dari alun-alun Ciamis. Tepatnya di jl. RE. Martadinata. Sudah sekitar 5 tahun lebih kedai bakso ini berdiri. Meskipun dari luar terlihat agak kecil, tapi ruang di dalamnya cukup luas. Interiornya pun menarik dengan warna-warni hijau dan kuning yang terang.

Di sini Anda bisa memilih kombinasi yang paling disukai. Ada mi bakso, plus kombinasi babat, pangsit, atau sayap ayam. Bisa juga pilih kombinasi lengkap ketiga-tiganya. Harga per porsi sekitar Rp. 3 - Rp. 6 ribu. Ada juga hidangan lain seperti mi goreng, nasi goreng, capcay, dan puyunghay. Jika masih kurang, masih tersedia hidangan udang. Pilihannya asem manis, saus tiram, goreng tepung dan goreng mentega. Per porsi harganya Rp. 12.500.

Warung bakso ini buka setiap hari, pukul 09.00 hingga pukul 21.00. "Kalau akhir minggu atau liburan biasanya sangat ramai," jelas Ny. Titin (33 ), yang mengelola usaha ibunya, Hj. Mintarsih (60 th). Titin menyebutkan, selain di sini, ada dua cabang lagi Bakso Simanalagi, yaitu di dekat RS Permata Bunda dan di daerah Kawali.


Abon dan Dendeng Rancapetir

Usaha abon dan dendeng Pusaka Ali ini sudah dimulai oleh Ny. Iloh sejak tahun 1980. "Namun saat ini saya yang melanjutkan usaha Ibu," jelas Ny. Nunung (52 th). Lokasinya di jl. Rancapetir.

Sebenarnya toko ini lebih mirip toko oleh-oleh khas Ciamis. Selain abon dan dendeng, juga tersedia serundeng, mustofa (kering kentang ala Ciamis), galendo, keripik pisang, sale pisang, dan rempeyek. Namun produk utamanya memang abon dan dendeng.

Untuk abon kualitas 1, dijual seharga Rp. 100 ribu, sedangkan no. 2 dijual Rp. 90. ribu. Bedanya? "Ya jumlah dagingnya berbeda. Yang kualitas 1, dagingnya lebih banyak," jelasnya. Sedangkan dendeng dijual Rp. 95. ribu per kilogram. Bila ingin membeli mustopa dan serundeng, siapkan Rp. 40. ribu. Anda sudah dapat 1 kilogram. Biasanya Nunung membuat abon dan dendeng seminggu sekali. Sekali produksi masing-masing 70 kilogram. "Kalau untuk abon, hasilnya menyusut jadi sekitar 30 ­ 35 kilogram," imbuh Ibu 4 anak ini.


Ayam Goreng Swadaya

Sebenarnya lokasi jajan ini terletak di jl. Perintis Kemerdekaan. Namun orang Ciamis lebih mengenalnya dengan nama swadaya. Di sini terdapat sekitar 8 ­ 9 gerobak penjual ayam goreng. Rasa dan jenisnya pun nyaris mirip semua. Konon sudah sejak awal tahun 80-an daerah ini menjajakan ayam goreng. "Saya sendiri sudah 11 tahun berjualan ayam di sini," jelas Pak Anto (26 th).

Ada tiga jenis ayam yang ditawarkan Anto. Ukuran besar, Rp 2 ribu, sedang Rp 1.500, dan kecil Rp 1.000. Dagingnya empuk dan gurih. Semuanya dalam keadaan potongan, tak dijual ayam utuh. Tersedia juga ati-ampela seharga Rp 1.000 per buah. Semuanya disajikan dengan taburan semacam serundeng yang rasanya manis gurih, terbuat dari kelapa.

Namun umumnya para pembeli tak menyantapnya di situ karena memang sudah terbiasa membeli untuk dibawa pulang. Terbukti hanya sedikit bangku tersedia. Wilayah ini mulai aktif sejak pukul 10.00 hingga pukul 21.00.

Sale Pisang Suka Senang

Industri sale pisang ini cukup besar di wilayah Ciamis. Lokasinya terletak di kilometer 6, jalan raya Ciamis ­ Banjar. Produk utamanya berbasis pisang. "Sebenarnya sejak dulu istri saya sudah usaha jajanan seperti kue lapis, keripik singkong, dan peyek," jelas Tarwa Hadi (62 th).

Istrinya, Ny.Odah Zubaedah (57 th), memang menyukai dunia makanan dan hobi memasak. Nah, kebetulan Tarwa pensiun dari Perum Perhutani tahun 1992. Maka pasangan ini pun lantas menjajal usaha di bidang makanan. "Kebetulan waktu jalan-jalan ke daerah Purwokerto, kami mencicipi sale pisang," tambah Tarwa.

Merasa tertarik, Odah mencoba-coba membuat sale pisang hingga menemukan formula resep yang pas. "Baru 6 bulan ketemu resep yang pas," ujarnya.

