BoGaRiA
Wednesday, June 14, 2006 Jalan-jalan ke Purworejo

Spesial Ayam Kampung 99

Ingin mencoba yang lain? Mampir saja ke warung tenda Spesial Ayam Kampung 99. Rica-rica entog-nya patut dicoba. Rasanya pedas, tidak jauh beda dengan masakan manado, hanya menggunakan entog sebagai dagingnya.

"Rica-rica ini hasil coba-coba istri saya, Kasturi," aku Wildan sambil menunjuk istrinya.

Penggemarnya cukup banyak karena Kasturi berhasil memasak daging entog dengan empuk. "Daging entognya saya rebus dulu 3 jam untuk 4 ekor entog," jelas Wildan.

Setelah empuk, daging entog ditumis dengan cabai. Terkadang masih ditambah kuah supaya tidak terlalu kering. Untuk seporsi rica-rica entog Anda harus membayar Rp 5 ribu tanpa nasi. Masih lebih murah ketimbang ayam, bebek, dan burung dara.

Kalau Anda tidak suka pedas, pesan saja ayam atau bebek goreng. Keduanya nikmat disantap bersama nasi hangat berikut lalapan dan sambal.




Lesehan Spesial Sop Kaki Kambing

Bagi Anda penggemar masakan dari daging kambing, pasti terpuaskan di sini. Pemiliknya, Sumaidi membuka warungnya di dekat pohon besar di pinggir alun-alun Purworejo. Ia belajar membuat sop kambing pada seorang pedagang di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Layaknya sop kaki made in Tanah Abang, sop Sumaidi dimasak dengan santan. Padahal kalau di Purworejo, sop selalu dibuat tanpa santan. "Makanya waktu pertama kali jualan, saya sering diprotes pembeli. Tapi saya tetap tidak merubahnya. Wong, ini masakan betawi, kok," papar pria yang telah berjualan selama 7 tahun ini.

Melengkapi sop kaki kambing yang dijualnya, Sumaidi menyediakan sop tulang sumsum dan tongseng. Sop tulang sumsumnya bukan saja lezat, tetapi mengasyikkan saat memakannya. Karena kita harus berusaha keras waktu menyedot sumsum didalam tulang.

"Buat sop ini saya juga pakai tulang kaki kambing. Kalau sapi, peminatnya kurang," aku pria yang setiap hari bisa mengantongi keuntungan Rp 500 ribu ini.

Seporsi sop kambing dijual Rp 5 ribu. Tetapi untuk sop dagingnya lebih murah. Hanya Rp 2 ribu. Isinya 3 potong daging ukuran sedang. Mau yang lebih, Anda bisa memesan campuran keduanya, daging dan kaki dengan harga Rp 9 ribu.



Ayam Panggang Mbak Purwanti

Warung tenda milik Mbak Purwanti letaknya di dekat bank BRI, di jl. Dewi Sartika Khusus menyediakan ayam panggang tanpa menu tambahan. Walaupun begitu pembelinya tidak pernah sepi.

Ayam panggang buatan mbak Purwanti terkenal renyah, besar ukurannya, dan bumbunya benar-benar meresap. "Membuatnya, ayam direbus dulu lalu dibakar di atas kayu bakar. Kipasnya juga hanya boleh kipas bambu. Jadi abunya tidak beterbangan ke atas ayam," katanya.

Selain itu, kata mantan penyanyi dangdut ini, ayamnya pun harus yang muda. "Sampai sekarang saya memilih ayam sendiri dari pedagang yang mengantar ke rumah,"akunya.

Kini Purwanti memiliki 3 buah warung tenda, 2 di daerah Purworejo dan 1 di Kutoarjo. Untuk memenuhi kebutuhan ayam panggang, setiap hari Purwanti harus memotong 70 ekor ayam.

Ayam tersebut lantas dipotong menjadi 4 bagian dan dijual dengan harga berbeda-beda. Paling mahal bagian dada, Rp 8.500 sampai Rp 9 ribu. Yang termurah adalah paha bawah dan kepala, Rp 3 ribu sampai Rp 3.500. "Harganya berbeda sesuai dengan besarnya potongan ayam.


Soto Pak Rus

Bosan dengan masakan yang dijajakan di alun-alun, Anda bisa pergi ke Stasiun Purworejo. Di sana ada warung soto daging yang ramai didatangi pembeli. Rasanya sangat khas Purworejo. Tetapi porsinya tidak besar.

Kunci kelezatan soto ini, terletak pada kuahnya yang bening, namun sarat bumbu. Makanya tak heran, begitu warung buka, pelanggannya langsung menyerbu. Sapto, si penjual hampir tak pernah berhenti meracik soto.