Semua percobaannya dikonsumsi sendiri, atau dibagikan ke tetangga sekitar sambil mensurvey pendapat mereka. Akhirnya tahun 1996 mereka memulai usaha sale pisangnya. "Awalnya hanya beberapa kilogram pisang. Sekarang, sih,sudah ukuran ton," jelas Tarwa.

Karena saingan sudah banyak, mereka langsung membidik target menengah ke atas. Konsekuensinya, rasa harus enak, higienis, pembatasan penggunaan minyak goreng, bahan berkualitas, dan harga di atas rata-rata. Kalau soal higienitas, usaha sale pisang Tarwa memang patut diacungkan jempol. Mereka telah memperoleh bintang 1 dari BP POM Ciamis dalam bidang produk unggulan yang higienis.

Saat ini ada 7 produk yang ditawarkan. Sale gulung, sale lidah, sale opak, sale pisang ambon, keripik pisang asin, manis, dan pedas manis. Semua dijual dengan harga Rp 25 ribu
per kilogram. "Mungkin sebentar lagi juga akan diproduksi keripik rasa madu dan vanila," ujar Tarwa.

Khusus untuk pisang sale, Tarwa menggunakan jenis pisang siam dan ambon. Sedangkan keripik menggunakan pisang kapas atau pisang nangka. Ia mengaku produknya mampu bertahan hingga 6 bulan.

Dalam satu hari, untuk pisang sale saja, dibutuhkan 4 kwintal pisang. "Semuanya saya peroleh dari petani di sekitar sini dan daerah Banjar," jelas Tarwa.
Ini bertujuan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat. "Jadi bisa saling menguntungkan," tandasnya.

Hingga kini ada 40 karyawan tetap yang bekerja di situ. Sedangkan mitra dari luar bisa mencapai 100 orang lebih.

Pabrik sale juga sudah sering menjadi target kunjungan orang yang hendak membuka usaha. Ada dari Yogyakarta, Cianjur, Bandung, Majalengka, dan daerah lain. Bahkan ketika Sedap sekejap berkunjung, pabriknya tengah dikunjungi oleh rombongan ibu-ibu dari Manado hingga dua bis. Saat ini produk sale Pak Tarwa sudah menembus ke berbagai daerah. Dari Batam, Bali, Jakarta, dan Sumatera. Bahkan saat ini sedang dalam penjajakan ekspor menuju Hongkong, Kanada, dan Singapore.

"Jadi jika Anda membeli sale di berbagai supermarket, kemungkinan dari sini juga lo," tambahnya.

Untuk ke depan, Tarwa berencana membuka agrowisata. Jadi selain berbelanja oleh-oleh, Anda juga dapat berwisata melihat berbagai proses produksi makanan di situ.



Tumis Genjer RM. Manjabal 1

Di sinilah Anda bisa mencoba tumis genjer yang unik itu. Genjer biasanya banyak tumbuh di pinggiran sawah. Bahkan sebagian orang menganggapnya tanaman pengganggu. Atas saran seorang pengunjung, maka dibuatlah genjer sebagai bahan tumisan, tentu dengan tauco yang cukup banyak. Rasanya? Tekstur luarnya lembut, tapi jika digigit, kres kres.. renyah rasanya. "Kalau di Jawa, biasanya dimasak sebagai pecel atau urap. Nah, kami mencoba menumisnya," jelas sang empunya, Ny. Tety (41 th)

Untuk memperoleh satu porsi tumis genjer, cukup merogoh kantong Rp. 2.500, saja. Tety juga menyediakan menu khas Priangan lainnya seperti nasi timbel, pencok leunca, ayam goreng/bakar, sayur asem, hingga gurame bakar. Khusus untuk gurame dijual seharga Rp. 37 ribu per kilogram. Selain itu juga tersedia minuman segar dari es teh manis, softdrink, jus, hingga kelapa muda segar.

Bukan cuma makanan lezat yang ditawarkan di sini, tetapi juga tempat makan yang nyaman. Anda bisa pilih duduk di meja, lesehan di atas kolam, lesehan di pinggir sawah, bahkan ada yang berlokasi agak jauh di tengah sawah. "Biar makannya lebih nikmat," jelasnya.


Rumah makan ini sanggup menampung 200 orang lebih. Sehingga tak jarang untuk acara kantor atau lainnya memilih tempat ini sebagai alternatif. Parkirnya pun cukup luas.

Jika berminat, lokasinya sekitar 10 km dari Ciamis ke arah Tasikmalaya. Tepatnya di jl. Raya Gunung Cupu, Sindang Kasih. Rumah makan yang berdiri tahun 1994 ini buka setiap hari, pukul 9 pagi sampai 9 malam. Di jalan ini sebenarnya juga ada satu lagi rumah makan, Manjabal 2, yang dibuka tahun 1999 dan dikelola oleh ibunya, Ny. Oom.


Jajanan Khas Koperasi Linggarsari

Koperasi ini menawarkan aneka jajanan yang sangat bervariasi. "Setidaknya ada 20 jenis kudapan yang kami produksi," jelas Hj. Nani (52 th) yang membuka koperasi ini sejak 1987.

Ada makaroni, wajit, borondong, molen tahu, sale pisang, dodol, dan koya (cemilan berbentuk bubuk terbuat dari beras ketan) dengan rasa kacang, ketan dan susu. Ada juga kue sagon, bolu dan oleh-oleh khas Ciamis lainnya. Yang unik, borondong untuk wajit tidak dibuat dari jagung seperti umumnya, tetapi dari gabah yang disangrai. Bentuknya memang mirip borondong pada umumnya. Tiap kemasan dijual antara harga seribu hingga dua ribu rupiah saja.

Koperasi ini lahir dari keinginan memberdayakan masyarakat sekitar agar
produknya lebih mudah dihimpun dan dipasarkan di bawah merk Linggarsari. Ada sekitar 60 karyawan yang memproduksi langsung di sini. Sedangkan mitranya bisa lebih dari 200 orang. "Seperti penyedia bahan dan yang membuat kemasan," jelas Pak Ujang Gananda (48), penanggung jawab koperasi ini.

Rencananya nanti seluruh pengusaha jajanan khas Ciamis akan menggelar dagangannya di P2B (Pusat Pemasaran Bersama) ini. Nantinya akan berlokasi di Cihaurbeuti, dekat perbatasan Ciamis ­ Tasikmalaya. Koperasi ini sudah buka pada pukul 07.00 pagi dan baru tutup pukul 9 malam. "Kalau produksinya sih hanya sampai pukul 5 sore," jelas pak Ujang.

Sedangkan jangkauan pemasarannya sudah mencapai Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. "Lumayanlah untuk mengangkat ekonomi masyarakat sekitar koperasi ini," jelas Ujang seraya menunjukkan laporan omzet yang cukup besar.


Caf・dan toko Oleh-oleh Annisa

Caf・yang mulai berdiri tahun 97 ini berlokasi di jl. A. Yani, tak jauh dari pusat kota. Menunya campuran lokal dan asing. Ada nasi goreng, mi goreng, menu dari ayam, hingga spageti, cream soup, omelet, dan steak. Harganya antara Rp. 5 ­ Rp. 15 ribu. Anda juga bisa memilih teman minumnya dari teh, kopi, softdrink, hingga aneka jus buah.

"Baru sekitar 2 ­ 3 tahun saya sambil berjualan oleh-oleh khas Ciamis," ujar Hj. Nani (58 th).

Di antaranya ada galendo, sale pisang, dodol salak, rangginang, opak, seroja (keripik berbentuk bunga dari beras ketan), dan aneka keripik. Ada juga mustofa dan serundeng buatan sendiri yang diberi merk Ellan. Mustofa dan serundeng memang sudah dibuat sejak tahun 70-an oleh neneknya.

Nani membuka cafenya setiap hari, pukul 9 pagi hingga 12 malam. "Soalnya kalau malam, banyak yang suka mampir untuk beli oleh-oleh dan makan," terangnya.


Caf・ini terletak di salah satu jalan yang menghubungkan daerah Ciamis ke arah Jawa Tengah, sehingga menjadi salah satu jalur hilir mudik mobil lintas provinsi.


Dodol Salak

Dodol ini memang agak unik. Rasanya manis dan sepat. Zaenal Muttaqin (44 th) adalah orang yang mempelopori pembuatan jenis dodol ini pada tahun 2001.

"Dulunya, sih, kami tertarik karena cukup banyak produksi salak di wilayah Ciamis," jelas Ibu Titin (37 th), sang istri yang ikut membidani pembuatan dodol ini.

Untuk satu pak dodol, kemasan 20 buah, dijual dengan harga Rp. 4ribu.

Dalam seminggu, Titin tiga kali mengadoni. "Memasaknya cukup lama, antara 8 ­ 10 jam," jelasnya. Sekali membuat, dibutuhkan sekitar 1 kuintal salak mentah. Karena tanpa pengawet, dodol ini masa konsumsinya hanya sampai 3 bulan. "Makanya saya sering berkeliling ke toko-toko yang menjual dodol saya. Supaya bisa ditukar dengan yang masa berlakunya hampir kadaluarsa," ujar wanita yang juga berprofesi sebagai guru SD ini.

Untuk membuatnya, salak yang telah dikupas, dibuang bijinya, lalu dicuci. Kemudian digiling, dan dimasak bersama gula dan tepung beras selama 8 ­ 10 jam. Setelah dingin, baru dikemas dalam lintingan plastik. "Ada sekitar 16 orang yang saat ini membantu usaha ini," ujarnya.

Selain dodol salak, ia juga merencanakan membuat dodol pisang dan dodol sirsak sebagai variasi produk.

Dicopy paste dari www.sedap-sekejap.com oleh Sujiwo.

Posted by imelda :: 2:33 PM :: 3 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------