Seporsi soto Rp 4 ribu, lengkap dengan nasi. Tapi kalau maunya sotonya saja cukup membayar Rp 3 ribu . Untuk memenuhi semua pesanan setiap hari, ia bisa menghabiskan 5 kilogram daging sapi dan 10 kilogram beras.


Geblek

Selain masakan, Anda bisa menikmati makanan kecil khas kota Purworejo. Geblek, salah satunya. Makanan kecil ini dibuat dari sagu yang dicampur dengan santan. Warnanya putih, bentuknya bermacam-macam. Umumnya berbentuk lingkaran.

Penjual geblek mudah ditemui di pinggir jalan di sore hari. Biasanya mereka menawarkan geblek yang baru saja digoreng. Salah satu penjual geblek yang banyak diminati warga adalah Pak Rasa. Setiap hari ia berjualan geblek di dekat toko elektronik di depan pasar Baledono. Pukul 16.00 ia sudah menyiapkan dagangan bersama istrinya, Suryati.

"Geblek ini saya buat sendiri, tidak beli di pasar. Jadi bisa lebih besar," ujar Rasa yang berjualan sejak 4 tahun lalu.
Untuk membuat geblek yang enak, Rasa mengaku sangat menjaga kualitas bahan yang dipakai. Sagu yang dipakainya hanya dari kualitas terbaik tanpa campuran bahan lain. "Selain itu, cara mengolahnya juga harus benar, kalau tidak gebleknya nggak enak," terang pria berkulit putih ini.

Baik buruknya mutu geblek, juga bisa ketahuan ketika digoreng. Geblek yang bagus ketika digoreng, tidak akan meletus, atau minyak bercipratan. Bentuknya pun tetap mulus. hanya lebih halus.

Sebenarnya geblek bisa disantap begitu saja, tanpa saus atau bumbu. Tapi paling enak geblek dimakan dengan sambal kacang atau sambal pecel. "Paling enak lagi geblek dimakan dengan pecel. Wah, sedap sekali," ungkap Rasa yang membutuhkan 6 kilogram sagu setiap harinya

Biasanya geblek dijual per buah, harganya Rp 200 untuk geblek matang atau mentah. Nah, geblek mentah ini pun cocok dijadikan oleh-oleh karena tahan sampai 3 hari. "Kalau untuk oleh-oleh, geblek saya kemas khusus dengan besek beralas daun. Harus tertutup rapat agar tidak rusak," pesan Rasa.


Kue Lompong

Kalau dibuka dari bungkusnya, sekilas seperti bugis. Kue ini memang dibuat tepung ketan dan lompong atau talas. Rasanya manis dan warnanya hitam. Di tengahnya ada unti yang dibuat dari kelapa sangrai.

Berbeda dengan geblek yang bisa dibuat oleh siapa saja, kue lompong hanya dibuat oleh beberapa orang. Salah satunya adalah Ibu Ruth Ekayanti. Ia adalah generasi ketiga pembuat kue lompong di Purworejo.

"Pembuat pertamanya nenek saya, kemudian diturunkan ke ibu dan saya," aku Ruth yang setiap hari membutuhkan 10 kilogram tepung ketan itu.

Untuk membuat kue lompong, tidak mudah. Tepung ketan harus benar-benar bagus. Lompongnya sendiri harus dari talas pilihan. "Yang dipakai pun hanya bagian tengahnya saja. Lalu diiris tipis dan dijemur hingga kering betul," aku ibu 3 anak ini.

Setelah kering, barulah lompong ditumbuk menjadi tepung dan dicampur dengan tepung beras dan gula. Adonan lantas dibentuk lingkaran dan diberi isi. Baru dibungkus daun pisang kering. Kue kemudian dikukus sampai matang.

Kue lompong bisa bertahan sampai 10 hari. Makin hari akan makin keras, tetapi dapat dilunakkan kembali dengan cara dikukus. Harga satu kue lampong Rp 750.

Dawet Jembatan Butuh

Es khas Purworejo ini sebetulnya tak beda dengan es cendol biasa. Dinamakan es dawet butuh karena awalnya dijual di Desa Butuh. Bedanya dengan es cendol biasa, warnanya hitam karena dibuat dari campuran tepung kanji dan air abu merang. Seperti cendol biasa, dawet ini juga disantap bersama sirup gula merah, larutan santan, dan es serut.

Anda dapat menemukan es ini di Jl. Raya Purworejo, dekat jembatan Butuh. Setiap hari Nawon, si penjual, menjual 4 gentong dawet. Setiap gentong bisa menjadi 250 buah mangkuk kecil. Harga semangkuk dawet hanya Rp 750.


di copy paste dari www.sedap-sekejap.com

Posted by imelda :: 9:14 AM :: 3 comments

Post / Read Comments

---------------oOo---------------